Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Titah Kaisar Yin Shi


__ADS_3

Sosok pria berpakaian sutra mewah berwarna coklat muda masuk ke dalam balairung tempat kaisar berada. Usia pria itu saat ini menginjak 42, wajahnya sedikit kasar dan berwarna gelap karena menjalani hari di medan pertempuran yang keras. Pria itu berjalan menuju tengah aula, kemudian Berkowtow (bersujud untuk memberikan hormat) kepada Kaisar Yin. "Yin Xie menghadap Kakak Kaisar!"


Kaisar Yin meletakkan laporan yang sedang ia baca kemudian mengalihkan pandangannya ke adik bungsu yang menguasai militer kerajaannya. "Bangunlah."


Yin Xie yang memiliki nama lain Pangeran Rui mengangguk dan berterima kasih kepada Kaisar sebelum berdiri tegap di hadapan kakaknya.


Kaisar Yin menghela napas pelan sebelum mengatakan isi pikirannya. "Rui, kau sudah mendengar kabar dari Provinsi Qin?"


Pangeran Rui mengangguk, "Hamba sudah mendengar kabar dari Provinsi Qin beberapa waktu lalu, Yang Mulia."


Kaisar Yin mengangguk, pandangannya menerobos ke luar balairung menatap langit yang berawan menandakan salju akan kembali turun. Kembali menatap Pangeran Rui, Kaisar Yin kembali berkata, "Di antara semua Pangeran dan Pangeran Tua, Kau yang paling dekat dengan Gubernur Qin. Qin Guan juga pernah menolongmu di medan perang. Dua hari lagi pergilah ke kota Qin dan lakukan apa yang harus dilakukan. Jika ada yang tidak beres kau bisa langsung menanganinya, jika panci terlalu panas (masalah yang tak bisa dipegang) kirimkan pesan kepada kekaisaran."


Pangeran Rui berkowtow dan mengucapkan terima kasih kepada kaisar. "Yin Xie menerima tugas dari Yang mulia, akan memberikan yang terbaik."


Jika kaisar Yin tidak memerintahkan hal ini kepadanya, dia berinisiatif untuk meminta izin mengunjungi Qinzhou-Provinsi Qin-untuk mengusut kematian Gubernur Qin. Gubernur Qin salah satu orang yang mengajari Yin Xie di medan perang saat orang itu masih berpangkat jendral muda di bawah pimpinan Jendral Wang. Ikatan saudara sebagai sesama prajurit membuat Pangeran Rui tergerak hatinya untuk mengusut masalah ini.


Kaisar Yin tersenyum dan merasa lega karena adiknya tidak menolak perintah ini. Sebenarnya hal itu hampir tidak mungkin mengingat kedekatan antara Pangeran Rui, Qin Huang dan Qin Guan.


Lima belas tahun lalu, saat Pangeran Rui sedang bertugas di perbatasan timur kekaisaran Yin yang juga merupakan wilayah utara Provinsi Qin, kekaisaran Song menyerang dengan pasukan besar, sejumlah 120.000 orang. Pasukan perbatasan yang berjumlah 70.000 orang mulai kewalahan menghadapi gempuran brutal dari kekaisaran Song.


Wilayah Qin merupakan wilayah dengan pertahanan militer yang begitu kuat dan memiliki 300.000 pasukan hebat yang rela mati demi menjaga kedaulatan Qin. Pangeran Rui mengirim kurir menuju kota Qin untuk meminta bantuan dan mendapat balasan yang memuaskan dua hari kemudian.


Di hari ketujuh setelah mengirim balasan, 100.000 prajurit Qin menyerbu dari titik buta lawan dan memporakporandakan formasi pasukan Song yang sempat menyulitkan pasukan Yin. Lebih dari 70.000 pasukan Song mati dan kemenangan diraih oleh pasukan Yin.

__ADS_1


Pada saat penyerangan, pasukan Qin dipimpin oleh Jendral Zhao Yun dan putra kedua Qin Huang-Qin Guan-yang saat itu berusia tujuh belas tahun. Dengan gagah berani pemuda itu mengangkat pedang dan menebas setiap lawan yang menghadang, dalam waktu beberapa jam saja dia sudah bermandikan darah pasukan Song.


Selain membantu dalam medan perang, Qin Guan dengan kecerdasannya membantu Pangeran Rui dan Jendral Huaihuang-pemimpin pasukan perbatasan-untuk mengatur kembali pertahanan. Saat itulah kecerdasan Qin Guan dalam menganalisa taktik lawan dan memecahkannya bahkan dipuji oleh jendral Huaihuang.


Setelah kembali dari perbatasan timur, Kaisar Yin mengundang Qin Guan ke istana dan memberinya gelar Jendral Muda. Bertahun-tahun Qin Guan bersama sebagian prajurit Qin menjaga perbatasan timur dan selatan kekaisaran Yin. Pangeran Rui sesekali membantu Qin Guan dan mendiskusikan banyak taktik bersama.


Maka dari itu, disaat Qin Guan hancur seperti sekarang, Pangeran Rui berniat datang untuk menyemangati pemuda itu.


Kaisar Yin membuat dekrit tertulis untuk mengusut masalah gubernur Qin hingga tuntas dan dekrit itu ditujukan kepada Pangeran Rui. Dalam dua hari ke depan, Pangeran Rui pergi mengunjungi kota Qin bersama selusin prajurit kepercayaannya.


***


Selain salju-salju yang terus turun, tak ada hambatan berarti bagi Di Min Jie dan rombongannya. Hanya saja, karena mereka memulai perjalanan ketika matahari mulai tinggi, saat matahari terbenam mereka belum berjalan terlalu jauh. Tapi Di Min Jie yakin, jika mereka terus konsisten seperti ini, maka di hari keenam mereka sudah sampai di gunung Long Hong dan menunggu Wang Tian Sin dari tempat itu.


Di Min Jie melambatkan langkah kudanya, mengedarkan pandangan untuk meneliti lebih jauh tempat itu. Tanah landai dan beberapa pohon besar, tetapi tak terlihat mata air di tempat itu untuk menambah pasokan air. Namun, Di Min Jie juga tidak yakin jika di depan sana ada tempat yang lebih bagus dari tempat ini, kemudian memerintahkan prajuritnya untuk mendirikan tenda.


Di Min Jie turun dari kudanya, seorang prajurit kemudian membawa kuda tersebut dan menambatkannya di sebuah pohon bersama beberapa kuda yang lain. Di Min Jie berdiri di samping peti mati Long Tian, menatapnya dalam diam dan penuh pertanyaan.


'Tuan Long merupakan urutan kelima terkuat dalam dunia persilatan. Kematiannya begitu cepat tetapi Tuan Muda Wang belum menyelidikinya. Tabib Yao juga meninggal sebelum Tuan Long, apa yang menyebabkan bencana ini datang? Apa mereka sudah menyinggung sosok besar sebelumnya? Aiya ... kenapa aku jadi berpikir seperti ini?'


Di Min Jie menghela napas dan mengalihkan pandangannya, melihat prajuritnya bahu membahu mendirikan tenda dan membuat api unggun. Sebuah tenda sudah berdiri, seorang prajurit melapor jika tenda tersebut milik Di Min Jie. Di Min Jie mengangguk dan masuk ke tenda untuk menenangkan diri.


Dua orang prajurit berdiri di depan tenda Di Min Jie untuk berjaga, sementara tenda-tenda lain mulai selesai berdiri. Mereka juga memanaskan air untuk membuat teh. Arak-arak dikeluarkan dengan daging kering yang mereka bawa dari Kota Qin.

__ADS_1


Malam mulai menjelang, para prajurit berjaga dengan bergantian hingga matahari terbit kembali. Di Min Jie keluar dari tendanya dengan wajah segar. Sepertinya dia istirahat dengan baik malam tadi.


***


Dua hari sudah Wang Tian Sin tertidur pulas karena ramuan dari Tabib Yan. Wajah pemuda itu terlihat cerah, tidak lagi pucat seperti beberapa hari sebelumnya. Tabib Yan memeriksa Wang Tian Sin setiap beberapa jam untuk memastikan jika kondisi pemuda itu membaik.


Tabib Yan memanggil seorang tabib kepercayaannya yang bernama Yao Feng ke ruangan Wang Tian Sin


"Siapkan tonik penambah energi, setelah dia tersadar minta dia meminumnya. Jika dia ingin pergi menyusul rombongan, maka dia bisa pergi besok pagi."


Tabib Yan juga mengeluarkan sebuah surat dari lengan bajunya dan memberikannya pada Yao Feng. "Berikan ini kepadanya saat sudah sadar."


Yao Feng menerima surat itu dengan kedua tangannya dan segera menyimpan di dalam jubah. "Apa Guru besar Yan ingin segera pergi?"


Tabib Yan mengangguk. Yao Feng kembali mengajukan pertanyaan kepada Tabib Yan, "Ke mana tujuan Anda berikutnya?"


"Qinzhou."


Untuk semuanya, saya ingin menulis banyak kata dalam sehari, tetapi apa daya saya tidak memiliki kemampuan tersebut. Jadi, saya hanya berusaha untuk konsisten setidaknya satu bab perhari.


Novel ini sedang dalam proses kontrak, jika semuanya berjalan lancar, mungkin kontrak bisa segera turun. Saya juga berniat untuk mengajukan versi audiobook dan akan saya Dubbing sendiri.


Hari ini up 2 bab karena saya sedang bahagia entah apa alasannya.

__ADS_1


Rana Semitha


__ADS_2