
Reyhan sudah diijinkan dokter pulang hari ini, setelah dua hari sadar dari tidur panjangnya. Shinta sudah membereskan semua barang-barang milik Reyhan dan juga miliknya tinggal menunggu sopir, administrasipun sudah diselesaikan oleh Shinta.
Reyhan benar-benar sudah dinyatakan sehat, dia keluar dari rumah sakit tidak terlihat kalau habis sakit. Tubuhnya yang tinggi dan berisi serta langkahnya yang tegap mengeluarkan aura ketampanannya. Tidak sedikit perawat dan keluarga pasien yang lain mengagumi ketampanan yang dimiliki Reyhan.
Reyhan sosok yang ramah, dia menyungingkan senyum pada orang-orang yang meihatnya. Pandangannya tidak hanya pada orang-orang yang menatap atau tersenyum padanya, tapi dia mengedarkan matanya keseluruh arah. Reyhan melihat seseorang yang menutupi wajahnya dengan menggunakan masker dan topi sedikit diturunkan kebawah menutupi keningnya. Tapi mata itu tidak berhenti menatap Shinta istrinya. Reyhan langsung merangkul punggung Shinta yang sedari tadi memeluk lengannya, lalu dia mengecup pucuk kepala Shinta. Reyhan ingin menunjukkan pada pria itu bahwa dialah pemilik wanita cantik yang ada disampingnya ini, agar pria itu berhenti menatap istrinya.
Shinta mendongakkan kepalanya melihat aksi Reyhan yang tiba-tiba mengecup pucuk kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Reyhan menanyakan ada apa? Reyhan tahu arti tatapan mata Shinta.
"Ada Farrel" bisik Reyhan.
Deg, Shinta mengedarkan pandangannya tapi dia tidak bisa menemukan orang yang disebutkan Reyhan.
"Tidak perlu dilihat" ucap Reyhan tidak suka. Dia mengeratkan rangkulannya, Shinta kembali menundukkan kepalanya dan hanya melihat kedepan.
Sopir membukakan pintu untuk Shinta dan Reyhan, lagi-lagi Reyhan melihat Farrel membututi mereka. Reyhan seketika mengecup pipi Shinta sebelum istrinya itu masuk kedalam mobil. Shinta hanya diam, sekilas dia bisa melihat sosok Farrel sebelum masuk kedalam mobil, walau tertutup masker dia bisa mengenali dari sorot matanya.
Mobil yang ditumpangi Reyhan dan Shinta mulai meninggalkan halaman rumah sakit. Reyhan tidak sengaja melihat dari spion, ada mobil yang sepertinya membuntuti mereka.
"Pak jalannya berlahan saja, nanti berhenti sebentar didepan sebelum pertigaan ya" pinta Reyhan pada sopirnya yang sudah bekerja ikut keluarga Reyhan sejak dia masih SMP.
Sopir mengikuti apa yang diminta Reyhan, dia meminggirkan mobilnya dan berhenti tidak jauh dari pertigaan.
"Kenapa berhenti Bang?" tanya Shinta yang tidak mengerti.
"Ada yang mengikuti kita" jelas Reyhan.
"Iya Den, mobil yang sedang melewati kita ini dari keluar rumah sakit terus dibelakang kita" pak sopir yang bernama Ujang menimpali.
"Biarkan mereka lewat, lihat kemana mereka pergi, lurus, ke kanan atau ke kiri" Pak Ujang mengangguk mengerti, dia mengawasi mobil tersebut.
"Mereka lurus Den" ucap Pak Ujang.
"Kita kekiri saja kalu begitu pak, lewat jalan belakang perumahan" Pak ujang kembali menjalankan kendaraan bosnya, berjalan kearah sesuai petunjuk Reyhan.
__ADS_1
Mereka sampai dirumah walau sedikit lebih lama karena jalan yang mereka lalui sedikit memutar dari jalan utama. Sudah ada Mama Diana dan Ilham yang menyambut. Tidak hanya mereka berdua tapi semua sahabat juga ada disana, mereka sudah berkumpul dihalaman belakang. Reyhan tahu dari mobil yang berjejer terparkir dihalaman rumahnya.
"Papa" Ilham langsung menghampiri Reyhan yang langsung mengendong putranya.
"Turunin Pa, Papa baru sembuh" pinta Ilham.
"Papa udah kuat sayang, Papa kangen gendong kamu" Reyhan mencium putranya sampai Ilham merasakan kegelian dan tertawa menahannya.
"Ayo masuk" ajak Mama Diana agar mereka segera masuk.
"Selamat pulang kerumah abangku tersayang" sapa Melly mencium punggung tangan Reyhan lalu memeluknya.
Diikuti Harem yang mengajaknya adu tos dilanjutkan berjabat tangan lalu saling berpelukan. "Mereka semua menunggumu di belakang" ucap harem setelah mengurai pelukannya.
Satu-satu dari mereka menyalami dan memeluk Reyhan, dimulai dari Sandy dan Nayla. Diikuti Alex dan Citra lalu Zein dan Mery serta Roy dan Bella.
"Ayo kita langsung makan saja, nanti baru ngobrol" ajak Mama Diana yang memang sudah menyiapkan hidangan di meja taman dihalaman belakang kediaman Reyhan dan Shinta.
"Bagaiman perkembangannya?" tanya Reyhan pada Sandy dan Zein yang ikut memantau gerakan polisi mencari Lyra yang saat ini bersembunyi. Kini mereka sudah duduk bersantai setelah menikmati makan siang bersama.
"Jessyca" jawab Reyhan cepat.
"Jessyca?" beo yang lain hampir bersamaan
"Iya, mereka saudara sepupu" sahut Sandy dan Harem hampir bersamaan, mereka berdua juga kenal Lyra saat dia mengunjungi Jessyca di Inggris.
"Berarti ini ada hubungannya dengan Farrel" Zein yang bicara.
Dret... dret... ponsel Reyhan berbunyi, ada panggillan masuk.
Sementara itu di Jakarta Mama Syila hari ini kondisinya sudah lebih baik setelah kemarin pagi menjalani opersai pengangkatan tumor ***********. Tidak hanya Jonathan dan Jessyca yang menemaninya. Ada Bunda Aisyah dan ibu kandung Shinta yang ikut menemani.
"Kalian bedua sebaiknya istirahat saja dulu di hotel" saran Bunda Aisyah pada Jonathan dan Jessyca.
__ADS_1
"Iya, mumpung ada bunda dan mami yang menemani Mama Syila. Nanti kalau kalian sudah istirahat baru kembali lagi bergantian dengan kami" ibu kandung Shinta menimpali ucapan Bunda Aisyah.
Jonathan dan Jessyca menuruti saran Bunda Aisyah dan ibu kandungnya Shinta. Mereka pamit pada ketiganya.
"Jes, terima kasih kamu sudah mau repot-repot ikut merawat mama" ucap Mama Syila saat Jessyca pamit padanya.
"Tidak repot Ma, menemani suami yang saya cintai bukankah suatu kewajiban" jelas Jessyca sambil tersenyum lebar.
Jonathan yang mendengar itu hanya bisa diam, dia lebih memikirkan ucapan Jessyca. Cinta? apa benar Jessyca sudah mencintainya atau hanya bersandiwara didepan Mama Syila seakan-akan hubungan mereka sebagai suami istri baik-baik saja.
Lamunan Jonathan terberai saat mendengar suara panggilan dari ponsel. Bukan ponsel miliknya yang berbunyi tapi ponsel milik ibu kandung Shinta.
"Mi, sudah di Jakarta?" suara Shinta terdengar, wanita itu melakukan panggilan video pada ibunya.
"Iya, tadi pagi mami sudah sampai" ibu kandung shinta mengarahkan kameranya pada semua yang ada disana.
Shinta bisa melihat Mama Syila dan disampingnya ada Jessyca, tidak jauh dari Jessyca ada Jonathan yang tersenyum saat tahu kamera mengarah padanya.
"Reyhan sudah dirumah Shi?" Bunda Aisyah yang bertanya.
"Iya bun, ini anak-anak bunda semua sedang berkumpul"
Sekarang Shinta yang mengedarkan kameranya pada semua yang ada dikediamannya. Satu-satu mereka melambaikan tangan pada Mama Syila karena saat ini ponsel Ibu kandung Shinta dipegang Mama Syila.
"Mama bagaimana sekarang, sudah baikan belum?" Shinta kembali mengarahkan kamera kewajahnya. Mama Syila hanya mengangguk.
"Maafin Shinta ya Ma, Shinta tidak bisa menepati janji" entah sudah berapa kali Shinta mengatakan itu pada Mama Syila.
Mama Syila tersenyum "Tidak apa-apa Shi, suamimu itu lebih penting. Mama juga senang Jessy dan Jo yang menemani Mama" ucapnya agar Shinta berhenti meminta maaf padanya.
"Mana Reyhan?" tanya Mama Syila yang ingin melihat keadaan menantunya.
Shinta mengarahkan kameranya pada Reyhan yang tadi memang belum menyapa Mama Syila karena masih menerima panggilan telepon.
__ADS_1
...◇◇◇...