
Reyhan POV
Satu kesalahan yang aku lakukan dimasa lalu membuat Shinta istriku selalu dalam kekhawatiran bila mendengar nama Cindy, sebenarnya bukan hanya istriku tapi aku juga sama, sama khawatirnya dengan Shinta. Hanya saja yang kami khawatirkan berbeda, istriku khawatir aku akan berpaling sedangkan aku khawatir istriku akan pergi lagi meninggalkanku. "No" aku tidak bisa membayangkannya kalau dia benar-benar pergi meninggalkannku.
Untuk mengakhiri semua kekhawatiran aku dan Shinta, maka dari itu aku mengikuti saran Mama Diana untuk menyelesaikan masalahku dengan Cindy, untuk bicara baik-baik dengannya, jujur sebenarnya aku sangat tidak ingin bertemu dan bertatap muka dengannya. Untung saja sahabat terbaikku menyarannkan untuk membawa pendamping dan Zeinlah yang dirasa cocok untuk mendapingiku.
Ternyata Cindy bukan orang yang mudah untuk diajak menyelesaikan masalah, bahkan dia lebih suka bila selalu terlibat masalah. Seperti saat kami bertemu untuk bicara, tiba-tiba Cindy berdiri dan duduk dipangkuanku begitu Zein pamit ke toilet dan meninggalkan kami "Jo, aku merindukanmu" dia mencoba menggodaku. Tapi seorang Reyhan tidak akan mudah tergoda dengan wanita, terkecuali Shinta yang melakukannya.
Aku yang tidak menyangka dengan tindakan Cindy yang tiba-tiba, hanya diam dan terpaku dengan mulut menganga, bukan menikmati tapi lebih kerasa syok. Untung saja aku tersadar saat Cindy akan menciumku, aku seketika berdiri, gerakanku yang tiba-tiba membuat Cindy jatuh cukup keras. Dia terduduk di lantai dan wow, ada darah yang mengalir dikakinya. Dia pendarahan dan harus kehilangan bayi yang dikandungnya, sialnya Cindy menyalahkan dan mengancamku atas kejadian ini.
Untung saja para sahabatku dan Shinta banyak membantu dan mendukung kami. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga dan sahabat-sahabat yang sudah seperti saudara, mereka sangat membantu bahkan sangat banyak membantu.
Aku tahu Shinta menyimpan banyak pertanyaan untukku, karena aku tidak memberitahunya tentang pertemuanku dengan Cindy. Aku memang sudah meminta ijin shinta untuk bertemu dan bicara baik-baik mengakhiri masalah dengan Cindy tapi aku tidak memberi tahunya saat kami bertemu, terlebih lagi ada insident yang tak diinginkan. Bukan tidak ingin memberitahunya, tapi aku belum bisa memberitahunya.
Pekerjaanku akhir-akhir ini lebih dari banyak, terlebih lagi proyek baru yang sedang aku jalankan saat ini bekerjasama dengan perushaan milik Sandy dan perusahaan milik Dewa yang merupakan mantan kekasih Shinta.
Kami sering mengadakan pertemuan bertiga plus sekertaris dan asisten kami masing-masing. Disini yang aku sesalkan mengapa harus Cindy yang jadi sekertaris Dewa, dengan begini membuat aku sering bertemu dengannya. Tapi aku tidak ambil pusing, setiap pertemuan tidak ada kesempatan Cindy untuk bicara hal pribadi. Terlebih lagi aku mendengar kabar kalau Dewa dan Cindy punya hubungan lebih dari antara atasan dan sekertaris. Semoga saja hal itu membuat Cindy berubah pikiran untuk terus mengganggu rumahtanggaku.
Tapi saat aku memeriksa ponsel Shinta seperti yang disarankan Zein, aku benar-benar tidak menyangka, ternyata banyak foto yang sengaja memperlihatkan kedekatannku dengan Cindy di ponsel Shinta, yang dikirim oleh seseorang yang ingin memghancurkan rumah tanggaku. Karena aku tahu, bukan apa yang terlihat difoto itu kejadian sebenarnya.
"Kurang ajar" kesalku, karena foto Cindy yang tiba-tiba duduk dipangkuankupun dikirimkan pada Shinta. Tapi aku kembali bersyukur, karena Shinta masih percaya padaku. Kepercayaannya yang bisa membuat aku kuat menghadapi seorang Cindy, yang aku baru tahu sifat buruknya saat ini. Walau dia terus diteror dengan foto-foto yang sangat menyakitkan untuknya sebagai seorang istri.
__ADS_1
"Aku tidak akan memberi ampun pada mereka yang ingin menghancurkan keluargaku" ya, itu janjiku setelah tahu semuanya, tahu mereka dengan sengaja sudah membuat Shinta menderita satu bulan terakhir ini.
Aku baru saja ingin kembali tepejam setelah bertempur dengan Shinta untuk kesekian kalinya, bukan maniak hanya saja ingin membayar yang terlewatkan beberapa minggu ini. Tapi nada dering panggilan dari ponselku berbunyi. Malas sebenarnya untuk menerima panggilan tapi aku inggat aku sedang menunggu kabar dari Roy.
Zein benar-benar memberi kabar yang baik pagi ini, membuat aku tersenum lebar. Bagaimana tidak senang dan bahagia, hubunganku dengan Shinta sudah mulai menghangat di tambah Zein memberi kabar yang baik. Setelah ini aku akan memberitahu semuanya pada Shinta.
"Bang, siapa yang telepon? Ilham ya?" ternyata bidadariku sudah selesai membersihkan diri, aku tersenyum senang melihat lehernya yang penuh dengan tanda-tanda kepemilikannku.
"Bang, Shinta nanya dijawab, bukannya senyum-senyum sendiri" membuat aku tersadar dari pikiranku tentang pertempuran kami tadi malam sapai pagi ini.
"Bukan Ilham, tapi Zein" jawabku.
Sekarang disinilah aku berada di Cafe Zein bersama pemiliknya dan Roy, sebelunya aku mengantarkan Shinta terlebih dahulu kerumah Mama Diana. "Abang bertemu Zein dan Roy sebentar ya, nanti Abang jemput kalau sudah selesai dengan mereka" pamitku pada Shinta tadi.
"Sayang" panggilku lagi pada Shinta saat aku akan masuk kedalam mobil.
"Terimakasih sudah percaya pada Abang, dan jangan berhenti untuk selalu percaya, I love you" ucapku lalu mengecup bibirnya.
"Shinta akan selalu percaya pada Abang, maaf..." Shinta menghentikan ucapannya, aku menunggu tapi dia tetap diam.
"Maaf untuk apa?" akhirnya aku yang bertanya.
__ADS_1
"Maaf sempat tidak percaya sama Abang. Nanti akan Shinta tunjukkan sebabnya kalau Abang sudah selesai dengan urusan Abang" jawabnya.
"Akan secepatnya Abang selesaikan, banyak hal juga yang ingin Abang ceritakan kepada istri Abang yang cantik ini" dan yang aku suka adalah rona merah yang terpancar dari wajah Shinta. Kalau saja bukan urusan yang penting, sudah pasti aku tarik lagi dia kelamar, pikir ku sambil tersenyum membayangkannya.
"Abang mau mendengar informasi dari kita apa tidak sebenarnya?" ternyata Zein sudah memasang wajah serius, sepertinya dia sudah mengatakan sesuatu saat tadi aku mengingat saat berpamitan dengan Shinta.
"Ya maulah Zein, biar cepat kelar" jawabku pura-pura tidak paham dengan kekesalannya.
"Jangan melamun makanya Bang" sahut Roy meredam kekesalan Zein.
"Ok" jawabku. "Jadi gimana hasilnya?" tanyaku lagi.
Zein memutar rekaman suara antara dia dan Banu, banyak yang baru aku ketahui kejadian masa lalu antara aku, Cindy dan Banu. Kesal merasa dipermainkan, tapi juga bersyukur karena dengan semua yang terjadi membuat aku bertemu dengan Shinta.
Mendengar apa yang disampaikan Banu, sebenarnya dia laki-laki baik. Mau bertanggung jawab dengan perbuatannya. Bahkan dia tidak tahu kalau Cindy memiliki kekasih, karena wanita itu selalu datang padanya dan minta untuk dipuaskan. Mendengar penjelasan Banu, membuat aku semakin jijik dengan wanita itu. Bagaimana bisa, dia bilang mencintaiku, tunggu! Cinta? bukan cinta tapi hanya obsesi. Ya hanya obsesi sehingga dia bisa meminta untuk dipuaskan dengan orang lain.
Setelah selesai membahas apa yang disampaikan Banu, kini topik pembicaraan kami beralih pada nomor tak dikenal yang mengirim banyak foto pada Shinta.
"Farrel" Roy menyebutkan nama pelakunya. Lalu siapa Farrel?" dan jawabanya ada pada Jody. Jadi sekarang kami menunggu Jody yang sedang meluncur ke Cafe Zein.
...◇◇◇...
__ADS_1