
Ilham duduk sendiri saat istirahat, tidak biasanya dia tidak bersama, Raka, Zola, Awan dan Revan sahabat yang seperti saudara kembar baginya. Biasanya mereka akan main dan makan bersama, sudah satu paket, dimana ada Raka maka disana juga akan ada Ilham, Zola, Revan dan Awan. Bahkan guru dan orang tua murid yang lainpun sangat tahu hal itu, hubungan saudara dan persahabatan dari kelima orang tua mereka, menjadikan mereka seperti anak kembar.
Saat kelas dimulai barulah guru kelasnya menyadari kalau Ilham tidak ada diruangan, dia meminta anak-anak yang lain untuk belajar menulis sendiri, setelah memberi tugas pada muridnya, guru kelas Ilham melaporkan pada kepala sekolah. Guru-guru dan penjaga sekolah dikerahkan untuk mencari Ilham, dibantu beberapa orang tua murid yang sudah menunggu disekolah, termasuk Bella dan Citra yang sudah tiba lebih dulu dari Shinta dan Nayla.
Guru-guru, penjaga sekolah, orang tua murid yang lain, Citra dan Bella, mereka belum bisa menemukan Ilham sampai akhirnya kedua sahabat itu melihat Shinta dan Nayla sedang berbincang berdua. Saat mereka akan menghampiri keduanya, Nayla sudah menyapa mereka terlebih dahulu.
"Kalian dari mana?" tanya Mommy Raka tersebut.
Citra yang sejak tadi terisak, wanita yang pandai bercanda dan juga mudah menanggis disaat sedih, tidak bisa lagi membendung tangisannya, membuat Shinta dan Nayla penuh tanya dibenak mereka. Apa gerangan yang sedang terjadi?
"Bel, ada apa dengan Citra?" Mommy Raka ini kembali bertanya pada ibu anak-anak.
"A.. nak... a... nak hi...lang" sahut Citra tersendat karena sambil menangis.
"Apa?" sahut Shinta dan Nayla bersamaan.
"Bel, anak-anak hilang? Apa maksudnya?" tanya Nayla pada Bella, karena tidak mungkin bertanya pada Citra yang menanggis dalam pelukan Shinta.
"Ilham yang hilang Nay, kita sudah cari kemana-mana tapi tidak bertemu" jawab Bella.
"Ilham?" tanya Shinta tidak percaya, lalu terduduk lemas. Kakinya seakan mati rasa, pikirannya kosong.
"Dimana anak-anak yang lain?" tanya Nayla lagi.
"Anak-anak dikelas Nay, hanya Ilham yang tidak ada" sahut Bella.
__ADS_1
"Apa pihak sekolah sudah periksa CCTV?" tanya Nayla lagi, namun hanya mendapat gelengan dari Bella.
"Aku tidak tahu, dari tadi kami berdua dan ibu-ibu yang lain sibuk mencari" jawab Bella.
Nayla meminta Bella dan Citra menjaga Shinta, sementara itu di pergi keruang guru sambil menghubungi Sandy.
Di tengah kesibukan mereka mencari Ilham, dan memeriksa CCTV. Citra dan Bella yang masih menemani Shinta, yang duduk ditempat para orang tua menjemput, mereka melihat ke gerbang sekolah, ada mobil yang mereka kenal berhenti didepannya.
Benar saja mereka langsung mengenali pemilik mobil itu, saat wanita itu keluar dari mobil dengan angunnya. Wajah Indonnya sangat ketara, ditambah lagi rambutnya yang di cat kuning keemasan, semakin jelas memperlihatkan jati dirinya.
Namun bukan penampilan wanita itu yang jadi fokus mereka saat ini, melainkan anak laki-laki yang ikut keluar dari sisi penumpang, membuat mereka seketika berteriak. "Ilham, itu Ilham"
Suara mereka yang keras memanggil Ilham seketika mengalihkan pandangan orang-orang yang ada disana, yang mengikuti langkah mereka menuju gerbang.
Belum sempat Ilham menjawab, Cindy sudah terlebih dulu menjawab. Ya, wanita itu, wanita yang datang bersama Ilham adalah Cindy. "Saya menemukannya dipinggir jalan, karena ini masih jam sekolah jadi saya antarkan dia kembali kesini" ucap Cindy.
Reyhan yang sudah ada disana langsung memeluk Ilham dan Shinta, tentu saja mendapat pandangan tidak suka dari Cindy. "Kalian bisa berpelukan saat ini, tapi tunggu saja waktunya semua akan berakhir" ucap Cindy dalam hati, melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
"Terima kasih" ucap Reyhan tulus pada Cindy, dia dan yang lain sudah melihat rekaman CCTV digerbang sekolah, bagaimana Ilham berjalan mendekati laki-laki tua yang berdiri di gerbang sekolah, laki-laki tua itu berpakaian lusuh dan kumuh. Ilham saat itu memberikan makanan yang dia pegang untuk laki-laki tua itu, entah apa yang mereka bicarakan, Ilham tiba-tiba keluar dan mengikuti laki-laki tua itu, sedangkan penjaga sekolah saat itu tidak berada ditempat.
"Terima kasih Mbak" Shinta mengikuti Reyhan, walau dia tidak suka dengan wanita yang ada dihadapannya ini, tapi dia harus berterima kasih, karena orang yang sangat tidak diinginkannya bertemu adalah orang yang menemukan putranya, dan itu jauh lebih penting dari segalanya bagi Shinta.
Drama hilangnya Ilham menjadi moment baik bagi Cindy, dia mendapat nilai kebaikan dari kelima pasangan yang menurutnya terlalu mudah untuk dibohongi.
Di loby apartemen milik Banu, dimana Cindy dan Jojo sekarang tinggal, Cindy menemui seorang bapak-bapak paruh baya. Dia memberi bapak itu makanan dan beberapa lembar uang, dengan perjanjian bapak itu besok akan membantunya untuk membawa Ilham keluar dari sekolah. Semua sudah diatur Cindy dengan sangat baik, sehingga rencana yang dia buat berjalan lancar. Merasa diatas angin Cindy tertawa senang di balkon apartemenya, dia senang bisa membodohi kelima pasang suami istri yang menurutnya benar-benar bodoh.
__ADS_1
Tanpa Cindy sadari, semua yang dia rencanakan sudah diketahui Zein yang sudah menempatkan orang kepercayaan keluarga Harley untuk mengawasi Cindy.
"Baiklah, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Lanjutkan pekerjaanmu, jangan sampai lengah, dia ular yang berbahaya" ucap Zein, memberikan arahan pada Jody, orang kepercayaan yang diminta Zein dari Kak Heru, pimpinan yang bertanggung jawab dengan pengawalan untuk anggota keluarga Harley.
"Jadi semua akal-akalan Mbak Cindy?" tanya Mery, saat ini mereka sudah berbaring untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
"Hem" jawab Zein singkat.
"Sayang aku tidak ada disana" jawab Mery.
"Kenapa?" tanya Zein heran.
Mery terkekeh "Aku hanya ingin lihat aktingnya, hebat mana akting Mbak Cindy dengan kami berempat" cicit Mery.
"Sepertinya hebat Mbak Cindy" jawaban Zein membuat Mery merengut tidak suka.
"Apa yang salah? Aku mengatakan yang sebenarnya" Zein sengaja mengatakan itu, dia senang kalau Mery sudah merajuk, sama persis seperti Zola putra mereka.
"Apa kamu tidak akan memberi tahu yang lain?" tanya Mery, menginggat keempat pasang yang lain belum mengetahui kalau semua rencana Cindy.
"Masih ada bukti lain yang harus aku kumpulkan, setelahnya baru aku beritahu mereka semuanya" jawab Zein sambil mencuri cium dibibir istrinya.
Sementara itu Shinta sedang berperang dalam hatinya, setelah Reyhan meminta ijin untuk bertemu Cindy dan menyelesaikan masalahnya dengan Cindy. Walau berat dia harus mengijinkan suaminya bertemu empat mata dengan wanita itu, terlebih lagi itu saran dari mama mertuanya, yang sudah pasti memikirkan segala sebab dan akibatnya. Satu-satu yang bisa dia yakinkan, kalau dia harus mempercayai Reyhan suaminya.
...◇◇◇...
__ADS_1