
Shinta duduk dengan santai, sambil menikmati minuman hangat yang dibuatnya sendiri. Hari ini dia ada janji untuk bertemu Farrel, pria masa lalunya. Laki-laki itu tidak pernah berhenti untuk menghubunginya setelah mereka tidak sengaja bertemu beberapa hari yang lalu, walau sebenarnya Farrel yang sengaja menunjukkan wajahnya dihadapan Shinta setelah sekian lama dia bermain dibalik layar.
Setelah mendapat ijin dari Reyhan dengan syarat Shinta tidak sendiri, akhirnya Shinta memilih Cafe Zein adalah tempat pertemuan mereka. Farrel sempat meminta untuk bertemu ditempat yang lain, namun Shinta mengancam, "Kalau tidak mau di Cafe Zein tidak apa-apa, berarti kita tidak perlu bertemu dan bicara" ancam Shinta pada Farrel. Mau tidak mau akhirnya Farrel menyetujui tempat yang dipilih Shinta.
"Shinta" Shinta memalingkan wajah pada suara yang memanggilnya, dia kenal suara itu, suara yang sudah lama dia lupakan.
"Sampai juga kamu akhirnya" sapa Shinta, setelah Farrel duduk dihadapannya.
"Apa kabar honey" Farrel mendekati Shinta.
"Kabarku baik, dan jangan panggil aku seperti itu lagi Farrel" tegas Shinta.
"Kenapa? Bukankah jika aku pulang kita akan kembali bersama" Ucap Farrel dengan santai, mencoba memegang tangangan Shinta yang langsung ditarik oleh pemilik tangan.
Shinta menggelengkan kepalanya "Jangan pura-pura tidak tahu kalau aku sudah menikah dan punya anak" jawab Shinta.
"Kau menghianatiku Shinta" balas Farrel.
"Aku? Benarkah?" Shinta membantah ucapan Farrel. "Kamu yang lebih dulu menghianatiku, kita memang boleh memiliki pasangan lain selama tidak bersama, tapi bukan berarti kamu bisa menghabiskan malam bersamanya ditempat tidur. Dan kamu sangat tahu, penjanjian kita batal kalau hal seperti itu terjadi" jawab Shinta.
"Darimana kamu tahu?" tanya Farrel yang cukup terkejut dengan ucapan Shinta. Dia pikir dia bisa mengancam Shinta dan terus menutupi kalau dia pernah menghianati kekasihnya itu. Sungguh diluar dugaan kalau ternyata Shinta tahu apa yang dilakukannya.
"Seseorang memberitahuku" jawab Shinta sambil tersenyum tanpa ada rasa marah, seperti saat pertama mengetahuinya. Dulu dia merasa marah dan benci, Dewa berselingkuh dengan tidur bersama wanita lain, berharap pada Farrel kekasih pertamanya yang berjanji akan selalu setia walau mereka tidak bersama. Namun kenyataan yang diterima Shinta adalah hal yang sama, Farrel tidur bersama wanita lain. Dia marah dan benci pada Dewa dan Farrel disaat bersamaan.
"Satu minggu aku mencoba menghubungimu, tapi tidak ada satupun pesan yang kamu balas dan tidak sekalipun kamu membalas panggilanku. Sampai akhirnya aku tahu kalau kamu sudah bahagia besama kekasihmu dan melupakan aku. Saat itu juga aku mengakhiri untuk menunggu janjimu yang akan kembali padaku" jelas Shinta dengan tenang.
"Dari mana kamu tahu? Itu fitnah" Farrel menyangkal.
"Seperti kamu memfitnah suamiku dengan semua foto yang kamu kirim padaku" Shinta menyampaikannya dengan lugas tanpa ragu.
Reyhan sudah menjelaskan pada Shinta tentang foto-foto yang dikirim oleh nomor yang tidak dikenal ke ponsel pintar milik Shinta.
Malam itu, setelah pulang dari kediaman orang tua Reyhan, tanpa menunda Shinta mengajak Reyhan bicara dan menunjukkan foto-foto yang diterimanya.
__ADS_1
"Bang, ada yang ingin Shinta tunjukkan dan bicarakan" setelah Shinta masuk kekamar tidur mereka sehabis memeriksa Ilham yang sudah terbang kealam mimpi.
Reyhan menutup laptop yang ada dihadapannya "Katakan saja" jawab Reyhan, lalu mengajak Shinta duduk disofa disampingnya.
Shinta bicara semua yang dia rasakan selama lebih dari satu bulan ini, menunjukkan semua foto-foto yang diterimanya. Termasuk saat dia kehilangan kepercayaannya pada Reyhan dan ingin pergi jauh.
"Maafkan Shinta, Bang" ucap Shinta mengakhiri ceritanya.
Reyhan menarik Shinta dalam pelukannya "Jangan pernah tinggalkan Papa, Ma" ucap Reyhan sambil menciumi pucuk kepala Shinta berkali-kali.
"Maaf" jawab Shinta pelan.
"Bukan salah kamu sayang, tapi Abang yang kurang peka. Maaf satu bulan ini Abang terlalu sibuk dengan proyek baru dengan Sandy dan Dewa"
"Dewa?" beo Shinta.
"Iya sayang, maaf Abang baru memberitahumu"
Reyhan mengurai pelukanya lalu meraih laptop yang ada dihadapan mereka, dia membukanya dan menunjukkan sesuatu.
"Video apa ini Bang?" tanya Shinta tidak sabar.
"Ini kejadian sebenarnya saat Abang bertemu Cindy untuk menyelesaikan semuanya"
Shinta memperhatikan tanpa ingin melewatkannya sedikitpun. "Abang menemuinya bersama Zein" seru Shinta saat dia melihat Reyhan datang menemui Cindy, lalu ada Zein dibelakangnnya.
"Iya, Abang tidak ingin ada yang salah faham" jawab Reyhan sambil mencubit hidung Shinta.
Shinta terus memperhatikan apa yang terjadi, dia menutup mulut saat melihat Reyhan mendorong Cindy yang jatuh terduduk dan mengeluarkan cairan merah .
"Mbak Cindy pendarahan Bang? Apa bayinya baik-baik saja?" tanya Shinta yang ikut iba melihatnya, sebagai sesama wanita, dia tidak tega kalau Cindy harus kehilangan bayinya.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, tidak ada bayi didalam rahimnya"
__ADS_1
"Maksud Abang?" tanya Shinta tidak mengerti.
"Itu bukan darah, Cindy sengaja ingin menjebak Abang. Dia ingin menekan Abang karena kehilangan bayinya, tapi dia salah mencari lawan"
Shinta terkesima dengan penjelasan Reyhan. Tidak menyangka kalau Cindy bisa melakukan cara apapun untuk mencapai keinginannya.
"Abang pasti merasa sangat bersalah saat itu. Maaf, sebagai istri Shinta tidak membantu apa-apa, bahkan berpikir buruk pada Abang"
Reyhan memeluk erat Shinta, menyalurkan rasa sayangnya, mencium seluruh wajah istrinya tanpa ada yang terlewatkan. "Masih banyak yang harus kamu lihat lagi" bisiknya ditelinga Shinta.
Shinta diminta Reyhan kembali melihat satu persatu kejadian yang sebenarnya dari foto-foto yang diterimanya.
"Shinta baru tahu kalau Cindy jadi sekertaris Dewa, pantas saja mereka sangat dekat. Dewa ternyata tidak berubah, aku jadi kasihan pada Devi" ucap Shinta menginggat pertemuannya dengan Devi saat itu yang sangat sedih dan kecewa.
"Menurut Abang siapa yang mengirimkan foto-foto tersebut. Mbak Cindykah? Atau orang lain?"
"Seseorang yang bekerjasama dengan Cindy, dan orang itu kamu kenal dengan baik" jawab Reyhan lalu kembali memeluk erat Shinta. Reyhan sangat takut kehilangan Shinta, dia bersyukur masih bisa bersama istrinya saat ini.
"Siapa? Apakah Dewa? tapi untuk apa Dewa membantu Cindy?" ucap Shinta penuh pertanyaan.
"Shinta, apa kamu bisa menjelaskan siapa Farrel?" tanya Reyhan, sontak membuat Sinta terkejut. Bagaimana suaminya tahu soal Farrel? nama yang sudah dia kubur dalam-dalam.
"Bang Rey, kita sedang membahas Cindy, kenapa Abang bertanya tentang Farrel?" Shinta balik bertanya.
"Ceritakan dulu tentang Farrel, mengapa kamu tidak pernah menyebut nama itu selama ini dan tidak mau menjelaskan apapun tentang dia"
"Karena Shinta sudah melupakannya dan tidak ingin berhubungan apapun lagi dengannya"
"Sayangnya sekarang dia masuk dan melibatkan diri dengan masalah rumahtangga kita"
Shinta diam, dia menatap Reyhan lekat. Mencari tahu apa sebenarnya maksud Reyhan. "Katakan pada Shinta yang sebenarnya, Shinta benar-benar tidak mengerti maksud Bang Rey"
"Ceritakan dulu tentang hubunganmu dan Farrel. Abang ingin tahu"
__ADS_1
Dengan terpaksa Shinta menceritakan kisah cintanya dengan Farrel. Kisah dan nama yang sudah dia kubur sejak kehadiran Reyhan.
...◇◇◇...