
Waktu terus berjalan, tidak terasa kandungan Shinta sudah menginjak usia lima bulan. Selama tiga bulan diawal kehamilan Shinta, Reyhan setiap pagi mengalami Morning sickness mengantikan Shinta. Mual dan muntahnya akan berhenti atau hilang bila sudah memeluk Shinta sampai dia kembali tertidur. Setelahnya begitu dia bangun nafsu makannya akan bertambah dua kali lipat. Tidak hanya itu, sikapnya lebih manja pada Shinta membuat Shinta tidak bisa mengurus Ilham dengan maksimal.
Menghadapai sikap Reyhan yang seperti itu Shinta harus bersabar, terlebih lagi Ilham juga sangat menuntut perhatian lebih darinya. Pernah satu hari dimana anak laki-laki itu mogok pergi kesekolah kalau Shinta tidak mengantarnya dan tidak menungguinya di sekolah, sementara Reyhan akan terus mual dan muntah bila tidak memeluk Shinta. Akhirnya Shinta membiarkan Ilham tidak masuk sekolah dan mengajak putranya ikut kembali tidur bersamanya dan Reyhan.
Reyhan yang selalu datang siang keperusahaan, membuat pekerjaan Melly bertambah. Setiap pagi dia yang harus mengantikan Reyhan untuk briefing. Untungnya itu tidak berlangsung lama, kehidupan Reyhan dan Shinta sudah kembali normal. Reyhan sudah bekerja seperti biasa walau manjanya pada Shinta tetap ada, tapi dia bisa mengontrolnya untuk tidak berlebihan. Shinta juga bisa datang ke tokonya setiap hari.
Disinihah dua wanita hamil dalam ruang kerja mereka sedang menikmati makan siang. Ilham siang ini ikut pulang kekediaman Zein, untuk nonton bersama di teather mini milik Zein. Sementara Reyhan ada pertemuan dengan rekan bisnisnya sehingga Shinta tidak perlu menemaninya makan siang seperti biasanya.
Shinta baru saja selesai menunaikan kewajibannya sebagai muslim lalu ingin segera membaringkan tubuhnya di kamar rahasia yang ada diruang kerjannya dan Devi.
Shinta melipat mukenanya untuk kembali disimpan dirak yang memang disiapkan untuk menyimpan mukena dan sejadah. Baru saja dia melangkah keluar dari mushola yang memang disiapkan untuknya dan para karyawan juga para tamu toko, seseorang membekap mulutnya, Shinta sempat berontak namun akhirnya dia tidak sadarkan diri.
Devi baru saja menyelesaikan makannya dan berniat menyusul Shinta di mushola toko "Tidak biasanya teteh selama ini di mushola" gumamnya. Sampai mushola dia tidak menemukan Shinta, Devi berpikir mungkin Shinta melihat keadaan toko bagian depan.
Setelah menyelesaikan tugasnya Devi bermaksud menyusul Shinta. Namun baru saja kakinya melangkah keluar dari mushola, dia melihat sosok Reyhan.
"Teteh mana Dev?" tanya Reyhan.
"Bukannya teteh ada didepan bang" jawab Devi.
"Tidak ada, anak-anak bilang teteh tadi di mushola, makanya saya kesini" Reyhan menjelaskan.
"Iya, selesai makan tadi teteh kesini, tapi itu sudah tiga puluh menit yang lalu"
"Kemana dia?" gumam Reyhan yang masih bisa didengar Devi.
"Mungkin kembali keruangan bang" keduanya berjalan keruang kerja Shinta dan Devi.
"Sebentar Devi lihat teteh, mungkin di kamar rahasia" ucap Devi dan mendapat persetujuan Reyhan dengan mengangguk.
Sementara Reyhan, dia menuju meja kerja Shinta duduk disana sambil menatap layar pipih yang selalu menyala. Dia menemukan ide untuk mencari Shinta melalu CCTV.
Reyhan mencoba mencari keberadaan Shinta satu jam sebelumnya. Satu-satu layar dia perhatikan, terlihat sudah Sosok Shinta yang baru keluar dari ruang kerja menuju mushola. Cukup lama disana, namun ada dua orang yang mencurigakan berdiri tidak jauh dari mushola. Reyhan yakin itu bukan karyawan toko, karena hampir semua karyawan Reyhan kenal.
"Ada apa bang?" tanya Devi saat melihat kening Reyhan berkerut, sementara dia tidak menemukan Shinta dikamar.
__ADS_1
"Kamu kenal mereka?" tanya Reyhan menunjuk dua orang pria yang ada dilayar saat Devi mendekat.
"Mungkin tamu bang" jawab Devi apa adanya. Karena kedua pria itu berpakaian rapi dan bersih.
Reyhan kembali melanjutkan untuk mengamati apa yang akan terjadi selanjutnya. Terlihat salah satu pria itu berjalan menuju mushola dan menganggukkan kepalanya seakan memberi kode pada temannya. Benar saja apa yang Reyhan curigai terjadi, Mereka membekap Shinta dengan sapu tangan yang Reyhan yakin itu telah diberi obat bius. Istrinya sempat berontak lalu akhirnya tidak sadarkan diri.
"Sihte" umpat Reyhan. "Siapa lagi yang mau bermain-main kali ini" kesalnya.
"Apa yang terjadi bang?" tanya Devi saat mendengar Reyhan menggumpat.
"Tetehmu diculik" jawab Reyhan.
Devi kembali mendekat dia meliat kelayar, Shinta dibawa lewat pintu belakang oleh kedua pria tersebut, karena itu tidak ada karyawan yang menyadari kepergiannya.
Reyhan langsung mengabari yang lain kalau Shinta diculik. Devi juga langsung menghubungi Dewa dan memberi tahu kabar penculikan Shinta.
Semua berpencar mencari keberadaan Shinta, sementara Roy langsung mencari melalui CCTV yang ada dikota Bandung.
Ditempat lain, tepatnya diteras rumah salah satu warga, ibu-ibu sibuk mencoba menyadarkan seorang wanita hamil yang sejak tadi tidak sadarkan diri.
"Kenapa dia belum sadarkan diri juga ya" tanya salah satu ibu-ibu yang membantu wanita hamil tersebut.
"Yang nu mawa neng geulis iue tadi siapa ceu" tanya salah satu ibu-ibu yang lain.
"Duka ceu. Dua orang pria, katanya menemukannya di jalan sudah tidak sadarkan diri"
"Dibawa ka dokter we" saran ibu-ibu yang lain.
"Benar takutnya kenapa-napa. Soalnya lagi hamil" sahut ibu-ibu yang lain lagi.
Ditengah debat mereka, ada suara baritone yang bertanya pada mereka.
"Maaf ibu-ibu, saya dengar ada wanita hamil yang pingsan disini?" tanyanya.
"Benar kasep, ini orangnya. Ta...." belum selesai ibu itu bicara pria itu sudah lebih dulu memanggil.
__ADS_1
"Teteh" pria itu langsung mendekat dan menepuk-nepuk wajah wanita hamil itu.
"Ibu-ibu, ini teteh saya. Terima kasih sudah menolongnya. Dia korban penculikan. Saya permisi, biar saya bawa kerumah sakit" sebelum menggendong tetehnya, dia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.
"Ibu-ibu, ini buat bayar makanan yang ibu beli diwarung ini. Sekali lagi terima kasih" ucapnya lalu membawa tetehnya kedalam masuk kedalam mobil.
flash back
Didalam sebuah mobil. Shinta masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Boy, cepat tutupi wajahnya sebelum dia sadar" ucap salah satu penculik itu yang bernama Tio.
"Baiklah" jawab Boy.
Namun saat dia akan nenutup wajah Shinta, dia menyadari ada sesuatu yang salah.
"Ada apa Boy?" tanya Tio, dia melihat kearah Boy sekilas karena harus konsentrasi dengan kemudi yang dipegangnya.
"Sepertinya kita salah orang" jawab Boy.
"Apa?"
Mendengar itu Tio segera menepikan kendaraannya, dia berbalik kebelakang mengikuti Boy untuk melihat wanita yang mereka culik.
"Kau benar Boy, bagaimana ini" ucap Tio.
"Kita turunkan dipinggir jalan saja" usul Boy.
Keduanyapun akhirnya menurunkan Shinta dipinggir jalan yang cukup ramai.
"Bawa ke warung nasi rames itu saja Boy, katakan saja kalau kita menemukan dia pingsan dipinggir jalan"
Dengan sedikit berjalan kaki, mereka membawa tubuh Shinta dan menyerahkannya pada pemilik warung.
...◇◇◇...
__ADS_1