Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
49. Baik Baik Saja


__ADS_3

Shinta merasakan ada yang mengusap kepalanya, dia berusaha menegakkan kepalanya yang tidak sengaja terlelap ditempat tidur dimana Reyhan suaminya dirawat. Senyumnya mengembang saat tahu yang menyentuh kepalanya adalah suaminya tercinta.


"Bang, Abang sudah bangun" ucap Shinta lirih, air mata bahagianya mengalir begitu saja saat Reyhan mengangguk dan tersenyum padanya.


Shinta berdiri mengambilkan minum untuk Reyhan, dia meninggikan tempat tidur bagian kepala, membantu mengangkat kepala suaminya untuk bisa lebih tinggi agar minumnya tidak tumpah.


"Apa yang terjadi?" tanya Reyhan sambil mengusap air mata Shinta. "Mengapa abang bisa ada disini?" tanyanya lagi, dia belum bisa mengingat kejadian sebelumnya.


Shinta tidak menjawab pertanyaan Reyhan, dia menekan tombol untuk memanggil dokter. Tidak lama seorang dokter dan beberapa perawat datang memeriksa Reyhan, untuk meyakinkan kalau dia baik-baik saja.


"Bagaimana Dok keadaan suami saya?" Shinta tidak sabar ingin tahu keadaan Reyhan.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua baik-baik saja seperti yang saya katakan sebelumnya" jawab dokter tersebut dengan ramah.


"Kita lihat dalam satu atau dua hari ini, kalau tidak ada keluhan apapun dari Pak Reyhan, beliau bisa pulang" lanjut dokter ucapannya.


"Terima kasih Dok" Shinta tersenyum bahagia, keceriaannya kembali lagi begitu tahu suaminya baik-baik saja.


"Hari ini kita akan membersihan sisa racun yang mungkin masih tersisa" ucap dokter itu lagi sebelum meninggalkan ruangan.


"Baiklah Dok, sekali lagi terima kasih" balas Shinta. Dokter hanya mengangguk membalas ucapan terima kasih Shinta.


Shinta mendekati Reyhan dengan tersenyum bahagia. "Racun?" tanya Reyhan yang belum mengerti keadaannya.


Shinta mengangguk "Iya, Abang keracunan lima hari yang lalu" jawab Shinta. Pernyataan Shinta membuat Reyhan terkejut tidak percaya.


"Abang bisa ingat terakhir apa yang Abang lakukan?" Shinta mencoba mengembalikan ingatan Reyhan seperti permintaan dokter, untuk meyakinkan agar ingatan Reyhan baik-baik saja, tidak ada masalah dan gangguan setelah tidak sadarkan beberapa hari ini.


"Abang harusnya menjemput kamu dan Mama Syila, tapi ada pertemuan mendadak dengan klien baru, dia saudara sepupu Jessyca. Jadi Abang meminta sopir yang menjemputmu dan Mama Syila. Lalu setelah itu Abang kembali kekantor dan tidak lama OB mengirim kopi seperti biasanya. Habis itu Abang tidak bisa mengingat apa-apa lagi" lagi-lagi Shinta tersenyum bahagia, karena suaminya masih bisa mengingat dengan jelas apa yang dia lalui sebelum keracunan.

__ADS_1


"Ada yang menaruh racun didalam kopi Abang, yang mengantar kopi bukan OB yang biasa kerja dikator tapi orang suruhan yang menyamar jadi OB. Dia sudah tertangkap, sudah diurus Papa, Zein dan Kak Sandy. Pelakunya mengaku disuruh oleh seseorang bernama Lyra" Shinta mencoba menjelaskan pada Reyhan.


"Lyra?" beo Reyhan. Shinta mengangguk.


"Melly bilang Lyra itu rekan bisnis yang akan kerjasama dengan Abang. Setelah kejadian Abang keracunan dia juga menghilang dan tidak bisa dihubungi. Itu mempekuat dugaan dan polisi sedang menyelidikinya"


"Dia sepupu Jessyca, sepertinya tidak mungkin dia yang melakukan itu. Abang kenal dia ketika kuliah di Inggris, waktu itu dia sedang liburan dan mengunjungi Jessy. Karena itu Abang mau bekerja sama dengannya" Reyhan mencoba memberitahu Shinta.


"Kita tidak tahu apa yang terjadi, mungkin saja seiringnya waktu orang bisa berubah" Shinta sebenarnya sedikit kecewa karena Reyhan membela wanita itu, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya pada Reyhan.


"Sayang" Reyhan memaggil Shinta yang menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa kecewanya.


Sekuat tenaga Shinta menenangkan hatinya dan mengangkat kepala menatap Reyhan.


"Berapa lama Abang dirumah sakit?"


"Lima hari, lima hari Abang hanya tidur membuat Shinta takut. Ilham selalu menanyakan papanya kenapa tidak bangun-bangun, dia merindukan Abang"


"Apa Harem datang menjenguk?" Shinta mengiyakan pertanyaan Reyhan.


"Kenapa?" tanya Shinta ingin tahu, Reyhan pasti bisa mendengar apa yang dikatakan Harem walau itu didalam bawah alam sadarnya.


"Dia meminta Abang segera bangun, dia mengatakan kalau Abang laki-laki pengecut, meninggalkan banyak masalah untukmu"


Shinta cukup terkejut Harem mengatakan itu pada suaminya. Pria itu tidak banyak bicara, tapi dia selalu melakukan sesuatu yang langsung pada intinya. Tidak suka basa-basi dan bertele-tele. Itu yang Shinta nilai dari seorang Harem, terbukti dengan dia yang langsung melamar Melly.


"Jonathan juga memamarahi Abang" Shinta kembali melihat Reyhan.


"Apa yang dia katakan?" tanya Shinta.

__ADS_1


"Dia ingin membawamu pergi kalau Abang tidak bangun"


"Apa yang Abang alami disana?"


Reyhan menggelengkan kepala, "Abang mendengarmu menanggis, Abang jalan mendekat ingin memelukmu tapi tidak bisa. Abang hanya bisa mendengar suaramu tapi tidak bisa melihat. Semua gelap dan Abang tidak bisa membuka mata. Abang ikut menaggis rasanya sangat sakit ingin memelukmu tapi tidak bisa. Lalu Harem datang memarahi Abang, hanya suaranya yang Abang dengar tapi Abang tahu dia sangat dekat. Kata-katanya membuat Abang merenung. Mata Abang tetap terpejam, ingin membukanya tapi tetap saja tidak bisa. Jonathan ikut bicara, dia mengatakan ingin membawamu pergi. Abang tidak terima dengan ucapanya, Abang marah dan berusaha untuk bangun. Sekuat tenaga Abang berusaha membuka mata"


"Dan Abang berhasil" sambung Shinta kata-kata Reyhan. Reyhan mengangguk membenarkan.


"Terima kasih" ucap Shinta membalas anggukan Reyhan.


"Apa Jonathan juga megunjungi Abang?" kali ini Shinta yang mengangguk membenarkan.


"Sekarang dia dan Jessy mengantar Mama Syila ke Jakarta. Besok lusa Mama harus operasi. Mereka mengantikan posisi Shinta yang harusnya mengantar dan menjaga Mama Syila"


"Maaf" sekali lagi Reyhan hanya bisa meminta maaf. Dia menyadari kesalahannya, terlalu berambisi menjalankan kerja sama dengan Lyra sehingga mengabaikan Shinta dan Mama Syila yang jadi tanggung jawabnya sehingga harus berakhir dengan keracunan.


Perawat datang mengantarkan makanan untuk pasien, memecahkan kebisuan antara Shinta dan Reyhan yang larut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Abang makan sekarang ya" Reyhan menggeleng. "Biar cepat pulih dan bisa cepat pulang" bujuk Shinta sambil membuka wadah makan yang diantarkan perawat.


"Rey kamu sudah sadar sayang" Mama Diana langsung mendekat dan memeluk putranya dengan erat lalu menciumi seluruh wajah Reyhan.


"Ma" Reyhan malu diperlakukan seperti anak kecil dihadapan Shinta.


"Kamu itu tidak tahu bagaimana Mama dan Shinta yang khawatir karena kamu yang tidak mau bangun. Sekarang kamu malah melarang Mama memelukmu. Menyebalkan" Mama Diana pura-pura merajuk, karena dia tahu alasan putranya yang tidak mau dipeluk seperti tadi olehnya.


Shinta tersenyum bahagia melihat keakraban anak dan ibu dihadapannya ini. Dia juga akan melakulan hal yang sama dengan Ilham. Shinta merindukan putranya, tanpa membuang waktu dia menghubungi sopir untuk membawa Ilham kerumah sakit. Putranya pasti senang melihat papanya yang sudah bisa diajak bicara.


Shinta kembali mengambil makan untuk Reyhan, dia menyuapi suaminya walau Reyhan sebenarnya bisa makan sendiri.

__ADS_1


Sambil menerima suapan dari Shinta, dia terus menatap wajah istrinya. Dia kembali menyesali perbuatanya yang mengecewakan Shinta, ingkar pada janjinya. Karena itu dia berakhir seperti ini. Tapi Shinta selalu saja dengan sabar memanjakannya.


...◇◇◇-...


__ADS_2