Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
41. Pertemuan Cindy dan Jessyca


__ADS_3

Jessyca tidak dapat menemukan Jonathan dimanapun setelah makan siang, dia yakin suaminya itu pergi meninggalkan hotel entah kemana. Jonathan cukup pasih berbasa Indonesia walau sedikit terbata dan suka terbalik mengucapkannya, namun itu cukup membantunya untuk tidak tersesat, terlebih lagi dia sudah sering datang kekota ini.


Akhirnya untuk mengusir kesepiannya Jessyca meminta Putra mengirimkan sopir untuk mengantarkannya berkeliling kota Bandung dan berakhir disebuah club. Sudah lama dia tidak berkunjung ke club walau Jonathan tidak melarangnya. Bukan karena Jonathan tapi tepatnya karena Harem, pria itu tidak suka dengan minuman yang memabukkan seperti ini.


Mengingat Harem Jessyca menyerah untuk mendapatkan pria itu, hari ini dia juga tidak bisa menemukan harem walau sudah mencari kekamarnya, menurut temannya pria itu pergi jalan-jalan sendiri. Apa dia bersama Nayla? pikirnya, menginggat pria itu sangat menyukai Nayla.


Jessyca menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa bersaing dengan wanita secantik Nayla, wanita itu sangat sempurna dimatanya. Dia yang sesama wanita saja mengakui itu apalagi pria. Pantas saja Harem tidak dapat berpaling setelah bertemu Nayla. Sandy sangat beruntung, pikirnya. Dan dia berharap Harem tidak melakukan kesalahan merebut Nayla dari Sandy. Lalu kemana pria itu?


Ditengah pikirannya Jessyca melihat orang yang wajahnya tidak asing menurutnya, dia menajamkan matanya. Wanita yang duduk disampingnya ini bersuara meminta dituangkan minuman. "Cindy" sapanya.


Cindy melihat kesamping saat mendengar seseorang memanggil namanya. "Apa kita pernah bertemu?" tanya Cindy yang tidak mengenal Jessyca.


"Ternyata kamu benar Cindy, wajahmu tidak berubah walau sudah bertambah umur" Kekeh Jessyca.


"Apa kita pernah bertemu?" ulang Cindy pertanyaanya.


"Belum pernah, tapi aku pernah melihatmu" jelas Jessyca. Cindy merasa heran, setenar itukah dirinya sampai dikenali oleh orang lain yang dia tidak kenal.


"Bagaimana kamu bisa melihat saya?" tanya Cindy penasaran.


"Kamu dulu kekasih Reyhan bukan"


"Reyhan?" beo Cindy tidak paham.


"Saya Jessyca, sahabat Reyhan saat kuliah di Inggris. Waktu kamu menghilang aku membantu Reyhan mencarimu. Bahkan aku pernah berkunjung ke kediamanmu di Belanda, sayangnya tidak ada yang bisa memberitahu keberadaanmu. Karena itu juga aku sangat mengenalmu, Reyhan menceritakan apapun tentang kamu" Jelas Jessyca. Cindy cukup merasa senang mendengarnya, setidaknya Reyhan saat itu sangat mengingginkannya. Berbanding jauh dengan saat ini, pria itu membencinya bahkan sangat membencinya.


"Kenapa kamu pergi dari Reyhan?" Tanya Jessyca, dia benar-benar tidak tahu alasan Cindy meninggalkan Reyhan. Yang dia tahu wanita di hadapannya ini menghilang begitu saja dan Reyhan tidak dapat menemukannya sampai dia akhirnya menerima kabar dari Reyhan kalau pria itu akan menikah dengan seseorang yang dijodohkan padanya. Mendengar itu Jessyca marah, dia benci dengan namanya perjodohan dan dia merasa kasihan pada Reyhan saat itu. Sehingga dia mengucapkan amarahnya dengan menyebutkan kata-kata permintaan agar Reyhan menikah dengannya.


Tapi siapa sangka, dia sekarang yang terjebak dalam pernikahan yang berdasarkan perjodohan. Sementara Reyhan walau dijodohkan dia bahagia, dia mencintai istrinya begitupun sebaliknya. Wanita yang disampingnya saat ini yang bodoh menurutnya, laki-laki sesempurna Reyhan dia tinggalkan begitu saja.


"Itu masa lalu" jawab Cindy, dia tidak berniat menjelaskan apapun pada wanita yang ada disampingnya apalagi dia tidak mengenalnya.

__ADS_1


"Kamu disini, apa tidak pernah bertemu dengannya?" Jessyca penasaran apa yang menyebabkan Cindy pergi meninggalkan Reyhan.


"Belum" Bohong Cindy. Jessyca hanya diam, dia tahu Cindy tidak ingin menjelaskan alasanya.


"Baiklah biar aku yang teraktir kamu minum, aku kesepian malam ini. Aku berkunjung ke Indonesia bersama suami dan keluarganya, tapi aku ditinggal sendiri" keluh Jessyca saat menyadari nasibnya saat ini.


"Aku bisa menjadi temanmu malam ini. Aku juga butuh teman untuk minum" jawab Cindy dengan senyum tertahannya. Setidaknya bukan hanya dia yang merasakan kesepian malam ini, ada wanita yang duduk disampingnya ini yang juga kesepian.


"Apa kamu sudah bertemu Reyhan?" Cindy yang bertanya. Jessyca mengangguk.


"Aku dan keluarga menginap dihotelnya. Ayah mertuaku memiliki hubungan saudara dengan orang tua Shinta, istrinya Reyhan" jelas Jessyca.


Cindy diam sejenak untuk menyerap apa yang dikatakan Jessyca. "Jadi suamimu bersaudara dengan istrinya Rey?" tanya Cindy untuk meyakinkan ucapan Jessica.


"Ya seperti itulah" jawab Jessyca.


Keduanya diam sambil terus menambahkan minuman yang ada digelas mereka. Tujuan Cindy datang ke club untuk melihat situasi club, dia berniat melamar pekerjaan disini setelah tadi siang Dewa memecatnya.


"Aku memang tidak tahu alasanmu meninggalkan Reyhan, tapi apa kamu masih mau mendapatkan Reyhan?" tanya Jessyca.


Cindy menatap dan menilai wajah Jessyca, sungguh dia tidak tahu apa maksud wanita ini. Mungkin saja wanita dihadapannya ini orang suruhan Shinta untuk menjebaknya dan akhirnya menghancurkan hidupnya. Cindy mencurigai Jessyca, namun wajahnya tisak menunjukkan kalau dia ingin menjebaknya.


Jessyca memahami Cindy yang binggung dengan pertanyaanya tertawa. "Kamu pasti curiga kalau saya sengaja menanyakan itu untuk menjebakmu" Jessyca kembali tertawa.


"Tapi sayangnya aku sungguh menawarkan itu" ucap Jessyca.


"Kenapa?"


"Aku menikah karena dijodohkan. Tentu saja tidak ada cinta dalam rumahtangga kami. Aku memcintai sahabatku" Jessyca menjeda ceritanya, sengaja membuat Cindy penasaran.


Dengan santai Jessyca kembali menyesap minuman yang memberi rasa tenang untuk dia yang sedang dalam kebinggungan. Sedangkan Cindy sibuk dengan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Kamu mencintai Reyhan?" akhirnya Cindy bertanya.


"Kamu tidak sabaran" kekeh Jessyca


"Kalau aku mencitai Reyhan mengapa aku menawarimu untuk bersama Reyhan" jelas Jessyca. Cindy berpikir membenarkan apa yang dikataka Jessyca.


"Lalu?"


"Kamu orangnya ternyata tidak sabaran" ketus Jessyca. walau dalam hatinya menertawakan Cindy.


"Suamiku mencintai Shinta sejak dia masih kecil, tapi terpaksa menikah denganku karena dijodohkan. Aku dan suami bersepakat berpisah saat orang yang aku cintai menerimaku, dia bahkan membatuku untuk mendapatkan pria yang aku cintai"


Jessyca kembali menjeda penjelasannya dan meminum minumannya. Cindy melakukan hal yang sama, dia kembali menyesap minumannya.


"Aku juga ingin membantu suamiku untuk mendapatkan Shinta, dan kurasa kamu orang yang tepat yang bisa aku ajak kerja sama untuk memisahkan mereka" Jessyca menatap Cindy meminta jawaban.


"Kamu salah, aku bukan orang yang tepat untuk itu" jawab Cindy.


"Tapi Reyhan sangat mencintaimu, aku sangat tahu itu. Reyhan sangat terpukul saat kamu menghilang, bahkan dia kehilangan semangat hidup. Sekarang kamu masih sendiri, tidak ada salahnya kalau mencoba kembali pada Reyhan"


Cindy mengelengkan kepalanya, dulu mungkin Reyhan akan langsung menerimanya. Tapi sekarang bukan dulu dan banyak hal yang sudah terjadi.


"Bagaimana menurutmu?" Jessyca yang bertanya.


"Reyhan sekarang membenciku Jes, bahkan melihatpun dia sudah tidak mau. Sudah banyak hal buruk yang Reyhan ketahui tentangku"


"Kenapa kamu meninggalkan Reyhan?" Jessyca kembali menayakan itu, dia masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


"Saya hamil dengan pria lain"


"Apa?" teriak Jessyca tidak percaya. "Bagaimana bisa? Kamu selingkuh? Kurang apa Reyhan dimata kamu" Cindy hanya diam mendengar pertanyaan Jessyca.

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2