Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
40. Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

"Sandy" mendengar namanya dipanggil Sandy memalingkan wajahnya pada sumber suara.


"Harem" panggil Sandy balik menyapa Harem. Dia melepaskan rangkulannya pada sang istri, berjabat tangan dan saling berpelukan.


"Sudah lama tidak bertemu, apa kabar?" tanya Harem. Dia mengenal Sandy untuk pertama kali saat berkunjung di apartemen milik Reyhan. Dia diperkenalkan sebagai teman Reyhan pada Sandy, karena saat itu masih awal perkuliahan. Sandy yang friendly membuat Harem juga nyaman berteman dengan Sandy.


"Kabar baik. Bagaimana sama kamu? sudah bertemu lagi sama gadis yang kamu ceritakan waktu itu?" pertanyaan Sandy membuat Harem memalingkan wajahnya menatap Nayla.


Sandy yang melihat itu hanya berpikir kalau Harem minta dikenalkan pada Nayla istrinya. "Kenalkan ini istrku. Aku mengundangmu waktu pernikah kami tapi kamu tidak datang"


"Maaf dan selamat walau terlambat" jawab Herem singkat. "Mungkin kita kenalan lagi aja Nay, biar kamu tidak lupa" Harem tersenyum menggoda.


"Kalian sudah saling kenal?" Sandy sedikit penasaran, dia melihat ada pandangan yang berbeda dari Harem pada Nayla.


"Iya, beberapa tahun yang lalu. Tapi sepertinya istrimu lupa kalau menegenal saya" Harem terkekeh.


"Ayo Hans" Nayla mengajak Sandy segera keruangan Reyhan. Sandy mengangguk setuju.


"Bertemu dimana sama Harem?" Sandy bertanya saat mereka sudah cukup jauh meninggalkan Harem.


"Lupa, tapi tadi Harem bilang kalau kita pernah bertemu di Belanda beberapa kali"


Jawaban Nayla menghentikan langkah Sandy. "Ada apa?" tanya Nayla yang ikut berhenti berjalan.


"Tidak ada" Sandy menggelengkan kepalanya. Sekarang dia mulai mengerti arti tatapan Harem, pria itu pernah cerita padanya kalau dia jatuh cinta pada seorang gadis saat di Belanda. Sekarang Sandy tahu, kalau wanita itu adalah Nayla istrinya dan dia juga bersyukur karena Nayla tidak mengingat pertemuannya dengan Harem, itu menadakan kalau Nayla tidak menganggap pertemuan itu sesuatu yang spesial. Selama ini Harem bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


"Daddy" Raka membuyarkan ingatan Sandy tadi siang tentang Harem.


"Daddy mikirin apa? sampe nggak dengerin apa yang Lola sama Putri ceritain" kesal Lola.


Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga seperti biasa berbagi cerita apa yang mereka lakuka satu hari ini.


"Maaf Daddy tidak konsentrasi. Sekarang bisa diulangi" pinta Sandy.


"No" jawab Lola dan Putri bersamaan. "Tidak ada yang namanya siaran ulang" jawab keduanya lagi.


"Kalian ini memang kompak ya" sandy terkekeh melihat kedua keponakannya ini. Mereka tumbuh begitu cepat, tidak terasa sebetar lagi mereka akan berpisah. Sandy dan Nayla harus merelakan kepergian mereka, ini juga untuk masa depan mereka. Dia dan Nayla pasti akan merindukan saat-saat seperti ini.


Sementara itu di Cafe Zein, dua pria tampan sedang duduk menikmati secangkir kopi hitam dan beberapa makanan ringan. Sesekali saling memperhatikan dalam diam sambil menyesap kopi dihadapan mereka.


Reyhan memperhatikan Jonathan yang tampak kusut. Sejak kembali dari kamarnya Jonathan tampak berbeda, tidak ada senyum diwajahnya seperti biasa, yang terlihat adalah kemarahan dan tidak banyak bicara seperti sebelumnya. Setelah makan siang bersama, Jonathan menghilang begitu saja, bahkan Jessycapun tidak tahu kemana suaminya pergi.


"Kesuatu tempat yang membuatku tenang" Jonathan bicara tanpa melihat Reyhan, dia lebih suka melihat keramaian yang ada diluar sana memalui dinding kaca yang lebar.


"Aku ingin mengakui sesuatu padamu sebelum kembali ke USA. Jangan memotong apa yang aku katakan, kamu cukup mendengarkan saja" kini Reyhan yang mengerutkan keningnya mendengar ucapan Jonathan.


"Aku mengenal Shinta sejak SD, dia gadis kecil yang lucu dan mengemaskan. Waktu itu aku sedang ikut ayahku menemui Tante Syila, entah apa yang mereka bicarakan yang kutahu saat itu Tante Syila belum menikah dengan Om Jay. Satu minggu dari hari itu, tanteku pulang Ke USA bersama kedua putranya dan memberitahu kami kalau dia dan Om Jay bercerai. Tidak butuh waktu lama Om Jay menikahi Tante Syila, membuat kedua putranya membenci Om Jay dan Tante Syila."


Jonathan menjeda ceritanya, menyesap kopi yang ada dihadapannya. Reyhan melakukan hal yang sama menyesap kopi dihadapannya sambil terus memperhatikan Jonatahan. Ini sudah sangat larut, mereka memang membutuhkan minuman itu untuk membuat mereka tetap terjaga.


"Setiap ayahku berkunjung ke Indonesia, dia selalu mengajakku. Tidak pernah satu kalipun dia meninggalkan ku sendiri dan itu membuatku sering bertemu Shinta. Sampai akhirnya saat Shinta akan lulus SMP aku menyatakan perasaanku padanya"

__ADS_1


Jonathan tersenyum mengenang saat itu. Sementara Reyhan merasa tidak suka mendengarnya, tapi dia berusaha mengontrol emosinya.


"Shinta saat itu menolak tapi dia masih sangat lugu, jadi aku selalu mengganggu dan mengajaknya menemaniku jalan-jalan keliling kota Bandung" Jonathan Terkekeh


"Lucunya lagi saat aku akan kembali ke USA aku katakan padanya terima kasih sudah jadi pacarku. Wajahnya memerah karena marah, dia marah dan membenciku. Tapi aku terus menggodanya sampai akhirnya aku menyadari kalau aku sangat mencintainya, bukan cinta sesaat"


Wajah Reyhan tampak berubah mendengar pengakuan Jonathan.


"Tapi itu adalah pertemuanku terakhir dengannya, terakhir dan berkesan sampai aku selalu merindukannya. Entah mengapa sejak saat itu, ayah tidak pernah lagi mengajakku berkunjung ke Indonesia. Sampai akhirnya setelah selesai kuliah aku memberanikan diri bicara pada ayah tentang niatku yang ingin melamar Shinta"


"Ayah tidak mengijinkan karena banyak perbedaan antara kami. Itu salah satu alasan ayah, yang dengan terpaksa aku terima"


"Lalu ayahku memberi kabar penikahan kalian dan dia menjodohkanku dengan Jessyca"


Jonathan kembali menyesap kopinya, kali ini sampai tandas. Sementara Reyhan tetap bertahan dengan diam walau ada rasa tidak nyaman saat Jonathan mengatakan ingin melamar Shinta.


"Tapi bukan itu masalah yang membuat aku kecewa" Jonathan kembali memandang keluar dimana jalanan sudah tidak sepadat saat dia datang.


"Om Jay dan Tante Syila adalah sepasang kekasih yang harus terpisah oleh keegoan seorang Smith. Om Jay dijebak untuk tidur bersama tanteku dan dipaksa untuk menikah. Walau rencana ayahku berhasil memisahkan mereka, Tante Syila tetap tidak ingin menikah dengan ayahku dan rela menjadi perawan tua"


"Alasan ayahku menentang keinginanku untuk melamar Shinta karena dia yang ingin hidup bersama Tante Syila. Hal inilah yang membuat aku marah dan kecewa. Rasanya menusuk sangat sakit saat tahu kebenarannya, dia mengorbankan kebahagiaan putranya demi keegoisannya"


Jonathan terus bercerita pada Reyhan sampai akhirnya dia mengetahui semua kebenaranya tadi siang. Jonathan lega dia rasa sudah tidak ada lagi yang dia sembunyikan. Mengakui cintanya yang bertepuk sebelah tangan pada Shinta dihadapan Reyhan bukan hal yang memalukan baginya. Sementara itu ruangannya, Zein memperhatikan keduanya sambil mendengarkan apa yang dibicarakan keduanya melalui earphone, dia sudah memasang alat penyadap suara sesuai permintaan Reyhan.


"Aku minta kamu bisa membahagiakan Tante Syila, dia terlalu banyak menderita karena ayahku, bukan hanya dia tapi juga aku. Tapi aku senang Shinta mendapatkan suami sepertimu, setidaknya aku tidak perlu menghawatirkan kebahagiaannya"

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2