
Shinta mencoba membuka matanya yang terasa berat, silau lampu sedikit menyakitkan saat dia membuka lebar matanya. Sekelilingnya terasa asing dan saat ingin menggerakkan tangan kirinya dia melihat telah terpasang infus ditangannya. Shinta ingi menepuk pipinya menggunakan tangan kanan, dia ingin tahu saat ini kenyataan atau hanya mimpi. Namun tangannya terasa berat, saat dia melirikan matanya ternyata Reyhan yang memegang tangannya sambil menundukan kepalanya.
Reyhan terbagun saat merasakan ada gerakan ditangannya, wajahnya langsung tersenyum saat melihat Shinta sudah sadarkan diri.
"Kamu sudah bangun sayang" Reyhan mengelus wajah Shinta yang masih terlihat pucat.
"Kenapa Shinta bisa ada disini bang?" tanyanya heran. Reyhan mendesah.
"Kamu tidak ingat apa-apa?" Reyhan menjawab pertanyaan Shinta dengan pertanyaan.
Shinta menggeleng, terakhir dia keluar dari mushola dan ingin tidur sebentar di kamar yang ada di ruangannya.
"Kamu dibius hingga tidak sadarkan diri oleh orang yang ingin berniat jahat"
Shinta mencoba mengingat kembali kapan itu terjadi. Dia ingat sekarang, saat akan keluar dari mushola toko ada seseorang yang menghalangi jalannya, dan entah dari mana tiba-tiba ada tangan yang lain yang membekapnya.
"Siapa mereka dan ingin apa bang? Apa itu orang suruhan Farrel?"
"Bukan Farrel, mereka salah orang"
"Salah orang? Maksudnya?"
"Kamu itu kalau ingin tahu sesuatu itu selalu begini, tidak berhenti bertanya kalau belum puas" Reyhan mencubit hidung Shinta gemas. Shinta menyengir kuda.
"Nanti abang ceritakan, tapi sekarang kamu harus diperilsa dokter dulu ya sayang" Reyhan membelai rambut Shinta lalu memanggil perawat.
"Jadi bagaimana ceritanya bang?" tanya Shinta begitu dokter yang memeriksanya dan perawat keluar dari kamar inapnya.
Reyhan menggelengkan kepala, Istrinya benar-benar sudah tidak sabar ingin tahu cerita sebenarnya.
"Minum" Reyhan menyodorkan segelas air pada Shinta.
"Bang" Renggek Shinta.
"Minum dulu sayang, nanti abang cerita" Reyhan senang melihat Shinta yang kesal seperti ini. Tapi bukan dia sengaja untuk menunda menceritakannya pada Shinta, karena Shinta memang membutuh kan air itu untuk membasahi bibirnya yang kering. Sebenarnya Reyhan ingin membasahi bibir Shinta dengan menciumnya, tapi saat melihat wajah Shinta yang pucat dia menggurungkan niatnya.
Shinta sudah menghabiskan minum yang diberikan Reyhan, lalu menyerahkan kembali gelasnya pada Reyhan.
__ADS_1
"Jadi?" ucapnya. Reyhan kembali terkekeh kembali duduk disisi Shinta dan menggenggam erat tangan istrinya.
"Mereka sebenarnya ingin membawa Devi" Shinta menyatukan alisnya.
"Apa mereka ada masalah? Siapa yang melakukannya?" Reyhan meletakkan telunjuk kanannya dibibir Shinta membuat istrinya mengerti kalau dia harus diam dan dengarkan apa yang akan dibicarakan Reyhan.
"Kamu ingat saat Nayla di tabrak didepan perusahaan Wijaya?" tanya Reyhan.
"Bukankah itu kejadian setelah kita menikah? Itu sudah lama sekali bang. Apa hubungannya dengan Devi?" tanya Shinta setelah dia mengingat kembali.
Saat itu dia baru menikah dengan Reyhan, mereka menginap di hotel beberapa malam untuk menikmati suasana pengantin baru, dan saat itu mereka akan makan siang diluar. Saat Shinta sedang bersiap-siap Reyhan mendapat kabar dari Alex yang saat itu masih menjadi asisten Sandy, kalau Nayla sengaja ditabrak orang.
Saat itu Devi yang menjadi tersangkanya, walau sebenarnya Devi juga menjadi korban. Pelaku sebenarnya tertangkap dia sepupu Devi yang mencintai Sandy sejak masih sekolah.
"Beberapa hari yang lalu Issabel bebas karena masa hukumannya sudah berakhir" jelas Reyhan.
"Sepertinya dia memiliki dendam terhadap Devi" lanjut Reyhan.
"Mungkin saja dia tidak terima harus menjalani hukuman, dan menyalahkan Devi. Tapi saat itu Devi memang tidak bersalah, terlebih lagi kasus Mitha tidak ada hubungannya sama sekali dengan Devi" ucap Shinta. Reyhan mengangguk membenarkan ucapan Shinta.
"Sekarang Devi dimana?" tanya Shinta.
Reyhan ijin pada Shinta untuk meningalkannya dan Devi dikamar rawat inap. Dia sudah ditunggu Dewa dan Sandy juga sebentar lagi datang. Mereka akan membahas tentang Issabel.
"Bagaimana keadaan teteh? Maafkan aku, karena aku, teteh jadi seperti ini" ucap Devi saat sudah berada disisi tempat tidur.
"Tidak perlu merasa bersalah, untung saja orang suruhannya salah membawa orang. Kalau kamu yang dibawa teteh tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu" jawab Shinta.
"Bukankah wanita itu saudara sepupumu Dev?" tanya Shinta. Devi menangguk.
"Tapi aku juga tidak bisa membayangkan kalau orang yang membawa teteh tidak menyadari mereka salah, pasti saat ini teteh dalam bahaya" keluh Devi.
"Maksudmu mereka menyadari kalau mereka salah culik? Lalu mereka mengantar teteh ke rumah sakit?" tanya Shinta beruntun.
"Teteh ditemukan Bob disalah satu rumah warga yang memiliki warung nasi" jelas Devi. Shinta menutup mulutnya tidak percaya.
Bob saat itu baru saja masuk untuk makan siang di warung nasi rames langananya sejak dulu saat dia masih kuliah. Nayla yang mengenalkannya tempat ini dan sampai sekarang dia sering ketempat ini terlebih lagi saat ingin mengenang kebersamaannya dengan Nayla.
__ADS_1
Bob mendengar orang-orang ramai membicarakan kalau ada seorang wanita tidak sadarkan diri ditemukan dua orang pria lalu mengantarkanya ke warung nasi ini. Bob terus menikmati makannya sambil mendengar obrolan yang masih membicarakan tentang wanita tersebut.
Bob menyelesaikan makannya lebih cepat, entah mengapa dia sangat ingin tahu siapa wanita itu. Terlebih lagi dia membaca pesan masuk di group teman baik, kalau Shinta di culik.
Begitu selesai makan dia melangkahkan kakinya kebelakang warung nasi, dimana pemilik warung tinggal. Dia tadi sempat mendengar kalau wanita yang tidak sadarkan diri itu dibawa kebelakang warung.
Bob dapat melihat kerumunam warga, terpatnya ibu-ibu yang ada disana.
"Maaf ibu-ibu, saya dengar ada wanita hamil yang pingsan disini?" tanya Bob pada ibu-ibu yang berkerumun.
Seorang menjawab pertanyaan Bob tapi Bob tidak menghiraukannya saat dia mengenali siapa wanita yang tidak sadarkan diri tersebut.
"Jadi Bob yang membawaku kerumah sakit?" tanya Shinta lagi pada Devi. Devi mengangguk.
"Kenapa teteh bisa ada diwarung nasi?" tanya Shinta heran.
"Masih diselidiki Dewa" jawab Devi.
"Teh Shinta, bagaimana keadaanmu?" Bob yang bertanya, dia baru saja masuk tapi tidak ada yang mengetahuinya.
Shinta tersenyum pada Bob. "Terima kasih Bob, kalau kamu tidak makan disana kamu tidak bisa menemukan teteh" ucap Shinta tulus. Bob terkekeh.
"Kalau begitu terima kasihnya untuk Nayla, karena dia yang mengenalkan tempat itu membuatku sering makan disana" ucapnya.
"Bob, apakah itu warung nasi rames Kanayakan tempat biasa kita bersama?" Bob mengangguk.
Tidak hanya dia yang suka tempat itu, tapi juga Shinta, Dewa, Tiara, Liana, Koko dan Putra. Mereka sering makan disana, tempat makannya tidak kekinian tapi rasanya yang membuat mereka suka makan disana.
"Apa ada yang membicarakan warung nasi rames Kanayakan?" semua melihat kearah yang bicara. Nayla sudah ada dibalik pintu dan hanya memperlihatkan wajahnya saja.
"Nay, aku dan teteh baru saja membicarakan tempat itu" sahut Bob.
"Aku rindu tempat itu" Nayla tersenyum pada Bob sekilas. Banyak kisah yang mereka lewati disana.
"Tapi mengapa kalian membicarakan tempat itu" tanya Nayla.
"Bob menemukan teteh disana" sahut Devi.
__ADS_1
...◇◇◇...