
Pagi ini Shinta dan Reyhan kembali mengantar Ilham sekolah, tentu saja disambut dengan kegembiraan oleh putra mereka.
"Hari ini ikut pulang kerumah Mommy Nay lagi ya sayang" pesan Shinta pada putranya.
Shinta memeluk Ilham dan mengecup kedua pipi putranya, sementara Reyhan berdiri disamping keduanya sambil menunggu giliran dia yang pamit pada Ilham.
"Maaf ya sayang, mama masih ada pekerjaan" Shinta mengusap rambut Ilham.
"Tidak apa-apa Ma" balas Ilham, lalu dia beralih pada Reyhan, meraih tangan papanya untuk dia cium.
"Jadi anak baik" ucap Reyhan sambil mencium kedua pipi Ilham.
"Abang akan jadi anak baik Pa, biar cepat dapat adik bayi" jawaban Ilham membuat wajah Shinta merona merah, putranya selalu saja menyebut permintaannya.
"Papa akan bekerja lebih keras lagi biar ada adik bayi diperut mama" bisik Reyhan pada Ilham yang masih bisa didengar oleh Shinta.
"Abang akan membantu papa biar tidak terlalu keras bekerja" sambil menunjukkan lengan tangannya yang penuh daging.
Reyhan terkekeh "Tidak perlu dibantu Papa sangat suka melakukannya" jawaban Reyhan langsung mendapat cubitan keras dari Shinta. Reyhan meringis dan kembali terkekeh.
"Ilham masuk sekarangnya sayang, bu guru sudah menunggu didalam" Shinta terpaksa mengusir putranya, sebelum Reyhan mngatakan hal yang tidak pantas didengar Ilham.
Ilham mengangguk setuju lalu melambaikan tangannya sampai dia duduk didalam kelasa. Sudah ada Awan yang duduk manis dibangkunya yang ikut melambaikan tangan pada Reyhan dan Shinta.
"Ayo" ajak Reyhan sambil mengenggam tangan Shinta yang disambut anggukan oleh istrinya.
"Sepertinya hari ini kita harus menjadwalkan untuk mewujudkan keinginan Ilham" bisik Reyhan, membuat Shinta kembali merona merah pada wajahnya.
Diparkiran sekolah keduanya menyapa Sandy dan Nayla yang baru saja sampai, serta meminta bantuan Nayla untuk kembali menjaga Ilham hari ini sampai Tini pulang sekolah dan menjemput Ilham dikediaman Nayla dan Sandy.
Reyhan menghentikan mobilnya tepat didepan loby hotel, lalu turun menyerahkan kuncinya pada petugas valet. Reyhan tidak langsung keruangannya, melainkan mengikuti Shinta ketempat sarapan para penghuni hotel. Sudah ada Koko dan Putra yang menyapa mereka, memberikan jadwal kegiatan Mr.Smith dan yang lainya hari ini.
Shinta dan Reyhan menyapa Mr.Smith dan keluarganya yang sedang sarapan bersama dimeja besar. Reyhan hanya sebentar menyapa keluarga itu, dia pamit dan ikut duduk dihadapan Harem yang sarapan bersama Jeco. Hari ini teman-teman Reyhan sudah akan kembali ke negara masing-masing, karena itu dia menyempatkan untuk menyapa mereka sebelum berpisah lagi.
"Bagaimana tawaranku padamu?" tanya Reyhan pada Harem.
__ADS_1
"Aku belum memikrkannya, tapi aku tidak akan kembali dalam dua hari ini. Aku dapat tawaran dari Jessy dan suaminya untuk ikut bersama mereka menikmati kota Bandung dan sekitarnya. Sepertinya istrimu yang akan menemani mereka" jawab Harem.
Reyhan menggangguk membenarkan ucapan Harem kalau Shinta yang menemani Jonathan dan Jessyca berkeliling Bandung. "Iya Jonathan semalam menelponku meminta ijin membawa Shinta"
"Kamu mengijinkannya?" tanya Harem. Bukan tanpa maksud dia menanyakan itu pada Reyhan. Hatinya masih bimbang untuk melepsakan atau meraih apa yang dia inginkan. Andai saja Shinta bukan istri seorang Reyhan tentu Harem akan melalukan cara apapun untuk mendapatkan Shinta untuk berada disisinya.
"Shinta dan Jonathan seudah lama tidak bertemu, tidak ada salahnya aku membiarkan keduanya menghabiskan waktu. Ini juga berlaku untuk Shinta dan Jessy, aku ingin istri dan sahabatku berteman baik. Apalagi Jessy sudah menjadi kakak iparnya. Kamu tau sendiri bagaiman Jessy marah saat aku akan menikah dengan Shinta. Yang lebih menyebalkan kamupun tidak ikut hadir dipesta pernikahanku. Kalian benar-benar jahat" ketus Reyhan.
"Dan aku menyesalinya saat ini, andai saja aku datang lebih cepat mungkin..." Harem menghentikan ucapannya saat melihat Melly datang sambil berlari.
"Bang... cepat ikut aku" ucap Melly sambil terengah-engah.
"Ada apa Mel, katakan dengan baik. Apa sesuatu terjadi?" tanya Reyhan.
Melly segera mengangguk dan menunjuk kearah resepsionis "Dimeja depan" ucapnya.
"Iya, ada apa di meja depan" tanya Reyhan lagi.
Shinta melihat wajah Melly tampak ketakutan menghampiri Reyhan, dia langsung berdiri mendekat.
"Teh, Mery... di depan" jawab Melly sambil menunjuk meja depan.
"Mery?" beo Reyhan dan Shinta bersamaan.
"Dia dalam bahaya" jelas Melly.
Tanpa menunggu lama, Reyhan dan Shinta berlari menuju meja depan seperti yang dikatakan Melly. Mereka dapat melihat Mery dalam tekanan seorang pria. "Siapa pria itu" gumam Shinta.
Reyhan dapat mendengar gumaman Shinta, dia lupa memberitahu Shinta kalau Mery dan Zein sedang ada masalah.
"Maaf pak bisa minta kartu identitas anda" tanya Resepsione yang betugas pagi ini.
Pria itu menyerahkan kartunya dengan kasar "Cepat aku sudah tidak bisa menahan untuk membuat anak dengannya" mendengar apa yang diucapkan laki-laki itu membuat karyawan itu mengerutkan keningnya.
"Pria gila" pikirnya, tidak pantas dia bicara seperti itu, apalagi didepan seorang wanita.
__ADS_1
Begitu mendapat kunci pria itu langsung menyeret Mery dengan kasar untuk masuk kedalam lift. Melihat itu Reyhan tidak bisa berdiam diri, dia memnghampiri pria itu dan mendaratkan satu pukulan keras tepat di pipi kanan pria tersebut.
Karena menahan sakit pria itu melepaskan tangan Mery yang sudah memerah karena cengkraman keras darinya. Mery tidak membuang kesempatan dia langsung berlari kearah Shinta smabil menangis. "Teteh" panggilnya sambil terisak.
Reyhan belum puas, dia kembali memukul pria yang menganggu Mery akhir-akhir ini. "Kau pergi ketempat yang salah" ucap Reyhan setelah pria itu kembali tersungkur.
"Kau tidak bisa menghalangi keinginanku, dia harus mengembalikan anakku, dan satu-satunya jalan yang aku tawarkan dia yang harus memgandung anakku"
Mendengar itu Reyhan kembali mendekati pria yang benar-benar membuatnya diluar kendali. Belum sempat dia melangkah dia sudah dihentikan oleh Zein. "Biarkan aku yang menyelesaikannya Bang. Ini masalahku" ucap Zein.
"Selamatkan kehormatan istrimu" ucap Reyhan meninggalkan Zein dengan pria itu. Dia berjalan mendekati Shinta yang memeluk Mery, sudah ada Nayla dan Sandy juga disana.
"Kamu baik-bauk saja Mer?" tanya Reyhan. Mery tidak menjawab dia masih syok dengan kejadian ini.
"Bawa Mery keruanganku" ucap Reyhan pada Shinta yang langsung disetujui Shinta dan juga Nayla.
"Aku tidak percaya sahabatku ternyata brutal dan suka berkelahi seperti ini" Harem yang bicara saat Reyhan dan Shinta melewatinya.
"Siapa yang tidak akan marah bila keluarga kita ada yang menyakiti" jawab Reyhan sambil menepuk bahu Harem.
Harem melihat Shinta yang membawa seorang wanita yang tadi dibela Reyhan. Pandangannya terhenti pada wanita yang ikut membantu Shinta.
"Nayla" panggilnya. Nayla yang merasa namanya dipanggil melihat kearah sumber suara.
"Kamu benar Naylakan?" tanyanya lagi. Membuat Shinta dan Nayla menghentikan langkah mereka. Nayla mengangguk dan mencoba mengingat siapa pria yang memanggilnya ini.
"Harem" Harem menyebutkan namanya. "Kita pernah bertemu di Belanda waktu itu, apa kamu ingat?" Harem mencoba mengingatkan Nayla tentang siapa dirinya.
Belum sempat Nayla menjawab Sandy menghampiri mereka setelah membantu Zein "Sayang ayo" Sandy merangkul Nayla, "Apa kalian menungguku?" tanyanya.
"Sandy"
...◇◇◇...
Siapa kira-kira yang memanggil Sandy? Ada yang bisa menebaknya!
__ADS_1