Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
73. Pergi Selamanya


__ADS_3

Shinta duduk ditepi tempat tidur yang biasa digunakan Mama Syila, air matanya selalu saja jatuh setiap kali mengenang kebaikan wanita yang berhati mulia itu. Matanya memandang sekeliling, alat-alat medis yang digunakan Mama Syila masih setia ditempatnya. Andai saja bisa, rasanya dia ingin memutar waktu kembali.


Shinta ingat sesuatu, dia berdiri dan membuka lemari pakaian Mama Syila yang rencananya akan dibagikan pada orang-orang yang membutuhkan.


Shinta mengambil satu stel pakaian Mama Syila yang dipakaianya di hari pernikahan Shinta "Ma" Shinta kembali meneteskan air matanya. Tidak dapat Shinta pungkiri, kebahagiaannya bersama Reyhan dan keluarga kecilnya saat ini ada campur tangan Mama Syila yang menjodohkannya.


"Hik... hik..., terima kasih ma" Shinta memeluk pakaian Mama Syila.


Shinta merasakan seseorang memeluk tubuhnya, orang yang selalu berusaha untuk menenangkannya.


"Ayo pulang" ajak Reyhan.


Sudah satu minggu sejak Mama Syila pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya, Shinta, Reyhan dan kedua putra mereka menginap di kediaman Mama Syila.


Semalam mereka sudah mengadakan pengajian yang ke tujuh, maka hari ini Reyhan mengajak Shinta untuk kembali ke kediaman mereka. Bukan karena Reyhan tidak menyukai tinggal di kediaman mertuanya, tapi lebih kepada memikirkan psikologi istrinya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.


Shinta mengangguk, sesedih apapun dia tidak akan mengembalikan Mama Syila padanya. Terlebih lagi dia harus mengurus suami dan kedua putranya.


"Jessy, kami pulang" pamit Reyhan pada Jessyca yang sekarang menempati kediaman itu.


"Iya, pulang dan istirahatlah. Shinta pasti sangat lelah satu minggu ini" jawab Jessyca.


Dia sangat tahu perasaan Shinta seperti apa. Jangankan Shinta yang sejak kecil diasuh Mama Syila, dia yang baru dua tahun bersama Mama Syila merasakan kesedihan yang dalam. Kasih sayang Mama Syila terlalu besar di rasakan seorang Jessyca yang tidak pernah dia dapatkan dari keluarganya, bahkan keliarganya menjual dirinya pada keluarga Mr. Smith dengan menikahi Jonathan.


Jessyca memeluk Shinta, keduanya terisak bersama. Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa akan datang, begitu juga dengan mereka. Awal pertemuan mereka tidak begitu baik, terlibat kisah cinta yang rumit namun berakhir sebagai saudara. Sungguh indah, indah pada waktunya.


Selepas kepulangan Shinta, Jessyca tinggal sendiri dirumah. Saudara dan para keponakan Mama Syila sudah sejak semalam dan subuh mereka pamit pulang. Ingatannya kembali saat ulang tahun putrinya dua minggu yang lalu.


"Jadi bagaimana sebaiknya dok?" Reyhan yang bertanya saat itu.


"Sebaiknya Nyonya Syila dibawa kerumah sakit" jawab dokter tersebut.


"Tapi mama tidak mau dibawa kerumah sakit" sahut Shinta dan Liana bersamaan.

__ADS_1


"Kalau keluarga bisa menyiapkan alat medis yang diperlulan disini tidak masalah, kita adakan perawatan di rumah. Tapi tentu saja tidak bisa maksimal"


Dengan melakukan rapat kecil, akhirnya mereka memutuskan merawat Mama Syila dikediamannya dan menyewa semua alat yang dibutuhkan serta membayar perawat untuk menjaga Mama Syila.


Namun yang maha kuasa punya cara sendiri untuk mengangkat penyakit Mama Syila, dengan mengambilnya kembali kesisi yang maha kuasa.


Setelah lima hari dirawat dirumah, Mama Syila terlihat membaik. Dia tidak merasakan nyeri ditubuhnya yang beberapa hari ini dirasakan. Mama Syila meminta Jonathan dan Jessyca untuk mengumpulkan semua keluarganya.


Keluarga telah berkumpul di kediaman Mama Syila, malam itu mereka makan malam bersama. Mama Syila mengucapkan terima kasih dan meminta maaf pada semuanya sebelum dia diantar kembali kekamar oleh suster yang juga ditemani Shinta dan Reyhan. Banyak petuah yang diberikan Mama Syila pada putri dan menantunya malam itu, tanpa mereka sadari itu adalah malam terakhir mereka berbincang.


Shinta dan Reyhan baru saja sampai di kediaman mereka.


"Ada tamu pak?" tanya Reyhan pada satpam rumahnya. Dia melihat sebuah mobil asing terparkir dihalaman rumahnya.


"Iya, sudah satu jam menunggu bapak dan ibu" jawab satpam tersebut.


"Siapa?"


"Tuan Barata, pak"


"Kamu kenal?" Shinta tampak berpikir.


"Aku sering mendengar nama itu" Shinta mencoba menginggat.


"Bang, bukankah itu nama belakang Farrel?" kali ini Reyhan yang tampak berpikir.


"Apa dia sudah bebas?" tanya Shinta.


"Abang lupa memberitahumu, pengacara mengabari abang. Tapi kita masih sibuk dengan acara peringatan tiga hari Mama Syila saat itu"


"Untuk apa dia mengunjingi kita bang? Shinta takut" Ucap Shinta jujur.


Bagi Shinta Farrel sangat berbeda dengan Dewa, Dewa mengakui kesalahannya dan Shinta juga memahami kalau apa yang dilaukan Dewa karena sikap Shinta. Sehingga mereka saling memaafkan dan memutuskan beesahabat, terlebih lagi pasangan keduanya mendukung.

__ADS_1


Tidak dengan Farrel yang membuat Shinta sulit memafkannya, pria itu membuat sulit hidup Shinta dan hampir menghancurkan rumah tangganya. Melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginannya.


"Ada abang, jagan takut" jawab Reyhan mencoba menenangkan saat melihat Shinta tampak tidak nyaman mendengar kadatangan Farrel.


Keduanya masuk kekediaman mereka. Reyhan meenggengam tangan Shinta, sementara Ihsan digendong pengasuhnya dan Ilham belum pulang dari sekolah.


"Assalamualaikum" ucap keduanya hampir bersamaan, seperti yang biasa mereka lakukan.


"Waalaikumsalam" Bi Suti yang menjawab sambil berlari dari dapur.


Ada tamu asing dirumah majikannya ini, harusnya dia tidak mengijinkan tamunya masuk. Bi Suti takut Shinta dan Reyhan akan marah padanya, dan dia akan menjelaskan kalau tamunya yang memaksa.


Reyhan bersikap biasa pada Farrel, dengan sopan dia menyapa pria itu yang penampilannya sekarang sedikit berbeda.


"Selamat datang di kediaman kami Bapak Barata" ucap Reyhan dengan santai menyapa Farrel yang sudah menunggu mereka diruang tamu sambil mengulurkan tangannya.


Farrel membalas uluran tangan Reyhan lalu mencoba menyapa Shinta yang lebih dulu meminta ijin pada Reyhan untuk masuk.


"Papa sayang, mama mau lihat Ihsan sebentar lalu istirahat" tanpa menunggu jawaban Reyhan, Shinta masuk menuju kamar Ihsan seperti yang dikatakannya tadi.


Shinta lelah saat ini, dia sedang tidak baik-baik saja. Hatinya masih terluka atas kepergian Mama Syila, dan tidak ingin menambah lukanya dengan kehadiran Farrel di kediamannya. Tidak dipungkiri, kenagan dengan Farrel sangat memgesankan.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Reyhan pada Farrel yang tidak berpaling melihat kepergian Shinta.


"Besok saya akan kembali ke Australia menemani ibu saya sampai sehat. Tapi saya perlu bicara dan menyelesaikan masalah dengan Shinta sebelum kepergian saya"


"Saya janji ini untuk terakhir kali menemuinya dan pergi selamanya dari kehidupan anda dan Shinta" lanjut Farrel mengungkapkan maksud dan tujuannya datang ke kediaman Reyhan dan Shinta.


"Tapi sepertinya istri saya tidak ingin bicara pada anda saat ini, mohon dimengerti" jawab Reyhan apa adanya.


Enam tahun hidup bersama Shinta dia sangat paham sikap-sikap Shinta. Dari yang dia lihat, reaksi Shinta saat tahu Farrel yang menemuinya menunjukkan kalau istrinya saat ini tidak ingin bicara pada pria yang ada dihadapannya sekarang ini.


"Mungkin anda bisa tanyakan terlebih dahulu pada istri anda dan menjelaskan maksud dan tujuan saya"

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2