
Zein baru saja menutup sambungan teleponya "Sayang aku pergi sebentar" pamitnya pada Mery, lalu memacu kendaraanya diatas rata-rata, ini kesempatan baik untuk bisa bicara dengan Banu, yang selalu menolak bila diajak bertemu.
Zein megedarkan matanya, seperti yang diinformasikan Jody ada Putri, Lola, Arya dan seorang wanita muda yang tinggal di rumah Banu di cafe ini. Zein menemukan mereka, tapi tidak ada Banu dan wanita muda yang disebutkan Jody. Dia berjalan mendekati meja sambil memanggil Putri dan Lola.
"Lagi apa kalian?" tanyanya.
"Vader" ucap Putri dan Lola bersamaan saat melihat Zein, sambil tersenyum kikuk. Takut kalau dilaporkan pada Mommy dan Daddy mereka.
"Om Zein" sapa Jojo.
"Lagi mau makan sama Arya" jawab Putri. "Terus tiba-tiba ada Jojo" sambung Lola. "Iya, bener Om, makanya kita makan bareng" Arya ikut menyahuti.
Zein sebenarnya ingin tertawa melihat tingkah tiga sahabat ini, mereka seperti sedang kepergok berbuat selingkuh.
Banu terdiam saat mendengar putranya memanggil Zein, dia tahu siapa Zein yang dimaksud Jojo. Banu merasa terpojok saat ini, masalahnya dengan Tari belum selesai dan sekarang ada Zein yang datang. Zein beberapa kali mengajaknya bertemu tapi dia menolak dengan beralasan sibuk. Namun kali ini dia tidak bisa lagi menghindar, dan terjebak dalam suasana yang tidak menyenangkan.
"Jojo sama siapa?" tanya Zein
"Sama Ayah dan Ibu" jawab Jojo jujur.
"Ayah dan Ibu?" beo Zein. "Mana?" tanyanya lagi.
"Ibu lagi ke toilet, Ayah itu" tunjuk Jojo mengarah pada ayahnya.
"Ayah" panggil Jojo lalu berdiri mendekatinya "Ini Om Zein, Omnya Jojo" dengan polos tanpa mengerti kegalauan ayahnya, Jojo memperkenalkan Zein.
"Senang bertemu dengan anda Mas Banu" Zein mengulurkan tangannya. "Sepertinya anda memang sibuk, tidak hanya urusan pekerjaan saja yang harus diurus, tapi urusan keluarga juga" Sindir Zein.
__ADS_1
"Maaf Mbak, ada yang harus saya bicarakam dengan Mas Banu. Boleh saya pinjam sebentar?" tanya Zein pada Mentari dengan sopan.
Putri, Lola dan Arya meminta Mentari pergi dan menunggu di mobil Arya, setelah Zein dan Banu meninggalkan Mentari sendiri. Tidak lama Mentari pergi Cindy kembali dari toilet, matanya mencari Banu dan Mentari yang sudah tidak ada di meja mereka.
"Dimana Om Banu dan istrinya?" tanya Cindy, tanpa sadar dengan ucapanya telah menyebut Mentari sebagai istri Banu.
Ketiga sahabat yang di tanya Cindy hanya mengangkat bahu mereka pura-pura tidak mengerti. Dalam hati mereka menertawakan Cindy yang tidak sadar dengan kesalahannya.
Shinta pergi kekamar mandi, dia terpaksa mandi untuk yang kedua kalinya. Siapa lagi kalau bukan karena ulah suaminya yang membuatnya melakukan ini. Dia sudah mandi saat subuh demi menjalankan kewajibannya, tapi setelah subuh Reyhan kembali mengaulinya. Walau dengan mengerutu kesal namun dia tersenyum bahagia, Reyhan masih sangat mencintainya dia bisa merasakan itu. Seketika Shinta menginggat dia yang hampir melakukan kebodohan. Dia memutuskan untuk membawa Ilham pergi jauh meninggalkan Reyhan, untung saja Nayla menahan dan mencegahnya.
"Nay" Shinta memeluk Nayla, "Teteh sudah tidak kuat dengan semua ini" ucap Shinta dengan terisak.
"Ada apa Teh? Apa yang tidak Nay ketahui?" tanya Nayla tidak mengerti.
"Abang" kini isakan Shinta semakin keras, "Bang Rey jahat sama Teteh Nay" tanggisan Shinta pecah, menjadi perhatian Bi Ratna yang mendengarkan.
Shinta menceritakan pada Nayla, kalau dia sering menerima kiriman foto dari nomor yang tidak dikenal. Nayla melihat foto-foto yang disebutkan Shinta. Nayla hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, ada apa dengan orang-orang yang sangat ingin menghancurkan keluarga kecil Abang dan Tetehnya.
"Abang selalu sibuk, hanya sedikit waktu untuk kami bertemu dan bicara banyak. Tapi Abang selalu ada waktu untuk bersama Cindy, hampir setiap hari foto kebersamaan mereka Teteh terima. Apa Teteh salah kalau beranggapan sekarang Abang lebih memikirkan Cindy dari pada Teteh, Nay?" keluh Shinta. Dia sudah memikirkan ini berhari-hari, mencoba menepis kalau semua ini kebohongan. Tapi dia tidak bisa terus membiarkan hatinya yang sakit.
"Akan lebih baik kalau Teteh bicara dan tanyakan pada Abang" Nayla mencoba memberikan nasehatnya, karena Nayla tahu Reyhan akhir-akhir ini ada proyek kerja sama dengan Sandy dan Dewa. Dia juga tahu mengapa Reyhan bisa bertemu Cindy hampir setiap hari, itupun bukan hanya berdua Cindy tapi juga ada suaminya Sandy dan Dewa. Karena itu Nayla sangat membenci orang yang mengirimkan foto-foto ini. Dia meyakini ini ulah orang yang dengan sengaja menyuruh orang untuk membidikan kameranya saat kedekatan keduanya terlihat intim.
"Teteh sudah pernah mencoba, tapi Bang Rey hanya meminta Teteh percaya padanya dan meminta Teteh sabar, Bang Rey akan menjelaskan semuanya tapi nanti, bukan sekarang. Nanti sampai kapan Teteh tidak tahu, dan itu semakin membuat Teteh berpikir buruk pada Abang" Shinta mencoba menjelaskan, mengapa dia memilih untuk pergi dari Reyhan, dia sudah lelah, tidak ingin hatinya terus tersakiti.
"Tapi pergi dari rumah bukan hal yang baik untuk dilakukan seorang istri Teh, dulu Nay mendukung Teteh pergi karena Teteh hanya berniat untuk memberi peringatan dan menyadarkan Bang Rey. Tapi sekarang Teteh memutuskan pergi karena Teteh benar-benar ingin berpisah dari Abang, tentu itu tidak akan Nay ijinkan. Bang Rey laki-laki baik dan pintar, dia tidak akan jatuh kelubang yang sama. Jadi buang jauh-jauh keinginan Teteh untuk berpisah dari Abang dan hanya hidup bersama Ilham, sebelum teteh tahu kebenarannya"
Shinta menyimak setiap kata yang diucapkan Nayla, dalam hatinya membenarkan apa yang Nayla katakan.
__ADS_1
"Percayalah pada Abang Reyhan dan sabar, kebenaran akan terungkap pada waktunya" Nayla tersenyum memberi semangat pada Shinta.
Shinta menatap dirinya di cermin, banyak tanda yang ditinggalkan Reyhan diseluruh tubuhnya. "Terima kasih Nay, kamu benar, Teteh harus percaya Abang dan sabar" gumam Shinta lalu melanjutkam ritual mandinya.
Sedangkan Reyhan yang ingin kembali tidur terganggu dengan suara ponselnya. Zein calling tertulis dilayar ponselnya.
"Ada apa Zein? Ini masih pagi" ucap Reyhan begitu mengangkat teleponnya.
"Assalamualaikum" suara di seberang mengucap salam.
"Waalaikumsalam" balas Reyhan.
"Bang" panggil Zein.
"Hemm" jawab Reyhan malas. "Tadi malam aku sudah bertemu dan bicara dengan Banu" laporan Zein, membuat rasa kantuk Reyhan hilang, dia semakin senang hari ini. Senang bisa menghabiskan waktu bedua istrinya dan senang dengan berita yang disampaikan Zein.
"Bagaimana bisa?" tanya Reyhan tidak percaya. walau senang tapi belum bisa yakin seratus persen.
"Tentu saja bisa" Zein menyombongkan diri sambil terkekeh.
"Ck, sombong" sahut Reyhan.
"Satu lagi Bang, Roy juga sudah berhasil" Zein kembali membawa berita yang baik untuk Reyhan, tentus aja kembali membuat Reyhan senang.
"Siapa?" Tanya Reyhan penasaran.
...◇◇◇...
__ADS_1