
Shinta baru saja sampai dirumah, dia cukup terkejut saat melihat mobil Reyhan suaminya sudah terparkir sempurna di garasi. Seharian ini dia menyibukkan diri tanpa tujuan yang jelas, sekarang dia merasa bersalah, suaminya sudah ada dirumah sementara dia masih berkeliaran di jalan.
"Bapak sudah pulang?" tanya Shinta pada Tini, putri Bi Suti yang ikut tinggal bersama mereka.
"Sudah Bu" jawab Tini, anak usia tiga belas tahun itu sangat menghormati Shinta. Dia dijemput langsung oleh Shinta untuk tinggal bersamanya, karena ibu angkatnya ini ingin dia melanjutkan sekolahnya dikota, dengan semua biaya yang ditanggung majikan ibunya.
Bukan tanpa sebab Shinta melakukan itu, Tini anak yang cerdas, dia lulus dengan nilai terbaik sekabupaten, tapi Bi Suti tidak bisa membiayai putrinya untuk melanjutkan ke jenjang SMP, akhirnya Shinta meminta ijin pada Reyhan yang ternyata sangat mendukung keinginan istrinya. Kehadiran Tini membuat Ilham memiliki saudara dirumah, Tini cukup bisa diandalakan untuk mengajari Ilham membaca dan berhitung, gadis itu sangat rajin dan juga telaten yang pasti memiliki sifat peyayang, membuat Ilham merasakan sayang dari seorang kakak.
Shinta masuk kedalam dan langsung menuju kamar, bersamaan dengan Reyhan yang baru keluar dari kamar mandi.
"Maaf, Shinta tidak tahu kalau abang pulang lebih awal" sapa Shinta sambil mendekati Reyhan dan mencium tangan untuk menyalimi suaminya. Walau segelisah apapun hatinya, ketaatannya pada suami tidak dia abaikan. Reyhan membalasnya dengan mencium kening istrinya, hal yang biasa dia lakukan setelah Shinta mencium tangannya.
Reyhan melingkarkan tangan dipinggang Shinta yang masih terlihat ramping, walau sudah melahirkan Ilham. "Kita makan malam diluar, kamu mau?" tanya Reyhan sambil merapikan hijab yang dikenakan Shinta.
"Apa ini tawaran kencan?" tanya Shinta sengaja menggoda suaminya.
"Hemm, bisa dibilang begitu, sudah lama kita tidak pergi berdua" jawab Reyhan sambil mengoyang-goyangkan hidungnya yang menempel dengan Shinta.
"Baiklah, Adik mau Bang" Shinta memanjakan suaranya, bicara seperti anak ABG, membuat Reyhan terkekeh, gemas dan langsung mencium dengan lembut bibir tipis istrinya. Suasana seperti ini yang mereka rindukan satu bulan terakhir ini.
"Mama dandan yang cantik, Papa ke masjid dulu" Reyhan melepaskan pelukannya.
Shinta mengangguk dan meninggalkan Reyhan, masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri. Melihat Shinta yang sudah hilang dibalik pintu, Reyhan meraih ponsel Shinta yang tadi di letakkan istrinya di meja rias. Reyhan memeriksa beberapa pesan yang masuk, tujuannya mencari pesan dari nomor yang tidak dikenal seperti yang tadi di beritahu Zein.
"Bang, seseorang sengaja membuat Teteh untuk membenci Abang" Zein menghubinginya dan langsung bicara seperti itu.
"Maksud kamu apa Zein?" tanya Rehan tidak mengerti apa yang dibicarakan Zein, tanpa pangkal dan ujung langsung memberitahu hal yang membuat Reyhan penasaran.
__ADS_1
"Teteh menerima banyak foto kebersamaan Abang dan Mbak Cindy, tapi yang dikirim hanya bagian yang terlihat intim" Zein menjelaskan.
Reyhan hanya diam, sambil mencerna apa yang terjadi sebenarnya. Seminggu yang lalu Sandy memberitahunya kalau Nayla mencegah Shinta istrinya untuk pergi dari rumah bersama Ilham.
"Shinta sepertinya dalam dilema" ucap Sandy dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Reyhan. Saat itu mereka sedang ada pertemuan dengan klien yang sama.
"Maksud kamu?"
"Shinta kemarin mau minta ijin tinggal di Lembang bersama Ilham. Menurut Shinta kamu sekarang berubah, perhatianmu padanya dan Ilham berkurang, lebih sibuk diluar bersama Cindy"
"Bersama Cindy?" tanya Reyhan, lalu dia mengelengkan kepalanya "Kamu tahu sendirikan Ndy, aku sibuk mengurus proyek kerjasama dengan Dewa dan juga dengan kamu beberapa minggu ini. Memang ada Cindy, karena Cindy bergabung diperusahaan milik Dewa dan jadi sekertarisnya. Bukan khusus pergi menemui Cindy" sahut Reyhan.
"Iya aku tahu dan juga sudah memberitahu Nayla tentang keberadaan Cindy disekitar kamu Rey, karena itu Nayla mencegah Shinta dan meminta istrimu untuk percaya padamu, kalau saat ini memang sedang banyak pekerjaan"
"Bang" suara zein dari seberang sana menyadarkan Reyhan.
"Iya Zein akan Abang usahakan" jawab Reyhan.
"Satu lagi Bang, coba Abang cek ponsel Teteh, catat nomor yang mengirimkan pesan tersebut, lalu serahkan pada Roy, biar Roy yang melacaknya" pinta Zein, karena tadi saat Shinta menunjukkan foto padanya dia tidak bisa menginggat nomor pengirimnya, dan Zein yakin bukan hanya foto yang ditunjukkan Shinta padanya yang dikirim, pasti ada banyak foto yang lain.
"Terima kasih Zein, akan Abang lakukan apa yang kamu minta" sahut Reyhan.
Reyhan segera keluar dari kamar setelah mencatat nomor pengirim foto-foto yang tidak sesuai dengan kebenarannya, dia juga mengirim foto yang diterima Shinta ke ponselnya yang segera dia hapus riwayatnya setelah terkirim.
Sepanjang jalan Reyhan tidak bisa tenang, sebentar-bentar dia mencium tangan Shinta yang terus digenggamnya. Istrinya benar-benar wanita yang kuat dan sabar menghadapi ini semua. Kebencian terbesit dimatanya pada orang yang berani mencoba menghancurkan kebahagiaan rumahtangganya.
Belum selesai urusannya dengan Cindy yang terus menganggu rumah tangganya, sekarang sudah ada lagi pihak lain yang sangat ingin istrinya berpaling. Reyhan yakin yang melakukan ini orang yang menginginkan Shinta. Satu orang yang dia curigai adalah Dewa, bukan hanya dia tapi juga Zein. Zein orang yang pertama curiga dengan kedekatan Cindy dan Dewa, walau mereka tutupi dengan hubungan antara atasan dengan sekertaris. Tapi semua baru kecurigaan, belum ada bukti yang mengarah kesana. Harapan Reyhan sekarang ada pada Roy, yang bisa membantunya, mencari tahu keberadaan sipengirim pesan misterius pada Shinta.
__ADS_1
"Jadi bagaimana sayang, sehabis makan malam kita jemput Ilham dirumah Mama atau biarkan dia menginap disana?" tanya Reyhan, karena Istrinya hanya diam saja saat dia bertanya hal yang sama.
"Abang maunya gimana?" Shinta balik bertanya.
"Papa mau menghabiskan waktu berdua mama malam ini" Reyhan menjawab sabil mencium tangan Shinta yang tidak dilepaskannya sejak tadi.
Reyhan bisa melihat rona merah diwajah istrinya, wajah ini yang dia suka, yang membuat debaran jatungnya semakin kencang. Walau sudah hampir empat tahun mereka menikah, Reyhan tidak bisa berbohong kalau Shinta selalu membuat jantungnya bekerja keras.
"Makan malamnya batalin aja ya"
Shinta memalingkan wajah menatap suaminya, seakan ingin meyakinkan kalau yang dia dengar tadi salah.
"Bagaimana?" tanya Reyhan sambil tersenyum nakal.
"Abang kalau bercanda jangan buat Shinta penasaran" kesal Shinta, setelah tahu kalau itu hanya ulah suaminya untuk menjahilinya.
"Soalnya papa maunya makan mama sekarang" ucapan Reyhan membuat wajah Shinta semakin merona merah, dia suka bila suaminya bicara seperti itu, walau sudah sering Reyhan mengatakannya, namun tetap saja ada rasa bahagia, merasa diinginkan suaminya.
"Bang" panggil Shinta ragu, yang dijawab Reyhan hanya dengan deheman.
"Apa yang Abang rasain ke Shinta sekarang?"
Reyhan meghentikan kendaraannya yang memang sudah terparkir sempurna ditempatnya. Reyhan membawa Shinta ke hotel milik mereka, dia sudah meminta asistenya menyiapkan makan malam yang romantis dikamar pribadinya di hotel.
"Semakin hari semakin cinta" jawab Reyhan lalu mencium lembut bibir istrinya. "Sayang, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Abang. Abang tidak akan bisa hidup tanpa kamu dan Ilham"
...◇◇◇...
__ADS_1