
Shinta dan Reyhan pulang ke Bandung setelah peringatan tiga hari kepergian Azizah, sementara Mama Syila sudah kembali ke Bandung sehari sesudah pemakaman bersama Jessyca dan Jonathan yang menyusul untuk melayat.
Mereka sampai di kediaman tepat tengah malam. Shinta sudah terlelap dengan nyenyak selama perjalanan, begitu juga Ilham. Reyhan yang memaksakan diri untuk segera kembali ke Bandung, karena besok pagi dia ada meeting penting. Terlebih lagi dia sudah satu minggu meninggalkan perusahaan dan menunda pekerjaanya.
Melihat keduanya tertidur di mobil, dengan sabar Reyhan mengendong Shinta dan Ilham bergantian, untuk memindahkan mereka ke kamar.
"Hari yang melelahkan" gumam Reyhan lalu ikut berbaring disamping Shinta setelah dia membersihkan diri di kamar mandi sebelumnya dan berganti pakaian.
Reyhan melingkarkan tangannya di pinggang Shinta, mengecup pucuk kepala Shinta lalu menyusul istrinya kealam mimpi.
Reyhan terbangun mendengar suara berisik di kamar mandi, "Sayang" panggilnya begitu sadar itu adalah suara Shinta yang sedang mengeluarkan isi perutnya. Tapi tidak ada apapun yang keluar, melainkan hanya cairan bening.
Reyhan segera menghampiri Shinta, memeluk istrinya yang terlihat sangat pucat. "Pusing Bang" keluh Shinta. Reyhan langsung mengendong Shinta dan menjatuhkannya di tempat tidur dengan hati-hati.
"Sebentar Abang ambilkan minuman hangat ya, pejamkan saja matanya kalau pusing"
Reyhan keluar kamar meninggalkan Shinta sendiri. Sudah lama Shinta tidak pernah sakit, istrinya itu memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Melihatnya lemah seperti itu membuat Reyhan tidak tega.
"Mau perlu apa Den?" tanya Bi Suti begitu melihat majikannya didapur.
"Saya butuh air hangat bi, Shinta sakit" jawabnya.
"Aden kembali saja kekamar temani Neng Shinta, biar minumannya nanti bibi antarkan"
Reyhan menuruti saran Bi Suti, dia takut Shinta kembali mengeluarkan isi perutnya sedangkan dia tidak ada disana.
Saat Reyhan masuk benar saja seperti apa yang ditakutkannya, Shinta tidak ada di tempat tidur dan suaranya kembali terdengar di kamar mandi. Reyhan segera memijat tengkuk Shinta untuk memberikan rasa nyaman pada istrinya.
Reyhan kembali menggendong Shinta bersamaan dengan suara ketukan dipintu kamar.
"Masuk saja Bi" sahut Reyhan menjawab ketukan itu.
__ADS_1
Bi Suti melihat Reyhan mengendong Shinta keluar dari kamar mandi. "Neng Shinta sakit apa den?" tanyanya dengan wajah khawatir.
"Muntah-muntah bi, sepertinya dia kelelahan. Karena selama di Jakarta kurang istirahat" jawab Reyhan sambil meraih cangkir yang berisi teh hangat.
"Diminum dulu sayang" Reyhan menyodorkan cangkirnya tepat didepan mulut Shinta.
Begitu air hangat itu mengalir di tenggorokannya lalu masuk memenuhi perutnya, Shinta bisa merasakan kehangatannya. Rasa mualnya hilang, segera Shinta menadaskan minuman hangat itu tanpa bersisa.
"Bibi permisi den, bibi mau membuatkan bubur untuk Neng Shinta"
"Jangan lama-lama ya bi" Reyhan yang menjawab.
Selepas kepergian Bi suti, Reyhan meminta Shinta tidur dan istirahat sambil menunggu bubur buatan Bi Suti matang, sebelumnya dia sudah mengoleskan minyak kayuh putih diseluruh tubuh istrinya. Dilihatnya Shinta yang kembali terlelap, Reyhan memanfaatkan kesempatan ini untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Hari ini Reyhan ada meeting penting, dia ingin tenang sebelum meeting dimulai. Reyhan segera menghubungi Mery untuk memeriksa Shinta, tapi dia harus kecewa karena Mery dan Zein masih dalam perjalanan pulang ke Bandung. Tapi istri Zein itu berjanji akan segera memeriksa kesehatan Shinta begitu sampai Bandung.
"Mel, apa meetingnya bisa dimundurkan?" tanya Reyhan begitu panggilan teleponya tersambung dengan Melly.
Diseberang sana Melly terkekeh, menertawakan dirinya sendiri yang lupa mengabari Reyhan kalau klien mereka minta meetingnya mundur diatas jam dua belas siang.
Reyhan keluar kamar untuk melihat keadaan putranya, dia takut Ilham juga sakit seperti Shinta karena kelelahan. Terlebih lagi semalam Reyhan memaksa mereka untuk segera pulang. Reyhan menyesal menuruti egonya, padahal Shinta sudah meminta mereka pulang subuh.
"Pa" panggil Ilham sahat tahu ada papanya dikamar.
"Sudah bangun sayang" Reyhan mengecup kening Ilham dan kedua pipi putranya.
"Mama mana pa?" tanya Ilham heran, karena mamanya tidak pernah absen menemuinya dikamar saat pagi hari.
"Mama masih bobo" jawab Reyhan, dia tidak memberitahu Ilham tentang Shinta yang sakit, dia tidak ingin putranya khawatir dengan Mamanya.
"Kok mama masih bobo, ini kan sudah siang" protes Ilham.
__ADS_1
"Mama masih capek sayang, kan kemaren di Jakarta mama harus bantu-bantu Oma Aisyah dan mommy" Reyhan mencoba memberi pengertian pada putranya.
"Sekarang Abang Ilham mandi terus bantu papa membangunkan mama" Ilham mengangguk setuju, dia segera bangun dan menyusul Reyhan kekamar mandi yang sedang menyiapkan air hangat untuk putranya.
Reyhan kembali kekamarnya bersama Ilham, begitu masuk dia melihat Shinta sudah duduk bersandar di sandaran tempat tidur mereka.
"Mama sudah bangun" sapa Reyhan langsung mendekati Shinta. "Masih pusing sayang?" tanyanya. Shinta mengangguk "Sedikit" jawabnya.
Shinta melihat Ilham yang sudah bersih dan segar, putranya sudah duduk disampingnya. Tercium bau harum bedak yang dipakai Ilham memberikan ketenangan pada Shinta yang tadi kembali merasakan mual.
"Peluk mama sayang" pinta Shinta. "Mama mencium kamu jadi hilang mualnya" sambung Shinta ucapanya.
Mendengar pernyataan Shinta menimbulkan garis lengkung dibibir pria itu, dia ingin Mery segera memeriksa untuk meyakinkan dugaannya yang sudah terlintas dibenaknya sejak tadi.
Bi Suti datang membawakan bubur untuk Shinta. Melihat bubur mamanya ilham juga ingin menyatap makanan tersebut.
"Bi tolong bawakan lagi dua, kami akan sarapan dikamar saja" Reyhan selalu menyebutkan kata tolong setiap memerintahkan sesuatu pada Bi Suti. Hal inilah yang membuat wanita usia empat puluh tahun ini betah mengabdi pada keluarga Reyhan. Shinta tidak jauh berbeda, dia sangat menghormati Bi Suti.
"Baik den, akan segera bibi bawakan" sahutnya.
"Jangan lupa susunya Ilham sekalian, biar bibi tidak perlu bolak-balik" Reyhan mengingatkan Bi Suti. wanita itu mengiyakan sambil menganggukkan kepalanya.
Ketiga mangkuk bubur sudah tandas tak bersisa, Reyhan senang karena Shinta bisa menghabiskan makanannya. Tanpa Reyhan tahu kalau Shinta sangat tersiksa menahan mual yang dia rasakan, dia tahu Reyhan ada meeting penting, karena itu dia tidak ingin Reyhan khawatir melihatnya sakit. Untuk menghilangkan rasa mualnya Shinta menciumi Ilham, yang memang ajaib itu sangat membantunya mengusir rasa mualnya.
"Abang tidak kekantor?" tanya Shinta saat melihat Reyhan tidak segera berganti pakaian kerja.
"Abang masih menunggu Zein"
"Bukankah pagi ini ada meeting penting" Shinta mencoba mengingatkan suaminya, takut siapa tahu Reyhan lupa.
Reyhan hanya tersenyum menjawab ucapan Shinta. "Kamu mandi saja dulu sayang, abang tunggu disini"
__ADS_1
Shinta menuruti saran Reyhan, dia segera masuk kekamar mandi. Tanpa menunggu lama Shinta segera mengeluarkan isi perutnya sambil menahan suaranya agar tidak terdengar oleh Reyhan. Begitu Ilham keluar kamar karena ingin bermain di halaman belakang, seketika itu juga Shinta kembali merasakan mual dan menahannya.
...◇◇◇...