Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
10. Kenangan Mama Diana


__ADS_3

Mama Diana menyandarkan kepalanya disandaran tempat tidur miliknya, dia masuk kekamar setelah Shinta membawa Ilham kekamar Reyhan, untuk menemaninya tidur siang. Sedangkan Reyhan masih berbincang dengan papanya diruang kerja.


Dimata Mama Diana, Ilham sangat mirip dengan Reyhan waktu kecil, dia tersenyum, merasa bersyukur bisa menyelamatkan Reyhan dari perangkap Cindy.


Dulu awal Reyhan memperkenalkan Cindy dengannya, Mama Diana merasa baik-baik saja. Cindy berasal dari keluarga yang cukup terhormat, karena dia menyebutkan kalau dia anggota keluarga Harley. Siapa yang tidak mengenal nama Harley dikalangan pengusaha dan orang-orang hebat lainya.


Mama Diana tidak menaruh curiga apapun pada Cindy, dia cantik, cukup terlihat jelas diwajahnya kalau dia seorang keturunan. Terlebih lagi keluarga Harley tidak pernah mempublikasikan anggota keluarga mereka yang masih lajang. Saat dipancing cerita tentang keluarga Harley, Cindy mampu menjawabnya, karena tidak semua orang mengetahui garis keturunan Harley.


Walau menyukai Cindy, tapi Mama Diana tidak lantas merestui hubungannya dengan Reyhan. Bagi Mama Diana, Reyhan butuh waktu lama untuk membuat suatu hubungan yang serius, terlebih lagi mereka masih SMA. Dia mebiarkannya mengalir begitu saja.


Saat berkunjung ke kediaman Mama Syila, Mama Diana bertemu dengan Shinta, menantunya saat itu masih sekolah menengah pertama, cantik dan imut, yang Mama Diana lihat, sifatnya juga sopan dan santun. Shinta memang hanya keponakan, bukan anak kandung sahabatnya, tapi sahabatnyalah yang mendidiknya.


"Keponakanmu cantik Teh" ucap Mama Diana saat itu.


Tidak lama Shinta keluar dari kamarnya, tampak gadis kecil lain yang keluar dari kamar yang sama.


"Itu siapa, sama cantiknya dengan Shinta?" tanya Mama Diana lagi.


"Itu keponakan saya yang di Jakarta" jawab Mama Syila.


"Anaknya Aisyah?" tebak Mama Diana, karena hanya Bunda Aisyah yang tinggal di Jakarta dari semua saudara Mama Syila, selain di Bandung mereka lebih banyak tinggal diluar pulau jawa.


"Iya, putri satu-satunya Aisyah, putri pertama keluarga Harley" jelas Mama Syila.


Mendengar itu, Mama Diana terdiam. Dia tahu Aisyah menikah dengan keluarga Harley tapi dia mengira putri Aisyah bukan putri pertama Harley, karena suaminya Aisyah adalah putra kedua. Lalu Cindy? Siapa dia dikeluarga Harley? Usianya diatas putrinya Aisyah, tidak mungkin Syila berbohong. Mama Diana sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ada apa?" Mama Syila membuyarkan lamunan Mama Diana.


Saat Mama Diana sadar, sudah ada Nayla dihadapannya. "Saya Nayla tante" Nayla mengulurkan tangannya ingin menyalimi Mama Diana.

__ADS_1


"Nayla sedang liburan?" tanya Mama Diana.


"Iya tante, besok mau ke Lembang tempat kakek, sama Ayah sama Bunda. Tapi Nay kesini dulu, udah lama tidak bertemu sama Mama Syila dan Teh Shinta" Nayla menjelaskan.


"Kamu kenal Cindy?" Mama Diana sudah tidak tahan untuk bertanya dan mencari kebenaran.


"Cindy?"


"Cindy dari keluarga Harley" jelas Mama Diana.


"Oh.. Mbak Cindy itu. Dia bukan keturunan Opa Harley tante, tapi keturunan adiknya Opa Harley" jawab Nayla. "Keluarga besarnya masih banyak di Belanda" lanjut Nayla kecil yang setelah mengatakan itu pamit kembali kekamar.


Sejak itulah Mama Diana mencari tahu tentang Cindy. Gadis itu masih sekolah, tapi sudah berani membohonginya. Satu-satu informasi didapatkan Mama Diana, membuatnya semakin tidak menyukai Cindy.


Mama Diana meminta Reyhan melanjutkan pendidikannya keluar Negeri, untuk menjauhkannya dari Cindy.


"Ma, Rey mau melanjutkan disini saja, berdua Alex" Reyhan membantahnya kala itu.


Mereka berdebat panjang, namun dengan berat hati, Reyhan mengikuti keinginan Mama Diana. Walaupun dia melanjutkan pendidikan keluar negeri, hubungannya tetap berlanjut dengan Cindy. Mama Diana sedikit kecewa, dia menugaskan seseorang untuk terus mengawasi Cindy. Dari orang kepercayaanya itu, Mama Diana mengetahui kalau Cindy memiliki kekasih lain dibelakang Reyhan. Tapi dia tidak ingin memberi tahu putranya, Reyhan pasti tidak percaya dengan ucapannya.


Tiga tahun berlalu, Reyhan pulang sebelum dia melanjutkan pendidikannya lagi. Dia menghabiskan waktu untuk melepas rindu dengan Cindy, setiap hari, selama satu minggu dia pergi bersama Cindy. Mama Diana tetap meminta orang suruhannya mengawasi Reyhan, jangan sampai putranya melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya. Dia tahu Cindy yang suka pergi dan menginap dirumah kekasihnya yang lain, karena itu Mama Diana takut Reyhan melakukan dosa karena rayuan Cindy.


Mama Diana sedikit lega saat Reyhan kembali ke luar negeri, putranya bisa terhindar dari godaan Cindy. Satu bulan setelahnya Cindy datang menemuinya, "Tante saya hamil" ucap Cindy dengan gugup.


"Lalu?" Mama Diana mencoba bersikap tidak peduli dan tidak terpengaruh dengan ucapan Cindy, walau sesungguhnya dia takut kalau anak yang dikandung Cindy adalah cucunya.


"Ini anak Reyhan" jawab Cindy.


"Kenapa kamu menemui saya, bukankah seharusnya kamu menemui Reyhan. Dia ayah bayi itu kan? Bukan saya" balas Mama Diana.

__ADS_1


"Saya tidak berani tante, saya takut Reyhan marah" jelas Cindy.


"Apa maumu?" tanya Mama Diana lagi.


"Saya ingin Reyhan bertanggung jawab dan menikahi saya" Cindy dengan yakin meminta Reyhan bertanggung jawab.


"Kamu minta saja sendiri dengannya, bukankah kalian saling mencintai, jadi harus menyelesaikan masalah ini sendiri" jawab Mama Diana tegas, dia tidak terpengaruh dengan apa yang dikatakan Cindy.


"Saya tidak mau Reyhan tahu kalau saya hamil. Saya hanya ingin dia menikahi saya dan saya mohon pada tante untuk merestui kami"


Jawaban Cindy membuat Mama Diana terperangah, dia yakin kalau anak yang dikandung Cindy bukan anak Reyhan, tetapi anak dari kekasihnya yang lain.


"Tidak ingin Reyhan tahu kalau kamu hamil?" tanya Nama Diana lagi.


Cindy mengangguk dengan yakin, dia berpikir bisa membodohi Mama Diana, yang tanpa dia ketahui kalau Mama Diana mengetahui semua yang dialakukannya.


"Saya tidak ingin Reyhan marah tante, biarkan dia mengetahuinya setelah kami menikah" jelas Cindy alasannya.


"Apa kamu yakin itu anak Reyhan?"


Pertanyaan Mama Diana diluar dugaan Cindy, keningnya terlihat berpikir untuk mencari jawaban yang tepat. "Tentu saja tante, saya tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain. Seperti yang tante tahu, sejak sekolah kami sudah bertemu. Hanya saja, kemarin kami terlalu saling merindukan, sehingga semua terjadi begitu saja"


"Mendengar permintaanmu yang tidak ingin memberitahu Reyhan tentang kehamilanmu, saya yakin Reyhan belum pernah menyentuhmu" Cindy menjadi pucat, Mama Diana semakin yakin dengan melihatnya seperti itu.


"Saya akan merestui, tapi kamu katakan yang sebenarnya pada Reyhan" tegas Mama Diana, lalu meminta Cindy pergi.


Setelah kepergian Cindy, Mama Diana menghubungi seseorang. "Cari tahu dokter kandungan mana yang yang memeriksa perempuan itu" ucapnya memberikan perintah.


Setelah kejadian itu, Cindy tidak pernah datang lagi, dan Reyhan tidak pernah tahu tentang kehamilan Cindy. Cindy pergi dengan sendirinya dari kehidupan Reyhan. Reyhan marah dan mencari Cindy yang tiba-tiba pergi meninggalkannya. Satu tahun berlalu, entah kebetulan atau memang jodoh. Mama Diana mendengar kabar kalau Shinta tidak lagi bersama kekasihnya. Tanpa berpikir dua kali, Mama Diana menghubungi shabatnya Mama Syila, untuk menjodohkan Reyhan dan Shinta.

__ADS_1


Perjodohannya berhasil, keduanya saling mencintai. Namun Mama Diana takut, kebahagiaan putra dan menantunya akan bermasalah dengan kehadiran Cindy.


...◇◇◇...


__ADS_2