Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
53. Kejadian Di Toko


__ADS_3

Keadaan rumah tangga Shinta kembali normal walau mereka masih harus waspada, karena sampai saat ini Farrel dan Lyra belum diketahui keberadaannya.


Reyhan kembali menjalankan aktifitasnya seperti biasa, kembali bekerja mengurus hotel dan perusahaan. Tidak berbeda dengan Reyhan, Shinta juga kembali beraktifitas seperti sebelumnya. Sama saat mereka belum mendapatkan gangguan dalam rumah tangga, hanya saja saat ini Shinta disibukkan dengan toko pakaiannya yang bekerja sama dengan Devi.


Setelah selesai menjemput Ilham di sekolah Shinta membawa putranya langsung meluncur ke toko dimana dia akan mengecek stok barang yang ada dan yang telah habis terjual, serta mengecek pesanan online yang masuk.


Shinta dibantu Devi dan satu orang karyawan kepercayaan mereka sudah selesai mengecek stok barang yang baru saja masuk. Tidak terasa sudah waktunya mereka makan siang.


"Pesan makanan aja Dev, Teteh malas keluar hari ini" ucap Shinta setelah dia menutup laptop yang berisi data barang yang baru masuk.


"Iya Teh, sama aku juga lagi mager klo harus keluar cari makan" sahut Devi yang sebelas dua belas dengan Shinta. Pekerjaan hari ini memang banyak menyita tenaga dan pikiran mereka sehingga membuat keduanya lebih memilih istirahat dan menunggu makan siang mereka di toko.


Shinta baru memulai makan siangnya setelah selesai menyuapi Ilham sambil terhubung dengan Reyhan yang sedang makan siang diruangannya bersama Melly.


"Jadi hari ini kita sama-sama malas keluar untuk cari makan ya Teh" sapa Melly saat melihat Shinta sedang memasukan makannya ke mulut. Menyela percakapan Shinta dan Reyhan yang saat ini tersambung melalui panggilan video.


"Iya begitulah" sahut Shinta sambil terkekeh.


"Tante, papa mana?" Ilham yang bicara.


"Ini papa sayang, ada apa?" Reyhan langsung mengambil alih ponselnya saat mendengar Ilham menanyakan dirinya.


"Pa, abang mau menunjukan sesuatu ke papa" sahut Ilham dengan gembira, dia segera menujukkan hasil karyanya disekolah hari ini.


"Itu sangat keren sayang, good job?" ucap Reyhan berusaha memberi penghargaan hasil mewarnai putranya.


"Terima kasih pa" senyum tulus tergambar dari wajah Ilham.


Ditengah perbincangan mereka, salah satu karyawan masuk keruangan Shinta dengan wajah ketakutan. Shinta dan Devi yang melihat itu langsung bertanya.


"Ada apa Li?" tanya keduanya bersamaan.


"Diluar" karyawan tersebut menunjukkan jarinya kearah pintu. "Ada orang-orang berpakaian hitam-hitam. Wajah mereka ditutup masker sedang mengacak-acak semua pakaian yang kita pajang" sahut karyawan tersebut.

__ADS_1


"Kunci pintu kalian sekarang Shinta" teriak Reyhan saat menyadari sesuatu terjadi di toko istrinya.


Karyawan yang berada didekat pintu langsung melakukan apa yang di perintahkan Reyhan.


"Kalian tetap diruangan jangan keluar, Abang akan segera kesana dan juga menghubungi Dewa"


"Shinta" panggil Reyhan saat tidak ada jawaban dari istrinya.


"Iya Bang" sahut Shinta, dia sedang syok dengan keadaan ini. Baru saja dia merasa tenang dengan kehidupannya, kini datang lagi masalah yang lain.


Reyhan segera menghubungi Dewa begitu dia memutus sambungan videonya dengan Shinta. Dia juga menghubungi orang yang dia tempatkan untuk selalu menjaga Shinta dan Ilham seperti saran Jonathan.


"Dimana kalian, bagaimana bisa ada orang yang menganggu toko istri saya" bentak Reyhan pada pengawal Shinta dan Ilham.


"Kami sedang makan di warung depan pak. Sepertinya mereka sudah mempelajari situasi dan waktu untuk melancarkan aksi mereka. Jumlahnya sangat banyak kami hanya berdua tidak bisa melawannya. Sekarang kami sedang menunggu bantuan, kami sudah mengubungi yang lain" sahut pengawal itu memberikan laporan dengan jelas.


"Apa motif mereka?" tanya Reyhan.


"Kami belum bisa menyimpulkannya saat ini. Tapi ibu dan putra bapak masih didalam belum tersentuh oleh mereka"


"Sipa pak" sahut pengawal tersebut.


Shinta memeluk Ilham untuk menenagkan putranya, mereka bisa mendengar suara keributan yang terjadi diluar. Devi menghubungi temannya yang seorang polisi, menceritakan apa yang terjadi di toko mereka.


"Apa yang mereka inginkan Dev?" tanya Shinta, dia sungguh tidak mengerti ada apa ini semua.


"Mereka ingin merampok mungkin teh" sahut Devi asal.


"Sepertinya bukan bu" karyawannya yang bicara "Soalnya salah satu dari mereka langsung menanyakan mana pemilik toko ini. Tapi mereka tidak ada yang memberi tahu dimana ibu berdua berada. Lalu mereka merusak pajangan kita, membuat pelangan takut dan keluar meninggalkan toko" cerita karyawan tersebut pada Shinta dan Devi.


"Apa mereka melihatmu masuk kesini?" Devi yang bertanya.


"Tidak, mereka belum melihat keberadaan saya, karena itu saya langsung lari dan masuk keruangan ibu" jawab karyawan tersebut.

__ADS_1


"Teteh takut mereka menyakiti karyawan kita yang diluar Dev" Shinta benar-benar khawatir dengan keadaan ini.


"Tenang teh, Abang Rey dan Dewa sudah dalam perjalanan kesini. Aku juga sudah menghubungi temanku yang polisi. Jadi kita diam dan tunggu saja seperti yang diminta Bang Rey, teh"


"Iya Dev, teteh hanya merasa khawatir dengan mereka"


"Kita lihat apa yang mereka lakukan sekarang lewat CCTV teh" Devi baru terpikirkan akan hal itu


"Kamu benar Dev, kenapa kita lupa kalau kita ada CCTV" sahut Shinta.


Shinta melepas pelukannya pada Ilham, dia meminta putranya untuk tenang dan jangan bersuara. Ilham menuruti perintah sang mama, dia duduk manis dan diam ditemani karyawan yang tadi bersama mereka. Sekarang Shinta dan Devi mengamati setiap titik CCTV yang terpasang ditoko mereka, mulai dari parkiran hingga beberapa sudut dalam toko.


"Mereka tidak merusak barang kita, hanya membuatnya berantakan saja" ucap Devi begitu dia mengamati layar datar tersebut.


"Diluar sudah ada pengawal yang diminta Bang Rey untuk menjagaku dan Ilham" tunjuk Shinta kedua orang dengan tubuh yang besar.


"Sepertinya mereka sedang menunggu teman-teman mereka yang lain untuk masuk Teh. Kalau mereka hanya berdua tidak mungkin bisa melawan. Jumlah musuh kita terlalu banyak"


"Sepertinya begitu. Dewa sudah didepan Dev" ucap Shinta saat dia melihat pria yang dulu sangat dekat dengannya.


"Dewa sedang ada meeting yang tidak jauh dari sini"


"Pantas saja dia lebih cepat dari pada Bang Rey. Dewa sedang koordinasi dengan dua pengawal itu" ucap Shinta.


Ditengah pembicaraan mereka sambil mengawasi monitor yang menampilkan setiap sudut toko, mereka mendengar sesorang mencoba membuka pintu ruangan dimana mereka saat ini berada.


"Lihat dari layar teh, wajahnya akan terlihat jelas" Devi memberikan saran.


"Kamu kabari Dewa, kalau ada yang berusaha masuk keruangan kita" sahut Shinta dan mendapat anggukan dari Devi.


Shinta mengamati siapa yang sedang berdiri didepan pintu ruangannya, mungkin saja itu salah satu karyawannya. Tapi itu rasanya tidak mungkin melihat dari pakaiannya sudah jelas dia laki-laki dan menggunakan masker.


Shinta mencoba memperhatikan pria tersebut yang terus berusaha mengerak-gerakkan handle pintu. Wajah Shinta memucat saat dia menyadari siapa pria tersebut, dari sorot matanya Shinta sangat mengenalnya.

__ADS_1


"Aku mengenali siapa dia Dev" ucap Shinta, lalu dia menghubungi Reyhan.


...◇◇◇...


__ADS_2