
Shinta hanya satu malam menginap dirumah sakit, dokter hanya ingin memastikan kalau bayi yang ada dalam kandungannya baik-baik saja dan tidak terpengaruh obat bius yang dihisap Shinta. Sekarang dia sedang dalam perjalanan pulang bersama Reyhan, bersandar dibahu suamimya yang terus mengenggam tangannya dan mengecup pucuk kepalanya. Mengucap Syukur, Tuhan mengirim Bob untuk menyelamatkannya. Dia juga harus berterima kasih dengan ibu pemilik warung tersebut, karena mau merawatnya saat dia benar-benar tidak berdaya.
Sampai dirumah ternyata keluarganya sudah berkumpul dirumah untuk menyambutnya. Mama Diana dan Mama Syila tampak sudah duduk diteras menunggu kepulangannya. Shinta langsung menghampiri keduanya lalu menyapa keduanya menyalimi dan mencium pipi kedua mamanya.
"Kamu baik-baik sajakan Shi?" tanya Mama Diana. Shinta mengangguk.
"Shinta baik-baik saja ma, tidak perlu khawatir" jawab Shinta.
"Mama minta maaf tidak bisa menjenggukmu" Mama Diana mengungkapkan penyesalannya. Pasalnya dia baru sampai Bandung saat hampir tengah malam menemani Papa Renaldi menghadiri reuni bersama sahabat-sahabanya di Jogja.
"Tidak apa-apa ma, Shinta juga baik-baik saja. Dokter hanya ingin meyakinkan kalau obat biusnya tidak menganggu kesehatan baby yang ada disni" Shinta menunjuk perutnya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Mama Syila.
"Semua baik-baik saja" Reyhan yang menjawab. "Apa kalian hanya ingin berdiri disini saja?" tanyanya saat para wanita yang disayanginya tidak ada yang beniat melangkahkan kaki mereka untuk masuk dan duduk didalam yang lebih nyaman.
"Tentu kami akan masuk Rey, tidak mungkin membiarkan putri kami yang cantik ini kelelahan disini" seru Mama Diana yang mengerti sindiran Reyhan, yang tidak ingin istri tercintanya kelelahan.
"Ayo masuk" Mama Syila memimpin.
Reyhan merangkul Shinta mengajaknya masuk ke kediaman mereka.
"Akhh rasanya nyaman bisa ada dirumah" ucap Shinta lega sambil menjatuhkan dirinya disofa yang ada didepan televisi.
"Aku sudah menyiapkan kue kesukaan adik iparku" Jessyca datang dari dapur dengan piring yang berisikan kue kesukaan Shinta.
"Terima kasih kakak iparku" jawab Shinta. "Apa keponakanku baik-baik saja?" lanjut Shinta bertanya pada Jessyca yang saat ini sedang hamil sepuluh minggu.
"Harusnya aku yang bertanya apakah keponakannku baik-baik saja setelah kamu diculik" kekeh Jessyca.
Jessyca merasa bahagia menjadi anggota keluarga Mama Syila yang hangat, saling menyayangi dan saling mendukung yang tidak pernah dia dapatkan dikeluarganya.
"Baby ku baik-baik saja" Shinta mengusap perutnya yang sudah terlihat membucit. Shinta memindahkan tangannya mengusap perut Jessyca.
__ADS_1
"Dia juga baik-baik saja" jawab Jessyca. Keduanya melempar senyum.
Shinta tidak menyangka saudaranya kini bertambah lagi dengan kehadiran Jessyca.
Sementara di kediaman Dewa dan Devi mereka sedang berbincang dengan pengacara yang menangani kasus penculikan Shinta yang sebenarnya akan menculik Devi.
"Menurut laporan dikepolisian kedua penculik itu sudah mengakui kalau yang memerintahkan mereka adalah wanita yang bernama Issabel. Aparat sekarang sedang melacak keberadaan wanita itu" jelas pengacara mereka.
"Ini kabar baik, tapi saya belum bisa tenang kalau wanita itu belum tertangkap, terlebih lagi ini mengancam nyawa istri dan anak saya" jawab Dewa menanggapi laporan pengacaranya.
"Orang-orang Pak Sendy, Pak Reyhan dan Pak Zein terus berusaha mencari keberadaan wanita tersebut. Dan orang-orang Pak Dewa sendiri selalu siap disekitar kediaman bapak dan toko serta kediaman Pak Reyhan untuk menjaga keselamatan Bu Devi dan Bu Shinta" jelas asisten pengacara keluarga Dewa tersebut.
"Baiklah terima kasih laporannya hari ini pak" balas Dewa.
Sekarang tinggal Dewa dan Devi yang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai akhinya Devi memanggil Dewa dan mengungkapkan kekhawatirannya.
"Wa, aku takut Issabel akan melakukan sesuatu pada Nayla dan anak-anak" ucap Devi.
"Nayla aman, pengawal keluarga Harley orang-orang pilihan, anak-anak juga dijaga para pengawal. Tidak perlu khawatir" Dewa mencoba menenangkan Devi.
"Kita berdoa saja semoga dia cepat ditemukan dan bisa dihukum seumur hidup" Devi mengangguk setuju dengan ucapan Dewa.
Satu minggu berlalu, Shinta dan Devi tidak dijinkan oleh kedua suami mereka untuk keluar dari rumah sebelum Issabel tetangkap dan diamankan pihak yang berwajib. Keduanya mengontrol kegiatan toko dari rumah.
Reyhan, Shinta dan Ilham sedang menikmati suasana sore di halaman belakang rumah mereka. Hari ini Reyhan sengaja pulang lebih awal untuk menikmati waktu bersama keluarga kecilnya. Dia sangat tahu satu minggu ini Shinta tertekan dengan keadaan, karena itu dia menyempatkan hari ini menemani Shinta agar tidak merasa kesepian.
Ponsel Reyhan berbunyi, dia melihat nama Dewa yang menghubunginya. Segera Reyhan mengeser tombol hijau. Dewa memberi kabar yang menyenagkan hari ini. Karena terlalu senang dia mengepalkan tangannya sambil mengangkatnya keatas lalu menariknya kembali sambil berteriak "yes"
Masalah Issabel sebenarnya bukan masalah keluarganya, namun dia terlibat karena kesalahan penculik yang membawa Shinta. Dialah yang melaporkan kasus ini pada pihak yang berwajib, berharap orang seperti Issabel tidak bisa bebas berkeliaran.
"Sepertinya berita baik" sindir Shinta. Reyhan langsung mengangguk.
"Issabel sudah tertangkap" jawab Reyhan. Shinta menarik nafas lega sangat lega, akhirnya dia bisa terbebas dari ketakutan.
__ADS_1
"Dia tertangkap dimana?" tanya Shinta. Reyhan tersenyum.
"Di perusahaan Wijaya" jawab Reyhan.
"Perusahaan Sandy?" Shinta mencoba meyakinkan kalau dia tidak salah dengar. Reyhan mengangguk.
"Kok bisa?" tanya Shinta heran.
"Devi dan Nayla mengusulkan untuk memancing macan betina itu keluar. Saat Issabel menghubungi dan mengancam Devi, Devi memberitahu sepupunya kalau dia bisa membantu Issabel mendapatkan Sandy. Cara itu disetujui Nayla" jelas Reyhan.
"Hari ini memang sengaja membuat Issabel berani menemui Sandy di perusahaanya, dimana para aparat polisi sudah menyamar bersiap-siap menagkapnya" lanjut Reyhan.
Shinta mengangguk mengerti, ternyata suami dan yang lain telah menyusun rencana dengan sangat baik. Shinta kini bisa tersenyum lebar.
"Kamu bahagia?" tanya Reyhan yang sudah berada dihadapan Shinta. Shinta mengangguk dan memeluk Reyhan. Ilham yang melihat kedua orang tuanya berpeluk mendekat.
"Abang juga mau dipeluk" ucapnya menganggu kemesraan keduanya.
Shinta dan Reyhan mengurai pelukan mereka lalu mengajak Ilham masuk kedalam pelukan kedua orang tuanya. Shinta mengucap syukur dengan kebahagiaan ini. Semoga tidak ada lagi orang-orang yang akan mengganggu kebahagiaannya.
Reyhan ijin pada Shinta untuk kekator polisi bersama Dewa, masalah ini harus segera diselesaikan.
Selepas kepergian Reyhan, Tina anak asuh Shinta datang sambil membawa sebuah kotak yang cukup besar.
"Ada paket bu" Tina meletakkan kotak itu dihadapan Shinta.
"Dari siapa Na?" Tina menggelengkan kepalanya.
"Tina tidak tahu bu, pak satpam yang bawa" jawab Tina jujur.
Dengan rasa penasaran Shinta membuka paket tersebut, dia merasa tidak berbelanja online, walaupun belanja biasanya dia pakai alamat toko.
"Astagfirullah" ucap Shinta saat melihat isi kotak tersebut.
__ADS_1
...◇◇◇...