
Satu bulan berlalu, rumah tangga Reyhan dan Shinta kembali berjalan normal, penuh kehangatan dan tawa bahagia. Pagi hari Reyhan akan memenuhi janjinya untuk mengantar Ilham sekolah berdua Shinta sebelum pergi keperusahaan dan mengantar Shinta ke butiknya yang baru dibuka bekerjasama dengan Devi. Menghadirkan senyum bahagia diwajah putra mereka yang sebentar lagi beusia empat tahun.
Setiap akhir pekan mereka menginap di kediaman Mama Syila dan Mama Diana bergantian. Khusus untuk minggu ini mereka menginap di Jakarta, di kediaman Ayah Dimas. Untuk menghadiri acara tujuh bulan kehamilan Nayla yang kali ini diadakan di kediaman Ayah Dimas.
"Ayo Pa cepetan, nanti kita terlambat" Ilham sudah tidak sabar untuk sampai di kediaman Opa Dimasnya untuk bertemu keempat saudaranya dan Ichi kucing kesayangan Om Eza.
"Didepan macet sayang, sabar ya. Awan sama Revan juga belum sampai" Shinta yang menjelaskan, memberi pengertian pada putranya.
"Ilham mau peluk Ichi Ma, udah lama nggak ketemu"
Shinta dan Reyhan tertawa mendengar penjelasan Ilham, mereka lupa dengan hewan berbulu yang selalu jadi tujuan Ilham untuk berkunjung di kediaman Ayah Dimas.
"Dibawa pulang aja Ichinya" goda Reyhan yang sudah tahu jawabannya.
"Dimarah Om Eza nti Pa" jelas Ilham. Kembali mendapat tawaan dari kedua orang tuanya karena jawaban Ilham akan selalu sama seperti itu.
Shinta mengucap syukur dengan kebahagiaannya saat ini, kehidupan normal yang dia dambakan. Tawa dan canda keluar dari mereka bertiga, tanpa gangguan orang ketiga, keempat dan seterusnya.
"Ma, Pa itu tante Cindy" tunjuk Ilham pada mobil yang berhenti disamping mereka. Reyhan dan Shinta kompak mengalihkan pandangan mereka kearah yang ditunjuk Ilham.
Sudah satu bulan mereka tidak bertemu dan tidak tahu kabar Cindy. Shinta lupa kalau Cindy juga mungkin akan hadir di acara tujuh bulan kehamilan Nayla sebagai saudara, sama seperti dia. Cindy hanya sendiri tanpa Jojo yang sudah diasuh oleh Banu.
Reyhan melirik Shinta, hanya sekedar ingin tahu wajah istrinya yang sekarang diam tanpa senyum. Tangannya meraih tangan Shinta sambil tersenyum dan Shinta tahu arti senyuman Reyhan yang menginginkan dia percaya pada suaminya. Shinta mengangguk membalas senyum Reyhan yang mengenggam tangannya semakin kuat.
Lima belas menit berlalu mereka sudah sampai di kediaman Ayah Dimas. Bersamaan dengan Roy dan Bella.
"Awan" Ilham langsung menghampiri Awan yang baru turun dari mobil. "Ayo kita lihat Ichi" yang mendapat anggukan dari Awan.
Shinta dan Reyhan diikuti Roy dan Bella menghampiri Ayah Dimas yang sedang sibuk diteras depan, mengatur orang-orang yang sedang memasang tenda dan dekorasi. "Ayah" panggil mereka hampir bersamaan lalu mencium tangan Ayah Dimas bergantian.
"Opa Dimas" panggil Ilham dan Awan bersamaan, mereka ikut mencium tangan Ayah Dimas.
__ADS_1
"Cucu-cucu Opa tambah ganteng aja, lama ya tidak bertemu Opa" senyum bahagia Ayah Dimas sangat senang dengan kehadiran cucu-cucunya.
Bunda Aisyah datang membawa makanan ringan untuk para pekerja yang memasang tenda dan dekorasi. Melihat Bunda Aisyah yang datang mereka langsung menyapa Bunda Aisyah.
"Kalian sudah sampai, syukurlah" Bunda Aisyah tersenyum bahagia sambil menerima ciuman tangan dari putra dan putrinya serta kedua cucunya Ilham dan Awan.
"Raka, zola dan Revan di belakang di kamar Ichi" Mama Aisyah memberitahu kedua cucunya untuk menyusul melihat Ichi.
Kedua anak itu langsung berlari ke belakang, dimana kamar khusus Ichi family dipeliahara.
"Shinta, Reyhan" panggil Bunda Aisyah. "Mama Syila tadi mengeluh sakit kepala. Dia ada dikamar sekarang. Coba kamu lihat sekalian bawa kopermu kekamar" Shinta tidak heran jika Mama Syila mengeluh sakit kepala, dia tahu Mamanya sedang memikirkan masalah tawaran Mr. Smith. Karena itu juga Mama Syila sudah lebih dulu menginap di kediaman Ayah Dimas untuk melupakan sejenak masalahnya.
"Apa ada masalah?" tanya Bunda Aisyah. Shinta mengangguk. "Ya sudah, kamu temani mamamu dulu"
"Iya Bun" jawab Shinta lalu mengikuti Reyhan kelantai dua.
Shinta masuk kekamar Mama Syila setelah dia dan Reyhan menyimpan koper di kamar yang biasa mereka tempati di kediaman Ayah Dimas.
"Kamu sudah sampai Shi" Mama Syila membuka matanya begitu menerima sentuhan dari Shinta.
"Iya Ma, baru saja sampai. Kita kedokter ya" Shinta kembali mengajak Mama Syila ke dokter.
"Teh Shinta" Mery yang memanggil Shinta. "Aku bawa teman untuk periksa Mama Syila" Shinta mengangguk mengerti.
Mery masuk diikuti temannya yang juga seorang dokter. Dia langsung memeriksa Mama Syila.
"Tadi aku sudah sempat periksa Mama, Teh" Mery memberitahu Shinta. "Tapi aku tidak yakin dengan diagnosaku. Karena itu aku minta Mia memeriksa Mama"
"Menurutmu Mama sakit apa?" Shinta bicara sambil berbisik, tidak ingin menganggu dokter Mia yang sedang memeriksa Mama Syila.
"Mery melihat ada benjolan di payudara bagian kanan Mama, bisa jadi itu tumor. Tapi Mery belum yakin karena itu Mia yang Mery minta datang. Dia Asisten dokter onkolgi"
__ADS_1
Shinta hanya diam mendengar penjelasan Mery, dia kembali melihat Mama Syila yang sedang diperiksa dokter Mia. "Ya Allah jangan beri penyakit yang berat pada Mama Syila" Shinta berdoa dalam hatinya.
"Bagaiman Mi?" Mery yang bertanya pada Mia, setelah melihat temanya sudah membereskan alat medisnya.
"Sebaiknya di USG, tes darah dan rontgen. Mungkin seperti dugaanmu. Bisa dilakukan besok atau lusa, hari ini biar istirahat dulu sambil menghilangkan demam dan sakit kepalanya" dokter Mia menjelaskan.
"Besok lusa akan saya bawa Mama untuk melakukan tes itu semua, karena besok masih acara tujuh bulanan Nayla. Apa bisa dok?" tanya Shinta.
"Tidak masalah, nanti setelah hasilnya keluar segera hubungi saya, biar saya jadwalkan untuk bertemu dokter senior saya" jawab dokter Mia yang mendapat helaan senang dari Shinta.
"Syukurlah, terima kasih dok. Nati Mery yang menghubungi anda"
"Tidak perlu bicara formal dengan saya Teh, saya teman Mery dan Nayla jadi anggap saja saya juga adik Teteh" pinta dokter Mia.
"Baiklah, terima kasih sekali lagi" balas Shinta sambil tersenyum menutupi kekhawatirannya pada kondisi Mama Syila.
"Teh Shinta, Mery tinggal ya. Mau mengantar Mia kedepan" Shinta mengangguk setuju.
Shinta berbalik menuju tempat tidur setelah kepergian Mery dan Mia. Mama Syila masih terjaga dan meminta Shinta duduk didekatnya.
"Apa yang dikatakan teman Mery, Shi?" tanyanya. Dia tidak ingin merepotlan putrinya kalau sakitnya sangat serius.
"Dia minta mama untuk tes darah, USG dan rongent. Mama mau ya. Hanya mau memastikan kesehatan Mama baik-baik saja dan tidak perlu ada yang di khawatiran" Mama Syila mengangguk setuju. Shinta langsung memeluk Mama Syila.
"I love you mom" bisik Shinta didalam pelukannya.
"Mama juga sangat menyayangimu. Jangan tinggalkan Mama"
"Tidak akan Ma, Shinta akan selalu untuk Mama"
Tanpa mereka sadari Reyhan sudah berdiri dipintu menyaksikan kasih sayang ibu dan anak tersebut. Ikut menitikkan air mata melihat Mama Syila yang terlihat lemah dan pucat.
__ADS_1
...◇◇◇...