
"Aku mencintaimu Shinta" suara bariton Farrel yang mengucapkan kata cinta membuat Shinta menggelengkan kepalanya.
Dulu Shinta akan sangat bahagia bila Farrel mengucapkannya, wajah cantiknya akan merona merah dengan senyum malu tersimpul dibibirnya. Tapi saat ini berbeda, sumua sudah berlalu, tidak ada lagi rasa tersanjung dan bahagia yang dia rasakan melainkan rasa sakit dihatinya.
"Jangan sakiti hatiku dengan mengucapkan kata itu lagi Farrel. Kita sudah berakhir lama"
"Tapi rasa sayang dan cinta tidak akan pergi begitu saja Shinta"
"Setelah hampir empat tahun? Itu bukan waktu yang sebentar Farrel. Berbahagialah dengan pilihanmu, dan jangan ganggu keluarga dan kebahgianku"
"Shinta"
"Cukup Farrel, kalau kau mencintaiku maka biarkan aku bahagia" potong Shinta ucapan Farrel.
"Bahagia diatas penderitaanku?" tanya Farrel. "Tidak Shinta, aku hanya ingin kamu bahagia tapi bersamaku" lanjut Farrel.
"Aku sudah bahagia saat ini Farrel, dan antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi, semua berakhir dan itu pilihanmu, kamu yang memilih untuk bermain dibelakangku" tangkas Shinta ucapan Farrel.
"Aku tidak mencintai dia, aku hanya mencintaimu Shinta"
"Jangan ucapkan kata itu Farrel" bentak Shinta.
"Kenapa? Itu karena sebenarnya kamu masih mencintaiku Shinta, tapi kamu mengingkari hatimu untuk membenarkannya" Shinta membulatkan matanya, dia benar-benar kesal dan membenci Farrel saat ini dengan mengatakan itu.
"Karena aku hanya ingin suamiku yang mengucapkan kata cintanya, bukan pria sepertimu" jawab Shinta, mematahkan jawaban yang diungkapkan Farrel.
"Kata cinta dari suami yang berselingkuh" cibir Farrel.
Shinta kembali menggelengkan kepalanya mendengar cibiran laki-laki yang dulu sangat berarti baginya, tidak ada kata tidak bahagia saat mereka bersama. Namun waktu merubah segalanya, Shinta benar-benar sudah mengubur nama Farrel dalam ingatannya. Dan laki-laki ini kembali hanya untuk menghancurkan kebahagiannya, tentu saja hanya rasa benci yang Shinta rasakan saat ini.
"Tidakkah sudah cukup bukti yang aku berikan padamu Shinta, kenapa kamu masih bertahan dengan laki-laki seperti itu?"
__ADS_1
Shinta tertawa keras mendengar ucapan Farrel, membuat pengunjung cafe melihat kearah Shinta. Farrel yang aneh melihat Shinta tertawa merasa risih dengan tatapan pengunjung lain pada mereka. "Jangan tertawa seperti itu Shinta" ucapnya.
"Kenapa? Kamu malu?" tanya Shinta, yang sudah menghentikan tawaannya. Shinta hanya merasa lucu dengan apa yang diucapkan Farrel, sudah jelas laki-laki dihadapannya ini yang membuat skenario Reyhan berselingkuh, membungkusnya sebaik mungkin. Sayangnya Farrel tidak tahu seberapa kuatnya cinta yang Shinta rasakan untuk Reyhan, begitupun sebaliknya cinta Reyhan pada Shinta.
Malam itu, setelah Shinta menceritakan hubungannya dengan Farrel, Reyhan memberitahu Shinta, kalau Farrel adalah tokoh dibalik foto-foto tersebut.
"Jadi apa hubungan Farrel dan semua foto-foto ini?" tanya Shinta pada Reyhan.
"Farrel orang yang mengirim foto-foto itu, dia bekerjasama dengan Cindy"
"Untuk apa dia melakukan itu?"
"Tentu saja agar Mama membenci Papa" jawab Reyhan.
Reyhan kebali menunjukkan semua rekaman CCTV. "Lihat dan dengarkan dengan baik. Ini di apartement milik Banu yang ditempati Cyndi dan putranya" jelas Reyhan.
Shinta mengangguk mengikuti ucapan Reyhan. Matanya menatap tajam pada layar pipih yang memutarkan tayangan yang membuat Shinta merasa ingin muntah dan bergidik ngeri.
Reyhan terkekeh geli melihat tingkah istrinya. "Bagaimana apa kamu pikir suamimu ini masih mau dengan wanita yang tidur dengan banyak laki-laki?" tanyanya.
"Bagaimana Abang bisa dapat rekaman ini? membajak ya?" tanya Shinta penuh penyelidikan.
"Banu yang memberikannya pada Zein, dia tidak sengaja memeriksa rekaman tersebut untuk memantau Cindy dan Jojo. Tapi malah menemukan adegan panas tersebut" jelas Reyhan.
"ishh" cibir Shinta. "Mereka menginginkan kita pisah dengan alasan mencintai kita, tapi mereka bercinta" Shinta menggelengkan kepalanya. "Bagaimana dengan Banu, dia pasti sangat kecewa pada Cindy?" batin Shinta.
"Farrel" panggil Shinta, "Kamu benar-benar tidak tahu atau hanya ingin menguji kekuatan cinta antara aku dan suamiku?" tanya Shinta. Farrel mengerutkan keningnya, tampak mencerna ucapan Shinta.
"Apa hubunganmu dengan Cindy?" Shinta kembali bertanya. Farel hanya diam, tidak ingin menjawab pertanyaan Shinta sama sekali.
"Suamiku tidak pernah mencintai Cindy, asal kau tahu. Walau mereka dulu sangat dekat, tapi suamiku tidak pernah merasakan apa-apa pada Cindy. Sama seperti perasaanku sama kamu Farrel, walau kita dekat, aku tidak pernah mencintaimu dan tidak bisa mencintaimu"
__ADS_1
Shinta menyadari kalau selama satu tahun dekat dengan Farrel dia tidak pernah mengucapkan kata cintanya, walau Farrel beberapa kali mendesak Shinta untuk mengungkapkan kata cinta. Namun bibirnya tidak pernah menyebutkan kata-kata itu, karena memang hatinya tidak ingin mengatakan cinta pada Farrel.
"Jangan berkata seperti itu, kamu menyakitiku Shinta"
"Semua harus dikatakan untuk penjelasan Farrel. Karena kita saling menyakitkan, maka tidak perlu lagi kita bertemu dan bicara masalah hati. Kamu sangat tahu hatiku saat ini, dan kamu juga sangat tahu kalau suamiku tidak berselingkuh" Shinta menghabiskan minuman yang ada di hadapannya.
Sementara Farrel hanya memperhatikan Shinta dalam diam, dia tahu maksud ucapan Shinta. Kalau saat ini Shinta sudah tahu kalau dialah yang memerintahkan untuk mengirin foto-foto tersebut.
"Oh ya satu lagi, kenapa kamu tidak dengan Cindy saja? Sepertinya kalian sangat cocok, bukankah kamu sangat senang menikmati tubuhnya, sebaiknya kalian menikah dan berhenti berzinah"
Farrel tersadar dari lamunanya, ucapan Shinta cukup membuat Farrel membulatkan mata tidak percaya, Shinta bahkan tahu dia tidur dengan Cindy. Farrel mencoba berpikir siapa yang sudah menghianatinya. Tidak ada yang tahu selama ini kedekatannya dengan Cindy. Termasuk kerjasama mereka.
Shinta berdiri meninggalkan Farrel yang sibuk dengan pikirannya sendiri, masuk kedalam ruangan Zein. "Sudah selesai Teh?" sapa Zein dengan pertanyaan saat melihat Shinta dipintu.
"Hem" Shinta menyandarkan kepalanya di sofa. Melihat itu Zein mendekati Shinta dan duduk disamping teteh saudarinya.
"Jangan terlalu dipikirkan, yang penting Teteh dan Bang Rey baik-baik saja" ucap Zein mencoba menenagkan Shinta.
"Mengapa untuk hidup tenang dan bahagia itu sulit sekali Zein? Teteh pikir hanya akan ada masalah antara Bang Rey dan mantanya, ternyata Teteh juga harus menghadapi mantan. Teteh terkadang iri padamu dan yang lain, kenapa kalian tidak bermasalah dengan rumahtangga kalian?"
Zein menghela nafas panjang, tidak ada rumahtangga yang tidak bermasalah, hanya saja permasalahannya berbeda-beda. Saat inipun rumahtangganya sedang dalam bahaya, bisa bertahan atau akan hancur berantakan. Kekuatan cintanya dan Merry sedang diuji, oleh orang ketiga yang tidak ingin mereka bahagia.
"Kenapa?" tanya Shinta pada Zein, setelah melihat adiknya itu menghela nafas dan hanya diam.
"Semua orang pasti ada masalah didalam rumahtangga mereka, bukan hanya Teteh, tapi aku juga sama" jawab Zein.
"Zein" panggil Shinta pelan.
"Maaf, Teteh terlalu sibuk dengan masalah Teteh, sampai tidak memperhatikan masalahmu dan yang lain" Zein hanya mengangguk menerima permintaan maaf Shinta.
"Katakan apa masalahmu?" tanya Shinta.
__ADS_1
...◇◇◇...