
"Ayah?" Nayla memasang muka terkejut.
Aktingnya sangat meyakinkan, walau sebenarnya dia sudah tahu Jojo memanggil ayah biologisnya dengan panggilan tersebut.
"Itu tetangga yang memberikan pinjaman mobil yang saya pakai. Jojo memanggilnya ayah" Cindy yang menyadarinya langsung menjawab, dia mencoba menjelaskan.
"Mbak, mobil vina disini jarang dipakai, dipakai Mbak Cindy saja, dari pada harus pinjam mobil tetangga" tawar Zein.
"Iya Mbak Cindy" timpal Vina, tidak keberatan kalau mobilnya dipakai Cindy.
"Tidak perlu, ini karena Mbak Cindy bawa Jojo, kalau sehari-hari bisa naik ojol atau angkot" tolak Cindy.
Tanpa menunggu lama, Cindy pamit pada semuanya. Dia membawa kendaraannya dengan rasa kesal, hari ini dia merencanakan bicara dengan Reyhan, dia ingin menarik Reyhan kekamar yang biasa dia tempati saat menginap di kediaman Zein. Berharap Reyhan memeluk dan menciumnya lagi. Namun rencanaya hancur berantakan, kehadiran Shinta membuat Reyhan tidak memberi kesempatan padanya. Bahkan laki-laki itu, tidak mau menyapanya sama sekali.
"Baiklah Jo, aku tahu pasti karena ada istrimu kan" batin Cindy.
Tiga tahun yang lalu, Cindy tidak mengetahui penyebab Reyhan yang tidak mau menemuinya lagi. Dia berpikir karena ada Shinta yang menghalangi, dan tetap meyakini kalau Reyhan masih mencintainya, sampai akhirnya Reyhan meminta Cindy untuk tidak menghubungi dan mengganggunya lagi.
Permintaan Reyhan membuat Cindy kecewa dan marah, dia akhirnya kembali ke Belanda. Memberikan waktu pada Reyhan untuk berpikir. Cindy sangat yakin Reyhan akan kembali padanya, menyusulnya ke Belanda, lalu dia menyusun banyak rencana untuk menyambut Reyhan pada saat menemuinya.
Satu hal yang dipikirkanya adalah bagaimana dia tidur dengan Reyhan dan mengandung anaknya, dengan begitu dia dapat mengikat Reyhan dan menikahinya, walau dia harus jadi istri kedua. Dia yakin bisa membujuk Reyhan untuk menceraikan Shinta dan dia yang akan jadi istri satu-satunya Reyhan.
Penantian dan rencananya sia-sia, satu bulan, dua bulan, tiga bulan, Reyhan tidak datang dan tidak dapat dihubungi. Yang rajin mengunjunginya hanyalah Banu ayah Jojo putranya.
"Ayolah Cin, apa yang kamu tunggu lagi? Reyhan sudah menikah dan dia lebih memilih istrinya. Dan lihatlah sekarang, dengan siapa kamu tidur? Denganku kekasih gelapmu" ucap Banu tertawa senang, sambil menciumi rambut Cindy setelah mereka berbagi kenikmatan.
"Aku masih penasaran" jawab Cindy.
"Apa kamu merasa belum puas denganku?" tanya Banu.
"Kalau kamu tidak puas denganku, mengapa hanya aku yang kamu minta datang untuk memuaskanmu" lanjut Banu lagi ucapannya.
"Aku tidak memintamu, tapi kamu yang datang" balas Cindy melepaskan pelukan Banu.
"Memang aku yang datang, tapi untuk bertemu Jojo, dan kamu yang menarikku ketempat tidur Cin" Banu sedikit berteriak, karena Cindy masuk kekamar mandi.
"Lihatlah, dia bahkan pergi kekamar mandi tanpa perlu repot-repot menutupi tubuhnya, bukankah dia yang memancingku" gumam Banu yang akhirnya menyusul Cindy kekamar mandi, dia tidak dapat membiarkan setelah melihat tubuh Cindy tanpa busana berjalan dihadapannya.
__ADS_1
Cindy memukul keras kemudi mobilnya sehingga menekan klakson yang mengeluarkan suara nyaring. Jojo yang ada disampingnya terkejut dengan apa yang dilakukan Cindy.
"Ada apa Bu? Kenapa Ibu marah?" tanya Jojo polos.
Cindy tidak menjawab pertanyaan Jojo, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Lihat saja nanti Jo, kamu pasti akan kembali jatuh dalam pelukanku. Tidak ada yang bisa memilikimu selain aku" dia mengatakannya dengan seringai jahat diwajahnya. Memikirkan untuk menyusun rencana, membuat jebakan untuk Reyhan.
Sementara itu di kediaman Zein, empat sekawan Nayla, Bella, Mery dan Citra bersama pasangan mereka masing-masing, membahas rencana, membuat jebakan untuk Cindy.
"Apa tidak sebaiknya Teh Shinta kita beri tahu?" tanya Nayla. Dia takut terjadi sesuatu pada saudarinya.
"Untuk sakarang biarkan saja, jangan meberitahu Teteh apapun, biarkan Teh Shinta melakukannya secara alamai dan bisa melampiaskan kemarahan dan kebenciannya. Ingat kita buka hanya menjebak Cindy, tapi juga memberikan pelajaran untuk Bang Rey" jawab Zein.
"Apa semua akan baik-baik saja?" tanya Mery.
"Itulah gunanya kalian, untuk menjaga semua baik-baik saja" jawab Alex, merujuk pada empat sahabat tersebut.
"Dan biarkan para lelaki yang bekerja" sambungnya.
Nayla menyandarkan kepalanya dibahu Sandy, sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat membesar.
"Jangan terlalu dipikirkan, semua akan baik-baik saja" jawab Sandy sambil meremas jemari Nayla.
Reyhan dan Shinta sudah sampai di kediaman Mama Diana, mereka sudah ditunggu di teras oleh Mama Diana.
"Assalamualaikum Oma" Ilham berlari menyalimi omanya lalu masuk dalam pelukan wanita paruh baya itu.
"Oma kangen banget sama Abang" ucap Mama Diana setelah puas mencium wajah cucunya.
"Ma" sapa Shinta mencium tangan mama mertuanya lalu mencium kedua pipinya. Diikuti oleh Reyhan dibelakangnya.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Mama Diana.
"Alhamdulillah baik Ma" jawab Shinta.
Mama Diana mengajak mereka masuk, duduk diruang keluarga yang dipenuhi foto-foto keluarga mereka. Shinta berhenti tepat didepan fotonya bersama Reyhan, dia menatap foto pernikahannya dengan Reyhan dengan senyum bahagia, namun senyumnya seketika hilang saat dalam penglihatannya posisinya yang dipeluk Reyhan digantikan Cindy.
__ADS_1
"Sayang" Reyhan mengejutkan Shinta, sambil memeluknya dari belakang.
"Kenapa kaget?" tanya Rehan.
"Apa yang kamu pikirkan hemm?" tanyanya lagi.
"Tidak ada" jawab Shinta berbohong, lalu berjalan mendekati Ilham dan Mama Diana yang sedang berbincang.
"Jadi Abang Ilham udah pingin punya adik?" tanya Mama Diana, mendengar ungkapan Ilham, menyahuti ucapannya, saat dia berkata ingin punya cucu lagi.
"Iya Oma, Abang juga mau seperti Aa' Raka" jawabnya.
"Abang udah bilang belum sama Mama, sama Papa?" tanya Mama Diana lagi.
"Tuh, Mama sama Papa Abang datang" tunjuk Mama Diana pada anak dan menantunya.
"Abang bilang sama mereka" bisik Oma Diana. Ilham menggangguk lalu duduk dihadapan Shinta dan Reyhan.
"Ada apa sayang?" tanya Shinta yang tahu sikap putranya bila sudah begini, pasti ada sesuatu yang diinginkannya atau di ucapkannya.
"Abang pengen punya adik kayak Aa' Raka" ucapnya.
"Papa udah usaha sayang, biar Abang cepat punya adik" jawab Reyhan yang mendapat pukulan ditangannya oleh Shinta.
"Beneran pa?" tanya Ilham senang.
"Tanya aja sama Mama, Papa udah kerja keras tiap malam, biar Abang punya Adik" Reyhan terkekeh senang yang langsung dihentikan Shinta dengan cubitan diperutnya.
"Aduh Mama... sakit sayang" teriaknya.
"Biarin, kalau bicara sama anak itu yang baik-baik kenapa?" kesal Shinta.
"Kan bisa tinggal bilang iya aja, tidak perlu menjurus kemana-mana" lanjutnya.
Bukannya marah, Reyhan malah tertawa senang menggoda istrinya. Mama Diana tersenyum bahagia melihat kebahagiaan keluarga kecil putranya.
Tujuannya memanggil Reyhan dan Shinta bukan hanya karena kangen dengan Ilham cucunya, tapi dia juga ingin tahu tentang keluarga kecil putranya. Kehadiran Cindy yang sampai ketelinga Mama Diana, membuatnya sedikit khwatir, karena itu dia ingin menasehati Reyhan.
__ADS_1
Kejadian Shinta pergi dari rumah tiga tahun yang lalu juga diketahui Mama Diana, walau dia saat itu berada diluar negeri bersama Mama Syila, tapi dia selalu dapat informasi dari orang kepercayaannya. Dia bersyukur Reyhan mampu menyelesaikan masalah keluarganya sendiri saat itu.
...◇◇◇...