Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
76. Jangan Pernah Tinggalkan


__ADS_3

Kehidupan Shinta dan Reyhan kembali tenang setelah biduk rumah tangga mereka terkena badai oleh orang-orang masa lalu mereka. Namun badai tersebut membuat kekuatan cinta diantara mereka semakin kuat.


Berawal dari sama-sama ingin melupakan luka masa lalu, menerima begitu saja perjodohan yang direncanakan kedua mama mereka. Reyhan yang lebih dulu memiliki ketertarikan pada Shinta merasa bersyukur dengan rencana mamanya yang mempertemukannya dengan wanita cantik yang bisa membuatnya selalu merasakan debaran cinta.


Kehadiran kedua putra mereka menambah lengkap kebahagiaan keluarga kecil tersebut. Tidak dapat dipungkiri kedua pria kecil yang menduplikat wajah tampan papa mereka kelak akan jadi idola para gadis. Shinta sering tersenyum sendiri membayangkan masa depan keduanya, akan ada banyak gadis cantik yang ingin menjadi menantunya kelak.


"Mama" suara kedua putranya menarik Shinta dari lamunannya.


Tidak hanya putranya tapi juga Maura gadis kecil putri Jessyca dan Jonathan ikut memanggilnya mama padanya, sama seperti putra Nayla dan ketiga sahabatnya.


"Ada apa sayang?" tanya Shinta pada ketiganya.


Saat ini mereka sedang berlibur ke pantai pangandaran. Hanya dua keluarga kali ini, keluarga Reyhan dan Jonathan, karena Nayla, Zein dan yang lain punya kesibukan dengan keluarga mereka masing-masing.


Reyhan, Jonathan dan Jessyca pergi untuk snorkeling, sementara Shinta bagian yang menjaga anak-anak bermain di pinggir pantai ditemani pengasuh Ihsan dan Maura.


"Abang mau naik itu ma" Ilham menunjuk sebuah perahu.


"Nanti ya bang kita tunggu papa, Daddy Jo dan Mommy Je kembali" bujuk Shinta, tidak mungkin dia membiarkan putranya yang baru berusia tujuh tahun pergi sendiri.


"Sekarang abang sama adek Ihsan dan Maura makan dulu ya" bujuk Shinta.


"Maura mau mamam ma" sahut gadis kecil itu, diikuti Ihsan yang selalu ikut apapun yang dilakukan Maura. Shinta terkadang geli sendiri pada Ihsan, putranya seakan tidak mau terpisah dari Maura.


Shinta membuka bekal makanan mereka setelah anak-anak ikut duduk bersamanya. Maura dan Ihsan disuapi pengasuh mereka masing-masing, sedangkan Ilham menyendok makanannya sendiri.


Dari kejauhan Shinta bisa melihat Reyhan yang berjalan kearah mereka, suaminya masih saja terlihat tampan dan gagah walau usianya terus bertambah. Tidak terasa sudah delapan tahun mereka membina rumah tangga.


"Papa" Ilham yang melihat kehadiran papanya segera memanggil.


"Pa, abang mau naik itu, tapi mama bilang tunggu papa" sang putra langsung mengatakan apa yang diinginkannya.


"Papa istirahat dulu sayang" sela Shinta. Ilham memasang wajah cemberut.


Reyhan terkekeh putra sulungnya sama seperti Shinta sang istri bila menginginkan sesuatu.

__ADS_1


"Sama kayak kamu ma" bisik Reyhan sambil menunjuk putra sulungnya.


"Ya.. ya.. yaaaa kalau yang jelek-jelek seperti mama, yang bagus-bagus meniru papa"


"Tuh kan sama" goda Reyhan. Hal yang sangat disukai Reyhan bila Shinta bersikap seperti ini, bukan berhenti menggodannya dia malah semakin membuat Shinta kesal sampai sang istri menyadari kalau sudah dipermainkan suaminya.


"Ilham sama daddy saja kalau mau naik perahu" tawar Jonathan pada putra wanita yang dicintainya.


Walau dia sudah membuka hati untuk Jessyca, namun cintanya untuk Shinta tidak pernah hilang. Cinta itu tetap tumbuh walau dia tahu tidak mungkin memilikinya. Dengan cara seperti inilah Jonathan menyalurkan perasaannya, memberikan perhatiannya pada Shinta dan kedua putranya.


"Boleh ma, pa?" tanya Ilham meminta ijin" Shinta dan Reyhan mengangguk.


"Ayo princes, Ihsan. Kalian mau ikut daddy dan abang?" Jonathan mengajak dua balita usia tiga tahun tersebut yang masih asik dengan mainan mereka.


"Ikut" teriak keduanya bersamaan. Jonathan langsung menggendong kedua balita tersebut, diikuti kedua pengasuh mereka.


"Mana Jessyca bang?" tanya Shinta. Dia tidak melihat sahabat suaminya tersebut datang bersama Reyhan dan Jonathan.


"Dia bertemu Lyra dan memilih tinggal untuk berbincang" jelas Reyhan.


"Ma" Reyhan memeluk Shinta dari belakang, mengecup pipi istrinya lalu meletakkan dagunya di bahu Shinta.


"Pa, banyak orang, malu ah" Shinta menginstruksi.


"Kita hanya berdua sayang" jelas Reyhan sambil terkekeh.


Shinta melihat sekeliling, benar saja mereka hanya berdua. Reyhan dan Jonathan memilih tempat yang lebih privat yang memang disiapkan oleh pihak pengelola.


"Abang dan Jo berencana membangun hotel atau resort disini. Bagaimana menurutmu?" tanya Reyhan sambil memberi tahu tujuannya mengajak Shinta berlibur ke Pangandaran.


"Rencana yang bagus, tapi jangan lupa tetap berpihak pada penduduk yang ada disini. Minta pendapat mereka dan seperti biasa berdayakan mereka"


"Tentu sayang, abang tidak mungkin mencari keuntungan untuk kita sendiri. Terima kasih juga sudah menginggatkan" Reyhan mengeratkan pelukannya dan kembali mengecup pipi istrinya.


"Hemm" Shinta dan Reyhan langsung melihat kearah sumber suara.

__ADS_1


"B" teriak Shinta tidak percaya.


"Jangan panggil aku seperti itu teh" pinta Bob, tentu saja hanya satu orang yang boleh memanggilnya B.


"Jangan marah, teteh hanya menggodamu karena kamu sedang sendiri. Teteh tidak akan berani kalau ada Fenita" jelas Shinta.


Bob hanya tersenyum tipis. Dia ke pantai hari ini untuk mencari suasana yang berbeda dan untuk menenangkan hati dan pikirannya. Tidak menyangka akan bertemu Shinta dan Reyhan.


"Kalian semakin mesrah saja" goda Bob, karena Reyhan tidak melepaskan pelukannya walau ada Bob diantara mereka.


"Tentu, ini cara kami untuk menambah keharmonisan rumah tangga Bob. Bukan begitu sayang?" Reyhan mengedipkan sebelah mata pada Shinta menggoda istrinya.


"Kamu juga harus melakukannya dengan istrimu" lanjut Reyhan.


"Dimana Fenita, kenapa hanya sendiri?" tanya Shinta sambil mencari-cari mungkin saja akan menemukan sosok Fenita.


"Fenita pulang ke rumah orang tuanya" Bob menjawab dengan pandangannya yang jauh kelaut lepas.


"Apa keluarganya baik-baik saja?" tanya Shinta lagi.


"Keluarganya baik-baik saja, tapi kami yang tidak baik-baik teh" jelas Bob. Reyhan melepaskan pelukannya. Shinta sekarang menghadap Bob, dia yakin sesuatu telah terjadi dengan rumah tangga mantan kekasih Nayla ini.


"Apa yang terjadi?" tanya Shinta hati-hati.


"Kami berpisah teh. Aku lelah menghadapi sikap Feni yang selalu cemburu dan cemburu pada Nayla. Aku sudah mengikuti semua yang dia inginkan untuk tidak bertemu Nayla dan berhubungan lagi. Tapi tetap saja itu tidak merubah apapun. Disaat aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa aku marah dan membandingkan dia dengan Nayla dan aku memberi tahunya kalau aku menikahinya karena keinginan Nayla" Bob masih memandang kearah pantai, melihat ombak yang bergulung menghampiri bibir pantai.


"Tidak seharusnya kamu memberi tahunya Bob walau itu adalah kenyataannya"


"Aku tahu teh, tapi aku sudah tidak bisa lagi menutupinya. Feni tidak seperti yang Nayla sangkakan, dia egois dan emosional. Berbeda jauh dengan Nayla yang lemah lembut dan selalu memikirkan kebahagiaan orang lain"


Shinta menghela nafasnya, tentu saja tidak ada yang seperti Nayla. Bahkan dia sendiripun tidak bisa seperti sepupunya itu.


"Aku bersyukur kamu bukan tipe pencemburu" bisik Reyhan ditelingga Shinta.


Kalau rasa cemburu Shinta tinggi seperti istri Bob, sudah dapat Reyhan bayangkan masalah yang kemarin mereka hadapi sudah pasti akan berakhir seperti yang terjadi pada Bob sekarang ini, perpisahan. Reyhan menggelengkan kepalanya, tidak bisa membayangkan jika tanpa Shinta disisinya.

__ADS_1


"Jangan pernah tinggalkan abang sayang" Reyhan kembali berbisik dan mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang.


...◇◇◇...


__ADS_2