Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
16. Mengakhiri atau Memulai


__ADS_3

Setelah satu minggu menyusun jadwal, maka hari inilah waktunya untuk Reyhan bicara dengan Cindy. Tidak hanya bicara berdua, tentu saja ada Zein yang ikut hadir disana, sesuai saran Sandy dan yang lain. Untuk mencegah tindakan Cindy yang bisa saja melakukan tindakan diluar batas. Tidak lupa juga ada Jody, yang biasa mengikuti kemanapun Cindy pergi.


"Sudah lama menunggu?" suara Cindy menghentikan perbincangan Reyhan dan Zein seputar bisnis yang mereka kerjakan.


"Baru saja" Reyhan yang menjawab, begitu Cindy sudah duduk dihadapannya.


"Zein" sapa Cindy, yang tidak mengira kalau saudaranya ini ikut hadir diantara dia dan Reyhan.


"Aku sedang membahas kerjasama usaha kami Mbak" ucap Zein yang mengerti sapaan Cindy.


"Oh.." gumam Cindy sambil mencoba untuk tersenyum manis, menutupi kekecewaannya.


"Kuharap kamu tidak keberatan ada Zein, mengingat dia masih punya hubungan saudara denganmu, dan kebetulan apa yang ingin aku sampaikan perlu diketahui Zein juga sebagai saudaramu dan sahabatku" Reyhan menegaskan kehadiran Zein diantara mereka.


"Apa yang ingin kamu bicarakan sebenarnya?" tanya Cindy, dia merasa ini tidak seperti dugaannya seminggu yang lalu saat Reyhan menghubunginya untuk bertemu setelah mengulangi ucapan terima kasihnya, telah menemukan Ilham.


"Hai Jo, ada apa? Sampai kamu repot-repot menghubungiku" sahut Cindy dari seberang sana saat Reyhan menghubunginya.


"Terima kasih sudah menemukan putraku" sahut Reyhan.


"Jangan seperti itu, aku hanya melakukan apa yang semestinya aku lakukan. Jadi ada apa kau menghubungi ku?"


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu. Apa kita bisa bertemu?"


"Cindy" panggilan Reyhan menyadaarkan Cindy dari ingatannya saat Reyhan mengajak bertemu.


"Aku tahu aku membuat kesalahan tiga tahun yang lalu, seakan memberi kesempatan kedua untuk hubungan kita" Reyhan melihat reaksi Cindy yang masih tampak biasa.

__ADS_1


"Tapi jujur, sejak dulu kita bersama, aku tidak bisa merasakan getaran apapun padamu. Walau aku sempat merasa kehilangan saat kamu pergi, tapi itu semua hanya karena aku terbiasa ada kamu yang menemani, tidak lebih dari itu" Reyhan kembali melihat reaksi Cindy.


Patut diakui jempol, Cindy berakting sangat baik. Dia tetap menyungingkan senyum diwajahnya, walau kata-kata Reyhan sebenarnya menusuk dadanya.


"Sepertinya apa yang aku bicarakan tidak terlalu mempengaruhimu" Reyhan menjeda ucapannya, kembali mengamati reaksi Cindy.


"Aku lega kalau kamu bisa menerima kenyataanya. Aku harap kamu mengerti dan mulai saat ini lupakan yang pernah terjadi diantara kita. Yang sebenarnya memang sudah berakhir sejak kamu memilih untuk berselingkuh"


Ucapan Reyhan sontak membuat Cindy terkejut dan membulatkan matanya. Reyhan tersenyum puas melihat reaksi Cindy, ini yang dia tunggu Cindy melawan dan dia akan mengungkapkan semua.


"Tidak perlu menyanggahnya, aku tahu siapa Ayah Jojo sejak tiga tahun yang lalu. Karena itulah aku juga meminta Zein ikut mendengarkan apa yang ingin ku katakan, agar Zein tahu siapa ayah keponakannya dan tahu saudaranya ini seperti apa sebenarnya"


"Jo" panggil Cindy dengan nada cukup tinggi.


"Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi" Reyhan ikut meninggikan suaranya.


"Aku tidak berbohong, aku memang diperkosa, aku mabuk saat itu, aku melakukannya tanpa kesadaran penuh. Itu sama saja aku diperkosa, karena dia, laki-laki itu saat itu dia memiliki kesadaran penuh" jawab Cindy.


"Kamu mabuk saat menghadiri ulang tahun Winda, saat itu bukan? Saat pertama kamu melakukannya yang kamu bilang di perkosa" Cindy menunduk tidak berani melihat dan menjawab ucapan Reyhan.


"Tapi sepertinya kamu menikmatinya, bahkan setelah malam itu kamu sering bertemu denganya dibelakangku. Apa itu bukan selingkuh?" Tanya Reyhan.


Cindy diam dengan wajahnya yang pucat, dia merasa seperti akan ditelanjangi Reyhan, dengan menggungkapkan kenyataan yang Cindy kira Reyhan tidak mengetahuinya.


"Bahkan setelah aku pergi, kamu lebih sering menghabiskan waktu dengannya. Sampai kamu hamil Jojo, dan itu tiga tahun kemudian setelah acara tersebut, yang kamu bilang mabuk dan diperkosa"


"Hebatnya lagi kamu mencoba menjebakku untuk tidur denganmu, agar bisa meminta tanggung jawab atas kehamilanmu. Dan kamu sangat tahu hasil akhirnya, aku tidak bisa bereaksi apapun, walau kamu sudah telanjang bulat, mengelepar dihadapanku" Reyhan menertawai dirinya sendiri mengingat kejadian itu.

__ADS_1


"Cukup" Cindy berteriak karena Reyhan benar-benar memojokkannya. Dia memukul meja, membuat Zein yang saat itu sedang menikmati minumanya terkejut dan menumpahkan setengah dari isinya, yang membasahi pakaian yang dikenakan Zein.


"Cindy, bukankah jelas kalau kita sudah berakhir sejak kamu selingkuh. Jadi..."


Sebelum Reyhan menyelsaikan ucapannya, Zein meminta ijin ke toilet untuk membersihkan pakaiannya yang kotor. Laki-laki pembersih itu merasa risih dengan pakaiannya yang basah mengenai kulitnya.


Zein melewati meja yang diduduki seorang pria, dia seperti mengenal punggung pria itu. Niat Zein untuk menyapa pria itu dia urungkan, dia tidak bisa melihat wajah pria itu karena tertutup masker dan matanya tertutup topi yang hampir menutupi wajahnya.


Zein merasa cukup aman meninggalkan Reyhan dan Cindy untuk sementara waktu, karena sudah ada Jody yang memantau mereka lengkap dengan kameranya yang merekam semua yang terjadi.


Jody mengirim semua hasil rekamannya pada Zein, walau yang ingin Zein lihat hanya bagian saat dia tinggal ke toilet. Cindy dan Reyhan sudah selesai bicara saat Zein kembali, tapi dia terkejut dengan hasil akhir keduanya saat dia kembali dari toilet, karena itu dia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Terlebih lagi Reyhan berpesan untuk tidak melaporkan bagian akhir yang dia lihat pada Shinta.


Sementara itu Shinta tengah sibuk dengan adonan kue yang diminta Ilham saat ponselnya berbunyi. Dia segera meraih ponselnya, takut ada pesan penting yang masuk.


Nomor yang tidak dikenal mengiriminya foto, tampak foto Reyhan dan Cindy duduk berhadapan terhalang meja, Shinta bisa melihat tidak ada hal yang perlu dicurigai dengan foto itu, hanya saja dia merasa kesal, Reyhan tidak memberi tahunya kalau hari ini akan bertemu Cindy. Walau sudah meminta ijinnya, seharusnya suaminya memberitahunya saat akan bertemu.


Belum hilang kesalnya, foto kedua masuk, kali ini Shinta memegang dadanya, ada rasa sesak yang mencubitnya didalam. Ini yang dia takutkan, Reyhan bukan mengakhiri hubungannya dengan Cindy, namun akan memulai lagi setelah mereka bicara. Mengakhiri atau memulai? pertayaan itu yang terlintas dipikiran Shinta.


"Ma, kue Abang udah jadi belum?" Ilham menghampiri Shinta yang masih meremas pakaian di bagian dadanya.


"Sebentar lagi ya sayang" jawab Shinta, berusaha memasang wajah dengan semanis mungkin agar putranya tidak curiga dan banyak bertanya.


Walau sakit, Shinta menyelesaikan acara membuat kuenya. Demi putra kesayangannya, walau dia menangis darahpun dia harus selalu bersikap manis dan terlihat baik-baik saja didepan putranya.


Saat Reyhan pulang, seperti biasa, Shinta akan bersikap seakan dia tidak tahu apa-apa dan menunggu suaminya yang bicara. Reyhan sudah berjanji, kalau dia akan memberitahu Shinta walau hal sekecil apapun itu. Memegang janji Reyhan, Shinta menunggunya bicara. Namun sampai malam dan sampai dia terpejam, tidak ada satu katapun yang keluar dari Reyhan untuk memberitahunya tentang pertemuan dia dengan mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2