Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
29. Pelajaran Hidup


__ADS_3

Devi menatap tajam saat tahu yang datang berkunjung dikediamannya adalah Cindy, wanita cantik dihadapannya ini tampak tidak baik-baik saja. Penampilannya tidak seperti biasa, rambutnya berantakan dan What? apa itu? Devi semakin binggung saat melihat yang berdiri disamping Cindy adalah sebuah travel bag.


"Sepertinya Mbak salah alamat deh" ucap Devi dengan tujuan mengusir Cindy. Gila aja kan kalau dia mau numpang nginep dikediamanku, tapi Devi hanya bisa bicara dalam hatinya saja.


"Saya sekertaris Pak Dewa" jawab Cindy, sambil mencoba melirik kedalam dari balik pintu yang hanya terbuka sedikit dan terhalang Devi yang berdiri disana.


"Oh ya..." Devi menampakkan wajah terkejutnya, dia berpura-pura seakan tidak tahu siapa Cindy. "Lalu tujuan anda?" tanya Devi.


Belum sempat Cindy menjawab, seseorang dari dalam rumah bertanya "Siapa tamunya Dev, kok lama?" sambil mencoba melihat tamu yang terhalang oleh tubuh tinggi Devi.


Devi menggeser tubuhnya sedikit kekanan sambil membuka lebar pintu rumahnya. Cindy bisa melihat kedalam, siapa yang tadi bertanya pada istri Dewa yang sekarang jadi bosnya.


"Shinta"


"Cindy"


Ucap mereka hampir bersamaan, lalu saling menatap, padangan Shinta tidak jauh berbeda dari Devi, yaitu tertuju pada koper yang ada disamping Cindy.


"Kalian saling kenal?" Devi melanjutkan sandiwaranya, sambil mengedipkan mata pada Shinta yang langsung mengerti maksud Devi.


"Tentu, dia dulu teman dekat Abang Rey, Sandy dan Alex" jawab Shinta, seolah-olah dia tidak tahu cerita tentang kedekatan Cindy dan Reyhan.


"Dipersilakan masuk atuh Dev, eta tamu kudu dihormati" Shinta menyuruh Devi untuk mengajak Cindy masuk, karena melihat Devi yang hanya membiarkan Cindy berdiri didepan pintu. Sisi baik Shinta merasa kasihan pada Cindy, sedangkan sisi jahatnya bersorak riang gembira. Stop Shinta, jangan bahagia diatas penderitaan orang lain.


"Jadi ada keperluan apa Mbak?" tanya Devi setelah membiarkan Cindy duduk di ruang tamunya. "Kalau masalah pekerjaan biasanya SUAMI saya tidak membawanya kerumah" lanjut Devi ucapannya dengan menekankan pada kata suami. Shinta tersenyum simpul melihatnya.


"Ini bukan masalah pekerjaan, tapi masalah pribadi. Saya ijin tinggal disini beberapa hari sebelum mendapatkan apartemen baru" jawab Cindy walau dia yakin istri Dewa tidak akan mengijinkannya, tapi dia sudah terlanjur berada disini dan tidak ada salahnya mencoba.


"Mbak, kenapa tidak ditempat Zein? Terus Jojo bagaimana? Sama siapa dia sekarang?" tanya Shinta, sebelum Devi menjawab ucapan Cindy.


"Saya juga keberatan kalau Mbaknya tinggal disini, bisa-bisa Dewa salah masuk kamar nanti" Devi tertawa diikuti Shinta.


"Dewakan on nya hanya sama kamu Dev, gimana mau salah kamar" ujar Shinta disela tawanya.


"Bang Rey juga gitukan, bereaksinya sama teteh doang" sahut Devi.


"Hustt, rahasia kamar" balas Shinta. Keduanya tertawa bahagia, bahagia membuat Cindy terpojok.


Jangan ditanya bagaimana rupa Cindy yang menahan marah dan kesal saat ini, dia juga tidak tahu mengapa dia bisa sangat yakin melangkah ke kediaman Dewa. Sebenarnya menginap beberapa hari dikediaman Dewa adalah pilihan terakhirnya. Sebelunya dia sudah menghubungi Farrel, Banu mengusirnya karena Farrel mau tidak mau Cindy meminta pertanggung jawaban dari Farrel. Tapi Cindy tidak dapat menghubungi laki-laki itu, yang akhirnya dia terpaksa mengikuti keinginan Banu untuk tidak membawa Jojo. Zein? dia malu untuk menghubungi saudaranya itu, terlebih lagi Zein dekat dengan Shinta dan Reyhan.


Sekarang dia disini, mempermalukan dirinya dihadapan Shinta yang jelas-jelas saat ini lebih dari segalanya dibandingkan dirinya yang berakhir seperti ini.


"Saya permisi" ucap Cindy, Devi dan Shinta menghentikan tawaan mereka. Menatap heran pada Cindy, secepat itukah dia menyerah? pikir Shinta. Dimana Cindy yang berambisi harus bisa mendapatkan keinginannya, walau dengan cara apapun.


"Saya belum memberi jawaban lho Mbak, saya baru bilang keberatan tapi bukan berarti saya tidak mengijinkan. Ini rumah suami saya, jadi dia yang berhak memutuskan. Biar saya hubungi dulu" sahut Devi.

__ADS_1


Shinta menatap menyelidik, apa lagi yang ingin dilakukan Devi. Shinta kembali menginggat tujuannya berkunjung ke kediaman Devi, tak lain adalah dia ingin berterima kasih pada Dewa dan Devi yang sudah membatunya meyakinkan kalau Reyhan tidak ada hubungan apa-apa dengan Cindy, dengan bersandiwara Dewa memiliki hubungan special dengan Cindy diluar hubungan antara bos dan sekertaris. Itu adalah ide Devi, bahkan dia merelakan suaminya dekat dengan Cindy dan berpura-pura kecewa dengan Dewa.


"Suami saya tidak mengijinkan Mbak, jadi dengan sangat berat hati saya mohon maaf" suara Devi yang bicara dengan Cindy, menyadarkan Shinta dari lamunanya.


Devi dan Shinta mengantar Cindy sampai diteras depan "Kasihan" gumam Shinta. Devi memalingkan pandangannya pada Shinta.


"Kasihan?" beo Devi, dan Shinta mengangguk.


"Itu pelajaran hidup untuknya. Banu sudah sangat baik ingin bertanggung jawab, tapi dia menolak. Berharap Reyhan akan kembali padanya dengan asumsi cinta Reyhan yang sangat besar untuknya. Tapi keyataannya dia salah bersaing dengan wanita yang benar-benar dicintai Reyhan" Devi terkekeh sementara Shinta masih mencerna kata-kata Devi.


"Sama seperti aku, aku mendapatkan pelajaran penting dengan kesalahanku" Devi mengingat masa dimana dia juga menjadi wanita yang rela dijamah laki-laki. Beruntung dia medapatkan orang-orang baik disisinya, walau mereka orang-orang yang pernah dia sakiti.


Seketika Devi mengingat Bob. Laki-laki itulah yang menyadarkanya pertamakali, saat dia ingin membalas perbuatannnya pada Nayla. Namun Bob malah menemukan kebenaran tentang dirinya. Lalu Dewa datang sebagai penyelamat hidupnya, dan membuatnya berbahagia sampai saat ini.


"Kasusmu berbeda Dev, itu bukan keinginanmu sendiri" Shinta menepuk bahu Devi, dia tahu apa yang ada dalam pikiran Devi.


Devi memeluk Shinta, dia benar-benar tidak menyangka hubungannya akan sebaik ini dengan Shinta. Menginggat dialah penyebab Shinta dan Dewa berpisah.


"Aku tetap akan buka butik Teh" Devi memberitahu Shinta setelah mereka kembali duduk disofa depan TV.


"Dewa sudah mengijinkan, aku boleh membuka butik asalkan tidak membuat aku kelelahan. Terlebih lagi sampai membahayakan anak kami" lanjut Devi.


"Anak?" beo Shinta. Devi mengangguk.


"Teh, aku sudah mau punya anak. Jangan dicium seperti anak kecil" protes Devi.


"Ini berita bahagia, kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal" kesal Shinta, setelah dia mengehntikan aksinya yang diperotes Devi.


"Tadi udah mau kasihtahu, keburu ada tamu" Devi menyengirkan wajahnya dan Shinta hanya ber oh ria menjawabnya.


"Sebentar" ucap Shinta yang langsung meraih ponselnya.


"Mau apa Teh" tanya Devi.


"Hanya ingin memberitahu mereka" jawab Shinta yang kini sudah mengetikan pesan di group Moms Pandawa.


Shinta:


[ Ada berita gembira ]


Nayla:


[ Apa tuh ]


Citra:

__ADS_1


[ Gembira baget kayaknya ]


Shinta:


[ Mau ada baby nih ]


Bella:


[ Teteh hamil, selamat Teh ]


Mery:


[ Hore... tambah keponakan lagi ]


Shinta:


[ Bukan Teteh ]


Citra:


[ Siapa dong ]


Shinta:


Send pictures


Nayla:


[ Selamat.... bilangin sama Devi ]


Citra:


[ Selamat, nyusul jadi emak-emak ya sekarang ]


Bella:


[ Selamat Devi ]


Mery:


[ Jangan lupa bilangin periksanya ke dr. Mery SpOG ]


Devi tersenyum bahagia saat Shinta menyuruhnya membaca sendiri pesan dari empat sahabat yang juga jadi teman baiknya saat ini.


...◇◇◇...

__ADS_1


__ADS_2