
Satu bulan berlalu, Shinta dan Reyhan pagi ini sedang bersiap-siap kepernikahan Cindy dan Banu di kediaman ayah tiri Cindy yang ada di Cimahi.
"Lumayan jauh ya bang tempatnya?" Reyhan menaikan kedua bahunya menjawab pertanyaan Shinta.
"Bang Rey tidak tahu rumah orang tua Mbak Cindy?" Shinta kembali bertanya.
"Hem" jawab Reyhan singkat.
"Hem?" Shinta menggulang jawaban Rehan dengan nada bertanya.
"Kenapa?" Reyhan menjawab dengan pertanyaan.
Shinta diam, dia hanya heran. Bagaimana hubungan Reyhan dan Cindy saat itu sebenarnya. Bahkan Reyhan belum pernah berkunjung ke kediaman ayah tiri Cindy untuk sekedar mengenalkan diri sebagai kekasihnya atau menjemputnya untuk kencan. Shinta sangat ingin bertanya, tapi ini bukan waktu yang tepat.
"Kenapa?" Reyhan mengulang pertanyaan saat melihat Shinta hanya diam. Shinta menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa?" Shinta tersenyum dan berlalu dari hadapan Reyhan.
Sekarang mereka dalam perjalanan ke Cimahi, mereka tidak sendiri tapi beriringan dengan yang lain untuk berangkat bersama-sama. Kendaraan Zein yang memimpin, karena hanya dia yang tahu kediaman ayah tiri Cindy.
Satu jam perjalanan mereka tiba ditempat acara. Kedianan ayah tiri Cindy ada diperkampungan, sehingga kehadiran keenam pasang suami istri tersebut, Reyhan dan Shinta, Sandy dan Nayla, Zein dan Mery, Alex dan Citra, Roy dan Bella serta Dewa dan Devi, terlihat berbeda bagi para tetangga disana. Bisik-bisik tetanggapun terdengar membicarakan mereka, dari yang baik sampai yang buruk.
"Hapunten, dikampung mah begini ini neng, tetangganya suka ngerumpi" ucap salah satu keluarga dari ibunya Cindy pada Shinta dan yang lain saat menyambut mereka. Meminta maaf untuk ketidak nyamanan mereka.
"Teu kunanaon bu" Shinta yang menjawab. Dia memakluminya.
Ibu Cindy asli orang Cimahi. Dia menikah dengan ayah Cindy yang asli belanda. Mereka bertemu tidak sengaja, saat itu ayah Cindy sedang memberikan bantuan dari perusahaan Harley di daerah Cimahi dan sekitarnya dimana dia sebagai manager saat itu. Ibu Cindy diboyong ke Belanda setelah menikah. Saat Cindy SMP ayahnya meninggal, ibunya kembali ke Cimahi bersama Cindy. Satu tahun setelah kepergian ayahnya Cindy, ibunya menikah lagi dengan ayah tirinya saat ini dan memiliki dua orang putra dari pernikahan mereka.
Cindy ikut ibunya tinggal di Cimahi hanya sampai lulus SMP, lalu dia memutuskan untuk kos di Bandung dan melanjutkan SMA disana. Di sekolah itulah dia bertemu Reyhan, Sandy dan Alex.
"Sah" ucap para saksi, menyatakan kalau saat ini Banu sudah sah menjadi suami Cindy.
Cindy dan Banu sepakat hanya melakukan ijab kabul dan pesta ala kampung Cimahi, yang penting mereka sah sebagai suami istri dan bisa membuat Jojo putra mereka bahagia.
"Ayo kita mengucapkan selamat pada mereka sebelum banyak orang" Sandy yang bicara.
Satu persatu mereka naik ke panggung dimana Cindy dan Banu disandingkan.
"Selamat mbak" Nayla menyalami Cindy. Mereka berpelukan, mata keduanya berkaca-kaca, tangis mereka tangis bahagia.
__ADS_1
"Terima kasih Nay" bisi Cindy, lalu dia mengurai pelukan mereka.
Nayla dan Sandy sudah berlalu dari pelaminan, saat ini Reyhan dan Shinta yang mengucapkan selamat pada keduanya. Tidak banyak yang mereka ucapkan, hanya ucapan selamat dan sebuah doa untuk kebahagiaan.
Sementara itu di Lapas Kebon Waru, Farrel sedang menerima kunjungan dari Lyra dan Jessyca. Farrel dihukum dua tahun enam bulan atas percobaan pembunuhan pada Reyhan dengan memberi racun serta membuat keributan di toko Shinta dan Devi.
"Bagaimana kabar kamu Rel?" tanya Jessyca.
"Tidak usah sok baik kamu Jess, kamu sekarang berpihak sama mereka"
"Aku tidak berpihak dengan siapapun, aku hanya membela yang benar. Apa aku salah?"
"Cih" Farrel membuang mukanya.
Jessyca tidak tersinggung ataupun marah, dia malah tersenyum melihat tingkah sepupunya yang belum berubah walau sudah dikurung dijeruji besi.
"Sudahlah kalian berdua jangan ribut. Aku bawa makanan kesukaanmu Rel, ayo makan" Lyra menengahi keributan keduanya.
"Rel, Cindy menikah hari ini" Lyra yang bicara. Jessyca memperhatikan raut wajah Farrel yang berubah begitu Lyra memberitahunya.
"Kenapa?" tanya Jessyca. Sesungguhnya dia sangat ingin tahu perasaan Farrel. Sejak mendengar kabar Cindy mengandung anaknya, Farrel hanya diam bila membahas masalah itu.
"Apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu Rel?" Jessyca kesal melihat Farrel seperti ini.
Pria itu tetap seperti awal dengan diam membisu, hal ini benar-benar membuat Jessyca marah.
"Kamu bisa saja diam, tapi kamu tidak akan bisa berbuat apapun selama kamu berada didalam sini. Kemarin Reyhan sudah menawarkan akan membebaskanmu kalau kamu bersedia bertanggung jawab pada Cindy. Tapi kamu mengabaikannya. Akibatnya sekarang kamu harus menghabiskan waktumu disini dua tahun enam bulan. Ingat, dua tahun enam bulan"
"Kamu membuang waktumu Rel, hanya karena ambisi dan obsesimu untuk menghancurkan Shinta"
"Shinta wanita baik tidak tepat untuk kamu jadikan media membalas dendam"
Jessyca puas setelah mengucapkan semua yang ada dikepalanya. Dia melihat wajah Farrel yang menahan marah.
"Kau tetap tidak ingin bicara apapun?"
"Jess, janggan membuat Farrel marah" pinta Lyra. Dia tidak ingin kedua sepupunya ini ribut untuk kesekian kalinya.
"Aku tahu kamu melakukan ini bukan karena kamu mencintai Shinta. Semua ini karena permintaan wanita gila itu kan"
__ADS_1
"Jangan bicara buruk tentang Mommy ku Jess" bentak Farrel pada akhirnya.
"Wanita gila itu ingin memnghancurkan Mama Syila melalui Shinta bukan? tapi kalian lupa keluarga siapa yang ada dibelakang mereka berdua. Keluarga Harley Farrel. Mereka tahu semua tentangmu dan ibumu"
"Satu hal lagi, ayah mertuaku tidak akan diam bila kalian menyakiti Mama Syila, walaupun itu adalah mantan istri dan anak tirinya sendiri"
"Suamikupun tidak akan diam bila kamu menyakiti Shinta, wanita yang sangat dicintainya. Terlebih lagi dia sangat membencimu karena harus mengakui kamu sebagai adiknya"
"Kamu membicarakan apa Jess? Sungguh aku tidak mengerti"
"Kamu tidak perlu mengerti apapun Lyra"
"Jessy, beri aku penjelasan" pinta Lyra.
"Tanyakan pada Farrel" jawab Jessyca.
"Farrel apakah itu benar? Kau dan Jonathan bersaudara?" Farrel mengangguk.
"Oh sungguh aku sangat-sangat terlambat tahu masalah ini" Lyra merutuki kebodohannya.
"Bagaimana kamu tahu semuanya Jess?" tanya Lyra pada Jessyca.
Saat itu Jessyca melihat meja kerja Jonathan yang ada dikediaman Mama Syila sedikit berantakan, karena pintunya terbuka, Jessyca berani masuk kedalam dan mencoba merapikan tumpukkan kertas yang berantakan di meja. Salah satu judul berkas itu menarik perhatian Jessyca, dengan rasa penasaran dia membuka berkas itu dan membacanya. Sungguh sebuah rahasia yang disimpan suaminya selama ini sangat baik. "Pantas saja Jonathan sering menasehatiku tentang Farrel" gumam Jessyca saat itu.
"Aku tidak sengaja menemukan dan membaca berkas yang tertinggal diruang kerja Jonathan dan Mama Syila. Dari sana aku tahu semuanya, bahkan tagihan biaya rumah sakit jiwa yang ada di Sydneypun ada disana"
"Rumah sakit jiwa?" beo Lyra.
"Ya, Jonathan membiayai pengobatan Ibunya, karena putra kesayangan ibunya itu ada disini, didalam penjara, yang sedang menikmati makanan pemberianmu"
"Rel, sejak kapan bibi sakit?" tanya Lyra polos
"Apa Reyhan dan Shinta juga tahu hal ini Jes?" tanya Farrel mengabaikan pertanyaan Lyra.
Jessyca menaikkan kedua bahunya, cukup baginya membuat Farrel berpikir untuk memperbaiki dirinya. Farrel yang dulu sangat baik, telah berubah karena menuruti keinginan ibunya yang depresi.
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...
__ADS_1