
Reyhan sudah selesai bicara dengan seseorang yang ada diseberang sana. Dia menarik nafas panjang untuk menenangkan pikirannya dan memaksakan senyum saat Shinta mengatakan kalau mereka sedang terhubung melalui sambungan video dengan Mama Syila.
"Ma, bagaimana kabar Mama?" tanya Reyhan saat melihat wajah Mama Syila yang masih terlihat pucat.
"Mama sudah merasa lebih baik, tapi masih harus dirawat untuk pemulihan. Kamu sendiri bagaimana kabarmu Rey?" Mama Syila balik bertanya.
"Reyhan juga baik ma, tapi masih harus membersihkan racunnya sampai bersih" Reyhan mencoba tersenyum lebar walau sebenarnya dia sedang berusaha menghilangkan kekesalannya.
Shinta bisa melihat kalau suaminya sedang tidak baik-baik saja setelah menerima panggilan yang entah dari siapa, tapi Shinta yakin orang yang tadi bicara dengan Reyhan membawa berita yang tidak menyenangkan. Karena itu Shinta segera mengambil alih ponselnya dan bicara pada Mama Syila lalu berpamitan pada semua yang ada dikamar rawat inap Mama Syila dan mengakhiri panggilan Videonya.
"Kamu benar Zein, ini semua rencana Farrel. Tadi dia berkeliaran di rumah sakit" ucap Reyhan begitu dia kembali bergabung dengan yang lain.
"Tapi kita tidak ada bukti untuk menariknya dalam kasus ini, polisipun belum bisa menemukan Lyra" sahut Alex.
"Harem kamu hubungi Jessyca, mungkin saja dia tahu posisi Lyra dimana" Sandy meminta pada Harem, karena Sandy yakin Jessyca akan mengatakan apapun yang diminta Harem.
"Tidak perlu" sahut Reyhan.
Semua melihat kearah Reyhan, memasang wajah tanda tanya dengan ucapan Reyhan. Melihat itu Reyhan hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu dia meletakkan ponselnya dan menyalakan rekaman percakapannya dengan seseorang.
"Hallo" suara wanita dari seberang terdengar.
Tidak ada jawaban dari Reyhan membuat wanita diseberang sana kembali bicara.
"Rey, ini aku Lyra. Aku minta maaf, aku lelah bersembunyi dari kejahatan yang tidak aku lakukan" semua menyimak setiap kata yang diucapkan Lyra.
__ADS_1
"Aku memang diminta Farrel untuk menggodamu, membuat istrimu cemburu dan marah. Sengaja membuat kalian beselisih faham dan akhirnya bertengkar. Saat seperti itu aku akan masuk sebagai orang yang selalu ada untukmu dan Farrel yang akan selalu ada untuk istrimu"
"Cih" Melly yang mendecih kesal mendengar pengakuan Lyra. Harem menenangkan dengan menepuk punggung tangan Melly.
"Aku diberi waktu satu minggu, sesuai jadwal saat istrimu sedang tidak bersamamu"
"Pintar ya cari waktunya" sela Citra yang ikut geram.
"Kalau aku tidak berhasil dia akan melakukan sesuatu padamu. Yang meracunimu aku yakin itu adalah Farrel, karena aku tidak berhasil membuat istrimu marah dan cemburu"
"Hampir sih" gumam Shinta yang masih bisa didengar Reyhan. Shinta tampak tersenyum kecut, melihat itu Reyhan langsung merangkul istrinya.
"Percayalah padaku Rey, pernyataann OB gadungan itu sudah pasti perintah Farrel, untuk menyebut namaku sebagai otak kejahatannya. Farrel sengaja menyudutkanku, karena aku yang satu minggu ini berada disekitarmu. Posisi itulah yang menguatkan aku sebagai tersangkah utamanya. Aku mohon Rey, bersihkan namaku, Farrel yang menjebakku. Aku lelah harus selalu bersembunyi Rey"
Tidak terdengar Reyhan menjawab apapun yang dibicarakan Lyra, dia sengaja hanya mendengarkan dan merekam setiap ucapan Lyra yang mungkin bisa dijadikan sebagai alat bukti.
Rekaman suara itu berakhir, menyisakan rasa sakit dihati Shinta mendengar wanita lain menyatakan cinta pada suaminya. Reyhan bisa mendengar ******* Shinta dan ketidak nyamanan istrinya yang saat ini ada dalam rangkulanya.
"Yang Abang cintai hanya kamu" bisik Reyhan ditelingga Shinta dengan lembut, dia mengecup pucuk kepala Shinta walau tertutup hijab tapi Shinta bisa merasakan ketulusan Reyhan yang bisa mencairkan suasana hatinya yang sakit.
"Kali ini aku mengacungkan dua jempol untuk Jessy yang sudah menghalangi wanita ular itu untuk mendekati Bang Rey" ucap Mery memecah keheningan diantara mereka begitu rekaman suara Lyra berakhir.
"Iya aku juga salut dengan usaha Jessy" sahut Citra.
"Pasti ada alasan Jessy melakukan itu" Nayla yang bicara, pandangannya pada Harem. Nayla yakin pria itu mengetahui sesuatu setelah memperhatikan sikapnya dalam mendengarkan rekaman tadi.
__ADS_1
Sandy merasa cemburu melihat Nayla yang menatap Harem, bagaimanapun dia sangat tahu kalau dulu Harem sangat mengagumi istrinya. Harem yang mengerti pandangan Nayla akhirnya buka suara, terlebih lagi saat melihat tatapan tajam dari Sandy.
"Baiklah, Jessy memang punya alasan melakukan itu. Dia pernah cerita padaku masalah Lyra yang menyukai Rey, dan berusaha mendekati sahabatku ini. Jessy memang menghalangi niatan Lyra, bukan karena cemburu atau yang lainya. Tapi lebih ke menjaga Rey agar tidak masuk dalam perangkap Lyra. Jessy tidak ingin Rey terbuai rayuan sepupunya yang menurut Jessy sangat tidak pantas menjadi kekasih seorang Reyhan, Lyra itu wanita panggilan"
"Wow" Bella dan Citra berucap bersamaan mereka membulatkan mata tidak percaya begitupun para wanita yang lain yang ada disana termasuk Shinta mereka membulatkan mata mereka setelah mendengar penjelasan Harem diakhir.
Dalam hati Shinta bersyukur dan berterima kasih pada Jessyca. Lyra ternyata lebih buruk dari pada Cindy. Dia melirik Reyhan yang ternyata sedang menatapnya, mereka sama-sama tersenyum. Senyum dengan rasa syukur mereka masih bertahan menjaga hati mereka dan setia sampai saat ini.
"Jadi apa rencana kita selanjutnya?" Sandy yang bicara, menurutnya saat ini bukan waktunya untuk membicarakan masa lalu atau pekerjaan sipelaku, tapi harus bergerak cepat agar Lyra dan Farrel dapat ditemukan keberadaannya.
Mendengar pertanyaan Sandy semua kembali diam, diam sambil berpikir untuk gerakan selanjutnya. Mencari cara dan langkah yang tepat agar Lyra terutama Farrel sebagai dalang kejahatan ini tertangkap.
Para wanita meninggalkan para pria dihalaman belakang untuk melanjutkan pembahasan dan rencana-rencana mereka.
"Mel, kapan mau bagi undangan untuk kami?" Mery yang bertanya sambil memainkan alisnya. Mereka sekarang sudah berada diruang keluarga.
Melly hanya menaikan bahunya. Dia dan Harem belum membahasnya, walau Harem sudah melamarnya tapi perjalananya untuk sampai kejenjang pernikahan sepertinya masih lama.
"Bukanya Harem sudah melamarmu?" Shinta yang bertanya saat melihat Melly seperti tidak semangat.
"Iya, tapi dia belum bicara apapun untuk membahas masalah itu. Hubungan kami masih sangat baru Teh, mungkin dia ingin memantapkan hatinya terlebih dulu. Apa lagi dia cintanya sama...." Melly menghentikan ucapannya, dia tidak yakin untuk menyebut nama Nayla.
"Sama kamukan" sambung Shinta yang pura-pura tidak tahu.
Melly tersenyum menanggapi ucapan Shinta, dalam hatinya berdoa semoga saja Harem sudah benar-benar melepaskan Nayla dan kini mencintainya.
__ADS_1
"Dia berani melamarmu itu berarti dia sudah membuat suatu komitmen yang penting dalam hidupnya. Jangan meragukannya, itu hanya akan menyakiti hatimu dan juga akan menyakiti hatinya. Mel, jangan sakiti hatiku dengan meragukan Harem karena aku" Nayla yang bicara, tanpa Melly sadari wanita hamil itu sudah duduk disampingnya yang kini mengusap lengannya.
...◇◇◇...