Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
45. Perasaan Ini


__ADS_3

Mama Syila sudah melakukan cek kesehatan seperti yang disarankan oleh dokter Mia. Hasil lab juga sudah keluar. Lima hari sudah terlewati, hari ini adalah jadwal bertemu dokter untuk pertama kalinya. Mery sudah menghubungi dokter Mia sehingga Shinta dan Mama Syila tidak perlu mengantri lama di bangku pasien.


"Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Shinta setelah Dokter Sam selesai memeriksa Mama Syila.


"Nyonya Syila harus menjalani operasi untuk mengangkat benjolan yang ada di *********** bagian kanan"


"Harus ya Dok?"


"Iya, untuk mengambil benjolannya dan setelah itu akan kita cek di lab untuk mengetahui jenisnya jinak atau ganas"


Shinta hanya bisa mengangguk, kemarin dia juga sudah mendapat penjelasan dari Mery dan Mia masalah penyakit yang diderita Mama Syila.


"Ini adalah tumor payudara, untuk sementara diagnosanya seperti itu. Nanti setelah dioperasi dan hasil labnya keluar baru kita bisa mengatakan dia kanker jinak atau ganas, sehingga kita bisa memberikan penaganan selanjutnya" Dokter Sam kembali menjelaskan.


"Baiklah Dok, saya mengerti terima kasih penjelasannya" Shinta tersenyum pada dokter yang usianya sudah tidak muda lagi.


"Baiklah saya jadwalkan minggu depan ya operasinya" Dokter Sam meberikan resep obat yang harus di tebus Shinta dan catatan untuk jadwal operasi.


Shinta menghubungi Reyhan ingin menyampaikan kalau dia sudah selesai menemui dokter yang merawat Mama Syila dan ingin menanyakan keberadaan suaminya. Karena Reyhan berjanji hari ini akan menjemputnya dan Mama Syila pulang ke Bandung.


Rasa rindu membuat Shinta tidak ingin menunggu lama untuk menghubungi suaminya. Namun Shinta harus menyimpan rasa rindunya lebih lama lagi dan juga sedikit kecewa dengan pelakuan Reyhan yang lebih mementingkan pekerjaanya dari pada dia sebagai istri.


"Sayang maaf, abang tidak bisa jemput. Hari ini ada pertemuan mendadak dengan klien dan tidak bisa Abang mundurkan lagi jadwalnya. Tapi abang sudah kirim sopir, mungkin sudah sampai di kediaman Ayah Dimas"


Shinta hanya bisa menghela nafas menahan kesal, mengingat pembicaraan Reyhan tadi ditelepon. Bahkan Reyhan memberitahunya setelah dia menghubungi pria itu, bukan dari Reyhan yang mengabarinya terlebih dulu. Shinta mengalihkan padangannya ke jendela mobil, saat ini dia sudah dalam perjalan pulang ke Bandung.


Shinta merasakan sesak didadanya, dia mengingat pesan terakhir Melly yang mengabarinya kalau kali ini Reyhan ada kerjasama dengan perempuan yang cantik dan selalu berpakaian seksi dan minim. Shinta merasakan seakan kejadian Cindy terulang lagi. Baru saja dia tenang setelah kepergian Cindy dan kali ini kembali hadir sosok wanita yang bisa saja menggoda Reyhan, terlebih lagi sudah satu minggu dia belum memberikan jatah pada suaminya karena jarak dan keadaan.


Shinta ingin sekali menangis untuk melepaskan sesak didadanya, tapi ada Mama Syila disampingnya. Tidak mungkin dia melakukan itu, terlebih lagi keadaan Mama Syila yang sedang sakit.


Ting

__ADS_1


Melly


[ kirim foto ]


[ ini orangnya. Cantik tapi norak, gayanya nyebelin bentar-bentar dekatin Abang, kayaknya mau godain Abang dia, tapi jangan takut, Bang Rey aku gandeng terus hehehe. Nggak papakan Teh, dari pada digandeng sama tu ular. Untung saja aku ikut, jadi dia nggak berani macem-macem sama Abang ]


Shinta


[ Makasih Mel. Nggak papa mending sama kamu adiknya sendiri dari pada digandeng ular. Jagain terus ya Abang, jangan sampe kecolongan. Teteh udah dijalan ]


Melly


[ Emoticon ok dan jempol ]


Shinta melihat sebentar ke arah Mama Syila yang tertidur. Saat ini Melly bisa ikut tapi besok-besok belum tentu Melly bisa mendampingi suaminya. Shinta kembali melihat foto wanita yang jadi rekan bisnis Reyhan.


"Kenapa harus perempuan sih" rutuk Shinta dalam hatinya.


Shinta


[ Bang ]


Satu menit, dua menit, tiga menit bahkan sekarang sudah lima belas menit Reyhan belum juga membaca dan membalas pesannya. Biasanya tidak akan lama seperti ini Reyhan akan langsung menghubunginya.


Kejadian ini sama seperti tiga tahun yang lalu saat Reyhan kembali bertemu Cindy. Tidak membalas pesan, tidak menghubunginya bahkan sering pulang malam. "Siapa wanita itu? Teman Abangkah? Kenal dimana?" Shinta benar-benar tidak bisa tenang.


Demi perempuan itu suaminya membatalkan janji untuk bertemu denganya, seperti tidak merindukanya sama sekali, seperti rindu yang dia rasakan saat ini.


Sopir yang menjemput Shinta bisa melihat kegundahan istri bosnya, walau dia tidak tahu pasti tapi dia yakin kalau istri bosnya mempunyai pirasat buruk tentang suaminya. Sopir itu merasa kasian pada Shinta, karena kemarin dia melihat sendiri bosnya berjalan dengan wanita seksi dan wanita itu sepertinya ingin menggoda bosnya. "Saya hanya bisa membantu dengan doa, semoga rumah tangga bapak dan ibu baik-baik saja" ucapnya dalam hati.


Shinta sudah sampai di kediaman Mama Syila, dia membawa Mama Syila masuk kekamar untuk istirahat lalu menemui Bi Yati yang biasa mengurus Mama Syila. Dia menjelaskan obat dan waktu pemberiannya agar tidak salah selama Shinta tidak dirumah.

__ADS_1


Hati Shinta terasa berat untuk meninggalkan Mama Syila hanya dalam pengawasan Bi Yati, tapi dia terpaksa melakukan itu. Entah mengapa dia sangat ingin bertemu Reyhan, ada perasaan tidak nyaman yang dia rasakan, seakan-akan akan ada sesuatu yang terjadi.


Dengan peraaan tidak tenang Shinta meminta sopir mengantarkannya ke Hotel Reshin dimana kantor Reyhan berada. Reyhan lebih senang berkantor disana dari pada diperusahaan keluarganya, walau dia harus mengurusi semuanya baik hotel dan perusahaan.


Sopir menghentikan kendaraannya tepat di depan pintu loby, petugas hotel sudah sangat hapal kalau itu adala kendaraan milik bosnya, sehingga dia langsung mendekat dan membuka pintu mobil yang didalamnya ada Shinta.


Shinta turun tidak lupa mengucapkan terima kasih pada pegawai suaminya, tapi dia merasakan kakinya terasa berat melagkah, akhirnya dia hanya diam sesaat untuk menenangkan hati dan pikiranya lalu melangkah ke lift. Didalam lift Shinta merasakan debaran jantungnya sangat kencang. "Ada apa ini? Kenapa aku seperti ini? Ada apa dengan kamu Bang?"


Ting, lift sudah sampai di lantai dimana kantor Reyhan berada. Shinta melanglah keluar setelah pintu terbuka, dia melihat Melly baru saja keluar dari pantry karyawan.


"Mel" panggil Shinta.


Melly yang merasa seseorang memanggilnya langsung menolehkan wajahnya.


"Teh, sudah sampai?" Shinta mengangguk mendekat.


"Bagaimana?" tanya Shinta, dia tidak sabar ingin tahu apa yang terjadi.


"Si ular sudah pergi Teh, tidak sedikitpun aku melepaskannya" jawab Melly bangga, dia berhasil menjaga kakak sepupunya dari wanita seperti itu.


"Apa dia teman Bang Rey?" tanya Shinta lagi.


"Bukan, sebenanya pemilik perusahaan ini laki-laki, karena itu Abang mau kerjasama. Tapi entah mengapa dia mengirim adiknya untuk mengurus semuanya, itu juga Bang Rey tahu waktu kita bertemu pertama kali" Melly menjelaskan.


"Abang dimana?" tanya Shinta.


"Diruangannya" jawab Melly cepat.


Tidak menunggu lama, Shinta dengan cepat berjalan ke ruangan Reyhan. Walau Melly sudah memberitahunya kalau wanita itu tidak bisa mendekati Reyhan, namun tetap saja dia tidak bisa tenang. Semakin dekat langkahnya keruang Reyhan semakin kencang detak jatungnya. Shinta bahkan gemetar saat membuka pintu ruangan, dan begitu dia berhasil mendorong pintu sehingga terbuka lebar dia langsung berteriak.


"Abang"

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2