Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
30. Do You Remember Me


__ADS_3

Reyhan sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya saat Shinta kembali kekamar mereka, setelah memastikan Ilham putranya tidur dengan baik.


"Bagaimana tadi acaramu bertemu Devi?" tanya Reyhan saat Shinta sudah duduk disampingnya.


"Seperti biasa, haya saja tadi sempat bertemu Cindy disana" Reyhan mengerutkan keningnya mendengar ucapan Shinta.


"Cindy meminta ijin pada Devi untuk menginap dikediaman mereka, udah bawa koper. Dia hanya sendirian" lanjut Shinta ceritanya. Reyhan menyimak.


"Sepertinya Banu sudah tidak mengijinkan Cindy tinggal diapartemennya, tidak salah kalau Banu marah, dia sudah banyak bersabar selama ini. Tadi Shinta juga sudah tanya dimana Jojo, tapi dia tidak menjawab" bukan tidak menjawab, tapi keburu disahuti Devi ingat Shinta, tapi tidak dia sampaikan pada Reyhan.


"Jojo ada sama Zein. Tadi Abang bertemu mereka, Banu menitipkannya pada Zein, dia sedang menemui orang tua dan istrinya yang pergi tanpa pamit" Reyhan memberitahu Shinta. Setengahnya menyindir Shinta yang selalu berpikir pergi darinya bila ada masalah.


"Syukur deh, kasihan kalau tidak ada yang mengurusnya" Shinta menjawab penjelasan Reyhan dengan santai, dia tidak sadar kalau Reyhan menyindirnya.


"Apa kamu mau merawat Jojo?" goda Reyhan.


"NO" Shinta langsung menolaknya. Bisa-bisanya suaminya menawarkan dia untuk merawat Jojo, orang-orang bisa mengira Jojo anak Reyhan bukan anak Banu. Tidak mungkinkan? Jojo wajahnya mirip Banu, sekali melihat saja orang sudah bisa tahu.


"Katanya kasihan" Reyhan kembali menggodanya.


"Saudaranya yang lain ada, bapaknya juga ada. Apa lagi kalau Jojo sama Banu dia tidak akan kehilangan perhatian seorang ibu, kan ada istrinya Banu yang merawatnya" Shinta menjelaskan.


Sebentar, bukannya Bang Rey bilang kalau istrinya Banu pergi tanpa pamit. Dia pasti sangat kecewa, mengetahui suaminya ternyata sudah memiliki anak diluar nikah. Akhh Abang nyindir. Shinta baru sadar ucapan Reyhan.


"Hei, malah melamun" Reyhan mencubit hidung Shinta.


"Kalau Papa Rey mau Jojo sama kita ehm...." Shinta sengaja menjedah ucapannya, menunggu reaksi Reyhan.


Satu...


Dua...

__ADS_1


"Ehm apa?" tanya Reyhan.


Shinta tersenyum, sesuai dugaanya tidak perlu menunggu hitungan ketiga, karena suaminya ini manusia yang selalu ingin tahu dengan cepat.


"Mama tidak keberatan. Ya... walau itu alasan Abang biar bisa bertemu Cindy" Reyhan menutup mulut Shinta dengan tangannya,


"Bicara apa kamu?" Reyhan tidak suka dengan tuduhan Shinta.


"Yaa Shinta ijinin, jadi Shinta juga diijinin bisa bertemu Farrel" sambung Shinta setelah Reyhan melepas tangannya yang menutup mulut Shinta.


Tangan Reyhan refleks kembali menutup bibir istrinya. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Shinta masih berharap bertemu Farrel. Secinta itukah istrinya pada Farrel, bahkan Shinta sampai menyimpan nama Farrel dan kisah mereka rapat-rapat. Reyhan cemburu, tentu saja dia cemburu. Bagaimana bisa dia tidak cemburu saat istrinya terang-terangan masih ingin bertemu dengan pria masa lalunya.


Dalam hati Shinta tertawa senang behasil menggoda suaminya, makanya jangan suka menyidir kalau tidak mau dikerjain. Shinta tertawa keras begitu Reyhan melepaskan tanganya.


"Cemburu nih ceritanya" Shinta balik menggoda. Sudah lama dia tidak seperti ini berdua Reyhan.


Hal yang paling tidak disukai Reyhan bila Shinta tahu dia cemburu. Dulu dia sempat cemburu dengan Koko yang sangat dekat dengan Shinta, kemana-mana Shinta selalu ada Koko, tanpa tahu keberadaan Koko sebenarnya disisi Shinta. Sedikit salah paham saat itu membuat Reyhan jadi bahan tertawaan keluarga besarnya dan Shinta.


"Klo tidak cemburu berarti boleh ya besok ketemuan sama..."


"Tidak boleh" potong Reyhan ucapan Shinta.


"Shinta belum selesai bicara udah dipotong aja. Shinta mau ketemu Koko sama Putra besok. Ada pertemuan dengan pemegang saham diperusahaan Mama Syila. Salah satunya sahabat Papa Jay dari USA, dia datang bersama keluarganya, mereka juga ingin mengunjungi mahkam papa" Reyhan tersenyum malu, di sudah salah menduga.


"Bagaimana? Apa masih tidak boleh?" tanya Shinta.


"Kalau urusannya sama Mama Syila tentu saja boleh sayang" Reyhan menangkup wajah Shinta.


"Besok Abang juga ada pertemuan dengan teman-teman dari Inggris, mereka menginap dihotel kita. Tadinya Abang pikir bisa memperkenalkan kamu sama mereka, tapi tidak apa-apa. Mungkin lain kali kita yang berkunjung kesana" Shinta mengangguk mengerti.


Biasanya setiap pagi Reyhan yang mengantar Ilham kesekolah dan Shinta yang menjemput. Tapi berbeda dengan pagi ini, Ilham merenggek minta diantar keduanya. Bujuk rayu Shinta untuk putranya tidak berhasil, tidak ingin banyak berdebat lagi akhirnya Shinta mengikuti keinginan Ilham. Dengan catatan dia akan terlambat menghadiri pertemuan pagi ini.

__ADS_1


"Terima kasih Bang" Shinta meraih tangan Reyhan untuk menyaliminya lalu mendapat balasan sebuah kecupan dikeningnya. Reyhan mengantar Shinta sampai depan loby perusahaan Mama Syila.


Setelah ritual paginya, Shinta langsung turun dari mobil Reyhan dan langsung berlari memasuki loby, Reyhan meperhatikan sampai Shinta tidak terlihat lagi. Sudah ada Koko dan Putra disana, Shinta bernafas lega saat tahu pertemuannya dimundurkan empat puluh lima menit, karena pihak keluarga sahabat Papa Jay baru saja sampai di Bandung tadi subuh.


"Mereka sudah sampai" ucap Putra memberitahu Koko dan juga Shinta, mereka bertiga yang diminta Mama Syila untuk menyambut keluarga sahabat Papa Jay, yang Shinta baru ketahui kalau bernama Smith.


"Selamat datang Mr. Smith" sambut Koko, diikuti Shinta dan Putra.


"Hai Shinta" sapa salah satu putra Mr. Smith yang bernama Jonathan.


Shinta mencoba menginggat pria yang ada dihadapannya, dia tahu kalau dia pernah bertemu dengan pria bule ini, tapi dia lupa nama dan waktu saat mereka bertemu.


"Jonathan" ucap pria bule itu menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangannya. "Do you remember me?" tanyanya.


Shinta mengerjapkan matanya, dia ingat sekarang siapa pria dihadapannya saat ini. Pria ini pernah memintanya jadi kekasihnya saat Shinta masih SMP kelas sembilan.


"Nath" panggil Shinta sambil menyambut uluran tangan Jonathan.


Jonathan yang meminta Shinta memanggilnya Nath. Jonathan tersenyum senang saat Shinta memanggilnya dengan panggillan Nath. "Kamu masih ingat saya ternyata" ucapnya dengan bahasa Indonesia yang tidak begitu lancar.


"Of course I remember you" balas Shinta dengan senyum indahnya. Dia tidak menyangka kembali bertemu dengan pria bule ini.


Kini mereka jalan beriringan masuk kedalam lift menuju ruang pertemuan. Jonathan tiba-tiba merangkul Shinta "Bagaimana kabarmu?" tanyanya sedikit berbisik.


"Kabar baik, bagaimana denganmu?" tanya Shinta balik, dia hanya sekedar basa basi untuk menghormati. Shinta merasa risih dengan rangkulan Jonathan, dia berusaha melepaskan tangan Jonathan yang ada dipundaknya. Namun pria itu tetap mempertahankannya.


"I miss you, honey" Jonathan kembali bebisik.


Tentu saja dia merindukan Shinta, sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Dia sudah menunggu lama untuk kunjungan ini, mengunjungi gadis kecilnya yang bisa membuatnya bahagia hanya dengan tatapan mata polos milik Shinta dan senyum manis saat menerima bunga darinya, yang hampir dia lakukan setiap hari saat itu.


Shinta hanya tersenyum menaggapi kata-kata yang diucapkan Jonathan. Pria ini tidak berubah walau umur mereka bukan remaja lagi saat beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2