
Cindy sadarkan diri, setelah empat hari dirawat. Perndarahannya sudah dapat dihentikan sejak hari pertama, anaknya tidak dapat diselamatkan. Tidak ada yang tahu sudah satu bulan ini Cindy mencoba mengugurkan kandungannya, dia tidak ingin ada jejak Farrel dihidupnya. Usahanya untuk mengugurkan tidak berhasil, karena itu dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
"Tante sudah sadar" Putri yang saat ini menjaganya dirumah sakit.
"Put" panggil Cindy pelan.
"Tidak apa-apa tante istirahat saja. Putri panggilkan dokter. Sebentar ya te" Putri keluar dari kamar rawat, dia segera memberi tahu perawat untuk memanggil dokter.
Dokter dan perawat segera masuk untuk melihat kesehatan Cindy. "Semua baik-baik saja Nyonya Pratama" ucap dokter tersebut. Cindy binggung dengan nama yang disematkan dokter itu untuk memanggilnya.
"Anda hanya butuh istirahat untuk memulihkan kesehatan anda. Kita akan lihat perkembangan kesehatan anda dalam satu dua hari ini. Kalau semua baik-baik saja anda bisa pulang. Anda pasti rindu berkumpul dengan suami dan anak anda. Beruntung sekali nyonya memiliki suami yang sangat perhatian" Cindy bertambah binggung dengan ucapan dokter tentang suami.
"Saya permisi nyonya" dokter itu pamit diikuti perawat meninggaljan Cindy yang masih belum mengerti dengan panggilan nyonya pratama untuknya.
"Apa yang terjadi Put?" akhirnya Cindy bertanya pada Putri begitu dia tidak bisa menemukan jawabannya semdiri.
"Tante mengalami pendarahan, maaf bayinya tidak selamat. Yang penting tante sehat dan baik-baik saja" jawab Putri.
"Bukan itu yang tante maksud Put" Putri menatap Cindy, tidak mengerti apa maksud tantenya itu.
"Dokter memanggilku Nyonya Pratama" jelas Cindy, apa yang dia tanyakan.
"Oh itu, Om Banu yang mendaftarkan nama tante waktu mengurus administrasi rumah sakit. Dia juga yang bertanggung jawab menandatangani tindakan dokter untuk menyelamatkan hidup tante" jelas Putri seperti apa yang dia ketahui.
"Itu yang Putri tahu, selebihnya tante bisa tanyakan sendiri pada Om Banu. Dia baru saja mengajak Jo pulang kehotel yang ada didepan rumah sakit ini untuk istirahat. Putri sih yang nyuruh dia istirahat di hotel" Putri terkekeh sendiri.
"Apa mau Putri kabari kalau tante sudah sadarkan diri, biar dia kembali lagi ke rumah sakit" lanjut Putri. Cindy menggelengkan kepala
"Biarkan dia dan Jojo istirahat" jawab Cindy.
"Tante mau minum?" Cindy mengangguk.
__ADS_1
"Kamu sudah sadar?" suara bariton itu memecah keheningan dikamar rawat inap Cindy.
"Papa Adam" panggil Putri.
Adam mendekati Cindy dan duduk dikursi yang ada disamping tempat tidur.
"Maafkan Cindy kak" ucap Cindy begitu kakak dari Nayla itu duduk.
"Buang semua masa lalu yang buruk, ada pria baik yang siap menjagamu. Kakak menjalankan amanah dari Opa Sander untuk menikahkan kamu dengan laki-laki baik. Apa kamu mau menerimanya?" tanya Adam.
"Berhentilah mengganggu Shinta dan Reyhan. Kamu adikku, Shinta juga adikku. Aku ingin kalian semua bahagia"
"Siapa laki-laki itu kak?" tanya Cindy. Adam terkekeh.
"Kamu pasti tahu siapa dia" jawab Adam. "Kakak harus ke perusahaan" pamitnya, lalu meninggalkan Cindy yang masih diam membisu memikirkan ucapan Adam.
"Pa, Putri ada pelajaran jam dua. Ingatkan Kak Rhein untuk jemput Putri disini" pinta Putri saat Adam akan melewatinya. Adam mengacak rambut Putri.
"Jangan mengada-ada Papa Adam yang terhormat" sungut Putri
"Putri mu ini masih mau sekolah. Kalau mau ada pesta pernikahan dikeluarga kita minta Tante Vina atau Om Eza yang sudah pantas menikah" Adam terkekeh dan kembali mengacak rambut keponakannya itu.
"Atau pernikahan Papa Adam dan Mbak Tari" Adam diam dan langsung meninggalkan Putri begitu saja. Putri tertawa puas melihat perubahan wajah Adam.
Banu membaringkan tubuhnya dikamar hotel. Jojo sudah lebih dulu terlelap karena kelelahan. Hampir satu minggu dia meninggalkan usahanya di Bandung. Untung saja dia memiliki orang-orang kepercayaan di tiap cabang percetakannya.
Banu mengingat percakapannya kemarin dengan Adam, dia menghela nafas panjang. Dia terlanjur berjanji tanpa persetujuan Cindy untuk menikahi wanita itu, Adam banyak menasehatinya. Memintanya melupakan tentang Cindy pernah tidur dengan Farrel, terlebih lagi benih yang ditanamkan laki-laki itu sudah tidak ada diperut Cindy. Sekarang yang harus dia pikirkan adalah kebahagiaan Aldert Atmojo Pratama putranya.
"Jojo akan sangat bahagia bila memiliki orang tua yang utuh, jangan buat dia bermasalah dalam hidupnya karena kesalahan kalian sebagai orang tua yang tidak mau mengalah"
Ucapan Adam itulah yang akhirnya membuat dia berjanji akan menikahi Cindy, selama ini juga dia mengharapkan itu untuk kebahagiaan Jojo.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Cindy menolak?" tanyanya pada Adam. "Selama ini Cindy yang selalu menolak untuk menikah dengan saya" lanjut Banu menjelaskan.
"Serahkan soal Cindy pada saya" jawab Adam tegas. Karena itulah Adam mengunjungi Cindy untuk membicarakan masalah ini, walau dia tidak bicara langsung siapa laki-laki yang dimaksudnya.
Karena lelah Banu akhirnya dapat memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuhnya. Sementara di rumah sakit, Cindy masih memikirkan nasehat Adam. Apa lagi setelah mendengar cerita drama penyelamatan nyawanya oleh Banu. Cindy merasa banyak bersalah pada pria itu, pria yang selama ini selalu ada untuknya, bahkan saat dia dititik terendah sekalipun.
Tidak terasa air matanya mengalir, membayangkan begitu jahatnya dia selama ini. Mencoba merusak kebahagiaan orang. Terperangkap dalam dosa.
"Tante" Putri mengelus rambut Cindy.
"Kamu tidak membenci tante Put?" tanya Cindy. Putri menggelengkan kepalanya.
"Putri tidak pernah membenci tante walaupun sempat kecewa dengan tante. Tapi Mommy Nay selalu mengajarkan Putri untuk tidak menyimpan dendam dan selalu memaafkan setiap kesalahan orang lain"
Cindy tesenyum, mengenang sosok Nayla yang tidak pernah lelah menasehati dan mengingatkannya untuk mengakhiri kebodohannya selama ini. Saudaranya itu tidak pernah menghujat dirinya yang selalu saja mengecewakan dan membuatnya malu.
Berkali-kali Nayla datang menemuinya, memohon padanya untuk menjauhi Reyhan. Cindy mengelengkan kepalanya, menyadari kebodohannya. Nayla sangat menyayangi Shinta bahkan dia mau meredahkan diri dengan memohon pada Cindy. Tanpa diketahui banyak orang, Nayla selalu saja membujuknya untuk menghentikan kekonyolannya.
Selama ini Cindy angkuh, tidak mau mendengar apapun yang dibicarakan Nayla. Ucapan Putri menampar keras wajahnya. Putri bersikap baik dan tidak membencinya bahkan ikut merawatnya saat ini, semua karen didikan Mommy Nayla yang selalu membimbingnya untuk melakukan kebaikan.
"Nay, maafkan aku" gumamnya.
"Put, katakan pada Kak Adam, tante menerima pernikahan ini" Putri tersenyum bahagia mendengar ucapan Cindy.
"Akan Putri sampaikan pada Papa Adam"
"Terima kasih Put" balas Cindy. Dia menejamkan matanya, bukan ingin tidur tapi dia ingin berdoa. Berdoa untuk kebahagian Jojo putranya.
'Ibu tahu kamu akan bahagia dengan pernikahan ibu dan Ayahmu Jo, Ibu berharap ayahmu juga bahagia dan ibu tidak bisa berharap untuk kebahagian ibu sendiri. Tapi ibu akan bahagia kalau kalian bahagia'
...◇◇◇...
__ADS_1