Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
79. Jadikan Pelajaran


__ADS_3

Mengikuti ucapan Reyhan, sebelum pulang kerumah mereka menjenguk Fenita. Dan disinilah Shinta dan Reyhan berada diantara keluarga Fenita salah satunya yang Shinta kenal sebagai ibu kos Bob.


Saat mereka sedang berbincang Nayla dan Sandy masuk kekamar rawat inap tersebut. Semua keluarga Fenita melihat Nayla yang datang, mengenali wanita yang sering membuat Fenita cemburu.


"Neng geulis, apa kabarnya?" matan ibu kos Bob yang mengenal baik Nayla langsung menyapa.


"Alhamdulillah baik bu. Kabar ibu bagaimana? sehatkan bu" bukan menjawab pertanyaan Nayla ibu itu lebih memilih membicarakan Nayla.


"Neng kamu tambah cantik saja, pangling ibu lihatnya. Kasian si Bob dulu tergoda sama keponakan ibu padahal Bob sudah punya pacar cantik kayak neng Nayla, tapi kenapa ya tetap aja malah nikahnya sama Felin yang kayak laki-laki gini, tidak bisa masak, tidak bisa ngurus rumah, tidak bisa ngurus anak, tidak bisa......."


Shinta dan Nayla sebagai perempuan mendengar ucapan ibu kos yang juga bibi mertua Bob hanya bisa diam saling lirik. Nayla melihat kearah Fenita yang masih terbaring lemah, merasa tidak nyaman dengan ucapan ibu kos itu yang menyudutkan Fenita.


"Yang penting Bob sayang sama Fenita bu" sela Nayla. Merasa tidak nyaman terlebih lagi keluarga Fenita menatap aneh padanya.


"Sayang ada batasnya neng, sekarang si Bob sudah terbang ke Korea, makanya kita yang jaga disini"


"Secepat ini?" gumam Shinta. Dia mengira Bob akan menunda keberangkatannya setelah Fenita nekat mengakhiri hidupnya.


"Sudahlah, jadikan ini pelajaran, jangan suka memaksakan kehendak dan keinginan. Hasilnya tidak akan lama karena sesuatu yang dipaksakan" ucap seorang wanita paruh baya yang Nayla kenal sebagai ibunya Fenita.


"Semoga lekas sembuh" ucap Nayla lalu langsung berpamitan.


Sebenarnya dia ingin bicara banyak, namun suasananya tidak baik untuk bicara dari hati ke hati. Nayla sudah tahu kalau Bob tetap memilih terbang ke Korea, pria itu sendiri yang mengabarinya memalui Sandy. Nayla mebiarkan mantan kekasihnya itu mengambil jalan sesuai keinginannya untuk bahagia dan berharap di negara gingseng itu Bob akan menemukan cinta sejatinya.


Sama seperti Nayla, Shinta juga merasa tidak perlu berlama-lama di ruang rawat inap Fenita. Shinta mengajak Reyhan untuk pamit bersaamaan dengan Nayla.


Kini mereka sudah sampai dirumah dan disambut oleh kedua putra mereka, Ilham dan Ihsan. Tidak hanya putra mereka ternyata sahabat-sahabat mereka juga berkumpul hari ini, termasuk Nayla dan Sandy yang juga sudah ada dikediaman Reyhan dan Shinta.


"Aku merasa tersanjung kalian menyediakan waktu untuk menyambut kepulanganku" ucap Reyhan yang langsung mendapat cibiran dari Alex.

__ADS_1


"Siapa bilang menyambut, kita disini diundang Shinta buat makan-makan" jawab Alex.


"Kamu sekarang sahabat yang paling menyebalkan Lex" Reyhan mengucapkannya sambil berlalu.


"Menyebalkan tapi selalu kamu carikan" teriak Alek diiukti tawaan dari yang lain.


"Kak Alex sepertinya orang yang berbeda sekarang" Bella menepuk bahu Alex. Alex diam mencoba mencerna ucapan Bella, benar saja semenjak Citra hamil dia jadi seperti bukan dirinya yang mengamati dan menanggapi sesuatu dengan diam.


"Jadi ada hajat apa Teh Shinta mengundang kita semua disini?" Citra yang bertanya. Mereka saat ini sudah berkumpul di ruang keluarga. Shinta tersenyum lebar menampakkan giginya yang putih dan rapi.


"Yang pertama beryukur karena Bang Rey terhindar dari masalah walau dengan incident kecelakaan" Shinta menceritakan pada semua apa yang terjadi pada Reyhan sebelum kecelakaan.


"Yang kedua ini sangat penting" Shinta melihat satu-satu wajah mereka yang hadir sabil trsenyum lalu menggeluarkan sesuatu dari saku tunik yang dipakaianya.


Shinta menyerahkan amplop kecil yang ada digegamannya pada Reyhan, meminta suaminya untuk membuka amplop tersebut. Nayla, Citra, Bella dan Mery segera bertepuk tangan begitu menyadari sesuatu yang ada di amplop tersebut, mereka berdiri dan langsung memberi selamat.


"Selamat teh, kita samaan lagi hamilnya" kekeh Citra merasa ada teman seperjuangan.


"Tujuh minggu"


Shinta tidak menyadari kalau diperutnya ada buah cintanya dan Reyhan. Sesaat setelah dokter yang merawat Reyhan masuk keruang pemeriksaan bersama Bob, Shinta merasa kepalanya pusing dan berkunang-kunang. Dia mencoba menenangkan dirinya sambil memejamkan mata agar rasa pusing dikepalanya sedikit berkurang.


Tidak ada siapa-siapa yang membantu dan menemaninya saat ini, sedangkan Arman dia suruh menganti pakaian yang penuh darah Fenita.


"Bu, ibu kenapa?" tanya sesorang wanita yang ternyata seorang perawat saat Shinta membuka sedikit matanya.


"Saya pusing sus, bisa bantu saya untuk diperiksa?" pinta Shinta.


"Ibu sendiri? mana keluarga ibu?" tanya perawat tersebut heran mengapa ada orang yang sakit datang sendiri tanpa diantar keluarga atau siapapun.

__ADS_1


"Iya, suami saya sedang diperiksa dokter karena kecelakaan. Saya menyusul tapi saya...." Shinta tidak sempat menyelesaikan ucapannya dia sudah tidal sadarkan diri.


Saat Shinta akan dibawa suster untuk diperiksa, Mama Diana tiba disana dan langsung meminta dokter memberikan perawatan yang terbaik untuk menantunya.


Mama Diana memeluk Shihta begitu istri putranya itu membuka mata, wajah bahagianya tidak dapat ditutupi. Shinta yang binggung dengan sikap Mama Diana dan memilih diam. Melihat Shinta yang tidak mengerti hal yang membuat dia bahagia, Mama Diana akhirnya duduk dan memberi tahu Shinta kemungkinan ibu dua anak itu saat ini sedang hamil.


Mama Diana menemui suster, memberitahukan kalau Shinta menantunya sudah sadar dan bisa segera dibawa ke ruang dokter kandungan.


Dokter mengatakan kalau usia kandungan Shinta sudah masuk tujuh minggu, saat itulah Shinta menyadari mengapa akhir-akhir ini dia sering cepat lelah.


"Ma, Shinta bisa minta tolong?" tanya Shinta begitu mereka sudah keluar dari ruangan dokter kandungan.


"Tentu sayang, apa yang bisa mama bantu?"


"Tolong rahasiakan dulu ini dari Bang Rey, Shinta mau kasih kejutan saat Bang Rey sudah dirumah" Mama Diana tersenyum, mengangguk menyetujui keinginan menantunya.


Reyhan merengkuh tubuh Shinta untuk masuk dalam pelukannya. Saat ini mereka sudah dikamar untuk tidur, sejak Shinta memberi tahu tentang kehamilannya, tidak ada waktu untuk mereka bicara berdua. Saudara dan sahabat mereka berkumpul sampai sore, sedangkan setelah makan malam keduanya sibuk menemani kedua putra mereka. Reyhan dengan Ilham dan Shinta dengan Ihsan sampai kedua putra mereka terlelap dikamar masing-masing.


"Terima kasih sayang, kamu mengabulkan keinginan abang untuk menambah satu lagi" Reyhan mengeratkan pelukannya sambil mengusap punggung Shinta.


Shinta hanya diam, menikmati kehangatan pelukan Reyhan. Sudah berapa hari ini dia kehilangan kehangatan yang hampir tiap malam dia dapatkan, pelukan suaminyalah yang bisa membuat tidur shinta nyenyak dan bangun dengan kondisi yang fit. Masalah permintaan Reyhan yang ingin menambah momongan beberpa bulan yang lalu tidak ada masalah bagi Shinta, dia juga menginginkan kembali ada tangis bayi di kediaman mereka.


"Bang" Shinta mendesah saat Reyhan mengecup dan menjilati lehernya. Dia sangat tahu kalau saat ini Reyhan menginhinkannya. Delapan tahun hidup berumah tangga tentu membuat Shinta sangat mengerti sinyal-sinyal yang diberikan Reyhan bila menginginkan bercinta dengannya.


Ciuman Reyhan telah beralih pada bibir Shinta, dia ******* dengan lembut daging berwarna pink itu yang selalu menjadi candu baginya.


"I love you" bisik Reyhan ditengah-tengah kegiatan panas mereka.


"I love you too" balas Shinta membuat Reyhan semakin bersemangat menghujam milik istrinya namun tetap dengan lembut mengingat ada buah cinta mereka didalam sana.

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2