
Mentari Pov
Takdir seakan mempermainkan hidupku saat ini. Perjodohan dan pernikahanku yang kupikir menjadi tempat aku lari dari rasa sakit, ternyata lebih menyakitkan. Orang yang selama ini mengisi lubuk hatiku yang paling dalam menyayatkan luka yang perih, dan sekarang aku juga harus menerima menjadi istri yang tak dianggap. Sebegitu burukkah aku? sehingga tak ada yang menginginkan.
Aku mengedarkan pandanganku memandang setiap sudut yang ada dikamar ini, kamar yang aku tempati ini ternyata juga pernah ditempati suamiku bersama wanita lain. Sakit? tidak sesakit saat orang yang aku cintai dengan sengaja menghinaku didepan kekasihnya yang juga sahabatku, hanya saja aku merasa tertipu, tertipu dengan sikap baik Mas Banu yang terlihat sangat dewasa.
Akhh, aku pasti akan merindukan tempat ini, kota ini. Terutama pada trio kwek-kwek yang selalu ada untuk menghiburku, hanya ketiga sahabat itu yang jadi temanku selama di Bandung. Bahkan Mas Banu yang jadi alasanku berada disini tidak peduli sama sekali dengan keberadaanku. Hebat bukan?
Sejak pertama aku datang kerumah ini, Mas Banu sepertinya sudah tidak suka. Dia menginap dirumah hanya saat mertuaku masih ada. Mas Banu meninggalkanku dirumah sendiri, setelah dia mengantar orang tuanya pulang. Aku seperti seorang wanita yang mengemis cinta, menyedihkan. Itulah aku.
Sejak kejadian malam itu, Mas Banu tidak pernah pulang, tidak ada keinginannya untuk menyelesailan masalah dan memberi penjelasan. Tidak juga memberi kabar hingga hari ini, seperti biasa seakan-akan tidak terjadi apa-apa diantara kami. Kecewa, tentu saja aku kecewa. Sebagai wanita aku merasa tidak dihargai sama sekali, terlebih statusku saat ini sebagai seorang istri dari Mas Banu.
Menyesal? Iya aku menyesal menerima begitu saja perjodohan ini, tapi aku tidak akan larut dalam kepahitan ini. Aku sangat bersyukur, bisa cepat mengetahui kebenaran yang disembunyikan Mas Banu, dengan begini aku bisa melanjutkan mimpiku, ya.. mimpiku untuk bisa sekolah diluar negeri.
"Mbak Tari, kita pasti bakalan kangen sama Mbak Tari" suara Lola menarikku dari lamunan. Entah kapan mereka berdiri disana, ketiga sahabat itu sudah berdiri didepan pintu kamar ini.
"Mbak Tari juga akan merindukan kalian" balasku ucapan Lola.
Aku menarik travel bagku yang sudah kusiapkan sejak semalam, namun tanpa meminta ijin Arya langsung mengambil alih kegiatanku. Anak ini lebih dewasa dari usianya, tentu saja karena dia jadi penjaga dua gadis cantik yang ada dihadapanku ini.
"Terimakasih sudah mau jadi teman Mbak Tari selama di Bandung. Jangan lupa kalian punya janji main ke Jogja setelah ujian. Mbak Tari tunggu kabarnya"
"Siap Mbak, akan kami kabari" Arya yang menjawab sambil berlalu membawa travel bagku keluar kamar, mungkin akan langsung dibawa ke mobil olehnya.
__ADS_1
"Ayo berangkat, nanti ketinggalan kereta" ajak Putri yang langsung aku setujui.
Kini aku sudah dalam perjalanan kestasiun, Lola sibuk bicara dengan Arya yang sesekali juga mendapat sahutan dari Putri yang duduk disebelahku. Persahabatan mereka begitu indah, mengingatkanku pada mereka yang menyakitiku.
Pandanganku keluar jendela, melihat pertokoan yang berjejer sepanjang jalan. Tanpa sengaja Aku melihat sosok Mas Banu yang turun dari mobil, aku terus memusatkan pandanganku pada pria yang berstatus suamiku itu. Mas Banu berjalan memasuki sebuah toko perhiasan dan menghilang dibalik pintu. Perhiasan untuk siapa? wanita itukah? otakku penuh pertanyaan, tapi mataku tidak bisa berhenti menatap kebelakang dimana Mas Banu menghilang.
"Mbak Tari mau pamit?" Putri bertanya padaku, sepertinya dia tahu apa yang jadi perhatianku. Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku, menolak adalah jawabanku. Sebagai istri aku berdosa pergi tanpa pamit, tapi disini aku istri yang diabaikan jadi tidak salah jika aku pergi tanpa pamit bukan? karena kurasa dia tidak akan peduli kemana aku pergi.
"Pamit pada siapa? Om Banu? Tidak perlu, suami seperti itu tidak perlu dihormati" Arya yang bertanya, tapi dengan cepat dijawabnya sendiri. Dari cara bicaranya, aku tahu pemuda itu sangat kecewa pada Mas Banu yang dia kenal sangat sopan dan baik selama ini.
Aku dan Putri hanya diam, tidak ada keinginan dariku dan juga Putri untuk menanggapi ucapan Arya, yang jelas sedang dalam keadaan marah. Suasana dalam mobil seketika dingin, tidak ada satupun dari kami yang bicara. kami berempat sibuk dengan pikiran masing-masing, hanya alunan musik yang terdengar dari radio yang dinyalakan Lola.
"Sudah kini ku melepaskan
Cinta yang dulu kubanggakan
Memang bukan salahmu
Aku tahu
Kamu bukan untukku"
Itu Arya yang ikut menyanyikan lagu milik Afgan dengan judul 'sudah', seperti yang dikatakan penyiarnya. Tidak disangka ternyata suaranya oke juga "Arya, suara kamu ternyata bagus banget ya" pujiku tulus, pemuda itu hanya tersenyum. "Tapi kayaknya kebawa perasaan" godaku, dan benar saja dia tidak membantah.
__ADS_1
Tanpa terasa mobil yang dikendarai Arya sudah terparkir sempurna di area parkir stasiun. Mereka bertiga ikut mengantarku sampai dipintu keberangkatan.
Aku memeluk Putri dan Lola bersamaan, cukup lama kami melakukan ini. Kami memang belum lama kenal, namun masalah yang aku hadapi membuat mereka menjadi dekat seperti sekarang ini denganku.
"Hem" Arya berdehem untuk mengalihkan perhatian kami, dia tidak ikut kupeluk dan hanya berdiri menatap kami.
"Aku boleh ikut peluk nggak?" tanya Arya yang langsung mendapat penolakan dariku, Putri dan Lola.
"Akhh kalian memang jahat" kesal Arya sambil mengacak-acak rambutnya membuat aku dan yang lain tertawa yang kini sudah melepaskan pelukan kami.
"Mbak Tari jangan lupa, siapkan semua berkas-berkas yang diminta Kak Rhein" pesan Putri.
Aku mengangguk setuju, tapi kulihat ada raut wajah tidak suka dari Arya. Kenapa?
"Tentu, Mbak Tari tidak akan lupa Put. Terimakasih sudah memberi jalan buat Mbak Tari untuk meraih mimpi" Aku kembali memeluk Putri, curhatanku tentang keingginan melanjutkan pendidikan ke luar negeri ditanggapi baik oleh Putri, yang akhirnya merekomondasikanku untuk melanjutkan di Belanda bersamanya.
Satu hari setelah kejadian malam itu, Arya, Putri dan Lola mengunjungiku. Mereka bertiga hanya ingin meyakinkan keadaan aku baik-baik saja, sengguh perhatian yang lebih untuk orang yang baru kenal. Tapi saat itu aku tidak sengaja menceritakan keinginanku yang ingin melanjutkan pendidikan diluar negeri. Selain ingin mencari pengalaman hidup dinegara orang, aku juga ingin membuktikan sesuatu pada seseorang yang sudah merendahkanku.
"Sama-sama Mbak, kegagalan saat ini bukan untuk menghambat masa depan kita" jawab Putri yang langsung mendapat anggukan setuju dariku. Putri usianya memang masih muda, tapi setiap dia bicara sudah seperti orang dewasa.
Aku masuk kedalam stasiun, siap meninggalkan Bandung dan kembali ke Jogja. Ya, Jogja tujuanku, dimana selama hampir empat tahun menjadi kota kedua yang aku tempati. Aku sengaja tidak pulang kerumah orangtuaku, biarlah Mas Banu yang menjelaskan dan menyelesaikan semuanya.
Dia yang berbuat dia yang bertanggung jawab.
__ADS_1
Aku terkekeh sendiri menginggat pribahasa itu, sangat cocok untuk Mas Banu, iya biar dia yang bertanggung jawab dengan kesalahan yang dia lakukan.
...◇◇◇...