Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
63. Permintaan Terakhir Cindy


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Banu dan Jojo mendarat di Bandar Udara Schiphol Amsterdam Belanda. Dulu Banu akan sangat senang mengunjungi negara kincir angin ini, tapi tidak untuk kali ini. Dengan sangat terpaksa dia membawa Jojo menemui ibunya untuk yang terakhir kali, seperti permintaan Cindy wanita itu mengatakan kalau ini permintaan terakhirnya.


Kalau bukan karena paksaan dari Cindy yang mengancamnya, Banu lebih memilih ikut tawaran Zein ke puncak untuk merayakan kehamilan Shinta. Tentu saja karena dia tahu Mentari mantan istrinya juga hadir di acara tersebut. Banu menghela nafas panjang, memikirkan kebodohannya melepaskan wanita sempurna hanya untuk mempertahankan ibu dari anaknya yang tidak pernah mau hidup bersamanya.


"Ayo yah kita turun" ajak Jojo begitu melihat sekeliling dalam pesawat yang sudah mulai sepi.


"Ayo" Banu berdiri, dan menggandeng tangan Jojo.


Dengan setia Banu terus mengandeng tangan putranya disebelah kiri, sedangkan disebelah kanannya tangan Banu sibuk menarik koper yang berisi pakaiannya dan Jojo.


Setelah satu jam perjalanan kini keduanya sampai di kediaman keluarga Sander, dimana Cindy tinggal. Aldert Atmojo Pratama berlari kencang begitu menginjakkan kakinya dihalaman kediaman keluarga Sander, dia sudah sangat merindukan ibunya yang tega pulang ke Belanda tanpa dirinya. Dia begitu bersemangat saat sang ayah mengatakan kalau ibunya ingin bertemu dan meminta mereka mengunjunginya di Belanda.


Perjalanan yang lebih kurang menghabiskan waktu empat belas jam tidak membuat semangat Jojo melemah, bahkan semangat itu semakin kuat ia rasakan.


"Ibu" panggilnya begitu dia bisa membuka handle pintu yang ternyata tidak terkunci.


Tanpa permisi, Jojo berlari masuk kekamar yang biasa ia dan ibunya tempati. Kosong, itu yang dia temukan saat masuk kekamar tersebut. Dengan wajah tertunduk dia kembali keluar keteras rumah dimana Banu sang ayah duduk menunggunya.


"Ibu tidak ada dikamarnya" ucap anak laki-laki itu ikut duduk disamping ayahnya.


"Kita tunggu saja disini, mungkin ibumu sedang keluar. Ayah sudah mengirim pesan pada ibumu kalau kita sudah ada disini.


Jojo mengangguk mengikuti saran sang ayah sampai dia terpikirkan sesuatu.


"Ibu mungkin di tempat Dafa, kita kesana saja yah, ke kediaman eyang buyut Harley" ucapnya.


"Ibu tidak akan kesana, Dafa dan papanya sedang pulang ke Indonesia" jawab Banu mencoba memberi pengertian.


"Tante Mentari dan Kak Putri juga?" tanya Jojo. Banu mengangguk membenarkan.


"Oh" hanya kata itu yang keluar dari bibir Jojo sampai akhirnya wajah murung itu berganti dengan senyum lebar diwajahnya.


"Ibu" panggilnya, saat melihat Cindy turun dari kendaraannya.


"Kalian sudah lama? Kenapa tidak menunggu didalam?" tanya Cindy beruntun.

__ADS_1


"Belum lama bu" jawab Jojo sambil berlari kearah Cindy.


Cindy merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan putra semata wayangnya itu, dia memeluk dan menciumi Jojo sampai puas. Anak laki-laki itu terkikik geli saat Cindy menciumi lehernya.


"Geli bu" ucapnya sambil menahan geli karena ulah ibunya.


"Ibu merindukanmu Jo"


"Kalau ibu rindu Jojo, kenapa ibu tidak ikut tinggal denganku dan ayah?" tanyanya. Cindy hanya menggelegkan kepala.


"Ada yang harus ibu kerjakan disini" Cindy berdiri dan melihat ke arah Banu, pria dihadapannya tidak banyak berubah bahkan terlihat lebih tampan menurutnya.


"Ayo masuk" ajak Cindy begitu dia memutuskan kontak matanya dengan Banu.


"Kamu tidak perlu cari hotel Nu, menginap saja disini" pinta Cindy. "Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu" lanjutnya.


Banu mengiyakan permintaan Cindy, dia tidak keberatan. Lagi pula ini akan jadi pertemuan mereka terakhir, seperti ucapan Cindy kalau dia akan pergi jauh dan tidak akan mengganggunya dan Jojo lagi. Sebenarnya Banu tidak setuju dengan keputusan Cindy yang memilih berpisah dan tidak ingin bertemu Jojo lagi setelah pertemuan ini. Melihat Jojo yang sangat menyayangi ibunya, dia tidak tega memisahkan anak itu selamanya dengan Cindy.


Malam semakin larut dan udara semakin dingin, Jojo sudah sejak pukul delapan malam tidur karena kelelahan. Sementara Banu masih menikmati coklat hangat yang dibuatnya sendiri diteras samping.


"Bagaimana kabarmu disini? Apa yang ingin kamu bicarakan? Sekarang saja, aku tidak punya waktu banyak untuk berlama-lama disini"


Cindy tertawa mendengar pertanyaan dan pernyataan Banu yang berubtun. " Aku, seperti yang kamu lihat Nu" jawabnya.


"Aku hanya ingin memperjelas apa yang aku katakan padamu beberapa hari yang lalu. Aku ingin kamu merawat Jojo dan bantu dia belajar melupakanku. Kamu bisa Nu?"


Banu mengangkat kedua bahunya. Cindy menghela nafas panjang. "Aku sungguh-sunguh Nu memintanya, bantu Jojo untuk melupakanku. Berbahagialah kalian dan aku juga akan mencari kebahagiaanku"


"Terima kasih atas semua yang pernah kamu berikan padaku. Maaf kalau aku selalu mengecewakanmu"


"Besok setelah kalian pulang ke Indonesia, aku juga akan meninggalkan Negara ini mencari kebahagiaanku. Aku mohon berjanjilah untuk bahagia bersama Jojo. Kamu lebih baik merawatnya dari pada aku, terlebih lagi aku akan sibuk dengan bayiku"


Banu menangkap kesungguhan dari mata Cindy, wanita dihadapannya ini memang ingin pergi jauh meninggalkan semua.


"Kamu akan pergi kemana?" akhirnya Banu berani menanyakan pertanyaan itu, bukan apa-apa mungkin saja suatu saat Jojo ingin bertemu ibunya dia bisa mencari keberadan Cindy.

__ADS_1


"Tidak perlu tahu dan tidak perlu mencari tahu, pulang saja ke Indonesia dan berbahagialah"


"Aku ingin istirahat, selamat malam" ucap Cindy meninggalkan Banu yang masih setia duduk dikursi.


Keesokannya Banu dan Jojo pamit pulang ke Indonesia, mereka memang hanya sebentar selain pekerjaan Banu yang banyak, Jojo juga harus sekolah.


"Jo, nurut sama ayah ya. Jadi anak baik yang bisa membuat ibu bangga, sekolah yang rajin. Ibu sayang sama Jojo"


"Jo juga sayang sama ibu, ibu cepat pulang ke Indonesia, nyusul Jo sama ayah. Kita tinggal sama-sama lagi"


Cindy hanya mengangguk setuju, walau dalam hatinya dia tidak bisa berjanji. 'Maafkan ibu Jo. Ibu tidak bisa bersamamu lagi' batinya.


"Dah ibu, sampai jumpa" Jojo melambaikan tangannya masuk kedalam taxi menuju bandara.


Banu dan Jojo sudah sampai di badar udara terpadat di Belanda, satu jam lagi adalah jadwal penerbangan mereka.


"Kita tunggu disini saja ya Jo, setengah jam lagi baru kita masuk kedalam" ucap Banu yang disetujui oleh Jojo.


Ponsel Banu bergetar, karena memang sengaja tanpa suara agar tidak berisik.


"Zein?" gumam Banu saat melihat siapa yang menghubunginya.


Banu segera menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.


"Mas Banu, dimana?" tanya Zein begitu Banu menjawab panggilannya.


"Di bandara mau pulang ke Indonesia"


"Kembali ke kediaman Sander mas" pinta Zein.


"Ada apa? Baru satu jam yang lalu aku meninggalkan kediaman itu" jawab Banu yamg tidak mengerti.


"Mbak Cindy mencoba bunuh diri"


"Shite" umpat Banu, tanpa menunggu lama dia langsung menarik koper dan mengandeng Jojo mencari taxi kembali ke kediaman Sander.

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2