
Sehabis dari pemakaman, Mr.Smith dan keluarga dibawa kembali ke hotel untuk istirahat setelah makan siang. Shinta tidak tahu kalau Mr.Smith dan keluarganya ternyata menginap di hotel Reshin milik Reyhan.
Mama Syila dibantu Putra dan koko yang mengurus semuanya, Shinta tidak pernah diajak terlibat, tugasnya hanya menemani tamu. Seperti saat ini, Mama Syila sudah memesan tempat khusus untuk menjamu makan siang tamunya di hotel Reshin. Yang harusnya diketahui Reyhan sebagai pemilik hotel ini, tapi suaminya tidak pernah membicarakan apapun padanya.
Sebelum acara makan siang bersama dimulai, Shinta pamit sebentar untuk menemui Reyhan. Dia berjalan keluar ruang perjamuan dan kebetulan sekali bertemu dengan Melly sekertaris yang juga saudara sepupu suaminya tersebut.
"Teteh nganter tamu yang dari USA ya?" tanya Melly begitu melihat Shinta yang langsung mengangguk membenarkan pertanyaan Melly.
"Kalau mencari Bang Rey, dia ada di room lima, bersama teman-teman kuliahnya" Melly langsung memberi laporan pada Shinta.
Melly sedikit mengerutkan keningnya saat sadar dibelakang Shinta ada pria bule tampan yang membuatnya terpana. Dia menarik shinta untuk mendekatkan wajahnya.
"Siapa yang dibelakang Teteh" bisik Melly.
Shinta yang tidak tahu siapa yang dimaksud Melly membalikkan badanya. Dia menatap heran, mengapa Jonathan mengikutinya? Pria tampan itu tersenyum padanya saat Shinta menatapnya heran.
"Kenapa Teh" tegur Melly saat melihat Shinta menggelengkan kepalanya.
"Dia tamu Teteh, tapi Teteh tidak mengerti mengapa dia mengikuti Teteh" jelas Shinta sambil berbisik.
"Bawa aja ketemu Bang Rey, biar si Abang cembokur" usul Melly yang ingin menggoda abang sepupunya.
"Cari majalah (masalah) kamu mah Mel" gerutu Shinta. Melly terkekeh mendengar penolakan Shinta.
"Buat jaga-jaga, biar Teteh bisa balas Bang Rey, siapa tahu ada temen Bang Rey yang cewek lagi godain si Abang. Nah Teteh nggak akan kalah kalo bawa tuh bule ganteng"
"Memangnya banyak ceweknya juga ya?" Shinta kepancing sama apa yang disampaikan Melly.
"Tidak banyak sih, tapi tadi ada satu yang nyari Bang Rey keruangan, untungnya Bang Rey belum datang jadi aman tidak berduaan diruangannya Bang Rey"
Shinta mengacungkan dua jempol, Melly informan yang sangat diandalkan Shinta.
__ADS_1
"Teh, kang bulenya buat aku boleh?" Shinta tidak bisa menahan tawanya saat Melly menunjukkan wajah malu-malu yang bikin malu-maluin.
"Apa ada yang lucu?" Jonathan tidak bisa menahan untuk tidak bertanya saat melihat Shinta tertawa.
Dia ingat pertemuannya pertama dengan Shinta, gadis remaja itu tertawa lepas tanpa beban yang membuat Jonathan merasakan getaran hebat didadanya. Terlebih lagi saat menatap mata indah milik Shinta, membuatnya benar-benar jatuh cinta. Karena itulah dihari kedua pertemuan mereka, dia langsung meminta Shinta jadi kekasihnya, walau mendapat penolakan keras dari Shinta.
Sayangnya saat Jonathan membicarakan Shinta dan keinginanya untuk mempershunting gadis imut yang mampu merubah dirinya menjadi orang yang baik pada orangtuanya, dia mendapat penolakan keras dari sang Papa. Bukan tanpa sebab, Mr.Smith sudah menjodohkan Jonathan dengan Jessyca putri sahabtnya, serta keyakinan mereka yang berbeda membuatnya diminta untuk mundur, walau dia sebenarnya bersedia untuk pindah keyakinan mengikuti Shinta.
"Ohh, baru dengar suaranya aja jantung adek udah meleleh Bang" wajah Melly memerah.
"Udah punya istri dia, jangan jadi pelakor" bisik Shinta lagi, sambil berlalu meninggalkan Melly dan juga Jonathan.
Shinta melangkah ke room lima seperti yang disebutkan Melly dimana suami dan teman-temannya berkumpul.
Pintu terbuka lebar, Shinta dapat melihat sudah ada beberpa tamu yang datang. Saat kakinya berada tepat diambang pintu, saat itu juga langkahnya terhenti, dia seakan lumpuh. Melihat jelas dihadapannya Reyhan suaminya memeluk erat wanita berambut pirang yang sayangnya Shinta tidak dapat melihatnya dengan jelas, karena wajah wanita itu sebagian tertutup bahu Reyhan.
Reyhan dan Jessy, dimata Shinta tampak sama-sama saling merindukan. Pelukan mereka sangat erat, bahkan mereka sama-sama menikmatinya. Shinta sadar, selama ini dia tidak begitu banyak tahu tentang kehidupan Reyhan di Inggris, siapa saja temannya dan mungkin saja wanita itu mantan kekasih suaminya. "Baiklah kita selesaikan masalah ini hari ini juga" gumam Shinta.
Shinta menggurungkan niatnya untuk bertemu Reyhan, saat dia berbalik ada Melly tepat dibelakangnya. "Kebetulan sekali, Teteh tadinya mau menemuimu Mel" matanya sambil melirik Reyhan.
"Katakan padanya aku menunggunya diruangan" Shinta pergi meninggalkan Reyhan yang masih setia memeluk Jessy.
Harem yang melihat kehadiran Shinta diambang pintu, menatap kagum wanita berhijab itu sangat anggun dan bersahaja. Terbayang dikepalanya sosok wanita lembut yang penuh kasih sayang yang dia cari selama ini. Sayangnya Shinta melangkahkan kakinya kembali keluar. Dengan cepat Harem meninggalkan Reyhan dan Jessy, mengejar Shinta yang sudah menghilang. "Cepat sekali hilangnya" gumam Harem.
"Hem" Melly berdehem untuk menyadarkam Reyhan dan Jessy.
"Teteh tadi disini" seketika Reyhan tegang, mengapa dia terlalu terbawa suasana saat Jessy memeluknya erat.
"Sekarang Teteh dimana?" tanya Reyhan.
"Diruangan menunggu Bang Rey" tanpa menunggu lama Reyhan melangkah meninggalkan Jessy dan Melly begitu saja.
__ADS_1
"Rey, kamu mau kemana?" suara Jessy membuat yang hadir disana menatapnya.
Reyhan tidak peduli dengan teriakan Jessy, dia harus cepat sampai diruangannya yang ada di lantai sepuluh.
"Shinta" panggil Reyhan saat masuk dalam ruangannya. Istrinya sedang berdiri didepan jendela meatap langit yang hari ini sangat cerah.
"Sayang, Abang bisa jelaskan padamu" Reyhan berjalan mendekati Shinta.
"Dia Jessy sahabat Abang waktu di Inggris, hubungan kami tidak lebih dari itu, sebelum memeluk Abang dia juga memeluk Harrem, sahabat Abang juga yang tadi berdiri diantara kami" jelas Reyhan.
Shinta tidak menanggapi apa yang dikatakan Reyhan, tapi dia mencerna setiap kata yang diucapkan suaminya. Mereka sudah terlalu sering salah faham, terlebih lagi dirinya. Karena itu Shinta kali ini tidak akan melakukan kesalahan dengan emosi. Bahkan dia sangat sadar hari ini dia juga melakukan kesalahan dengan membiarkan Jonathan merangkul dan menggenggam tanganya.
"Bang Rey bisa lanjutkan keacara pertemuan Abang. Shinta masih harus menemui tamu Mama Syila" cukup jelas penjelasan yang diberikan Reyhan, bahkan dia tidak bisa menjelaskan pada Reyhan mengapa Jonathan merangkulnya, karena jelas sekali kalau pria itu ingin menjalin hubungan dengannya.
Shinta melangkah hendak meninggalkan Reyhan, saat itu juga dengan cepat Reyhan merengkuh tubuh istrinya, memeluknya erat.
"Ikut Abang keacara pertemuan itu, Abang ingin mengenalkan kamu pada teman-teman Abang" Reyhan memasang wajah memohon agar Shinta ikut dengannya.
Shinta tersenyum, sesuai yang dia rencanakan. Dia bicara tanpa amarah, tidak akan selesai dengan kemarahan walau dia kecewa.
"Baiklah, Shinta ikut dengan Abang" senyum merekah diwajah Reyhan, tidak membuang kesempatan Reyhan langsung menyatukan bibir mereka.
"Rey" panggil sesorang yang masuk tanpa permisi keruangan Reyhan. Wajahnya tampak kesal saat menemukan sepasang manusia yang saling bertautan.
Reyhan melepaskan tautanya, lalu kembali mengecup bibir tipis istrinya sekilas. Menambah rasa kesal untuk Jessy yang melihatnya.
"Maaf Bang, teman Abang sudah Melly larang tapi main nyelonong aja kayak lenong bocah, tidak ada sopan santunya"
"Tidak apa-apa Mel, kamu bisa meninggalkan kami" sahut Reyhan.
"Tentu saja, kalian bisa melanjutkannya dirumah, atau perlu Melly siapakan satu kamar" goda Melly dengan sengaja memanasi Jessy.
__ADS_1
Reyhan tertawa mendengar kata-kata Melly, tentu dia sangat mengerti apa yang dimaksud Melly. Sepupunya itu sangat menunjukkan ketidak sukaannya pada Jessy seja awal.
...◇◇◇...