Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
47. Rindu


__ADS_3

"Katakan padaku apa Farrel yang melakukan ini semua?" Jonathan meminta Jessyca untuk bicara jujur padanya.


"Aku tidak tahu pasti, mungkin saja iya" jawab Jessyca jujur, dia memang tidak tahu apa itu perbuatan Farrel atau bukan. Yang dia tahu Farrel hanya mengabarinya apa yang terjadi dengan Reyhan tapi tidak memberi tahu apa penyebabnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" akhirnya Jessyca memberanikan diri untuk bertanya pada Jonathan.


"Ada yang memberinya racun"


"Apa?" Jessyca berteriak tidak percaya. Membuat pengunjung restoran lainya melihat kearahnya. Jessyca langsung meminta maaf jika teriakan menganggu pengunjung yang lain. Sementara Jonathan hanya diam seolah tidak terjadi apa-apa sambil memainkan ponsel pintarnya.


"Kita pulang dan bersiaplah" Jonathan berdiri tanpa melihat kebingungan yang tampak diwajah Jessyca.


Jessyca menyusul suaminya yang berada dikasir restoran. "Bersiap kemana Jo?" tanyanya begitu dia sudah berada didekat Jonathan.


"Ke Indonesia" Jessyca menatap Jonathan, meyakinkan kalau suaminya itu sungguh-sungguh.


"Untuk apa?" tanya Jessyca karena tidak tahu apa yang akan dilakukan Jonathan. Apa suaminya akan mengambil kesempatan disaat Reyhan tak berdaya? pikirnya.


"Aku ingin mengembalikan kebahagiaan Shinta dari perbuatan kotor sepupumu " Jonathan memberitahu tujuannya.


"Apa harus kesana Jo?" tanya Jessyca lagi, dia tidak mau ikut campur masalah ini. Terlebih lagi jika benar ini adalah perbuatan Farrel, itu berarti suaminya akan berseteru dengan sepupunya. Dimana dia harus berpijak? Suami yang tidak mencintainya atau sepupu yang sering membuatnya susah?


"Iya" tegas Jonathan membuyarkan lamunan Jessyca.


"Tidak apa-apa kalau kamu tidak ingin membantuku dan memilih sepupumu, tapi kamu tahu itu berarti kamu ingin berpisah dariku" Mereka sudah dalam perjalanan pulang saat ini.


"Aku memilihmu" jawab Jessyca. Jonathan menyunginggkan bibirnya sangat tipis hampir tidak terlihat.


Setelah Cindy menolak kerjasamanya untuk merusak hubungan suami istri Reyhan dan Shinta membuat Jessyca sadar. Cindy juga memberi nasehat padanya untuk memperbaiki hubungannya dengan Jonathan, belajar mencintai suaminya dan berusaha membuat suaminya untuk jatuh cinta padanya. Karena itu, setelah kepulangannya dari Indonesia, Jessyca mulai berusaha untuk menjadi istri yang baik.

__ADS_1


Satu bulan ini Jonathan memperhatikan sikap Jessyca yang berubah, dia berusaha untuk menjadi istri yang baik. Karena itu Jonathan berniat memperbaiki hubungannya dengan Jessyca dan mencoba untuk mencintai wanita yang sudah satu tahun ini jadi istrinya.


"Kebahagiaan Shinta adalah kebahagianku, apa kamu tidak keberatan?" tanya Jonathan. Jessyca menggelengkan kepalanya.


"Lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Aku akan mendukungnya" jawab Jessyca tulus.


"Terima kasih mau bertahan disampingku walau kamu tahu untuk siapa hatiku sebenarnya"


"Tidak masalah, kita sama-sama belajar untuk menerima. Kamu juga tahu hatiku untuk siapa" ucap Jessyca lirih.


Dia teringat terakhir bertemu Harem, laki-laki itu tengah menatap mesrah Melly sepupu Reyhan. Karena itu juga Jessyca ingin memperbaiki hubungannya dengan Jonathan Harapannya untuk bersama Harem tentu sangat tidak mungkin. Terlebih lagi saat membandingkan dirinya dengan Nayla, dia sangat sadar diri wanita seperti apa yang dipilih Harem. Melly dia cantik walau tak secantik Nayla, tapi ada beberapa kemiripan dikeduanya.


"Aku sudah pesan tiket, dua jam lagi kita berangkat" Jessyca tersadar dari lamunanya mendengar ucapan Jonathan. Dia mengangguk mengerti. Turun dari mobil dan langsung kekamarnya untuk menyiapkan semuanya.


"Mau kemana kalian?" tanya tuan Smith saat melihat Jonathan dan Jessyca membawa koper.


"Indonesia" jawab Jonathan dengan tenang. Dia belum memaafkan perbuatan ayahnya, tapi dia tidak bisa membenci laki-laki yang merawatnya sejak kecil. Ayahnya sangat menyayanginya walau terlahir dari wanita yang tidak dicintainya.


"Sesuatu terjadi dengan Shinta dan Tante Syila" jawab Jonathan.


"Apa yang terjadi dengan Syila?" tanya Tuan Smith cepat, laporan orang yang dipekerjakannya untuk menjaga Syila mengatakan kalau semua baik-baik saja dengan wanita yang dicintainya.


Jonatha tersenyum sinis "Mencintainya tapi tidak tahu apa yang terjadi" ucap Jonathan dan pergi begitu saja meninggalkan Tuan Smith.


"Apa yang terjadi dengan Syila?" tanya Tuan Smith pada Jessyca.


"Saya tidak tahu" jawab Jessyca jujur. Jonathan tidak menceritakan apapun tentang Tante Syila.


"Apa yang terjadi dengan Shinta?" tanya Tuan Smith lagi.

__ADS_1


"Ada orang yang ingin membunuh suaminya" jawaban Jessyca membuat Tuan Smith menatap tidak percaya.


"Ayah aku harus segera berangkat" ucap Jessyca begitu mendengar namanya dipanggil Jonathan yang sudah menungunya diluar.


Sementara itu di Bandung, Reyhan belum ada tanda-tanda untuk membuka matanya. Dokter sedang memeriksanya saat ini.


"Bagaiman Dok?" tanya Shinta ingin tahu perkembangan suaminya. "Mengapa suami saya belum sadarkan diri? Apa keracunan bisa membuatnya tidur lama seperti ini?" tanya Shinta beruntun.


"Sabar ya bu, suami ibu kondisinya sudah sangat baik. Kita tunggu saja, satu dua hari ini semoga dia kembali sadar" jawab dokter tersebut.


"Baiklah Dok, terima kasih" jawab shinta lemah.


Tanpa Shinta dan yang lain sadari, ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka tersenyum dengan senang. Senang karena Reyhan belum sadarkan diri sampai hari ini dan dia berharap itu akan selamanya sehingga Shinta lelah menunggu laki-laki itu untuk bangun kembali. Dia pergi sebelum dokter keluar dari kamar rawat Reyhan.


"Bang, sampai kapan Abang tidur seperti ini? Shinta merindukan senyum dan suara Abang memanggil Shinta. Ilham juga merindukan papanya, kembalilah pada kami Bang Rey. Kami membutuhkanmu" Shinta terisak sendiri. Dalam hatinya sangat ingin membalas orang yang sudah membuat suaminya seperti ini.


"Teh" Melly mengusap punggung Shinta yang bergetar karena tangisannya. Dia baru saja datang untuk melihat perkembangan Abang sepupunya tapi yang dia lihat kesedihan Teteh iparnya.


Melly sangat memahami perasaan Shinta, diapun akan seperti Shinta bila Harem... Melly mengalihkan pandangannya pada Harem. Dia tersenyum, sudah hampir satu bulan ini dia menjalin hubungan dengan Harem. Laki-laki itu datang dan langsung melamarnya, bukan memintanya sebagai pacar, tapi memintanya bersedia jadi istrinya. Melly cukup terkejut dengan apa yang diminta Harem, tapi laki-laki itu meyakinkanya. Kalau dia mencari istri bukan kekasih. Melly menerimanya, karena sejak pertama melihat Harem dia sudah merasakan debaran yang berbeda. Tapi dia tidak ingin berharap lebih, hanya mengagumi pria itu. Terlebih lagi saat mata Harem menatap Nayla dengan binar cinta, dia lebih sadar diri kalau wanita seperti Nayla yang diinginkan Harem. Tapi Tuhan sangat baik padanya sehingga membelokkan hati Harem untuk melamarnya.


"Apa belum ada perubahan?" tanya Harem pada Shinta. Suara Harem menarik lamunan Melly tentang tunangannya itu.


"Semua baik menurut dokter, hanya saja Bang Rey belum mau membuka matanya kak" jawab Shinta lirih.


"Boleh aku bicara dengan Reyhan?" Harem meminta ijin pada Shinta.


Shinta mengangguk, dia berdiri dari kursi disamping tempat tidur Reyhan.


"Mel, ajak tetehmu kekantin cari minuman hangat dan makanan ringan" Melly mengangguk mengerti. Harem hanya ingin berdua dengan Reyhan.

__ADS_1


"Ayo Teh kita kekantin sambil cari udara segar" ajak Melly yang disetujui Shinta yang juga mengerti kalau sahabat suaminya itu ingin bicara berdua.


...◇◇◇...


__ADS_2