
Farrel Pov
Sudah sepuluh hari aku bebas dari penjara. Dua tahun enam bulan seharusnya aku menjalani masa tahanan, tapi entah mengapa baru dua tahun satu bulan aku sudah dibebaskan. Selama disana aku sangat berharap Shinta mengunjungiku dan aku bisa meminta maaf padanya, tapi aku harus menerima kenyataan kalau itu hanya harapanku. Sampai detik terakhir aku ditahanan dia dan suaminya tidak pernah mengunjungiku.
Jonathan kakak yang aku benci, justru dialah yang rajin mengunjungiku bersama istrinya yang juga sepupuku Jessyca. Dunia ini luas tapi mengapa kita selalu terhubung dengan orang-orang yang sama.
Aku tidak pernah menyangka, kalau pria bule yang ku lihat mengantar Shinta ke sekolah pertama kali adalah kakakku sendiri.
"Hai, aku Farrel kelas sepuluh satu. Nama kamu siapa?" sapa Farrel begitu melihat Shinta berjalan kegerbang sekolah.
"Oh hai Farrel, aku Shinta. Kita satu kelas kalau begitu" balas Shinta.
"Bagus kalau begitu" Farrel tersenyum senang.
"Tadi yang anter kamu siapa? pacar kamu ya?" Shinta menggeleng.
"Dia anak sahabat papa aku yang sedang berkunjung ke Indonesia"
Itu adalah pertama kali aku melihat kakak yang aku tidak tahu kalau memilikinya.
Waktu terus berjalan, aku semakin akrab dengan Shinta sampai suatu hari aku memintanya untuk menjadi kekasihku.
"Apa yang kamu tawarkan sehingga aku harus terima kamu jadi kekasih Rel?"
"Aku cowok tampan Shi, walau bukan bule seratus persen seperti anak sahabat papamu tapi wajahku juga wajah bule"
"Tampan aja tidak cukup buat aku jadiin kamu pacar aku Farrel" sahut Shinta.
"Aku janji akan selalu ada buat kamu, aku juga tipe cowok setia dan yang pasti aku akan selalu membuat kau bahagia"
"Hemm begitu ya" Shinta diam sesaat seakan berpikir.
"Ok aku akan terima kamu jadi pacar aku tapi ada syaratnya"
__ADS_1
"Syaratnya apa?"
"Kamu tidak boleh marah kalau aku suka lihat cowok lain dan jalan bareng cowok itu"
"Berarti aku juga boleh jalan sama cewek lain"
"Silakan tapi hanya buat jalan bareng bukan buat pacaran. Aku juga sama. Gimana? deal"
"Ok deal. Jadi sekarang kita pacaran" ucap Farrel. Shinta mengangguk.
Aku tidak mempermasalahkan syarat yang Shinta ajukan, yang penting sekarang dia jadi kekasihku. Namun seiring berjalannya waktu aku sering cemburu, Shinta sering jalan sama cowok lain yang kadar ketampanannya di atas rata-rata. Walau Shinta membebaskan aku untuk.jalan dengan cewek lain, tapi aku tidak bisa. Yang aku inginkan hanyalah Shinta dan Shinta sampai kami lulus SMA.
Saat kelulusan Shinta meminta putus, alasannya karena aku melanjutkan kuliah di Sidney dan dia tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh. Awalnya aku tidak terima tapi dengan kesepakatan akan kembali bersama setelah kuliahku selesai aku dan Shinta putus untuk sementara. Kami juga boleh pacaran dengan yang lain.
Walau status kami putus, tapi akudan Shinta masih sering berbalas pesan sesekali juga bicara lewat telepon. Shinta mengirim pesan kalau dia sudah memiliki kekasih baru teman kuliahnya. It's okay, aku juga sudah punya kekasih baru.
Sibuk dengan kekasih baru, lama-lama kami jarang berkirim pesan. Sampai akhirnya aku tergoda dengan tawaran kekasihku untuk tidur bersama. Aku semakin lupa dengan Shinta, lupa dengan janjiku padanya yang tidak akan bercinta dan menjaga keperjakaanku.
"Kita boleh pacaran sama yang lain. Tapi ingat Farrel aku bisa menerima kamu kembali kalau kamu masih bisa jaga keperjakaan kamu, jangan sampai kamu bercinta dengan wanita lain disana" ucap Shinta pada waktu itu.
Kenyataanya aku melupakan janjiku, aku malah sering bercinta dengan kekasihku. Aku pikir Shinta juga tidak akan tahu apa yang aku lakukan disini, tapi ternyata aku salah dan aku tidak tahu kalau kekasihku mengirimi Shinta video saat kami bercinta.
Aku lupa dengan Shinta bukan karena hanya sibuk bercinta dengan kekasihku, tapi juga karena mamaku.
Aku tidak tahu kalau memiliki seorang kakak, ibuku hanya mengatakan kalau aku adalah satu-satunya dan kesayangannya. Yang selalu ibu katakan hanyalah kalau dia membenci seseorang yang merebut hati suaminya. Kupikir ayahku yang berselingkuh sehingga membuat ibu sering depresi, sebagai anak aku tidak terima ayahku menyakiti ibu dan aku berjanji pada ibuku akan membantunya menghancurkan wanita yang membuat ibu depresi.
Aku pulang ke Indonesia dengan dua tujuan, pertama membalas dendam ibuku dan kedua merebut Shinta dari suaminya. Awalnya aku ragu setelah tahu kalau wanita yang dibenci ibuku adalah Mama Syila, mama wanita yang aku cintai. Bujuk rayu ibuku membuat aku mengikuti semua rencananya.
Aku diminta ibuku untuk menawarkan kerja sama dengan Cindy, setelah ibuku melakukan penyelidikan tentang rumah tangga Shinta.
"Farrel, tugas pertamamu adalah membujuk mantan kekasih suami Shinta untuk merebut kekasihnya dari Shinta. Dengan begitu kamu bisa kembali pada Shinta" ucap ibuku waktu itu.
Tidak mudah mengajak Cindy untuk kerja sama merusak rumah tangga Shinta dan Reyhan, wanita itu sudah nyaman dengan kehidupannya. Tapi bukan Farrel namanya kalau tidak bisa mengalahkan wanita seperti Cindy.
__ADS_1
Rencana berjalan baik, tapi hasilnya yang tidak baik. Reyhan memiliki kesetiaan yang sangat tinggi, sedangkan Shinta memiliki kadar kepercayaan pada suaminya sangat besar. Sampai akhirnya aku harus menampakkan diri di hadapan Shinta, dan berakhir dalam tahanan.
"Halo Jes" sapaku saat tahu Jessyca yang menelpon dan membuyarkan ingatanku.
"Baiklah, aku akan kesana"
Jessyca memberi kabar kalau Shinta hari ini kembali kekediamannya. Aku memang meminta bantuan Jessyca untuk mengabariku, aku butuh bicara dan meminta maaf pada Shinta.
Tidak perlu menunggu lama aku mengendarai kendaraanku dan tiba di kediaman mantan kekasihku, mantan terindah seperti judul lagu milik Raisa.
Mau dikatakan apa lagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau disana aku disini
Meski hatiku memilihmu
Andai kubisa ingin aku memelukmu lagi
Oh, di hati ini hanya engkau mantan terindah
Yang selalu kurindukan
Lirik itu mewakili perasaanku saat ini, aku dan Shinta tidak akan pernah satu.
Aku tidak diijinkan masuk oleh satpam yang berjaga digerbang kediaman Shinta dan Reyhan, untung saja Jessyca bisa membantuku dan bicara pada satpam sehingga satpam dan asisten rumah tangga mau mengijinkanku menunggu kepulangan tuan rumah diruang tamunya.
Shinta dan suaminya pulang, tampak jelas kelelahan diwajahnya. Walau begitu tidak mengurangi kecantikannya, sungguh Shinta itu semakin dewasa semakin cantik.
Reyhan menyapaku "Selamat datang di kediaman kami Bapak Barata" ucapnya dengan santai, menyapaku yang sudah menunggu mereka diruang tamu sejak satu jam yang lalu.
Reyhan mengulurkan tangannya, aku membalas uluran tangan Reyhan lalu akan menyapa Shinta. Namun belum sempat aku bicara.
__ADS_1
"Papa sayang, mama mau lihat Ihsan sebentar lalu istirahat" Shinta meminta ijin pada suaminya tanpa menyapaku. Sakit? jawabnya iya. Marah? ingin tapi tidak bisa. Aku pantas diperlakulan seperti saat ini.
...◇◇◇...