Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
18. Pertemuan Shinta dan Devi


__ADS_3

"Masuk Dev" Shinta mengajak Devi masuk kedalam rumahnya langsung ketaman belakang, dimana ada gazebo tempat yang biasa dipakai bersantai keluarganya.


Ini kunjungan Devi yang keempat kalinya di kediaman Shinta dan Reyhan. Kunjunganya pertama kali saat syukuran bayinya Ilham, lalu jamuan makan malam di anniversary Shinta dan Reyhan, setelah mereka melewati badai tiga tahun lalu. Yang ketiga tidak sengaja dia diajak Nayla dan ketiga sahabat lainnya yang ingin mengunjungi Shinta.


"Kita duduk disini aja ya" sambil menyuruh Devi ikut duduk dihadapannya.


"Ilham mana Teh?" tanya Devi.


"Ada diatas sama saudara-saudaranya yang lain"


Devi tampak berpikir apa yang dimaksud Shinta. "Diatas bersama Raka, Zola, Revan dan Awan" jelas Shinta setelah melihat Devi yang tampak tidak mengerti.


Devi tersenyum mengerti. "Hanya anak-anak?" tanya Devi lagi.


"Ya.. sudah biasa, satu minggu satu kali mereka berkumpul hanya anak-anak tanpa mama-mamanya yang rempong" Shinta tertawa sendiri dengan ucapannya.


Devi tampak sedih mendengar kata anak-anak. Saat ini itulah yang jadi masalah dalam rumahtangganya dengan Dewa, sejak keguguran dua setengah tahun yang lalu, sampai saat ini Devi belum diberi kepercayaan lagi. Tapi Dewa sepertinya tidak mau mengerti dengan keadaanya sekarang, bukan dia yang tidak menginginkan, tapi memang belum dikasih kepercayaan.


"Ada apa?" tanya Shinta setelah melihat Devi sepertinya sedih.


"Anak-anak, Teh" ucap Devi.


Shinta langsung mengerti apa yang dipikirkan Devi "Sabar, belum waktunya, pasti nanti akan datang. Apa lagi kamu pernah hamil, bukan karena ada penyakit atau lainnya" Shinta mencoba menasehati Devi.


"Tapi Dewa tidak ingin sabar Teh. Dia menjaga jarak dengan Devi sekarang" ucapan Devi sontak membuat Shinta membulatkan mata tidak percaya.


"Dia sedang dekat dengan seseorang saat ini" Devi mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu.


Shinta tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Dewa berciuman dengan wanita lain, wanita yang sangat dia kenal.


"Dewa tidak pernah berubah" Shinta menjauhkan ponsel Devi darinya.

__ADS_1


Devi diam, dia membenarkan apa yang dikatakan Shinta, Dewa memang player, tentu saja dia tidak sulit memenuhi kebutuhannya walau sedang berjauhan dengan Devi, tapi Dewa sudah berhenti saat mereka memutuskan untuk menikah. Keluh Devi dalam hatinya.


"Dev" Shinta memeluk Devi yang terisak "Sabar Dev, sabar..." ucap Shinta sambil mengelus punggung Devi.


Devi merenggangkan pelukannya, mencoba tersenyum pada Shinta, tapi dia tidak bisa berbohong kalau dia terluka saat ini. Sejak menikah dengan Dewa, hidupnya tergantung penuh pada Dewa. Dia yang saat ini hidup sendiri merasa nyaman berada disisi Dewa yang memberikan kehidupan yang layak dan menjadikannya orang yang penting dalam hidup suaminya. Namun semua hilang dalam waktu hampir dua bulan terakhir ini.


Shinta bukan orang pertama yang tahu tentang perubahan Dewa, dia pernah bicara pada Nayla, namun saat itu masih sebatas rasa curiganya pada Dewa. Tapi saat ini Dewa sudah benar-benar berpaling darinya.


"Dev" Shinta menepuk bahu Devi yang hanyut dalam lamunannya.


"Apa yang harus Devi lakukan?" tanya Devi.


Shinta hanya bisa diam, dia tidak tahu harus bicara apa? Hanya bisa merasa iba dengan Devi. Iba? Shinta menggelengkan kepalanya, dia iba dengan nasib Devi, lalu bagaimana dengan nasib rumah tangganya sendiri? Bagaimana dia bisa memberi nasehat kalau saat ini suaminyapun sama seperti Dewa.


"Aku tidak tahu akan hidup seperti apa bila Dewa menceraikanku. Aku tidak punya siapa-siapa saat ini, tidak punya pekerjaan untuk membiayai hidupku kelak, dan mungkin tidak ada pria yang mau menerima masalaluku seperti Dewa" keluh Devi.


Shinta tersenyum getir, Devi jauh lebih sulit kehidupannya bila berpisah dari Dewa. Tidak seperti dia, yang lebih memilih memikirkan untuk meninggalkan Reyhan dan hanya hidup bersama Ilham, karena dia tidak perlu repot-repot memikirkan biaya hidup untuknya dan putranya. Saham yang dimilikinya diperusahaan Mama Syila lebih dari cukup, belum lagi usahanya bersama Nayla dan Bella yang tanpa mereka sadari menambah pundi-pundi kekayaan mereka pribadi, diluar uang pemberian suami-suami mereka.


"Kamu masih muda, tidak ada anak yang jadi tanggung jawabmu, jadi kamu bisa bekerja dengan bebas. ini untuk kebaikanmu, seandainya kamu memang harus berpisah dengan Dewa. Walau sejujurnya Teteh mau kamu dan Dewa tetap bersama" lanjut Shinta nasehatnya.


"Teteh benar, daripada aku meratapi kelakuan Dewa, aku harus mencari kesibukan. Aku mau buka usaha saja Teh, mungkin jualan pakaian online" Devi memang sudah lama ingin punya butik, tapi Dewa selalu bilang untuk apa? karena kebutuhan Devi sudah terpenuhi semua oleh Dewa.


"Bagus itu, nanti Teteh dan Nayla cs yang jadi pelangan pertama" kekeh Shinta, diikuti Devi.


"Wah... seru banget ketawanya, ada kabar baik apa ini?" Nayla menyapa dua wanita cantik yang baru saja tertawa senang dalam sedih.


"Hai Mommy Nay udah datang" sapa Shinta.


"Ada apa ini, dua wanita tertawa bahagia?" tanya Nayla lagi.


"Devi mau jualan pakaian online, Teteh bilang kita berlina yang akan jadi pelangan pertamanya" jawab Shinta.

__ADS_1


"Beneran Dev? Udah ada referensi konveksi yang bagus atau toko tempat ngambil pakaian jadi yang bagus?" tanya Nayla.


"Belum terpikir sampai disana, ini baru rencana" sahut Devi.


"Sebentar" ucap Nayla, "Bukanya kamu tidak boleh melakukan apa-apa sama Ak Dewa? Apa dia berubah pikiran?" tanya Nayla lagi, membuat raut wajah Devi kembali sedih.


"Maaf kalau Nay salah bicara" ucap Nayla saat melihat perubahan di wajah Devi.


"Tidak apa-apa Nay" balas Devi, lalu dia menceritakan semua pada Nayla alasannya membuka butik.


Nayla menutup mulut, menahan agar tidak berteriak saat Devi menunjukkan foto Dewa dengan seorang wanita yang sangat dia kenal. Mata Nayla tertuju pada Shinta yang menggangguk mengiyakan apa yang ditanya Nayla dari sorot matanya.


"Kamu kenal wanita ini Nay?" tanya Devi setelah menyadari reaksi Nayla.


"Hem" Nayla hanya berdehem.


"Kenal dimana?" cecar Devi, dia sangat ingin tahu wanita yang sedang dekat dengan Dewa suaminya.


"Oh... itu teman sekolah Sandy, Kak Alex dan Bang Rey" jawab Nayla mencoba menutupi yang sebenarnya. Jujur saat ini Nayla merasa malu memiliki saudara murahan seperti itu.


Dia tidak mengerti apa yang diinginkan Cindy, dia memiliki anak dengan Banu tapi tidak ingin dinikahi. Berusaha mencoba merebut Reyhan dari Shinta, entah apa tujuannya, dan sekarang berhubungan dengan Dewa. Nayla menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak tahu harus berkata apa saat ini.


"Ada apa Nay?" tanya Devi.


"Tidak ada, aku pikir A' Dewa sudah berubah, tapi ternyata hanya sesaat. Tapi mungkin saja karena dia digoda Dev" ucap Nayla.


Secerca harapan terlihat dimata Devi, mendengar ucapan Nayla. Dia tidak berpikir sampai kesana, selama ini dia hanya ketakutan diceraikan Dewa, tanpa berusaha membuat Dewa kembali melihatnya sebagai Devi wanita yang diinginkan Dewa selalu ada disisinya.


"Walaupun digoda kalau laki-lakinya tidak mau tidak akan terjadi apa-apa" ketus Shinta, yang memang tidak bisa menyaring kata-katanya.


Devi kembali tertunduk mendengar ucapan Shinta, sementara Nayla hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, memahami apa yang dirasakan Shinta, sehingga mengatakan hal itu.

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2