
Shinta dan Jessyca mengantar Mama Syila kerumah sakit. Hari ini adalah jadwal Mama Syila periksa dan konsultasi masalah kesehatannya. Sementara Reyhan membawa Ilham ke kediaman Ayah Dimas untuk bertemu saudara-saudaranya.
Begitu sampai di Jakarta dua hari yang lalu, kediaman Ayah Dimas sudah dipenuhi oleh keluarga Azizah dari Malaysia. Melihat itu akhirnya Mama Syila mengajak mereka menginap di kediaman utama keluarga Harley yang ditempati oleh Kak Heru, ayah dari Putri. Karena itulah hari ini mereka berbagi tugas, Shinta dan Jessyca diantar sopir keluarga Harley mengantar Mama Syila. Sedangkan Reyhan mengendarai kendaraannya sendiri ke kediaman Ayah Dimas bersama Ilham untuk mengetahui kondisi terbaru Azizah.
"Nyonya Syila" perawat memanggil nama Mama Syila untuk menemui dokter. Untung saja hari ini tidak terlalu banyak pasien dan seperti biasa Mama Syila sudah didaftarkan terlebih dulu oleh Dokter Mia teman Mery.
"Ayo ma" Shinta mengajak Mama Syila berdiri diikuti Jessyca, mereka bertiga masuk ke ruang pemeriksan dimana Dokter Sam sudah menunggu.
Mama Syila diminta berbaring untuk di cek kesehatannya, perawat yang membantu. Sementara Shinta dan Jessyca berdiri tidak jauh dari tempat Mama Syila berbaring. Tidak butuh waktu lama dokter Sam memeriksa payudara Mama Syila yang dioperasi beberapa waktu lalu.
"Bagaimana Dok?" tanya Shinta begitu dokter selesai memeriksa Mama Syila.
Dokter melihat Shinta dan Jessyca bergantian dan meminta keduanya duduk dihadapannya yang terhalang meja kerja.
"Saya putrinya Ibu Syila dan ini menantunya" ucap Shinta memperkenalkan dirinya dan Jessyca begitu Dokter Sam bertanya siapa mereka bagi Mama Syila.
"Wah Nyonya Syila beruntung sekali ya, punya putri dan menantu yang cantik-cantik" ucap Dokter Sam sambil terkekeh, dia sengaja melakukan itu untuk mengurangi ketegangan yang terlihat di wajah Shinta.
"Baiklah saya akan menjelaskan. Hasil Lab Nyonya Syila sudah keluar, sejauh ini yang saya lihat tidak terlalu berbahaya. Tapi Nyonya Syila harus tetap menjalani kemoterapi kanker" jelas Dokter Sam.
"Kanker dok?" ulang Shinta pernyataan Dokter Sam.
__ADS_1
"Iya, karena itu kita akan melakukan kemoterapi kanker pada Nyonya Syila. Kemo biasanya dibutuhkan setelah operasi untuk membunuh sel kanker payudara yang mungkin tertinggal atau menyebar, tetapi tidak terlihat oleh tes pencitraan. Jika dibiarkan tumbuh, sel kanker bisa membentuk tumor baru di bagian tubuh lain. Selain itu, prosedur ini juga bisa menurunkan risiko kanker payudara tumbuh kembali. Saya akan memberikan kemo melalui obat-obatan yang harus diminum setiap hari. Lamanya waktu kemo tergantung hasil selama kemo, untuk sekarang mungkin sampai enam bulan kedepan" Dokter Sam menjelaskan pada Shinta dan Jessyca yang juga didengar Mama Syila.
"Saya mengerti dok. Lalu apa kemonya ada efek sampingnya?" tanya Shinta.
"Tentu saja, setiap pengobatan akan ada efek samping. Efek samping jangka pendek hampir pasti dirasakan oleh semua pasien yang menjalani kemoterapi, termasuk untuk kanker payudara. Obat-obatan kemo kanker payudara akan menyebar ke seluruh tubuh sehingga umumnya ikut merusak sel sehat lain yang ada di tubuh. Secara umum, kemoterapi untuk kanker payudara memberikan berbagai efek seperti Rambut rontok, Kelelahan karena jumlah sel darah merah yang rendah, Kehilangan selera makan, Mual dan muntah, dan beberpa yang lain yang tidak bisa saya sebutkan semua"
Setelah mendapatkan banyak penjelasan dari Dokter Sam kini mereka duduk dikursi tunggu apotik untuk menebus resep yang tadi diberikan oleh Dokter Sam.
Shinta dan Mama Syila asik berbincang, sementara Jessyca sibuk berkirim pesan dengan Jonathan. Shinta berdiri untuk mengambil obat begitu nama Mama Syila dipanggil, bersamaan dengan ponselnya yang berdering. Reyhan yang menghubunginya. Melihat itu, Jessyca mengantikan Shinta untuk mengambil obat sedangkan Shinta langsung menerima panggilan dari Reyhan.
"Mama sudah selesai kami akan segera kesana" jawab Shinta begitu Reyhan mengabarkan kabar duka mengenai Azizah.
"Ma, kita langsung ke kediaman Ayah Dimas ya" ucap Shinta memberitahu Mama Syila.
"Kak Azizah sudah berpulang ma" ucap Shinta lirih. Bagi Shinta Azizah adalah wanita yang lemah lembut, tidak membedakan perhatiannya antara saudara kandung Kak Adam dan saudara-saudara sepupu Kak Adam lainnya. Bahkan dia juga sangat perhatian pada sahabat-sahabat Nayla yang jelas-jelas tidak ada hubungan darah dengan Kak Adam. Tanpa sadar Shinta menitikkan air matanya mengenang sosok Azizah yang dia kagumi.
Mama Syila juga terisak lemah, Azizah baginya bukan hanya anak menantu sepupunya tapi sudah seperti anaknya sama seperti Nayla dan Shinta. Anak menantunya itu sangat sopan dan perhatian, hatinya yang baik membuat orang sangat mudah untuk menyayanginya.
Jessyca yang tidak mengerti apa-apa hanya terdiam heran melihat keduanya yang tiba-tiba menangis sepeninggal dia keloket pengambilan obat.
"Ada apa?" akhirnya Jessyca bertanya setelah menunggu beberapa waktu. Shinta tersadar kalau mereka berada di apotik yang ada di rumah sakit.
__ADS_1
"Kita langsung ke kediaman Ayah Dimas" jawab Shinta.
Tanpa perlu dijelaskan oleh Shinta, Jessyca bisa lagsung mengerti apa yang terjadi. Dia mengangguk menyetujui.
"Ayo ma" Jessyca mengajak Mama Syila berdiri lalu menuntunya berjalan ke loby rumah sakit dan menunggu sopir menjemput mereka disana.
Tidak butuh waktu lama mereka sampai di kediaman Ayah Dimas. Di Kediaman itu sudah berdiri tenda dan kursi yang tersusun. Para pelayat satu persatu mulai berdatangan. Ya sebelum memutuskan ke kediaman Ayah Dimas Shinta mengusulkan agar mereka mampir kesebuah restoran untuk makan, karena Mama syila harus segera mengkonsumsi obatnya. Karena itu mereka sedikit terlambat samapai di Kediaman Ayah Dimas.
Mereka masuk kedalam. Jenazah Kak Aisyah diletakkan diruang keluarga yang memang lebih luas dari ruang tamu. Kak Adam tampak tegar duduk dihadapan istrinya yang sudah terbujur kaku. Nayla, Putri dan Bunda Aisyah juga ada disana bersama mama Kak Azizah dan saudara-saudara Kak Azizah. Satu orang yang mengusik pandangan Shinta, disana tidak jauh dari adik perempuan Kak Azizah ada Mentari memangku Dafa putra Kak Azizah dan Kak Adam.
Shinta mengajak Mama Syila untuk mendekat, Bunda Aisyah langsung memeluk Mama Syila, mereka menagis bersama.
Tidak beda jauh dengan Nayla dan Shinta, mereka juga langsung berpelukan dan menagis bersama.
"Maafkan kesalahan-kesalahan Kak Azizah ya teh" ucap Nayla sambil terisak.
"Kak Azizah tidak punya salah, dia saudara yang sangat baik dan penyayang, tidak ada kesalahan yang dibuatnya" ucap Shinta jujur yang juga terisak.
"Teteh ingin menciumnya untuk terakhir kali" Shinta meminta ijin pada Nayla.
Nayla membantu Shinta membukakan kain yang menutupi wajah Azizah. Terlihat sudah wajah cantik itu kini putih pucat dan kaku, namun bibirnya melukiskan senyum. Membuat Shinta ikut tersenyum bahagia dalam isaknya. "Dia pergi dengan senyum Nay" ucap Shinta yang dibenarkan Nayla dengan anggukan, lalu Shinta mencium kening Azizah. Mama Syila mendekat, dia juga mencium kening Azizah untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
...◇◇◇...