Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
Extra Part 2


__ADS_3

Sesuai rencana yang sudah disusun dengan rapi, Reyhan, Sandy dan kelima putra mereka mengunjungi kediaman saudara bungsu kakek Sandy.


"Silakan masuk" wanita tua itu dengan senang mengajak tamunya masuk dan duduk disofa yang ada di ruang tamu.


Dia memang sudah dikabari Mama Rita kalau Sandy dan putranya Raka akan berkunjung bersama putra-putra sahabat dan saudara dari Nayla dan Sandy.


"Kalian yang pernah berkunjung saat kanak-kanak?" wanita tua yang bernama Lauren itu masih mengingatnya, walau usianya sudah tidak muda lagi untuk mengingat banyak hal. Hanya saja kunjungan mereka saat itu sangat berkesan baginya yang memang merindukan kehadiran cucu saat itu.


"Benar sekali grandma" jawab kelima anak muda yang tampan dan gagah tersebut.


"Kalian mengingatkanku bagaimana Wiliam sampai mogok makan setelah kalian pulang"


"Granpa sampai seperti itu?" tanya Revan tidak percaya. Lauren mengangguk.


"Dia sedih saat kalian pulang, dengan mogok makan dia pikir kalian akan kembali" Lauren kali ini tertawa, waktu memang tidak bisa membawanya kembali kemasa itu namun kenangannya tentang kunjungan Sandy dan yang lain tidak akan hilang.


"Bagaimana kabar Shinta?" Laurent tidak akan lupa dengan Shinta yang disekap di gudang belakang kediaman mereka oleh putrinya karena cemburu dan ingin menghabisi nyawa Shinta.


Saat itu dia sudah memberi tahu Shinta tentang putrinya yang menyukai Reyhan saat pertama kali bertemu, sementara Reyhan sendiri tidak pernah tahu hal itu.


"Shinta, saya ingin cerita hal yang penting padamu" Shinta mengerutkan keningnya, dia dan Lauren baru kali pertamanya bertemu sehingga Shinta tidak mengerti kemana arah pembicaraan Lauren. "Apa dia mau curhat?" batin Shinta.


"Apa itu grandma, katakan saja" akhirnya Shinta menjawab setelah cukup lama terdiam.


"Saya cerita ini padamu karena menyangkut Reyhan suamimu" seketika Shinta merasakan kalau yang akan diceritakan Lauren adalah sesuatu yang tidak baik.


"Bukan salah Reyhan, karena suamimu tidak tahu apa-apa" lanjut Lauren ucapannya.


"Ini tentang putri saya yang begitu menyukai Reyhan" benarkan. Shinta bermonolog dalam hatinya setelah apa yang ditakutkannya terjadi.


"Dia bahkan tidak ingin menikah sampai saat ini" ucapan Lauren membuat Shinta mengerutkan alisnya.


"Apa begitu cintanya sampai seperti itu?" kembali Shinta bermonolog sendiri.


"Mengapa Bang Rey tidak cerita apa-apa?" batin Shinta. Dia lupa, tadi Lauren sudah memberitahu kalau Reyhan suaminya tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Mengapa grandma menceritakan ini pada saya?" Shinta bertanya, karena dia tahu ini pasti bukan masalah biasa. Shinta yakin Lauren menceritakan ini karena ada sesuatu yang mungkin terjadi.


"Saya hanya ingin kamu berhati-hati dan tidak percaya begitu saja jika ada sesuatu yang terjadi pada suamimu. Yakinlah dia pria yang baik, anak saya saja yang terlalu terobsesi"


"Berhati-hati dalam hal apa grandma?" tanya Shinta sambil berpikir hal apa yang akan terjadi. Dia harus segera memberi tahu Reyhan dan yang lain masalah ini.


"Dalam semua hal. Putri Wiliam sangat keras, dia bisa melakukan apa saja" mendengar jawaban Lauren, Shinta sangat ingin dengan segera memberitahu Reyhan tentang hal ini. Dia berpikir bisa saja nyawanya, nyawa Reyhan atau putra mereka dalam bahaya.


Belum sempat bercerita pada Reyhan dan yang lain, apa yang ditakutkan Shinta terjadi. Shinta sedang menuju kamar mandi setelah Lauren megajaknya bicara berdua. Begitu keluar dari kamar mandi, tiba-tiba saja Shinta merasa seseorang menyuntikkan sesuatu padanya lalu membuat pandangannya menjadi gelap.


Reyhan yang mendapati Shinta tidak ada bersama Nayla dan tiga lainnya bertanya mencari keberadaan Shinta. Semua baru menyadari, kalau Shinta sudah terlalu lama pergi karena Lauren mengajaknya.


"Grandma Lauren tadi mengajak teteh, katanya mau bicara berdua. Tapi tidak tahu dimana" Nayla yang menjawab.


Ditengah kebinggungan Reyhan, dia bertemu Lauren dan langsung menanyakan keberadaan Shinta. Saat itulah Lauren menyadari kalau sudah terjadi sesuatu pada Shinta.


Benar saja, Shinta sudah ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri digudang dan langsung dilarikan kerumah sakit karena obat bius yang disuntikkan bisa membuat Shinta kehilangan nyawa.


Lauren mendesah mengingat kejadian itu dan harus merelakan putrinya ditahan pihak yang berwajib.


"Kabar mama baik grandma" Ilham yang menjawab.


Tadi pagi sebelum berangkat kekediaman Grandpa Wiliam, Ilham sempat menghubungi mama dan adik-adiknya. Shinta menitip salam untuk Lauren dan meminta Ilham menyampaikan permintaan maafnya belum bisa mengunjungi Lauren.


Tidak terasa mereka disana berbincang sampai lupa waktu, banyak hal yang dibicarakan terutama masa lalu. Lauren sudah meminta para pelayannya menyiapkan makanan untuk tamu-tamunya.


Disinilah sekarang mereka berada, diruang makan yang besar yang ada dikediaman Wiliam menikmati makanan yang dimasak oleh koki tebaik yang ada di kediaman Wiliam.


"Selamat siang, maaf saya terlambat" seorang gadis cantik masuk dan langsung menunduk hormat.


"Tidak apa-apa Sophia, duduklah bergabung bersama kami" mendengar jawaban Lauren, Sophia langsung duduk dikursi yang biasa dia tempati.


Ilham tak henti melirik Sophia, hal itu tidak luput dari perhatian Reyhan dan Sandy. Tidak hanya Ilham, Revan dan Awan juga sering mencuri pandang pada Sophia. Sementara yang diperhatikan merasa biasa saja, tanpa dia sadari kalau sudah menjadi perhatian ketiga pria tampan dihadapannya.


"Hemm" Sandy berdehem sengaja agar diperhatikan.

__ADS_1


"Sophia, kamu kelas berapa sekarang?" tanya Sandy. Dia sengaja mewakili ketiga putranya untuk bertanya.


Putranya sendiri Raka dan keponakannya Zola menanggapi kehadiran Sophia dengan biasa. Keduanya memang sempat bertemu dengan Sophia di Belanda satu tahun yang lalu saat Sandy mengajak kedua pemuda tersebut berlibur sambil mengunjungi Dafa. Saat itu Sophia diajak Daddynya sengaja menemui Sandy untuk urusan bisnis.


"Uncle, satu tahun yang lalu aku jawab aku kelas sepuluh, itu berarti sekarang aku kelas sebelas" Sophia menjawab sambil cemberut, dia heran apa pamannya tersebut tidak mengingat keponakannya ini.


"Kak Raka, Kak Zola. Apa kalian juga lupa?" tanya Sophia pada kedua pemuda yang hanya diam saja saat melihatnya datang.


"Aku ingat" jawab Raka.


"Aku juga ingat Phia" Zola menjawab setelah gadis itu memaksa jawaban dari Zola.


"Ternyata uncle yang memang pikun" ucap Sophia membuat Reyhan dan yang lain terkekeh.


Sementara Sandy hanya menggelengkan kepala, maksud hati dia ingin membantu Ilham, Revan dan Awan untuk mengenal Sophia tapi dia malah seperti orang pikun.


"Sophia, kenalkan ini Uncle Reyhan. Ini putranya Ilham lalu ini Revan dan ini Awan keponakan uncle berdua" Sandy mengenalkan Sophia.


"Keponakan seperti aku, uncle?" tanya Sophia. Sandy mengangguk.


Acara makan siang berakhir dengan perkenalan Sophia dengan Reyhan, Ilham, Awan dan Revan. Mereka kembali berbicara sebentar sebelum pamit, karena akan menghadiri acara di KBRI malam ini.


Laurent tidak keberatan, walau dia cukup sedih karena kembali kesepian.


"Raka, ajak saudara-saudaramu sering-sering mengunjungi grandma" pinta Lauren pada Raka dan yang lainnya.


"Grandma sering kesepian. Disini hanya grandma dan Sophia yang menemani grandma, kalau ada waktu luang dan tidak sibuk dengan kuliah kalian berkunjunglah kelediaman ini" lannjutnya.


Kelima pemuda itu menyanggupi permintaan Lauren tapi tidak bisa berjanji secepatnya. Lauren mengerti dan akan menunggu kembali kunjungan mereka.


"Kami pamit grandma" ucap Sandy lalu mencium tangan istri saudara kakeknya tersebut.


"Bye uncle, bye kakak-kakakku. Sampai berjumpa lagi" ucap Sophia sambil melambaikan tangannya.


"Bang, suka dengan Sophia?" bisik Reyhan yang berjalan sambil merangkul putranya.

__ADS_1


"Apaan sih pa" Ilham menyanggah pertanyaan papanya, sebenarnya dia malu untuk mengakui kalau dia tertarik dengan Sophia. Tapi dia tidak ingin cepat mengambil kesimpulan tentang perasaannya, masih bayak gadis yang akan bertemu dengannya kelak.


...◇◇◇...


__ADS_2