Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
71. Melahirkan


__ADS_3

Sesuai keinginan Mama Diana, Shinta dan Reyhan mengadakan acara tujuh bulan kehamilan Shinta di kediaman Mama Diana. Tidak ingin pusing Reyhan menyerahkan semuanya pada Mama Diana untuk mengurus segalanya. Dengan semangat empat lima dengan senang hati Mama Diana mengurus segalanya.


Sesuai keinginan Shinta, Reyhan juga mengadakan Syukuran di panti asuhan dimana keluarga mereka biasa jadi donatur tetap di panti asuhan tersebut. Tidak hanya di panti asuhan, Reyhan juga mengadakan syukuran di rumah singgah milik Nayla yang ada di Jakarta seperti yang diinginkan Shinta saat dia bertanya tentang tujuh bulanan.


"Semakin banyak yang mendoakan semakin bagus" itulah yang Reyhan ucapkan saat ditanya mengapa mengadakan acara di banyak tempat.


Shinta sangat berterima kasih, suaminya mewujudkan apa yang diinginkan ibu hamil tersebut.


"Terima kasih bang untuk semuanya" ucap Shinta.


"Ini semua buat putra kita sayang" jawab Reyhan mengecup lembut bibir istrinya.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan tanpa terasa waktu berlalu dan saat ini, untuk kedua kalinya Reyhan akan menemani Shinta untuk melahirkan putra kedua mereka.


"Sakit sayang?" tanya Reyhan saat melihat Shinta mengelus perutnya. Shinta dan Reyhan sedang duduk ditaman rumah sakit sambil menunggu proses bukaannya lengkap.


Shinta menggeleng "Sudah hilang sakitnya"


"Tapi kamu sampe keringetan gini sayang" Reyhan megusap keringat Shinta dengan sapu tangannya.


"Kita kembali kekamar aja ya" ajak Reyhan. Shinta mengangguk.


"Bang sakit" teriak Shinta begitu mereka sampai dikamar.


"Sebentar, abang hubungi Mery"


Shinta mengangguk sambil berjalan mondar-mandir dikamarnya untuk memperlancar proses persalinan. Ini kali kedua bagi Shinta, membuatnya lebih tenang dan bisa mengontrol emosi dan pikirannya.


"Bang" Shinta mengeratkn cengkramannya, begitu rasa sakit diperutnya menyerang. Reyhan tidak perduli tangannya yang dicengram Shinta terasa sakit, bahkan kalau diijinkan dia ingin mengantikan Shinta untuk merasakan sakitnya melahirkan sama saat dia mengantikan Shinta mengalami morning sickness.


"Teh, berbaring ya. Kita periksa bukaannya" ucap Mery saat dia masuk ke kamar inap Shinta.


Shinta mengikuti apa yang Mery ucapkan, ada perasaan lebih tenang saat menyadari Mery yang akan membantunya melahirkan.


"Pembukaan komplit, ayo kita kekamar bersalin" Mery memberi tahu pasangan itu.

__ADS_1


Reyhan terus menggenggam tangan Shinta untuk memberi kekuatan pada istrinya, sesekali dia mencium kening dan pucuk kepala Shinta sambil berdoa dalam hatinya.


Sementara diluar, Mama Diana mondar-mandir didepan pintu ruang persalinan. Mama Syila yang juga ada disana hanya geleng-geleng kepala melihat besannya yang tidak bisa tenang. Sampai Papa Renaldi yany akhirnya menghentikan kegelisahan Mama Diana.


"Duduk ma, lihat Teh Syila yang punya putri saja tenang" ucap Papa Renaldi.


"Pa, Shintakan putri mama juga" rutuk Mama Diana.


"Iya, Shinta putri kita juga. Karena itu mama duduk dan berdoa" Mama Diana akhirnya mengikuti saran Papa Renaldy.


Tidak lama Melly datang bersama mamanya yang merupakan adik ipar Papa Renaldy.


"Mel, jaga Mama Diana jangan sampai kayak cacing kepanasan nggak bisa diam" Melly terkekeh mendengar ucapan Papa Renaldy yang sudah seperti papanya sendiri, terlebih lagi setelah sang papa meninggalkanya untuk selamanya.


"Teh tarik napas panjang dan keluarkan perlahan. Tarik sekali lagi, tahan, hembuskan, ayo mengejan teh. Bagus kepalanya sudah terlihat" ucap Mery.


"Sekali lagi teh" Shinta mengangguk.


Mery kembali memberi aba-aba pada Shinta, dan akhirnya setelah mengejan untuk kedua kalinya, terdengar suara tangis bayi diruangan tersebut.


"Ganteng, mirip abang Ilham waktu bayi" seru Mery saat melihat keponakannya tersebut sambil menunjukkannya pada Shinta dan Reyhan.


"Bang, Mery menyerahkan bayi munggil itu pada Reyhan untuk mengazaninya.


Reyhan terharu, dia menagis bahagia melihat putra keduanya yang lahir dengan sempurna, sehat dan tampan tidak kurang satu apapun. Seperti yang Mery ucapkan, putra keduanya sangat mirip dengan Ilham sang abang yang memiliki perpaduan wajah Reyhan dan Shinta.


Semua berkumpul dikamar inap Shinta yang luas, Reyhan sengaja memesan kamar yang paling besar di rumah sakit ini. Karena dia tahu anggota keluarganya sangat banyak, belum lagi para sahabat yang akan berkunjung.


Tiga hari sudah Shinta bermalam dirumah sakit, tiga hari pula tamu silih berganti mengunjunginya. Hari ini dia sudah diijinkan pulang, tidak butuh lama Shinta berada di rumah sakit karena dia melahirkan secara normal dan tidak ada kuhan apapun yang dirasakan Shinta.


Saat tiba dirumah, Shinta kembali mendapat kejutan dari Ilham dan Tina yang menghiasi kediaman mereka seperti akan mengadakan pesta ulang tahun, dimana-mana balon warna warni tergantung memenuhi ruangan.


"Mama, ini abang sama Teh Tina yang buat" Ilham memamerkan hasil karyanya saat menyambut Shinta dan berlari kedalam pelukan mamanya.


"Semoga mama sama adek Ihsan suka" ucapnya lagi.

__ADS_1


"Tentu saja mama sama adek Ihsan suka" jawab Shinta. "Terima kasih ya, Abang Ilham keren deh" puji Shinta pada putra pertamanya tersebut.


"Ayo ma masuk, Ilham punya hadiah buat mama sama adek Ihsan"


Shinta mengikuti langkah Ilham yang mengajaknya masuk ke kamar Ihsan. Ternyata tidak hanya diluar yang dihiasi balon oleh Ilham, kamar bayi ini pun penuh hiasan dan pernak-pernik lucu. Serta tulisan balon ' SELAMAT DATANG ADIK IHSAN'


Shinta terharu dan memeluk Ilham "Terima kasih sayang, adik Ihsan nanti kalau sudah besar mama akan beritahu tentang hari ini. Pasti adik Ilham akan sangat sayang sama Abang Ilham"


Wajah Ilham berseri mendengar ucapan Shinta " Abang juga sayang sama adik Ihsan" jawabnya.


"Abang..... Mama.... Assalamualaikum" terdengar suara anak-anak yang memanggil mereka bersamaan.


"Ma itu mereka sudah datang" ucap Ilham. Shinta mengangguk mengerti, keempat putranya yang lain sudah datang menyambut baby Ihsan.


Shinta dan Ilham keluar dari kamar baby Ihsan, ruang keluarga sudah dipenuh para saudara dan sahabat. Anak-anak mengelilingi baby Ihsan yang di gendong Citra.


"Bunda, Revan mau adik" ucap putra Alex tersebut pada bundanya.


"Revan udah punya Mbak Dea" jawab Citra cepat. Sampai saat ini dia belum terpikirkan untuk menambah momongan.


Shinta merasa bersyukur dengan semua ini, setelah badai kini hadir kebahagian. Seperti judul sebuah lagu Badai Pasti Berlalu, Shinta sekarang sangat mempercayainya.


"Kamu bahagia sayang" Reyhan duduk di samping Shinta. Shinta mengangguk "Sangat bahagia, terima kasih bang sudah membahagiakan Shinta dan jangan membuat Shinta sakit hati lagi"


"Tidak akan lagi sayang"


"Janji jangan sakiti hati Shinta" Shinta meggulurkan jari kelingkingnya.


"Janji" Reyhan menyambut jari kelingking Shinta dengan jari kelingkingnya.


"Cup" Reyhan mengecup bibir Shinta cepat.


"Hem... puasa-puasa" goda Citra sambil menyerahkan baby Ihsan yang lapar karena bibir bayi itu mengecap tapi hebatnya dia tidak menangis.


"Ini teh, lapar kayaknya. Aku geli Ihsan nyosor dada Citra" ucapnya sambil terkekeh.

__ADS_1


Shinta menyambut putranya, Reyhan membantu Shinta memasang apron agar Shinta bisa menyusui baby Ihsan sambil berkumpul dengan yang lain.


...◇◇◇...


__ADS_2