Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
32. Siapa Dia?


__ADS_3

Reyhan Pov


Sudah lama aku dan Shinta tidak mengantar Ilham ke sekolah berdua, seharusnya ini bisa kami lakukan setiap hari. melihat wajah Ilham yang sangat bahagia saat kami melambai bersama kepadanya yang berbaris didepan kelas, membuat aku merasa bersalah sering menolak keinginan Shinta untuk ikut mengantar Ilham kesekolah. Baiklah mulai saat ini aku tidak akan melarang Shinta lagi. Semoga kebahagiaan ini selalu ada dalam keluarga kecil kami.


Aku tahu sebagai suami aku belum sempurna, seringkali membuat Shinta menangis dan kecewa, terlebih lagi bila menyangkut Cindy. Aku bersyukur karena badai itu telah berlalu, bahkan membuat hubunganku dengan Shinta semakin kuat. Aku hanya bisa berharap tidak ada lagi badai dalam rumah tanggaku.


Hari ini Shinta ada pertemuan dengan keluarga sahabat Papa Jay dari USA. Aku baru tahu, kalau perusahan Papa Jay yang sekarang di kelola Mama Syila memiliki cabang di USA yang dikelola sahabat Papa Jay. Mr.Smith itu namanya yang aku ketahui dari Putra. Ya, semalam setelah Shinta meminta ijin untuk hari ini, aku bertanya beberapa hal pada pada Putra tentang siapa tamu mereka. Sedikit banyak aku tahu tentang Mr. Smith dan keluarganya.


Karena sudah telat Shinta berlari setelah turun dari mobil yang kukendarai, bahkan peringatan dariku tidak dihiraukan. Aku yang penasaran dengan Mr.Smith akhirnya memutuskan untuk memarkirkan mobilku. Pagi ini tidak ada kegiatan yang harus aku kerjakan, pertemuanku dengan teman-temanku saat di Inggris baru akan dilakukan saat jam makan siang, jadi tidak ada masalah pagi ini aku ikut menyaksikan pertemuan mereka.


Kulihat Koko dan Putra diikuti Shinta menyapa tamu mereka yang berjumlah delapan orang, lima pria dan tiga wanita. Salah satu tamu itu mendekati Shinta dan mengulurkan tangannya, Shinta tampak terkejut melihat siapa yang mengulurkan tangan padanya. Mata pria itu yang aku tidak suka, dia memandang Shinta penuh dengan cinta. Siapa dia? Apakah akan ada badai lagi dalam rumah tanggaku? Semoga saja tidak, aku ingin keluargaku baik-baik saja seperti sahabatku Sandy dan Alex. Keluarga mereka selalu harmonis dan tidak pernah ada orang ketiga diantara mereka.


Aku baru saja ingin melangkah menghampiri Shinta, tentu saja untuk menjaganya dari pria yang aku yakin Shinta tidak tahu arti pandangan matanya yang penuh perasaan sayang. Aku hanya bisa menahan kecewa, saat pria itu dengan beraninya didepan banyak orang merangkul Shinta. Hei, apa kamu tidak tahu disini ada suaminya melihat apa yang kamu lakukan. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Tidak mungkin aku datang dan marah padanya, dia tamu Mama Syila yang harus aku hormati juga.


Shinta dan pria itu menghilang dibalik pintu besi yang membawa mereka kelantai atas, dimana pertemuan para pemegang saham diadakan. Dengan langkah berat aku kembali keparkiran dimana mobilku berada, melajukannya berlahan menuju hotel dimana teman-temanku akan berkumpul hari ini.


Aku memeriksa beberapa berkas yang diberikan sekertarisku yang juga adik sepupuku. "Bang, tamu yang dari Inggris tadi ada yang mencari Abang" Melly memberitahuku.


"Siapa?" ada banyak teman-temanku yang datang dan menginap hari ini.


"Jessy" Melly menyebutkan nama yang sudah hampir aku lupakan, dia sahabat baikku yang membantu aku bangun dari kekecewaanku karena menghilangnya Cindy. Dia juga yang membantu aku berkeliling mencari keberadaan Cindy. Aku pikir dia tidak akan datang, karena menurut Jeco, dia tidak mengkonfirmasi kehadirannya.

__ADS_1


"Apa dia sudah tidak marah lagi?" batin ku. Ya Jessy marah saat tahu aku akan menikah dengan Shinta, alasannya sangat lucu karena aku tidak memilih dia untuk jadi istriku.


"Kamu benar-benar tidak peka Reyhan Joyco Renaldi, siapa yang bantu kamu saat kamu ditinggal pergi wanita bodoh yang katanya cinta mati sama kamu, harusnya kamu minta aku yang jadi pendamping kamu bukan menerima perjodohan yang dilakukan oleh mama kamu"


Setelah menutup teleponnya Jessy tidak pernah lagi menghubungiku dan juga tidak bisa aku hubungi. Aku sungguh tidak mengerti mengapa dia marah, mengapa dia meminta aku yang meminta dia jadi pendampingnya. Yang aku tahu Jessy selama ini mengejar Harem, anak sultan dari negara tetangga Brunai Darusalam.


"Bang Rey, kok jadi melamun sih" suara Melly yang keras menarikku dari sosok Jessy yang kembali aku ingat.


"Ada apa lagi Mel?" tanyaku, mengapa Melly jadi terlihat marah.


"Aku tidak suka ya Bang Rey dekat dengan Jessy, ingat jangan sampai menyakiti hati Teh Shinta lagi. Jaga jarak dengan wanita manapun kecuali sama Melly, karena tidak mungkinkan Melly ada main sama kakak sepupunya sendiri" Mery terkekeh. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Melly orang kepercayaan Shinta yang dimintanya jadi sekertarisku menggantikanya, sekalian untuk menjagaku dari para wanita pengejar pria kaya. Ada-ada saja istilah yang dipakai Shinta dan Melly untuk wanita-wanita penggoda diluar sana.


Aku melirik jam yang ada ditanganku. Ini jamnya coffee break, pertemuannya pasti sudah selesai.


"Sayang bagaimana pertemuannya? apa berjalan dengan baik?" tanyaku saat Shinta mengangkat panggilan dariku.


"Ya, berjalan dengan baik. Tapi Shinta yang tidak baik sekarang" mendengar Shinta bicara seperti itu membuat aku berpikiran buruk.


"Ada apa sayang? Kamu dimana sekarang?" tanyaku, untuk menghilangkan prasangka buruk yang terjadi dengan Shinta.


Dia mengatakan kalau dia sekarang di pemakaman Papa Jay. Dari situ aku mengerti bagaimana perasaan Shinta, walau dia bukan anak kandung Mama Syila dan Papa Jay, tapi Shinta sangat dekat dengan keduanya.

__ADS_1


Aku hanya memintanya untuk tidak sedih, tapi dari jauh aku mendengar seseorang memanggil Sweetie. Manis sekali panggilan itu, panggilan untuk Shinta kah?


"Ohh, itu keluarga Mr. Smith, sedang memanggil istrinya" Penjelasan Shinta cukup membuatku tenang. Tapi tetap saja aku khawatir setelah menginggat kembali bagaimana pria yang aku belum tahu namanya itu memandang Shinta penuh cinta.


Dari pada aku merasakan sesak memikirkan pandangan pria tersebut pada Shinta, lebih baik aku turun ke tempat pertemuan dengan teman-temanku. Memang belum waktunya, tapi tidak ada salahnya aku mengecek persiapan yang dilakukan karyawanku sudah sesuai yang aku minta atau belum.


Aku memasuki ruangan dimana pertemuan kami akan diadakan, ruangan ini tidak terlalu besar, karena ini bukan pesta besar. Melainkan pertemuan yang hanya dihadiri tidak lebih dari dua puluh lima orang.


Satu persatu aku menyapa mereka yang sudah hadir, salah satunya Harem pria idaman yang selalu diinginkan Jessy jadi pendampingnya. Dia tidak banyak berubah, pria yang selalu tersenyum yang membuat para wanita menaruh hati.


"Reyhan, pengusaha muda yang sukses" sapanya. Aku hanya tersenyum menanggapi sanjungannya.


"Kamu lebih sukses dari pada aku Har" aku balik memujinya.


"Harem, Reyhan" suara yang aku sangat kenal memaggil kami. Siapa lagi kalau bukan Jessy, sepertinya dia sudah tidak marah padaku, apa karena ada Harem disini.


"Hai Jes" Harem yang menyapa Jessy lebih dahulu, mereka berpelukan seperti biasa kalau kami bertemu, berpelukan sebagai teman tidak lebih dari itu. Tapi mungkin tidak bagi Jessy, dia pasti sangat merindukan pelukan Harem.


"Jessy" sapa ku, membuat Jessy melepaskan pelukannya pada Haren dan beralih padaku. Jessy memelukku sangat erat, mungkin ini karena hampir lima tahun kami tidak bertemu.


...◇◇◇...

__ADS_1


__ADS_2