
Para sahabat mengusulkan untuk merayakan kehamilan Shinta. Terlebih lagi sudah lama sekali mereka tidak liburan bersama walau hanya sekedar mengunjungi suatu tempat bersama-sama.
Mendengar usulan itu akhirnya Reyhan memutuskan, mereka akan merayakannya di vila milik keluarga Renaldi yang ada di puncak. Disinilah mereka berada. Kelima pasang suami istri sudah sampai di vila terlebih dahulu, disusul Melly dan Harem setengah jam kemudian yang hampir bersamaan dengan kedatangan Jonathan dan Jessyca.
Mereka mempersiapkan semuanya untuk acara nanti malam, rencananya mereka akan mengadakan acara barbeku di halaman belakang vila sambil menunggu kedatangan Vina, Kak Adam dan juga Eza dari Jakarta, serta Putri dan Lola yang datang terlambat karena mereka bersama Arya dan Rhein harus menjemput Mentari di stasiun terlebih dahulu. Tidak ketinggalan Koko bersama istrinya Tiara dan Putra bersama Liana juga ikut hadir bersama mereka. Begitu juga pasangan suami istri yang sangat dekat dengan Shinta yaitu Devi dan Dewa.
Matahari sudah berada diatas kepala, itu tandanya para istri harus menyiapkan makan siang. Reyhan tidak ingin Shinta dan para wanita yang lain harus disibukkan dengan urusan dapur. Mereka datang ketempat ini untuk berlibur dan bersenang-senang, sehingga Reyhan meminta penjaga vila dan istrinya untuk menyiapkan semua keperluan mereka serta hidangan untuk makan siang ini.
Anak-anak dibuatkan tenda oleh para ayah, membuat mereka sangat menikmati liburan ini. Tidak berbeda dengan Dafa, dia bisa bersenag-senang dengan saudara-saudaranya walau dia baru saja ditingglakan oleh mamanya. Melihat Dafa Shinta bersedih tapi juga bahagia, karena Dafa bisa melupakan kesedihannya walau sesaat.
Ucapan salam terdengar dari pintu masuk utama, ternyata itu adalah rombongan Putri dan Lola. Melihat kehadiran Mentari, Dafa langsung berlari mendekatinya dan memeluk erat tubuh Mentari sampai wanita muda itu terdorong berapa langkah kebelakang. Untung saja Putri bisa menahan Mentari sehingga tidak jatuh.
"Dafa..."
"Bunda" teriak Dafa, membuat Putri yang tadinya akan menegur Dafa mengurungkan niatnya. Putri menghela nafas panjang lalu mengajak Mentari yang mengandeng tangan Dafa masuk kedalam vila.
Tidak heran bagi Shinta dan yang lain mendengar Dafa memanggil Mentari dengan sebutan Bunda. Azizahlah yang mengajarkanya untuk memanggil Bunda pada Mentari dan Azizah juga meminta Mentari untuk menjaga dan merawat Dafa serta menyayangi putranya tersebut. Entah apa makaud Azizah, namun dia sangat mempercayai Dafa diasuh oleh Mentari. Hal ini sudah dia lakukan sejak pertama kali Mentari menginjakkan kakinya di Belanda.
Mentari yang memiliki jiwa sosial yang tinggi menyanggupi keinginan Azizah, baginya dia membantu Azizah sebagai balas budi keluarga Harley yang sudah membantunya melanjutkan pendidikan kejenjang S2 dan diterima bekerja diperusahan keluarga tersebut.
Malampun tiba, mereka sudah berkumpul dihalaman belakang untuk BBQ. Tenda anak-anak sudah terpasang berjejer dengan rapi. Zein sudah siap dengan gitar kesayangannya. Ya Vader dari kelima anak laki-laki yang menggemaskan itu tidak pernah lupa membawa gitarnya setiap acara berkumpul seperti ini.
Disinilah dia bernyanyi, diantara anak-anak yang bergembira. Mereka menyanyikan lagu anak-anak, semua bernyanyi bersama saling sahut menyahut.
__ADS_1
"Meletus balon hijau...."
"Dor" teriak anak-anak bersamaan lalu mereka tertawa bersama sambil melanjutkan nyayian mereka.
Nayla yang duduk bersama kedua sahabatnya saat kuliah Tiara dan Liana menyaksikan dari jauh kebahagiaan anak-anak itu. Begitu juga dengan yang lain mereka ikut bahagia bersama anak-anak tersebut.
Sementara Zein dan Roy sibuk mengajak anak-anak bernyanyi, Reyhan, Sandy dan Dewa harus menerima permintaan bumil yang menginginkan mereka yang membakar daging BBQ untuk semua malam ini.
Ditengah kebahagiaan itu ada suara yang mengejutkan mereka.
"Apa kami datang terlambat?" suara yang sangat dikenal Nayla itu sedang datang menghampiri Shinta.
"Bob, teteh pikir kamu tidak akan datang" sapa Shinta begitu tahu siapa yang datang. "Hallo cantik" Shinta mengelus pipi mulus putri Bob dan Fenita.
Nayla melihat dari jauh kehadiran Bob dan Felina, senyum bahagianya terlukis indah diwajah cantiknya.
Bob lebih memilih menghampiri Sandy yang sibuk dengan pemanggangan dari pada menghampiri Nayla. Bukan tanpa sebab Fenita saat ini sedang dalam tingkat cemburu yang sangat tinggi. Dia juga sudah memberi tahu Nayla melalui pesan WA dan Nayla sangat mengerti itu. "Kak" sapa nya yang dibalas senyum oleh Sandy, Reyhan dan Dewa.
"Kamu duduk disana saja Bob, disini khusus para suami yang istrinya lagi hamil" Dewa mengusir Bob yang merupakan mantan tunangan Devi secara halus.
Reyhan terkekeh "Jangan katakan kalau kau masih cemburu Wa" seru Reyhan. "Sandy aja santai, iya nggak bro" lanjut Reyhan. Sandy ikut terkekeh.
"Biar saja Bob disini Wa, istrinya juga sedang hamil sekarang" jawab Sandy.
__ADS_1
"Beneran lo Bob, anak lo masih kecil bro kok udah isi lagi. Kejar setoran lo ya" ledek Dewa. Kini Bob yang terkekeh.
Begitulah mereka, walau kisah mereka rumit dimasa lalu tapi mereka melupakan semuanya. Beginilah sekarang mereka menghadapinya saling meledek tanpa dendam dan saling berbagi kebahagian juga kesedihan.
"Terimakasih ya Bob, kamu sudah membantu kasus Farrel" ucap Reyhan. Dia sangat menghargai bantuan dari mantan kekasih Nayla ini dan juga mantan tunagan Devi yang hanya satu bulan.
Di pantry Vina sedang melakukan paggilan video bersama kekasihnya, tanpa menyadari kalau kakak iparnya sudah berdiri dihadapannya.
"Jadi kapan kamu akan memperkenalkan Kevin pada kami" tanya Mery membuat Vina memalingkan matanya dari smart phonenya ke arah Mery.
"Nanti Mbak, belum waktunya. Mbak Mer tahu sendiri bagaimana aturan keluarga kita. Kecuali kalau Kevin sudah melamarku, aku baru berani membawanya ke hadapan mama dan papa juga kakak" jawab Vina yang lupa kalau saat ini dia sedang terhubung dengan kekasihnya. Mendengar jawaban Vina, Kevin mematikan sambungan Videonya dan segera berniat menyusul Vina yang ada di puncak untuk melamar kekasihnya tersebut.
Di dekat tenda anak-anak, Shinta juga sedang menerima panggilan Video dari Ine, sahabatnya waktu kuliah yang juga sahabat Nayla waktu masih bekerja di perusahaan Sandy.
"Selamat ya sis" sapa Ine dari sana. "Aku dikabari Nayla" lanjutnya. "Selamat bersenang-senang ya say. Kalian kumpul semua?" tanya Ine.
Shinta mengangguk lalu mengedarkan kameranya pada semua yang ada disana. "Dewa ikutan bakar-bakar sama Bag Rey dan bosku" seru Ine saat kamera Shinta mengarah pada keempat pria yang sibuk memangang. "Itu mantanya Nay ya" seru Ine lagi.
"Wah keren, para mantan bantuin para suami" ledek Ine. Shinta tertawa "Iya juga ya Ne, kok aku baru sadar, hahaha" Shinta tertawa bahagia. Tanpa sadar kalau Reyhan sudah berdiri disampingnya.
"Pantas saja tertawanya bahagia sekali" ucap Reyhan pelan begitu berdiri disamping Shinta saat tahu yang bicara dengan istrinya adalah Ine.
Ditengah kebahagiaan itu putri berteriak sangat keras, membuat semua menatapnya.
__ADS_1
"MOMMY NAY, PAPA ADAM, OM ZEIN. TANTE CINDY BUNUH DIRI"