
Hari ini acara tujuh bulanan Nayla diselengarakan. Sudah banyak tamu yang yang datang, mereka semuanya keluarga, sahabat, tetangga, dan orang-orang terdekat Ayah Dimas, Bunda Aisyah, Papa Wijaya, Mama Rita, Sandy dan Nayla. Sengaja tidak mengundang relasi bisnis, mereka hanya ingin doa yang tulus dari keluarga, sahabat, tetangga dan orang-orang terdekat mereka.
Alunan ayat suci sudah berkumandang, Shinta duduk menemani Mama Syila yang sudah lebih baik kesehatannya hari ini. Obat yang diresepkan Mia benar-benar manjur, sehingga Mama Syila bisa mengikuti acara ini walau hanya duduk saja.
Shinta senang dia dapat tersenyum bahagia dengan kondisi mama Syila hari ini, walau besok mereka tetap akan melakukan serangkain tes kesehatan untuk mengetahui lebih jelas penyakit Mama Syila. Senyumnya semakin menggembang saat Mama Diana menghampiri mereka. Shinta menyambut Mama mertuanya, dia mencium tangan Mama Diana dan mereka berpelukan melepas rindu, sudah satu minggu mereka tidak bertemu.
"Maaf ya, Mama sama Papa telat. Tadi ada kecelakaan di tol" jelas Mama Diana keterlambatanya hadir di acara tujuh bulanan Nayla.
"Tidak apa-apa Ma, ini juga baru dimulai" Shinta mengurai pelukan mereka.
"Bagaimana kabar Teh Syila, Shinta bilang kesehatan Teteh kurang baik" Mama Diana duduk disamping Mama Syila setelah mereka bercipika dan cipiki.
"Iya, kemarin demam dan sakit kepala. Tapi hari ini sudah tidak lagi, hanya masih terasa lemas saja" Jawab Mama Syila sambil tersenyum, dia tidak ingin terlihat lemah.
"Setelah acara sebaiknya Teteh kembali kekamar untuk istirahat" ucapan Mama Diana dibenarkan Shinta dan mendapat persetujuan Mama Syila.
Mereka semua diam setelah saling menyapa lalu kembali menyimak acara yang sedang berlangsung. Satu persatu acara dilakukan dari pembukaan sampai akhir dan semua berjalan lancar.
Acara tujuh bulanan Nayla sudah selesai, sekarang mereka sedang menikmati hidangan yang sudah disiapkan Nayla dan Bunda Aisyah yang dimasak langsung oleh koki kepercayaan keluarga Harley.
Dari jauh Shinta bisa melihat Cindy yang duduk bersama Putri, Lola, dan Mentari. "Mengapa istri Banu terlihat akrab dengan Cindy. Apa mereka berhubungan baik?" Shinta bicara dalam hatinya. "Aku bisa tanyakan pada Putri nanti" pikir Shinta. Lalu dia kembali berjalan mencari Ilham putranya.
Shinta merasa lega saat menemukan Ilham dalam pangkuan Reyhan, mereka sedang menikmati hidangan bersama Zein dan Kak Adam. Masing-masing memangku putra mereka. Shinta berjalan menghampiri mereka.
"Mama nggak diajak makan nih" sapa Shinta pada putranya.
"Mama, kapan kita ke Belanda tempat kakak Dafa?" bukan menjawab Ilham malah balik bertanya.
__ADS_1
"Nanyanya ke Papa, kapan bisa libur kerjanya" jawab Shinta sambil menyindir Reyhan. Mereka memang sudah lama tidak liburan apa lagi keluar negeri.
"Nanti kalau Abang Ilham libur sekolahnya ya" Reyhan menjawab sebelum Ilham bertanya.
"Asyik... ke tempat Kak Dafa ya pa" pinta Ilham dan mendapat anggukan dari Ilham.
"Kak Azizah gimana kabarnya kak? Sama siapa dia di Belanda kalau Kak Adam tinggal?" tanya Shinta setelah mengingat kakak iparnya yang sedang sakit sejak enam bulan yang lalu.
"Sedikit lebih baik dari sebelumnya. Yang jaga kakak Azizahmu saat ini adiknya, kebetulan dia sedang berkunjung" Shinta mengangguk mengerti penjelasan dari Kak Adamnya.
"Kapan kembali ke Belanda Kak? Zein yang bertanya.
"Besok lusa. Kakak pulang sekalian jemput Putri dan Mentari tapi ternyata Cindy juga mau ikut pulang ke Belanda" jelas Kak Adam.
Cindy kembali ke Belanda? entah mengapa Shinta cukup senang mendengarnya. Setidaknya dia berada jauh dari Reyhan, walau sudah jelas Reyhan sudah tidak ada hubungan apapun dengan Cindy tapi sebagai seorang istri tetap saja ada kekhawatiran dalam hati Shinta.
"Mantan istri, mereka sudah bercerai" Zein menjelaskan.
"Bagus kalau begitu. Mentari masih muda dan cantik tidak sulit untuk mendapatkan laki-laki baik juga" Shinta bicara dengan suara pelan.
Kediaman Ayah Dimas sudah sepi, tamu undangan sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing. Sekarang tersisa keluarga dekat saja. Diteras belakang tampak Putri, Lola, dan Arya sedang bercanda ditemani Mentari dan enam anak laki-laki yang tertawa bahagia mendengar cerita lucu yang diceritakan Mentari.
Dari kejauhan Adam melihat Dafa putranya sudah sangat dekat dengan Mentari, padahal mereka baru saja bertemu tadi pagi.
"Kak Adam, apa yang kakak lihat?" pertanyaan Nayla mengejutkan Adam yang sedang melihat kedekatan antara Mentari dan putranya. Senyumnya kembali datar, takut terlihat oleh adiknya.
Nayla melihat keteras belakang dimana anak-anak sedang berkumpul saat Kak Adam tidak menjawab pertanyaanya. Dia bisa melihat keponakannya sangat bahagia tertawa bersama adik-adik dan kakak-kakaknya.
__ADS_1
"Dafa sepertinya sangat bahagia, dia juga senang dalam pangkuan Tari" Nayla menyungingkan senyumnya. Dia sangat mengerti, sudah lama keponakanya tidak merasakan pangkuan seorang ibu, dan sekarang dia mendapatkannya dari seorang Mentari yang memang suka anak-anak.
Sementara itu di ruang keluarga Shinta sedang berbincang dengan Mama Diana, dia meminta bantuan Mama Diana untuk menjaga Ilham selama Shinta menemani Mama Syila melakukan cek kesehatan di Jakarta. Dengan senang hati tentu saja Mama Diana sangat senang, terlebih lagi dititipi cucu kesayangannya.
"Tidak usah khawatir, mama pasti akan jaga Ilham, kamu fokus saja sama pengobatan Mama Syila" Mama Diana mengatakan itu agar Shinta tidak terlalu banyak pikiran.
"Terima kasih Ma" ucap Shinta tulus pada mama mertuanya.
Mama Syila saat ini butuh perhatian dan ini adalah kesempatan Shinta untuk membalas budi kebaikan Mama Syila padanya selama ini. Karena itu Shinta meminta pengertian pada Reyhan dan Mama Diana kalau dia sementara ini akan menemani Mama Syila.
Ditengah pembicaraannya dengan Mama Diana, Cindy datang menghampiri mereka. "Tante" sapa Cindy pada Mama Diana, yang disambut Mama Diana dengan wajah tidak suka.
"Saya mau minta maaf" lanjutnya.
Shinta menatap tidak percaya. "Benarkah Cindy meminta maaf pada Mama Diana? atau hanya untuk mencari simpati? bisa saja seperti itu kan. Dengan begitu aku lengah, begitu aku lengah dia akan kembali mendekati Bang Rey. Tidak-tidak aku tidak boleh berpikir buruk. Mungkin saja dia benar-benar tulus meminta maaf" batin Shinta.
"Maaf atas semua kesalahan saya pada tante dan keluarga" sambung Cindy kata-katanya, namun tetap mendapat aksi diam dari Mama Diana.
"Besok lusa saya akan kembali ke Belanda, saya tidak akan mengusik kebahagian tante lagi" Cindy diam sejenak, dia menunggu reaksi Mama Diana.
Cindy tahu, tidak mudah meminta maaf pada Mama Diana, dia hanya bisa menarik nafas panjang melihat Mama Diana yang tidak mau bicara dengannya.
"Saya permisi tante" Cindy meninggalkan Mama Diana dan Shinta.
"Kalau dia tulus meminta maaf harusnya dia juga meminta maaf padamu. Bukankah lebih besar salahnya padamu dari pada ke mama" rutuk Mama Diana.
"Sudah ma, jangan jadi pikiran Mama. Mungkin saja dia tulus meminta maaf sama Mama. Kalau ke Shinta, mungkin dia masih malu mengatakannya" Shinta mengatakan itu karena dia tidak mau pusing lagi berurusan dengan Cindy
__ADS_1
...◇◇◇...