Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Duel Pagi


__ADS_3

Selama berada di kediaman Istana Pedang, tidak banyak hal yang dapat Wang Tian Sin lakukan kecuali meningkatkan ilmu naga buminya.


Saat matahari terbit, Wang Tian Sin yang sedang dalam posisi lotus (meditasi) membuka matanya perlahan. Dari mulutnya keluar embusan napas, matanya yang jernih menyipit, alisnya yang berbentuk pedang berkedut. Pemuda berjubah hitam itu kini tersenyum tipis saat menyadari dirinya mulai memasuki bagian kedua kitab naga bumi, penempaan kulit.


"Apakah kemampuan ini akan meningkat jika aku terluka?" gumam Wang Tian Sin.


Selama beberapa hari dirinya selalu menyempatkan diri untuk bermeditasi walau sebentar, jadi sejauh mana perkembangannya, dia sangat tahu. Satu-satunya hal besar yang terjadi di hari kemarin adalah, Xin Dong memukulinya hingga hampir mati.


"Jika seperti ini, maka aku akan melakukan banyak pertempuran," gumam Wang Tian Sin lagi


Pemuda itu meregangkan tubuhnya, sebelum meraih oedang naga bumi dan berjalan keluar pondok.


Walau pondok ini berukuran kecil, tetapi memiliki halaman yang cukup luas untuk berlatih.

__ADS_1


Menghirup udara pagi yang begitu besar, Wang Tian Sin mengembuskannya perlahan. Pedang naga bumi yang tersarung rapi, ditarik dari selongsongnya. Wang Tian Sin melemparkan sarung pedang itu cukup jauh sebelum memejamkan matanya dan kembali mengingat gerakan gagak emas yang digunakan Xin Dong saat bertarung dengannya.


Wang Tian Sin memegang gagang pedang dengan kedua tangannya, mengalirkan tenaga dalam ke kaki dan melompat. Saat di udara, kaki kanannya menyilang di depan kaki kiri, bahu kanannya ia tarik ke belakang dan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


Sapuan yang dilakukan dengan bobot tubuhnya ditambah dengan tenaga dalam yang besar membuat sebuah haea pedang keluar dan melesat, menabrak pohon sehingga timbul ledakan yang cukup besar.


Wang Tian Sin mendarat, menyadari kesalahannya saat melihat beberapa anggota istana pedang mendatanginya dengan wajah penasaran. Di antara beberapa orang yang datang, ada satu sosok yang Wang Tian Sin kenal, yaitu Lu Yuan. Pemuda itu bergegas mendatangi Wang Tian Sin dan menanyakan apa yang terjadi.


"Ada apa?"


Lu Yuan menatap Wang Tian Sin tajam dan memberinya peringatan. "Sebaiknya kau tidak menimbulkan keributan yang tidak perlu. Xin Yue belum pulang, tak ada yang membelamu jika terjadi sesuatu."


Perkataan Lu Yuan ada benarnya, kebanyakan anggota istana pedang memiliki antusiasme berlebih dengan ilmu pedang. Jika mereka merasa tertarik dengan Wang Tian Sin, maka yang mereka lakukan adalah mengejar Wang Tian Sin hingga napsu bertarung mereka terpenuhi.

__ADS_1


Tak perlu menunggu lama untuk membuktikannya, seorang pemuda menarik pedang dan menantang Wang Tian Sin dalam pertarungan yang adil.


"Saudara Lu, aku harap kau tidak menghalangiku untuk bersenang-senang."


Lu Yuan menghela napas, apa yang ia khawatirkan terjadi. Semakin banyak orang yang mendatangi pondok kediaman Wang Tian Sin.


Saat merasakan tatapan tajam dari para temannya, Lu Yuan menatap Wang Tian Sin. Wang Tian Sin hanya tersenyum getir dan mengangguk.


"Saudara ... aku akan melayanimu, sebaiknya kita cari tempat yang lebih luas," ucap Wang Tian Sin.


Pemuda yang ia ajak bicara mengangguk, sebelum mengajak Wang Tian Sin untuk bertanding di lapangan latihan.


Lapangan latihan terletak di bagian dalam pemukiman, di tepi lapangan, terdapat beberapa rak yang berisi senjata latihan. Wang Tian Sin menyarungkan pedang naga bumi dan mengambil sebuah pedang besi dari rak tersebut sebelum berkata, "aku tidak bermaksud merendahkan, tetapi aku tidak bisa mengontrol pedang yang aku bawa untuk sementara waktu. Demi keamanan bersama, aku ingin menggunakan pedang biasa."

__ADS_1


"Jika begitu, aku akan menggunakan pedang dengan kualitas yang sama."


__ADS_2