
Shinta Pov
Aku berlari begitu turun dari mobil Bang Rey, menerobos masuk keloby perusahaan Mama Syila, bukan kecentilan atau lupa sama usia, tapi karena sudah terlambat menghadiri pertemuan "Jangan lari" Bang Rey mengingatkan, tapi tidak kuhiraukan karena aku tidak ingin mengulur waktu keterlambatanku.
Saat sampai di loby ternyata Koko dan Putra masih ada disana, itu berarti tamunya belum datang. Aku bisa bernafas lega ternyata mereka minta diundur selama empat puluh lima menit, karena mereka baru sampai di Bandung subuh.
"Syukur kalau begitu" ucapku saat Putra memberitahu kererlambatan mereka. Setidaknya aku tidak membuat malu Mama Syila atas keterlambatanku, karena mama meminta aku mewakili pihak keluarga untuk menyambut mereka, ditemani Putra dan Koko yang sejak kuliah sudah jadi orang kepercayaan Mama Syila.
"Mereka sudah sampai" Putra memberitahu kami yang langsung berdiri untuk menyambut Mr. Smith dan keuarganya. Pagi ini mereka datang sebagai salah satu pemilik saham dan juga pengembang usaha diperusahaan milik Papa Jay yang sekarang jadi milik Mama Syila sebagai pewarisnya.
"Selamat datang Mr. Smith" Koko yang menyapa terlebih dahulu diikuti Putra. Tidak lupa aku juga ikut menyapa Mr. Smith dan beberapa keluarganya yang lain.
"Hai Shinta" seseorang menyapa langsung memanggil namaku. Aku memalingkan wajahku untuk melihat siapa yang memanggilku. Dia putra Mr. Smith. Aku ingat wajah tampanya, tapi aku lupa namanya dan sepertinya aku sudah sangat lama tidak bertemu dengannya.
"Jonathan" dia menyebutkan namanya.
Aku baru bisa menginggatnya, dia Nath. Pria yang pernah memintaku jadi kekasihnya, dia kembali. Saat itu aku masih kelas sembilan, menjelang kelulusan. Dia datang membawa buket bungga lily berdiri didepanku secara tiba-tiba.
"Sweetie, kamu mau jadi pacarku" pintanya saat itu.
"Pacar" beoku, aku menatapnya binggung.
"Jadi pacarku selama aku disini bisa?"
"What?" pacaran selama dia di Bandung. Berapa lama itu? satuhari, dua hari atau satu minggu dan bagaimana kalau selama dekat dengannya aku jadi suka alias jatuh cinta. Aku tidak bisa membayangkan saat lagi sayang-sayangnya ditinggal pergi.
Akhirnya aku mengabaikan permintaanya, permintaan konyol menurutku. Kami baru satu kali bertemu dan pertemuan kedua dia meminta aku jadi pacarnya. Budaya dinegaranya mungkin seperti itu, pikirku. Dengan terpaksa aku menerima bunga yang ada ditangannya. Hanya menerima bunga, bukan berarti aku mau jadi pacarnya. Lebih gilanya dia memberiku bunga setiap hari, Kediaman Mama Syila sampai penuh dengan berbagai macam jenis bunga. Hampir setiap hari juga dia meminta aku menemaninya berpetualang keliling Bandung.
Sepuluh hari berlalu dia kembali ke negaranya. Aku diminta Papa Jay menemaninya mengantar Jonathan dan keluarganya di Bandara Soekarno-Hatta.
__ADS_1
"Terima kasih, sudah mau jadi pacarku sweetie" ucapnya.
"Eh" aku terkejut dengan ucapanya, kapan aku menerima dia jadi pacarku. Dia tahu aku yang kebinggungan memberitahu maksudnya.
"Kamu menerima bunga pemberianku, itu artinya kamu menerimaku jadi pacar kamu" jelasnya pada aku yang masih terdiam memikirkan kerumitan yang dibuatnya.
"Tidak bisa begitu" aku protes. Jonathan tidak memnghiraukan.
"Aku pulang, terimakasih untuk sepuluh hari yang indah, karena kamu mau menemaniku. Sekarang kita break, tapi nanti saat aku kembali kita sambung. I love you sweetie"
Saat itu aku menggelengkan kepalaku merasa lucu dengan tingkahnya. "Janji, saat aku kembali kita sambung lagi, kamu harus mau temani aku kemanapun"
"Gelo" sahutku sambil tertawa.
Sekarang dia sudah kembali. Aku harap dia lupa dengan permintaan gilanya itu. Apalagi aku sudah menikah, bagaimana bisa jadi pacarnya. Walau tidak dapat dibohongi, dia jauh lebih tampan sekarang. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, kenapa aku jadi ikutan gila. Aku hanya bisa mendesah dan apa yang akan terjadi biarlah terjadi.
"Ingat janji kita" dia berbisik tepat ditelinga kiriku saat kami keluar dari lift. "Janji? saya tidak pernah janji apa-apa" sahutku. "Sweetie, kita pacaran lagi sekarang" oohhh ternyata dia masih gila sama seperti dulu.
"Gelo" terpaksa mengeluarkan umpatan itu lagi.
"Iya aku memang gila, tergila gila sama kamu Shinta" oh good dia sudah tahu arti gelo sekarang, aku terkekeh ingat saat pertama aku mengatakan gelo, dia ikut tertawa karena aku tertawa saat itu, dan aku yakin dia tidak mengerti arti kata gelo. Untungnya hanya aku yang bisa mendengar gombalannya tadi.
Belum sempat membalas ucapannya, dia langsung menarikku kearah ruang pertemuan. Saat akan masuk baru dia melepaskan genggaman tangannya. Aku mengucap syukur, dia tidak membuat aku malu di acara pertemuan ini. Satu jam berlalu, acara pertemuan berjalan lancar. Dilanjutkan kunjungan Mr.Smith dan keluarganya kemahkam Papa Jay, setelah menikmati coffe break.
Mr.Smith bersimpuh didepan mahkam Papa Jay. Sekarang kami sudah di area pemakaman. Aku bisa melihat punggungnya bergetar, dia menanggis. Begitu dekatkah hubungan diantara mereka? aku tidak pernah tahu sejauh mana persahabatan keduanya.
Ponselku bergetar, aku sedikit menjauh untuk menerima panggilan yang ternyata dari suamiku tercinta.
"Sayang bagaimana pertemuannya, apa berjalan dengan baik?" Lihatlah kebiasaan suamiku, dia langsung memberikan pertanyaan begitu aku menerima panggilannya. Yang menyebalkan pertanyaanya bukan menanyakan kabarku.
__ADS_1
"Ya, berjalan dengan baik. Tapi Shinta yang tidak baik sekarang" aku ingin mengadu soal Jonathan, tapi ini bukan waktu yang tepat.
"Ada apa sayang? Kamu dimana sekarang?" harus dipancing dulu pake umpan baru dia menyakan keadaan istrinya.
"Tidak apa-apa Bang. Shinta sekarang ada dipemakaman Papa Jay" Bang Rey meminta aku jangan bersedih. Bukan itu masalahnya bang, tapi mantan pacar sepuluh hariku yang menyebalkan. Sayangnya aku tidak bisa memberitahu dia.
"Sweetie" Kenapa dia tiba-tiba ada disini kesalku saat melihat Jonathan sudah ada dibelakangku.
"Shinta sayang" Bang Rey memanggil, aku lupa kalau masih terhubung dengan dengannya.
"Siapa yang memanggil sweetie?" tuh kan Bang Rey dengar.
"Ohh, itu keluarga Mr.Smith, sedang memanggil istrinya" Reyhan sambungku dalam hati, terpaksa aku berbohong. "Mereka sudah selesai, dari sini Shinta mau mengajak mereka makan siang" aku mengakhiri percakapanku dengan Bang Rey.
"Untukmu" Jonathan memberiku setangkai mawar, saat aku berbalik dan dia sudah berdiri tepat dihadapanku.
"Jangan lakukan hal seperti ini Nath, aku wanita bersuami" tegasku, aku harus menghentikan kekonyolan ini.
"Aku hanya memberimu bunga, sebagai bentuk hormat dan terimakasihku karena kamu sudah menerima kami dengan baik" aku melihat ada kejujuran dari kata-kara Jonathan.
"Itu juga sebagai tanda kamu setuju mau menemaniku selama aku di Bandung" Jonathan mengucapkannya setelah aku menerima bunga yang diberikannyanya.
"Jangan dibuang" Jonathan menahan tanganku yang sudah terangkat untuk melempar bunga tersebut.
"Aku meminta sebagai teman, please" wajahnya memelas, baiklah bukankah Mama Syila juga memintaku menemani mereka selama mereka di Bandung. Dengan catatan mereka, bukan Jonathan.
Aku berlalu dari hadapan Jonathan lalu menghampiri yang lain, yang sudah berjalan keluar area pemakaman lebih dahulu.
...◇◇◇...
__ADS_1