
"Mbak Cindy itu sekarang sedang hamil anaknya Farrel, karena itu dia kembali ke Belanda untuk mengasingkan diri seperti dulu. Aku kasihan sama dia, tapi mau bagaimana lagi? Dia sendiri yang menginginkan jalan seperti ini"
Ucapan Shinta tentang kehamilan Cindy kembali terngiang ditelingga Reyhan. Dia tidak percaya, Cindy wanita yang dulu dekat denganya akan menjalani hidup seperti sekarang, dua kali hamil tanpa pernikahan. Reyhan menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja itu kesalahannya sendiri" gumam Reyhan lalu meneruskan aktifitas bersih-bersih nya.
Reyhan keluar dari kamar mandi, dia melihat Shinta masih sibuk mengoleskan skin care di kaki dan tangannya. Mulutnya menyungingkan senyum lalu mendekati istrinya dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
Shinta melihat bayangan Reyhan dari kaca riasnya, suaminya tersenyum, senyum yang hanya diberikan untuk dirinya. Matanya bertemu dengan mata Reyhan yang menatapnya, tatapan mereka bertemu saling mengunci.
"Pakaiannya sudah Shinta siapkan ditempat tidur bang, cepat dipakai nanti masuk angin" ucap Shinta setelah dia memutuskan kontak matanya dengan Reyhan. Tapi suaminya tetap diam berdiri dibelakangnya, tidak bergerak sedikitpun.
Reyhan hanya tersenyum mendengar apa yang diucapkan Shinta, membuat istrinya itu berdecak lalu berdiri berniat mengambilkan pakaian suaminya yang tadi dia letakkan diatas tempat tidur king size milik mereka.
"Mau kemana?" tanya Reyhan saat Shinta berdiri.
"Mengambilkan pakaian Abang"
Mendengar itu Reyhan menahan langkah Shinta, dia menarik lengan istrinya sehingga Shinta berada sangat dekat dihadapannya. Reyhan memeluk pingang Shinta, mengikis jarak diatara mereka. Reyhan tersenyum nakal menatap wajah istrinya, Shinta mengerti apa yang diinginkan suaminya saat ini.
Shinta mengangguk mengisyarakan kalau dia bersedia. Senyum Reyhan semakin melebar. "Terima kasih sayang" ucapnya.
Tidak perlu berlama-lama dia langsung memberikan kecupan dibibir Shinta. Diawali hanya dengan kecupan cepat beberapa kali lalu **********, semakin dalam dan semakin panas. Menuntun mereka untuk melakukan hal yang lebih.
Reyhan mengendong Shinta lalu merebahkan tubuh istrinya ke tempat tidur. Handuk yang dipakainya sudah terlepas dengan satu kali tarikan, sekarang tangannya sibuk bergerilya didada Shinta yang pakaiannya sudah dia lepaskan sejak tadi. Bibirnya mengecupi leher Shinta, meninggalkan tanda kepemilikannya. Reyhan terus menjilati leher Shinta, turun kedada kembali memberikan tanda kepemilikan disana. Sementara tanganya terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang dapat dirasakan istrinya.
"Bang... Rey.." Shinta mendesah saat Reyhan memasuki inti tubuhnya. Hal yang sangat disukai Reyhan saat istrinya mendesah memanggil namanya ditengah-tengah penyatuan mereka.
__ADS_1
Reyhan melakukan hal yang sama, dia terus menyebut nama Shinta, terlebih lagi saat dia dan Shinta akan mencapai puncak bersamaan. Malam ini kedua insan itu menikmati kebersamaan mereka, menyatu dalam kebahagiaan. Melupakan sejenak masalah yang menerpa kehidupan mereka.
Shinta terlelap dalam pelukan Reyhan setelah kegiatan panas mereka, seperti biasa setiap ML tidak hanya satu kali mereka melakukan penyatuan. Reyhan terus mengecupi pucuk kepala Shinta yang bersandar didada bidangnya, dia selalu bersyukur mendapatkan istri seperti Shinta. Wanita yang dalam pelukannya ini benar-benar memberi warna dan kebahagiaan dalam hidupnya. Reyhan ikut terlelap setelah puas dengan kegiatannya mengecupi kepala Shinta, dia ikut mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Pagi ini Shinta dan Reyhan mengatar Ilham ke sekolah seperti biasa. Setelahnya mereka akan kekantor polisi mengunjungi Farrel. Seperti janjin Reyhan pada Shinta, dia akan menemani istrinya itu untuk memberitahu kebenaran tentang Cindy pada Farrel. Selain menemui Farrel mereka juga akan membebaskan Lyra yang ditangkap polisi keesokannya setelah Farrel tertangkap.
Hari ini adalah hari ketiga setelah Farrel tertangkap, Shinta bisa melihat wajah berantakan Farrel saat pria itu berjalan kemeja dimana dia dan Reyhan diminta menunggu oleh polisi yang berjaga disana.
"Aku bawakan bubur ayam kesukaan mu" Shinta menyerahkan sebuah kotak makanan pada Farrel begitu pria itu duduk dihadapannya.
Farrel hanya diam sambil menatap Shinta dan Reyhan bergantian. "Sarapan saja dulu, nanti baru kita bicara" Reyhan yang bicara, dia tidak marah pada Farrel seperti permintaan Shinta. Karena tujuan mereka adalah memberitahu kebenaran pada Farrel, bukan masalah kejahatan yang dilakukan laki-laki itu.
"Mentari menyarankan Mbak Cindy memberitahu Farrel, tapi dia menolak dan lebih memilih mengasingkan diri dan membiarkan Mas Banu yang merawat Jojo. Aku hanya ingin kali ini Mbak Cindy bebahagia bang. Karena itu kita harus memberitahu Farrel" ucap Shinta setelah memberitahu tentang kehamilan Cindy tiga hari yang lalu.
"Bagaimana kalau Farrel tidak mau?" tanya Reyhan. Karena kemungkinan itu bisa saja terjadi.
"Bagaimana dengan Mentari sendiri? Bukankah dia istrinya Banu"
Shinta tersenyum, dia memang belum memberitahu Reyhan kalau Mentari dan Banu sudah bercerai.
"Kok kamu malah tersenyum" Tanya Reyhan heran.
"Mentari dan Mas Banu sudah bercerai, Mentari yang minta diceraikan. Mereka kemarin hanya menikah sirih, jadi tidak perlu mengurus surat-surat perceraian" jelas Shinta. Reyhan hanya mengangguk-anggukan kepalaya.
"Mentari sekarang melanjutkan S2 di Belanda Bang. Dia sambil bekerja di perusahan keluarga Harley yang dipimpin Kak Adam. Putri yang mengajaknya, dia kasihan dengan Mentari" Shinta menjelaskan pada Reyhan.
"Apa lagi Mentari selama menikah dengan Banu belum pernah disentuh, jadi dia tidak rugi kalau bercerai"
__ADS_1
"Minum Rel" suara Shinta menarik kesadaran Reyhan, dia berusaha untuk kembali fokus setelah melihat Farrel sudah menghabiskan sarapannya.
"Rel, ada sesuatu yang ingin aku dan suamiku sampaikan padamu" ucap Shinta setelah Farrel menghabiskan satu gelas teh tawar kesukaan Farrel yang disiapkan Shinta.
"Ini mengenai Cindy" lanjut Shinta. Farrel memalingkan wajahnya, melihat kearah tembok. Dia tidak suka nama Cindy disebutkan.
"Dengarkan baik-baik Rel, kamu harus tahu tentang hal ini. Karena ini menyangkut masa depan seorang anak yang tidak berdosa"
Ucapan Shinta tentang anak yang tidak berdosa membuat Farrel kembali menghadap Shinta dan Reyhan. Shinta tersnyum, kata-katanya menarik bagi Farrel.
"Cindy hamil, anak yang ada dalam kandungannya anakmu Rel, darah dagingmu" Farrel tetap diam, tapi Shinta tahu dia menyimak.
"Mengapa bukan dia yang memberitahumu?" Shinta diam setelah memberi pertanyaan itu.
"Karena dia tidak ingin memberitahumu. Dia takut menganggumu, karena dia tahu kamu membencinya" jelas Shinta, namun Farrel tetap saja diam seribu bahasa.
"Tapi bagiku kamu harus tahu kebenaran ini, karena itu aku memberi tahumu Rel" jelas Shinta.
Shinta tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Farrel, tapi dia tidak boleh menyerah walau pria itu hanya diam.
"Aku memberi tahu ini agar kamu memirkan masa depan seorang anak yang tidak berdosa. Anak itu anakmu Rel, darah dagingmu"
"Aku pamit Rel" Shinta berdiri dan mengajak Reyhan keluar.
Reyhan berdiri ingin menyusul Shinta yang sudah berjalan lebih dulu., tapi dia kembali melihat kearah Farrel.
"Pikirkan ini baik-baik, hubungi saya kalau kamu sudah menentukan apa yang akan kamu putuskan. Ingat keputusanmu akan mempengaruhi apa yang akan saya lakukan kedepannya terhadap kamu" Reyhan meninggalkan Farrel dan menyusul Shinta.
__ADS_1
...◇◇◇ ...