Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
77. Cemburu


__ADS_3

Shinta baru saja masuk keruang kerjanya yang ada ditoko, sudah ada Devi dan asisten mereka. Setelah melahirkan, Shinta dan Devi tidak ke toko pakaian mereka setiap hari, karena itu mereka menunjuk satu orang yang mereka beri kepercayaan membantu semua pekerjaan mereka. Biasanya Shinta dan Devi berganti hari, namun hari ini mereka hadir bersamaan karena ada konveksi yang akan menawarkan produk mereka untuk dijual ditoko Shinta dan Devi.


"Bu, pihak konveksi ananda meminta waktu pertemuan ditunda satu jam kedepan, karena ada beberapa contoh pakaian yang belum selesai" jelas sang asisten pada keduanya.


"Tidak masalah" jawab Shinta.


"Saya juga tidak masalah jawab Devi.


"Baiklah akan saya sampaikan pada pihak konveksi" keduanya mengangguk bersamaan.


"Bagaimana liburan ke Pangandaran kemarin teh?" tanya Devi sambil menghitung jumlah pakaian dihadapannya dan mencocokan dengan catatan yang dipegannya.


"Cukup menyenangkan, tapi tidak semeriah kalau kita pergi bersama-sama" jawab Shinta. Shinta mengingat pertemuannya dengan Bob.


"Dev, apa kamu tahu kabar terbaru Bob?" tanya Shinta. Devi mengalihkan pandangannya dari tumpukan pakaian yang ada dihadapannya menatap Shinta.


Tidak biasanya Shinta menanyakan Bob, bahkan hampir tidak pernah mereka membahas Bob bila berdua. Berbeda bila ada Nayla bersama mereka, Shinta akan menanyakan Bob pada Nayla bukan padanya. Seperti biasa Nayla akan bicara "Aku dan B sudah jarang bertanya kabar teh, maklum Fenita tidak suka" itu jawaban Nayla bila ditanya.


"Dev" panggil Shinta membuat Devi terkejut.


"Kamu mikirin apa? Teteh tadi bertanya kamu dengar tidak?" Devi menyengir kuda.


"Sudah lama tidak kontak Bob, takut istrinya cemburu. Statusku dulu tunangan Bob walau hanya untuk balas dendam Bob karena aku sering menyakiti Nayla" Devi terkekeh.


Hanya ingin mencari perhatian Nayla dia sering bersikap konyol dan marah-marah pada Nayla serta bangga begitu Bob mendekatinya walau sebenarnya untuk membuatnya jatuh. Untung saja Nayla segera mengetahui niat Bob dan menghentikan aksi pria itu dan berakhir mereka bertiga jadi bershabat.


Shinta ikut terkekeh "Cerita kalian kalau dibuat novel atau sinetron bagus juga" celoteh Shinta.


"Kira-kira judulnya apa ya teh?" timpal Devi.


"Tergantung mau dibuat sinetron azab atau romantis" keduanya kembali terkekeh dengan percakapan un faedah mereka namun cukup menghibur.


Shinta menghentikan kekehannya setelah ingat pembicaraanya bedua Bob. Setelah bertemu dan menggobrol dipantai, malamnya Bob ikut santap malam bersama mereka. Shinta dan Bob sempat bicara berdua.

__ADS_1


"Kalau boleh jujur teh, sampai sekarang aku tidak bisa berhenti mencintai Nayla. Tapi aku tidak bisa egois, sejak dulu Nayla memang tidak pernah mencintaiku. Dia menyayangiku tapi tidak bisa mencintaiku" kalimat terakhir itu selalu diingat Bob. Nayla selalu dan selalu mengatakan padanya 'Bob aku sayang sama kamu tapi aku tidak bisa mencintaimu'


"Cinta memang tak selamanya harus memiliki bukan?" ucap Shinta. Bob mengangguk.


"Karena itu aku menerima permintaan Nayla untuk mencoba mencintai Fenita. Nayla sebenarnya memberi pelajaran padaku, aku yang mulai mendekati Fenita walau tujuanku untuk membuat Nayla cemburu dan mencintaiku" Bob menggelengkan kepalanya. Satu kesalahan yang dia lakukan dan sekarang akibat yang dia dapatkan.


"Tapi jangan pernah kembali menyatakan cinta pada Nayla, Bob. Itu akan menyakitinya. Teteh pernah merasakannya. Sakit, kecewa dan sedih saat orang yang pernah dekat dengan kita kembali menyatakan cintanya sementara kita tidak bisa menerimanya. rasanya ingin berteriak UN-BREAK MY HEART" jelas Shinta.


"Jangan sakiti hatiku" ucap Bob.


"Yes, UN-BREAK MY HEART, jangan sakiti hatiku" Shinta membenarkan ucapan Bob.


"Itu sangat melukai Bob, mendengar ucapan cinta lagi setelah berakhir dan tidak bisa membalasnya sangat menyakitkan" jelas Shinta. Bob mengangguk mengerti.


"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Bob, teh?" tanya Devi saat melihat Shinta yang tiba-tiba diam. Shinta mengangguk.


"Dia berpisah dengan Feni" Devi menatap Shinta tidak percaya, dia menyelidik mata Shinta. Tidak ada kebohongan disana.


"Bagaimana ceritanya, bukankah mereka baik-baik saja" sanga Devi tidak percaya.


"Sifat posesiv dan cemburu buta membuat mereka sering ribut. Puncaknya, tidak sengaja Bob memberi tahu Fenita kalau dia menikahi Fenita karena keinginan Nayla"


"OMG, kenapa dia harus memberitahu Fenita tentang hal itu. Nayla pasti akan sangat marah bila tahu ini, harusnya cukup jadi rahasia kita berempat" Devi memijat keningnya.


"Tidak apa-apa Dev, lebih baik Fenita tahu saat ini. Saat ini atau nanti suatu saat Fenita pasti akan tahu juga" Devi mengangguk mengerti.


"Teteh jadi bersyukur saat Cindy menggoda Bang Rey, teteh tidak cemburu buta. Kalau tidak mungkin saat ini kami juga akan bercerai berai dan tidak ada ihsan yang hadir ada diantara kami" Shinta tersenyum bahagia semua sudah berlalu.


"Iya benar teh, cemburu boleh tapi jangan berlebihan. Kita harus percaya pada pasangan kita dan juga berusaha agar pasangan kita juga percaya pada kita" Devi menambahkan ucapan Shinta.


"Kalian membicarakanku?" Bob tiba-tiba saja sudah berada diantara mereka.


"Bob bikin kaget saja" Shinta memukul lengan Bob. Sang pelaku hanya terkekeh.

__ADS_1


"Hem, sudah berani main kesini rupanya" Goda Devi.


"Iya, tidak ada yang menhalangi lagi. Kalian lebih berharga bagi ku" jawab Bob.


"Jangan seperti itu, tidak ada salahnya berbaikan bila itu masih mungkin" Devi mencoba menasehati.


"Kurasa tidak Dev. Aku baru saja habis menemui Nayla dan menceritakan semuanya. Dia mendukungku bila itu yang membuat aku bahagia. Karena itu aku menemui kalian karena aku mau pamit" jelas Bob.


"Pamit kemana Bob?" Shinta yang bertanya.


"Sekarang waktunya menemui ayah biologisku" senyum mengembang diwajah Bob.


"Korea, kamu mau ke Korea Bob?" tanya Devi untuk meyakinkan apa yang didengarnya. Bob mengangguk.


"Kamu akan jadi opa-opa" Shinta mengatakannya sambil terkekeh. "Semoga saja kamu bisa menemukan jodohmu disana" lanjut Shinta mendoakan.


Mereka bertiga asik bercerita dan mengingat masa lalu saat masih kuliah. Tidak terasa waktu berlalu pihak konveksi sudah berada di toko.


Bob segera pamit karena tidak ingin mengganggu, namun belum sempat bicara di mendengar suara ponsel milik Shinta berbunyi.


"Halo, iya Ar ada apa?" jawab Shinta begitu tahu Arman asisten Reyhan yang mengantikan Melly yang menghubunginya.


"......"


"Dimana bapak sekarang?" tanyanya lagi. Shinta terduduk mencoba menenangkan hatinya sebelum meninggakan toko.


"Ada apa teh?" tanya Bob dan Devi bersamaan.


"Bang Rey, abang kecelakaan" jawab Shinta lemah.


"Ayo aku antar teteh" Bob menawarkan bantuan, tidak mungkin dia membiarkan Shinta mengendarai kendaraannya sendiri dalam keadaan seperti ini.


"Abang dibawa kerumah sakit mana?" tanya Bob setelah mereka berada didalam mobil.

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2