
Reyhan berdiri dijendela kaca yang ada diruanganya, dia merasa bersalah, kembali mengulangi apa yang dia lakukan tiga tahun yang lalu, menyembunyikan kebenaran dari istrinya. Hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja sampai dia benar-benar menyelesaikan masalah ini.
Dret...dret.... ponsel Reyhan bergetar.
"Shiet" Reyhan meremas ponselnya. "Perempuan itu benar-benar kurang ajar, dia sudah menyiapkan semuanya untuk pertemuan itu" kesal Reyhan mengumpat sendiri setelah melihat foto yang dikirimkan Cindy.
"Baiklah kita ikuti permainanmu. siapa yang akan hancur " gumam Reyhan tersenyum penuh arti.
Tiga minggu berlalu, tidak ada satupun penjelasan dari Reyhan tentang pertemuannya dengan Cindy. Sejarah seakan terulang lagi dalam ingatan Shinta, memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan. Bukan tidak ada usaha dari Shinta untuk minta penjelasan dari Reyhan, tapi suaminya selalu memintanya untuk percaya dan sabar.
"Akhh" kesal Shinta yang saat ini duduk disudut Cafe Zein seorang diri, seperti pengunjung yang lain dia menikmati minuman dan makanan yang dipesan. Ilham diajak pergi Mama Diana. Reyhan? Shinta hanya bisa mendesah mengeluarkan sesak didadanya. Akhir-akhir ini waktu mereka bersama sangat sedikit. Pria yang biasanya selalu ada dan mau melakukan apa saja untuknya dan Ilham, sudah tiga minggu ini terlalu sibuk, bahkan tidak sadar telah mengantungkan masalah yang ada diantara mereka.
Alunan musik yang terdengar diseluruh cafe membuat Shinta tersenyum getir. Bukan satu atau dua kali dia mendengar lagu ini, lagu yang dinyanyikan Muqris Radi, membuatnya sedikit mengerti isi liriknya.
Sekian lama aku mencintaimu
Kini kau hadir bersama harapan
Cinta yang hadir bersama perasaan
Tak ku sangka dia akan kembali
Namun dia kembali pada dirimu
Tak ku sangka kau memilih dia
Lerainya ikatan cinta yang telah kita bina bersama
"Seperti inikah yang terjadi dengan diriku saat ini?" tanya Shinta dalam hatinya, saat dia menghayati lagu ini.
Dan aku kan pergi meninggalkan dirimu
Setelah apa yang kau buat pada diriku
Kau menghianati juga membohongi
Cinta yang telah kuberikan pada dirimu
Engkau pergi bersama cinta yang kau khianati
__ADS_1
Namun dia kembali pada dirimu
Tak ku sangka kau memilih dia
Lerainya ikatan cinta yang telah kita bina bersama
Dan aku kan pergi meninggalkan dirimu
Setelah apa yang kau buat pada diriku
Segalanya sudahlah terbukti
Ketika ku melihat Kau bersama dirinya
Dan tak akan ini berulang lagi
Hanya sekali di dalam hidupku
"Jangan penah berpikir untuk pergi seperti lagu ini" Zein menepuk bahu Shinta yang dia lihat sangat menghayati musik dan lagu yang di putar di cafe miliknya.
"Akh Zein, kamu mengagetkan Teteh" kesal Shinta.
Zein terkekeh "Teteh sendiri? Mana Ilham?" tanyanya, tidak biasanya Shinta pergi tanpa Ilham.
"Zein" Zein tersenyum pada Shinta, banyak hal yang sebenarnya ingin dia ceritakan pada saudari perempuanyanya ini, tapi dia masih menunggu waktu yang tepat.
Shinta mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan pada Zein. "Apa yang harus Teteh lakukan?" tanyanya.
"Teteh percaya saja sama Bang Rey" jawab Zein.
Shinta mengeryitkan keningnya, "Percaya? Setelah melihat ini, ini, dan ini. Shinta kembali menunjukkan foto yang ada di ponselnya.
"Akhir-akhir ini Abang berubah, seperti tidak peduli dengan Teteh dan Ilham. Teteh sudah lama tidak pernah kesepian seperti ini. Ilham sering dibawa pergi Mama Diana atau Mama Syila, biasanya Bang Rey yang menemani Teteh, rela meninggalkan pekerjaanya demi menghabiskan waktu bersama Teteh" Adu Shinta pada Zein.
"Zein tahu itu Teh, karena itu Zein meminta Teteh percaya pada Abang dan sabar"
"Apa yang kamu pinta sama seperti permintaan Bang Rey. Tapi Teteh sudah tidak bisa bertahan Zein, Teh Shinta lelah" Shinta menyedot minumannya, sedangkan Zein masih setia mendenggarkan dengan diam.
"Begitu sulitkah membuat wanita itu mengerti dan pergi Zein? Atau mungkin Abang memang tidak berusaha membuatnya pergi dan menikmati masa-masa ini biar bisa berlama-lama dengannya"
__ADS_1
"Jangan berpikir buruk tentang Abang dan Mbak Cindy. Abang mencintai Teteh dan..."
"Dan wanita itu, iyakan?" potong Shinta ucapan Zein.
"Teteh lupa kalau kamu bersaudara dengan wanita itu, bukan dengan Teteh. Tentu saja kamu akan mendukung wanita itu dari pada Teteh" lanjut Shinta ucapannya dan pergi meninggalkan cafe.
Zein yang melihat itu hanya bisa terdiam, dia tidak menyangka Shinta akan mengeluarkan kata-kata seperti itu. Cindy memang ada ikatan darah dengannya, tapi bagi Zein Shintalah saudara perempuannya, sama seperti Vina dan Nayla. Tadi yang dia maksud adalah Bang Rey mencintai Teh Shinta dan Ilham, tapi Shinta dengan pikirannya sendiri memotong ucapannya. Zein kembali keruangannya sambil menggelengkan kepalanya.
Shinta menyesali perkataanya pada Zein, setelah dia menenangkan emosinya didalam mobil.
"Apa yang aku lakukan" Shinta menepuk keningnya.
Zein tidak salah, bahkan dia benar seharusnya dia percaya pada suaminya. Tapi foto-foto yang sering diterimanya tentang kebersamaan Reyhan dan Cindy, memupus rasa kepercayaan pada suaminya, bahkan Reyhan banyak berubah akhir-akhir ini, seakan sengaja menghindari Shinta berbicara tentang Cindy dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
"Maaf" Shinta mengirim pesan pada Zein.
"Tidak perlu minta maaf, Zein faham Teteh sedang tidak baik-baik saja saat ini. Tapi percayalah pada hati Teteh. Bang Rey hanya mencintai Teh Shinta dan Ilham, bukan orang lain" Zein langsung membalas pesan Shinta. Dia tahu saudarinya masih ada diparkiran, setelah dia memeriksa kamera pengintai yang ada di parkiran.
Shinta melajukan kendaraanya ke Mall dimana dia pertama kali bertemu Reyhan, pertemuan yang disengaja oleh kedua mama mereka.
Shinta duduk di resto tempat penuh kenangan baginya, bukan karena lapar hanya dia merindukan suasana dimana dia merasakan debar cinta untuk suaminya.
"Sendiri saja?"
Shinta mendonga melihat orang yang menyapanya, walau dia sangat kenal suara siapa itu, dia melakukannya hanya untuk meyakinkan lagi.
"Wa" panggil Shinta, setelah dia yakin orang yang menyapanya adalah Dewa mantan kekasihnya.
"Mana Ilham dan Bang Rey?" tanya Dewa.
"Ilham sedang bersama Oma Diana, kalau Abang, di perusahaan" jawan Shinta, walau dia tidak yakin tentang keberadaan suaminya.
"Dewa, apa kamu akan bertemu klien disini?" tanya Shinta.
"Tidak, pekerjaanku sedang tidak banyak, jadi sedikit meluangkan waktu untuk jalan-jalan" Dewa menjelaskan, padahal sebenarnya dia sengaja mengikuti Shinta sejak di cafe.
"Sendiri?" tanya Shinta lagi. "Bukankah akan lebih baik bila bersama Devi, apa lagi belum ada yang mengganggu, jadi kalian bisa seperti orang yang kencan" lanjut Shinta ucapannya.
Dewa tersenyum kecut, sejak dulu Shinta tidak pernah menyaring kata-katanya. Tidak ada yang mengganggu yang dimaksud Shinta meracu pada anak, yang memang sampai saat ini belum dimilik Dewa dan Devi.
__ADS_1
Bukan tanpa maksud Shinta menyebut nama Devi dan menyinggung masalah anak dihadapan Dewa. Dua minggu yang lalu, Shinta bertemu Devi. Bukan bertemu, tepatnya Devi menemui Shinta dan bercerita tentang hubungannya dengan Dewa saat ini.
...◇◇◇...