Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
8. Kita Jebak saja


__ADS_3

Keempat sahabat sudah berkumpul di Cafe Zein. Cafe ini buka jam delapan pagi, dan pagi ini cukup ramai, untuk menikmati sarapan. Melihat suasana cafe, rasanya tidak pantas untuk membicarakan sesuatu yang penting disana, terlebih lagi yang akan mereka dengar cukup pulgar. Mery mengajak mereka ke ruangan khusus Zein dan Mery. Tidak semua orang bisa masuk keruangan ini, dan disinilah mereka berkumpul, duduk santai disofa, menikmati minuman hangat dan kudapan ringan.


"Jadi sebuah rahasia apa yang ingin kamu beri tahu kami Mer?" tanya Nayla membuka pembicaraan mereka.


Mery mengambil ponselnya lalu menyapu layarnya.


"Diam, simak dan dengarkan" ucap Mery.


Tiga sahabatnya mengikuti saran Mery, bahkan mereka menghentikan kegiatan mengunyah makanan yang ada dimulut mereka. Percakapan Cindy dan ayah kandung Jo terdengar di ruangan khusus itu. Mery merekam suara percakapan Cindy kemarin, walau tidak dari awal, tapi ini cukup membantunya mengungkap kebenaran. Nayla menegang, merasa mual, mendengar setiap kata yang keluar dari Cindy dan ayah Jo.


"Gila" kata yang keluar dari mulut Citra, setelah rekaman itu berakhir.


"Mengerikan" sahut Bella bergidik menguncangkan bahunya.


"Aku juga tidak percaya kalau hanya ucapan dari orang lain, tapi aku mendengar dan melihat langsung. Tidak ada wajah malu-malu dari keduanya saat bicara, menunjukkan mereka benar-benar menikmati saat berhubungan" jelas Mery, menggambarkan wajah Cindy dan laki-laki itu saat bicara.


"Nay" panggil Citra, saat melihat wajah Nayla yang merah dan hanya diam saja.


"Mana Zein?" tanya Nayla.


"Ada diruangannya" jawab Mery.


"Dia sudah tahu?" tanya Nayla.


"Sudah. Zein akan kesini" jawab Mery.


Tidak menunggu lama, Zein masuk dan bergabung bersama mereka. Satu orang yang langsung jadi perhatiannya adalah saudarinya, Nayla. Dia menatap tajam Nayla yang menahan amarah.


"Nay, tidak perlu marah, tidak ada gunanya" Zein berjalan mendekati Nayla.


"Yang harus kita pikirkan sekarang adalah menyingkirkan ular berbisa itu dan menyelamatkan korban" ucap Zein.


Citra memberikan Nayla minumanya. "Minum Nay, biar lebih baik" ucapnya.


Nayla menerima minuman yang diberikan Citra, lalu memberikannya kembali setelah dia menghabiskan setegah dari isinya.


"Aku marah karena tertipu Zein" ucapnya.


"Aku tahu, kita sama-sama tertipu, bukan hanya kita, tapi keluarga besar kita" jawab Zein.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Mery.


"Iya benar, apa yang harus kita lakukan" Citra menyahuti.


"Zein, kamu yang memberi tahu Bang Rey. Teh Shinta biar kami para wanita yang mengurusnya" Nayla yang bicara.

__ADS_1


"Ya, aku juga berpikir seperti itu" jawab Zein.


"Jangan tunjukkan pada Mbak Cindy kalau kita tahu yang sebenarnya" sahut Bella.


"Ya, Bella benar. Kita jebak saja dia, biar tidak bisa mengelak lagi. Kalau kita hanya menuduh, walau dengan bukti yang ada sekarang, dia pasti berusaha membalikkan fakta" Citra menimpali.


"Baiklah kita lakukan peran kita masing-masing" jawab Mery.


"Itu tidak sulit, bukankah kita selalu berhasil dalam berakting?" ucap Citra terkekeh.


"Hahaha... aku ingat bagaimana kita membuat Devi malu" sahut Bella.


"Sudah, tidak perlu bernostalgia. Aku akan kekantor Bang Rey setelah menjemput Zola" Zein menghentikan keempat sahabat itu mengenang tingkah konyol masa lalu mereka.


"Zein, biarkan kami sedikit berbahagia dengan mengenang masa lalu" sahut Citra.


"Terserah kalian, aku pergi" ucap Zein sambil mencuri cium dibibir Mery.


"Zein...." teriak Citra dan Bella bersamaan melihat adegan itu. Sementara Nayla hanya terkekeh dan Mery yang malu wajahnya bersemu merah.


"Basi tahu Mer, pake merona merah kayak gitu" cibir Citra.


Sementara Zein berlalu kembali keruang kerjanya, tanpa perduli dengan keheboan yang dia tinggalkan didalam kamar khususnya.


Shinta meninggalkan empat sahabatan yang terus menggodanya, menemui Reyhan yang memanggilnya.


"Raka pasti senang kalau Jojo tinggal di rumah" lanjut Nayla ucapannya.


"Mbak Cindy udah dari minggu kemarin pulang ke Cimahi" Mery yang menjawab.


"Iya, Mbak baru sampai tadi pagi. Mungkin lain kali Mbak dan Jojo, main dan menginap di kediaman Nayla" jawab Cindy.


"Teteh pulang duluan ya" ucap Shinta setelah dia menemui Reyhan.


"Kenapa Teh?" tanya Mery.


"Kok Buru-buru?" lanjutnya.


"Teteh ditunggu Mama Diana di kediamannya" jawab Shinta jujur.


"Aduh menantu kesayangan Mama Diana, dicariin terus sama mama mertua" goda Citra.


Shinta hanya tersenyum mendengar ucapan Citra, walau dia tidak suka dengan kehadiran Cindy, tapi dia tidak mau membuat Cindy membencinya. Mama Diana orang yang tidak pernah merestui hubungan Reyhan dan Cindy, karena itu jalan mereka untuk bersama sangat sulit. Reyhan dikirim Mama Diana melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, tujuannya satu, memisahkan putranya dari wanita yang dia nilai tidak baik untuk putranya.


"Gimana nggak disayang, orang Mama Diana yang milih Teh Shinta langsung untuk Bang Rey. Mantan mah lewat, Teh Shinta nggak ada duanya dimata Bang Rey dan Mama Diana" Bella menyanjung Shinta.

__ADS_1


Cindy kesal dengan semua yang diucapkan Citra dan Bella. Baginya itu satu penghinaan, tapi dia tidak bisa marah, karena mereka tidak tahu kalau dirinyalah yang dibicarakan keduanya.


"Cukup" ucap Cindy sedikit keras, dia ingin menghentikan segala kekesalan yang ada dipikirannya, namun tanpa sadar dia mengucapkannya dan dapat didengar mereka yang berdiri di sekitarnya.


"Kenapa Mbak?" tanya Nayla.


"Mbak Cindy kok marah? Kitakan bicara fakta" tanya Mery.


"Maaf, saya sedang memikirkan hal lain dan tidak sengaja berucap" jawab Cindy dengan senyum kakunya.


"Oh... kirain Mbak Cindy marah karena Mbak Cindy yang mantan Bang Rey" jawab Citra yang membuat Cindy semakin kesal.


"Hans bilang mantannya Bang Rey nggak tahu kemana, sampai sekarang tidak ada kabar beritanya. Mbak Cindy kenal nggak sama mantan Bang Rey? Soalnya dulu satu sekolah, pasti berteman juga kan?" Nayla sangat pintar, seakan-akan membela diawal dan berakhir dengan pertanyaan yang menyudutkan.


"Kenal, tapi tidak kenal dekat, tidak pernah bicara pribadi secara langsung. Alex, Sandy dan Reyhan juga tidak terlalu dekat dengan saya" jawab Cindy membela.


"Sayang sekali, kalau Mbak Cindy kenal baik kita bisa bertanya lebih banyak" jawab Citra.


"Kenapa jadi kalian yang penasaran?" tanya Bella.


"Lihat Teh Shinta yang istrinya Bang Rey aja santai" lanjutnya. Semua terkekeh.


"Kebiasaan, kalian semua lebay" Vina menyahuti, setelah sekian lama hanya menyimak.


"Ma" Ilham menyela para wanita yang sedang berkumpul.


"Di tunggu papa didepan, kita mau ke tempat Oma" lanjutnya.


"Iya sayang, Ilham pamit dulu" Shinta membelai rambut Ilham.


"Mommy, Moeder, Bunda, Ibu, Ilham pulang" ucapnya sambil mencium tangan keempatnya. Ilham berjalan mendekati Cindy, setelah Shinta memberi kode pada putranya untuk pamit pada Cindy.


"Tante, Ilham pulang" ucapnya ragu, karena melihat wajah Cindy yang tidak tersenyum sama sekali.


Reyhan mengandeng Ilham dan merangkul Shinta saat keluar dari kediaman Zein, menuju kendaraannya. Tampak Reyhan mencuri ciuman dibibir Shinta, saat istrinya hendak masuk kedalam mobil.


Cindy melihat itu, hatinya terbakar cemburu. Reyhan benar-benar menyebalkan dimatanya hari ini. Sekian lama tidak pernah bertemu tapi pria itu tidak ingin menyapanya sedikitpun. Jangankan menyapa melihatpun tidak mau.


"Mbak juga langsung pulang ya Zein" pamit Cindy.


"Menginap satu malam Mbak. Besokkan hari minggu" tawar Mery.


"Ayah tidak mengijinkan Jojo sama Ibu menginap" sahut Jojo jujur.


"Ayah?"

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2