
Senyum di wajahnya yang selama dua hari ini tertutup awan kelabu kini sudah kembali terlukis diwajahnya, kini dia kembali dapat menghirup udara segar. Dia bebas, bebas yang benar-benar bebas menjalani hidupnya setelah sekian lama terkurung akibat mengikuti keinginan yang dia tahu kalau sebenarnya tidak mungkin. Hanya karena mengikuti ego dan rayuan dari sepupu gilanya jadilah dia harus berurusan dengan pihak berwajib.
"Saya benaran bebaskan pak?" tanya Lyra pada polisi yang bertugas membebaskannya dari jeruji besi.
"Iya, karena tersangka utama sudah mengakui kalau dia yang memerintahkan orang meracuni Tuan Reyhan" jawab aparat tersebut.
"Syukurlah ternyata dia mengakuinya" gumam Lyra. "Bapak sih tidak percaya sama saya. Ups... masih muda saya panggil mas aja ya" godanya. Petugas itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil menyungingkan senyum melihat tingkah Lyra.
"Mas kok ganteng banget sih, mau kencan sama saya tidak" Lyra kembali menggoda petugas tersebut, lalu dia membisikkan sesuatu yang membuat wajah petugas itu memerah. Melihat wajah petugas itu Lyra tertawa.
"Kamu sudah bisa tertawa" seseorang menegurnya.
"Reyh...." Lyra tidak jadi memanggil Reyhan begitu melihat Shinta disisi sahabat sepupunya itu.
"Maaf" hanya itu yang bisa Lyra katakan dihadapan Reyhan dan Shinta.
"Mbak Jessy sudah menceritakan semuanya" Shinta yang bicara. "Jadikan ini satu pelajaran untuk lebih baik. Berpikirlah sebelum bertindak, jangan hanya mengikuti keinginan dan ego sesaat. Berubahlah jadi lebih baik kalau ingin mendapatkan kebahagiaan"
Shinta menarik tangan Reyhan yang sedari tadi terus menggenggamnya. Dia mengajak suaminya keluar dari kantor polisi tanpa memberi kesempatan pada suaminya untuk bicara dengan Lyra. Cemburu? Bukan cemburu yang dia rasakan tapi dia tidak ingin Reyhan berlama-lama melihat tubuh Lyra yang sangat sexy dengan atasan yang membuat belahan dadanya terlihat jelas serta celana pendek sepaha sehingga menampilkan paha putih yang mulus.
"Kita harus segera jemput Ilham bang" kilah Shinta untuk menjawab pertanyaan yang tersirat di wajah heran Reyhan, mengapa dia tiba-tiba mengajak suaminya itu pergi? begitu mereka sudah duduk didalam mobil.
Shinta melirik Reyhan yang sedang fokus dengan jalanan, dia bersyukur memiliki suami yang setia dan tampan. Walau dia sempat berpikir kalau ketampanan Reyhan bisa saja akan membawa masalah baru dalam biduk rumah tangganya. Tapi satu keyakinan yang dia miliki, apapun masalah rumah tangganya akan berlalu bila mereka sama-sama saling percaya dan saling menjaga. 'Kekuatan cinta yang akan bertindak' batinnya.
"Tepat waktu, sebentar lagi Ilham pulang" seru Shinta saat dia melihat jam digital yang ada di dashbord mobil mereka.
"Abang tidak ikut turun?" tanya Shinta saat melihat Reyhan hanya diam saja.
"Ada beberapa email yang dikirim Melly, abang mau periksa sebentar" Shinta tersenyum sambil menganggukan kepalanya, dia membiarkan suamimya untuk bekerja sambil menunggu kepulangan Ilham.
"Teh Shinta" Shinta tersenyum pada Citra dan Bella yang memanggilnya. Hanya ada mereka berdua ditempat tunggu orang tua, karena semenjak hamil besar Nayla dilarang Sandy untuk menjemput Raka. Sementara Mery sibuk dengan tugas negaranya sebagai dokter.
"Personil kita tidak pernah komplit sekarang" kekeh Shinta begitu sudah berada di dekat keduanya.
__ADS_1
"Teteh jadi ke kantor polisi?" tanya Bella yang dijawab anggukan oleh Shinta sambil menceritakan apa yang tadi dia lakukan dikantor polisi. Termasuk tentang dia membawa pergi Reyhan dari hadapan Lyra. Tidak ada rahasia diantara mereka, dengan begitulah mereka akan saling mendukung dan membantu satu sama lain.
Shinta sangat bersyukur bisa ikut bergabung dengan persahabatan sepupunya ini, terlebih lagi karena Reyhan suaminya juga bershabat dengan Sandy yang merupakan adik iparnya. Dunia memang sempit sepertinya, dia dan Nayla bejodoh dengan dua pria yang bersahabat.
Ditengah pembicaraan mereka ponsel ketiganya berbunyi, tanda ada notifikasi yang masuk.
"Kok samaan ya" ucap Citra.
"Sepertinya pesan di group kita" ucap Bella sambil membuka ponselnya.
"Iya benar group kita, Nayla yang mengirimnya"
Nayla
[ Kak Azizah kesehatannya sedang tidak baik-baik saja sejak dua hari yang lalu dan minta pulang ke Indonesia. Sekarang sudah sampai di kediaman Ayah Dimas tidak mau dibawa kerumah sakit. Keluarga dari Malaysia sedang dalam perjalanan ke Indonesia. Aku dan Hans langsung pulang ke Jakarta siang ini ]
[ Mohon doakan yang terbaik untuk Kak Azizah ]
"Teh, sebaiknya kita pulang sekarang ke Jakarta atau nanti?" tanya Bella.
Reyhan
[ Mau ke Jakarta hari ini? ]
Shinta
[ Boleh kalau Bang Rey tidak sibuk. Bawa Mama Syila skalian, karena besok lusa jadwal Mama Syila bertemu dokter ]
Reyhan
[ Tanyakan pada yang lain ]
Shinta
__ADS_1
[ Iya, disini ada Citra dan Bella sedang menghubungi Alex dan Roy ]
"Bang Rey dan teteh ke Jakarta hari ini" ucap Shinta setelah selesai berkirim pesan. "Kalian bagaimana?" tanyanya pada Citra dan Bella.
"Aku dan Kak Alex berangkat besok pagi" jawab Citra.
"Kami berangkat sore ini" Bella yang menjawab.
"Mery?" tanya Shinta.
"Aku coba hubungi dia" sahut Citra. Shinta mengangguk.
Ditengah kesibukan mereka membahas pulang ke Jakarta, anak-anak sudah terlihat keluar dari kelas. Seperti biasa Ilham dan keempat saudaranya langsung menghampiri mereka. Satu-satu mencium pungung tangan ketiganya.
Shinta dan Reyhan ingin mengabari kondisi kesehatan Azizah menantu dari Ayah Dimas dan Bunda Aisyah secara langsung pada Mama Syila. Untuk itu dari sekolah Ilham mereka meluncur menuju kediaman Mama Syila. Mama Syila tidak percaya dengan kabar ini, untung saja mereka menyampaikan secara langsung sehingga bisa meminimalkan keterkejutan Mama Syila. Yang ada sekarang wanita paruh baya itu meminta segera berangkat ke Jakarta, untuk segera sampai di kediaman Ayah Dimas.
Berhubung Mama Syila akan bertemu dokter yang merawatnya, maka Jessyca juga ikut dalam perjalanan ini. Mereka baru saja masuk gerbang tol Mohamad Toha, gerbang ini yang terdekat dari kediaman Mama Syila yang ada di daerah Buah Batu.
Sepanjang jalan mereka berbincang, tepatnya hanya Reyhan dan Jessyca yang berbincang. Mereka membicarakan kasus Farrel dan Lyra. Jessyca yang meminta Shinta dan Reyhan untuk memberitahunya, bagaimanapun kedua orang itu adalah sepupunya.
"Aku tidak percaya Farrel bisa seperti ini. Sepertinya pergaulannya di Australia yang membuatnya berubah seperti sekarang ini" keluh Jessyca.
"Farrel dulu anak yang baik dan manis" sambungnya sambil mengenang tentang sepupuhnya itu.
"Harusnya sih dia bertanggung jawab pada Cindy. Tapi kalau dia dalam tahanan bukannya sama saja Cindy akan melahirkan tanpa suami" sambungnya lagi mencoba mengungkapkan pemikirannya.
"Bukankah aku sudah bilang, keputusannya akan mempengaruhi kasusnya" Reyhan yang bicara.
"Maksudmu kalau dia bertanggung jawab pada Cindy kau akan membebaskan Farrel?" Jessyca memperjelas maksud ucapan Reyhan.
"Ya" Reyhan membenarkan ucapan Jessyca. "Itu kalau dia sungguh-sungguh bertanggung jawab dan berhenti menaruh hati pada Shinta" sambungnya.
Shinta memilih diam, cukup baginya sebagai pendengar saja. Menyimak percakapan Jessyca dan Reyhan. Dalam diamnya, jujur Shinta takut kalau Reyhan benar-benar membebaskan Farrel. Dia takut Farrel kembali mengusik ketenangan rumah tangganya, dia berharap Farrel tetap didalam penjara, menyadari kesalahannya dan kembali menjadi Farrel yang dia kenal dulu.
__ADS_1
...◇◇◇...