
Waktu berjalan cepat, tidak terasa putra keduanya kini sudah bisa berjalan dan berceloteh walau belum jelas apa yang diucapkan. Saat ini mereka sedang berkumpul di acara ulang tahun putri pertama Jessyca dan Jonathan di kediaman Mama Syila. Bukan pesta meriah, hanya acara kumpul keluarga dan sahabat.
Shinta terpaku saat melihat kakak angkatnya yang baru saja pulang dari masjid bersama suaminya dan para bapak-bapak yang ikut menemani anak dan istri mereka menghadiri acara ini.
Sejak Jonathan dan Jessyca menjadi mualaf baru kali ini dia melihat Jonathan menggunakan sarung dan peci sama seperti yang biasa Reyhan pakai.
"Kakakmu terlihat beda ya dengan pakaian seperti itu" Jessyca yang bicara dengan Shinta.
Shinta tersenyum dan mengangguk, Jessyca benar kalau Jonathan terlihat berbeda saat ini terlebih lagi pria itu juga memanjangkan jengotnya. Bersyukur bisa membawa kebaikan pada mereka yang selama ini sibuk mencari jati diri dan cinta.
Dulu diapun tidak jauh berbeda, manusia yang haus kasih sayang. Bahkan dia sadar kalau dia seorang wanita yang tidak bisa menjaga pandangan. Matanya sering dibutakan bila melihat yang lebih dari Farrel atau Dewa. Karena itu juga saat Shinta tahu kalau dia akan berpisah jauh dengan Farrel dia lebih memilih putus hubungan dari pada harus menjalani hubungan jarak jauh.
Sampai akhirnya sosok Dewa hadir yang selalu menemani Shinta kemanapun, kebiasaan Shinta yang sangat terlihat bila mengagumi pria lain selain Dewa tidak memungkiri membuat hubungan mereka sering berselisih paham. Bila seperti itu maka Dewa akan mencari wanita yang menjadi pelampiasan kekesalan Dewa dengan mengajak para wanita itu bercinta.
"Teh, Aa' Dewa jangan terlalu sering dipermainkan perasaannya" Nayla sangat sering mengatakan itu, walau sebenarnya Nayla juga tahu apa yang dilakukan Dewa dibelakang Shinta.
Sampai akhirnya Nayla, Koko, dan Putra jengah dengan hubungan keduanya.
"Aku ingin mereka tidak lagi saling menyakiti bang" ucap Nayla pada Koko. Saat itu mereka harus berbuat sesuatu tentang hubungan keduanya.
Akhirnya ketiganya dibantu Bob membuat rencana agar Shinta tahu apa yang dilakukan Dewa dibelakang Shinta dengan memergoki Dewa yang sedang bercinta dengan Devi. Walau sakit untuk Shinta tapi itulah satu-satunya cara untuk mengakhiri hubungan mereka yang saling menyakiti.
Saat Shinta sangat membenci Dewa, Nayla memberi tahunya, semua itu terjadi karena Shinta yang tidak bisa menjaga pandangan terhadap lawan jenis. Karena tidak sekali dua kali Shinta akan pergi diner dengan para pria yang menurutnya memiliki sejuta pesona lebih dari Dewa.
Sejak menikah dengan Reyhanlah Shinta berubah, lebih menjaga pandangan dan kehormatannya. Shinta hijrah merubah penampilannya dengan menutup semua auratnya. Shinta tidak pernah menyangka kalau kesalahannya dimasa lalu bisa membawa bencana dalam rumah tangganya.
Terutama saat mendengar cerita dari Jessyca dan Lyra kalau Farrel sangat mencintainya dan bercinta dengan wanita lain adalah bentuk kekesalan pria tersebut pada Shinta yang tidak pernah memahami perasaannya. Sampai akhirnya dia mengikuti ambisi ibunya untuk menghancurkan Mama Syila karena wanita yang dicintai mantan suaminya hanya Syila melalui kehancuran Shinta.
"Bapak-bapak sudah pulang dari masjid, ayo kita makan" Jessyca menepuk bahu Shinta, menarik ingatan Shinta pada masa saat ini. Dimana suaminya tengah tersenyum dan berjalan mendekat.
"Mikirin apa ma?" tanya Reyhan saat dia sudah berdiri dihadapan istrinya. Shinta menggeleng dan langsung menarik tangan Reyhan untuk bergabung menikmati santapan yang sudah disiapkan Jessyca.
__ADS_1
Canda tawa para sahabat terdengar saling bersahut. Suara ribut anak-anak yang sedang bermainpun menambah hangat persahabatan ini.
"Teh Shinta" Liana memanggil Shinta dengan keras dari depan pintu kamar Mama Syila.
Mama Syila sudah menikmati makanannya dan minta diantar Liana untuk berbaring dikamarnya. Liana sudah biasa membantu Mama Syila, karena dia menganggap Mama Syila seperti mama mertuanya sebab Putra suaminya sudah dianggap anak oleh Mama Syila.
Mendengar Liana yang memanggilnya dengan panik, Shinta segera berdiri dan berlari kearah kamar Mama Syila. Tidak hanya Shinta, yang lainpun segera menghentikan aktivitas mereka dan beralih kekamar Mama Syila.
"Ada apa?" tanya Shinta begitu ada dihadapan Liana.
"Masuklah teh, temui mama" ucap Liana sambil terisak.
"Mery" panggil Liana. Mery mendekat "Tolong periksa mama, sepertinya dia menyerah" ucap Liana.
Mery yang mengerti arah ucapan Liana tidak menunggu lama menyusul Shinta menemui Mama Syila.
"Nay, Bang Rey, Zein kalian juga masuklah" seruh Liana. Ketiganya ikut masuk kekamar Mama Syila.
"Dimana mas Jo dan Mbak Jessy?" tanya Liana pada Lyra.
"Masuklah Mas, Mbak. Temui mama" ucap Liana.
Selepas kepergian Jonathan dan Jessyca, Liana jatuh kelantai membuat yang lain bingung.
"Ada apa Li?" tanya Shinta mendekat.
"Ana" panggil Putra yang baru masuk sehabis menemani anak-anak yang melihat ikan dikolam belakang.
"Mama sudah menyerah" ucap Liana. Sotak saja semua tidak percaya pada Liana.
"Apa yang kamu katakan Li?" Koko tidak terima ucapan Liana.
__ADS_1
"Mama tadi baik-baik saja, dia makannya banyak" Citra yang berucap.
Sandy tidak menghiraukan keributan yang terjadi, dia mencari Ilham, Ihsan, Raka dan Zola untuk ikut bersamanya menemui Mama Syila. Benar saja saat dia membawa anak-anak tersebut Mama Syila menyambut mereka lalu satu-satu dielusnya kepala anak-anak itu.
"Sa... qi...la" Mama Syila memanggil nama Saqila. Sandy lupa kalau dia tidak membawa putrinya.
Sandy segera mengambil Saqila dari pangkuan pengasuhnya dan membawa Saqila menemui nininya.
Mery sudah selesai memeriksa Mama Syila. Sekarang dia sedang menghubungi Mia yang lebih mengerti tentag penyakit Mama Syila.
"Baiklah aku mengerti" Mery menjawab, entah apa yang dibicarakan Mia diseberang sana.
Mery mengajak semua keluar dari kamar untuk bicara pada mereka.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada mama Mer?" tanya Reyhan begitu mereka ada diluar.
Anak-anak sudah kembali bermain, tinggal orang-orang dewasa yang saat ini berdiskusi.
"Tadi dia sempat tidak sadarkan diri dan denyut nadinya juga lemah, karena itu Liana ketakutan"
"Kanker mama menurut Mia sudah menyebar, tapi mama sudah tidak ingin kemo. Karenanya sekarang dia sangat kesakitan sebenarnya, tapi dia berusaha untuk menutupi sakitnya"
Shinta memijat keningnya, dia sudah curiga beberapa bulan terakhir ini, ternyata Mama Syila menyembunyikan hal sebesar ini.
"Kenapa dokter tidak memberitahu kami saat kami mengantar mama kontrol?" Jonathan yang bertanya.
"Menurut Mia, mama melarang dokter memberi tahu keluarganya"
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Nayla yang bertanya.
"Tidak banyak Nay, obat-obatan juga tidak banyak membantu. Tadi aku memberi penghilang rasa nyeri agar mama tidak kesakitan, tapi itu tidak bisa selalu kita lakukan" jelas Mery.
__ADS_1
"Asisten Dokter Sam akan datang, kebetulan dia sedang di Bandung. Mia sudah mengabarinya, kita tunggu saja dan tanyakan padanya apa yang harus kita lakukan"
...◇◇◇...